
"Ma... Mama!"
Aji berteriak memanggil mamanya, begitu sampai di rumah.
"Iya Sayang. Ada apa teriakan-teriak?" tanya mama Cilla, yang terlihat heran dengan tingkah Aji kali ini.
Cilla, tentunya merasa heran karena tidak biasanya, Aji berteriak keras seperti itu.
"Ma. Aji lolos seleksi. Aji lolos Ma!" kata Aji, dengan mata berbinar-binar karena senang.
"Maksudnya lolos apa?" tanya maka Cilla bingung. Dia memang tidak tahu, apa yang dikatakan oleh anaknya yang paling besar itu.
"Aji, lolos seleksi beasiswa ke Jerman!" jawab Aji cepat memeluk mamanya dengan erat.
"Terima kasih ya Ma. Ini semua, berkat dukungan dan doa dari Mama," kata Aji, melanjutkan kata-katanya tadi.
"Syukurlah Sayang. Mama bangga dengan apa yang Kamu raih ini. Mana yakin, jika Kamu Memeng bisa," kata Cilla dengan mata berkaca-kaca. Dia terharu, karena mimpi anaknya itu akan segera terwujud.
Sebenarnya, papanya Aji, Gilang,tidak mengijinkan anaknya itu untuk ikut seleksi beasiswa. Dia merasa mampu, untuk membiayai kebutuhan anaknya itu, jika sekolah di Jerman.
Tapi, Aji tidak setuju. Dia tidak ingin tergantung pada kekayaan papanya. Dia ingin merasakan beasiswa itu dengan usahanya sendiri, dengan kemampuannya. Itulah sebabnya, Aji diam-diam tetap mengikuti seleksi beasiswa tersebut tanpa sepengetahuan papanya, Gilang.
Anjani, yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama kelas delapan, hanya diam saja. Dia merasa jika, sebentar lagi kakaknya itu, akan segera pergi dan tidak lagi bersamanya. Dia merasa sangat sedih, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Beasiswa itu, adalah impian kakaknya sedari kecil.
"Kamu pasti lolos Sayang. Oma yakin itu," kata Oma Rossa dari arah belakang.
"Oma..."
Aji melepas pelukannya pada mamanya, kemudian melangkah menuju ke arah omanya. Aji, memeluk omanya itu dengan erat. Dia merasa sangat bahagia dengan dukungan dari omanya juga.
"Terima kasih Oma. Ini juga berkat dukungan dan doa dari Oma," kata Aji, masih dengan memeluk omanya itu.
"Tapi... papa bagaimana?" tanya Aji bingung.
"Kamu tenang saja ya Sayang. Nanti malam, kita coba bicara soal ini pada papa. Semoga papa, tidak lagi bersikap seperti kemarin," jawab Cilla, menenangkan hati anaknya itu.
"Terima kasih Ma," kata Aji, dengan tersenyum tipis.
"Jeny. Ayok!" ajak Aji, kakaknya.
__ADS_1
Jeny menurut. Dia melangkah mengikuti kakaknya itu, naik ke lantai atas. Mereka berdua memang dekat sedari kecil. Kemana-mana, Jeny selalu bersama dengan kakaknya itu.
"Kamu cepat pergi mandi, setelah itu buat PR. Kalau ada kesulitan, panggil kakak ya! Kakak ada di kamar, mau mengurus izin perlengkapan lain lewat online."
"Iya Kak," jawab Jeny datar.
Jeny, merasa sedih. Dia tidak tahu bagaimana jika sudah tidak ada kakaknya itu setelah ini. Dari cerita kakaknya tadi, sewaktu di jalan, Aji akan berangkat ke Jerman tiga bulan lagi. Itu artinya, Jeny hanya akan bersama kakaknya selama tiga bulan kedepan.
*****
Saat makan malam, Aji sudah merasa sedikit gugup. Dia tidak tahu, bagaimana cara menyampaikan informasi tentang beasiswa yang dia ikuti kemarin, pada papanya.
"Mas. Sudah selesai, gak mau nambah?" tanya mama Cilla pada suaminya, Gilang.
"Sudah Honey. Sudah cukup," jawab Gilang, dengan mengelengkan kepalanya.
Cilla hanya mengangguk dan tersenyum, mendengar jawaban dari suaminya itu. Dia harus bisa mencari waktu yang pas, untuk berbicara tentang lolosnya Aji di seleksi beasiswa yang dia ikuti.
Papa Gilang, beranjak dari tempat duduknya dan melangkah ke ruang tengah. Dia duduk di sana, dan memeriksa handphone yang ada di meja.
"Aji. Kamu ikut Mama ya," ajak mama Cilla lada Aji, agar mengikutinya ke ruang tengah.
Anjani dan kedua anaknya yang kembar, masih menyelesaikan makannya. Oma Rossa, menemani mereka bertiga.
"Pa," panggil mama Cilla, pada suaminya.
Papa Gilang menoleh, kemudian meletakkan kembali handphone yang sedang dia pegang di atas meja. "Ada apa?" tanya papa Gilang. Dia tahu, jika anak dan istrinya itu, ada yang mau disampaikan.
"Papa ingat gak, sewaktu Aji kecil dulu, dia punya mimpi apa?" tanya mama Cilla mengingatkan.
"Hem... sekolah di Jerman," jawab papa Gilang cepat. Dia tentu sangat ingat, dengan semua mimpi anaknya yang pintar itu.
"Aji lolos seleksi Pa. Maaf," kata Aji memberitahu papanya, dengan menundukkan kepala.
Terdengar helaan nafas panjang dari Gilang. Dia tidak marah. Gilang justru merasa bangga, dengan apa yang sudah diraih oleh anaknya itu. Dia hanya merasa, jika kali ini, Aji tidak menuruti kata-katanya.
"Jika Papa tidak mengijinkan. Aji, akan membatalkan rencana keberangkatan Aji tiga bulan ke depan."
Gilang tidak menjawab. Dia merasa kaget dengan penjelasan anaknya itu. "Secepat itu," pikir Gilang dalam hati.
__ADS_1
Gilang merasa berat melepas Aji pergi ke Jerman seorang diri. Tapi dia juga tidak mau, jika harus mematahkan semangat dan mimpi dari anaknya itu.
"Apa Papa bisa menolaknya?" tanya Gilang dengan tersenyum.
Aji mendongak menatap ke arah papanya. Dia tersenyum, setelah melihat senyum papanya, yang tertuju kepadanya. "Papa tidak marah?" tanya Aji dengan mata berkaca-kaca.
Mama Cilla tersenyum melihat keduanya. Dia merasa sangat bahagia dan terharu. Akhirnya, anaknya itu, Aji, bisa meraih mimpinya untuk melanjutkan sekolahnya di Jerman, dengan beasiswa prestasi yang dia miliki.
"Terima kasih Pa, Ma," akta Aji, dengan memeluk keduanya.
"Yang rajin ya! Dan buatlah bangga Papamu ini," kata papa Gilang, dengan tersenyum kepada anak dan istri secara bergantian.
"Pa, yang jagain Jeny siapa kalau kakak ke Jerman?" tanya Jeny, dengan nada manja. Dia datang dari arah ruang makan bersama dengan omanya dan kedua adik kembarnya.
"Jeny kan sudah besar. Bisa dong, jaga diri sendiri. Masa harus di kawal terus menerus?" jawab papa Gilang, dengan tersenyum.
Jeny cemberut. Dia pasti akan merasa sangat kehilangan, dengan sosok kakaknya yang sudah bersamanya sedari kecil.
"Jen. Kamu juga harus belajar untuk menjadi mandiri. Tidak tergantung terus sama Kakak. Ada Biyan dan Vero juga kan?"
"Tapi Kak, mereka masih kecil!" protes Jeny cepat.
"Kecil juga kakak Jeny. Kami tidak penakut kayak kakak weee..." sela Vero mengejek Jeny.
"Ih, Kamu!" bentak Jeny, pada adiknya itu.
"Jen," tegur Aji pada Jeny.
Jeny cemberut dan memeluk omanya. Dia meminta bantuan pada omanya itu. " Oma, Vero tuh!" rengek Jeny.
"Sudah-sudah. Gitu aja kok ngambek," kata Oma Rossa melerai mereka.
"Hu... kak Jeny Cemen. Penakut!" ganti Biyan yang meledek Jeny.
"Biyan," tegur Aji, pada adiknya yang bungsu.
"Hehehe... canda Kak," kata Biyan, dengan membentuk V pada jari tangannya.
Papa Gilang dan mama Cilla, mengeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum, melihat tingkah anak-anaknya.
__ADS_1
Oma Rossa, memeluk Jeny yang masih ngambek dan tidak mau ikut bercanda dengan yang lainnya.