
Susana kamera pasien tempat Gilang dan Cilla dirawat menjadi canggung, sebab ditinggal oleh mami Rossa dan aji keluar sebentar. Tadi mami Rossa beralasan untuk keluar membeli buah dan mengajak Aji, " Mami mau keluar sebentar membeli buah. Aji mau ikut Sayang? Mungkin saja Aji bosan ada di dalam kamar terus."
Aji yang mendapat kesempatan untuk bisa keluar dari kamar beraroma obat, meskipun sudah diberi pengharum ruangan, tentu saja merasa sangat senang. Dia dengan cepat mengangguk dan mengiyakan ajakan omanya. "Iya. Aji mau Oma. Sekalian Aji mau minta beli susu ya Oma?" jawab Aji penuh dengan semangat.
"Aji..." panggil mamanya, Cilla, mengeleng mengingatkan Aji agar tidak semaunya, mengambil kesempatan untuk bermanja-manja dalam keadaan seperti sekarang ini.
"Iya gak apa-apa. Nanti Oma beliin susu yang Aji suka ya!" Mami Rossa tidak menghiraukan larangan Cilla pada anaknya itu. Dia hanya fokus pada cucunya saja, Aji.
"Mi..." Cilla berganti dengan memanggil mami Rossa agar tidak keterusan memanjakan anaknya itu.
"Jangan larang Mami Cilla! Mami sudah lama ingin punya cucu, dan sekarang saat ada kenapa harus mami tahan. Kalau bisa, kamu dan Gilang secepatnya menikah dan beri mami cucu yang banyak, biar Mami tidak merasa kesepian dimasa tua nanti." Mami Rossa menggelengkan kepalanya, menatap kearah Cilla.
"Kamu tahu? Mami tidak bisa memberikan Gilang adik lagi setelah mami mengalami keguguran saat mengandung adiknya dulu. Itulah sebabnya, Gilang menjadi anak mami satu-satunya. Mami sangat khawatir kemarin-kemarin saat Gilang tidak mau dan menolak setiap mami minta untuk menikah. Mami takut dia ada kelainan. Makanya sekarang mami sangat bahagia karena ternyata anak mami itu normal."
Mami Rossa mengatakan semua isi hatinya yang selama ini dia pendam. Dia tersenyum dan menciumi pipi Aji, yang sedang berada digendongnya.
Cilla jadi merasa bersalah. Dia menunduk sambil mengigit bibirnya sendiri, untuk menahan air matanya agar tidak menetes saat ini. Dia terharu mendengar cerita dari mami Rossa.
"Percayalah. Mami tidak akan berlebihan dalam memanjakan Aji. Gilang saja bisa kok tidak manja meskipun dia anak tunggal keluarga Raden Aji Saka. Tapi kalau nanti dia manja sama kamu ya... Mami tidak mau tangung jawab juga!" Mami Rossa melanjutkan kata-katanya dengan maksud menggoda Cilla dan anaknya, Gilang.
"Mami... Apaan sih!" Gilang yang mendengar pembicaraan keduanya dan diam sedari tadi, ikut menangapi perkataan maminya dengan pura-pura ngambek. Dia melihat Cilla yang sudah salah tingkah dan wajahnya memerah karena malu.
"Oma. Ayo!" Ajak Aji karena merasa bosan dengan pembicaraan orang-orang dewasa yang tidak dia pahami dengan benar.
__ADS_1
"Iya Sayang. Maaf ya, Oma harus kasih ceramah pada mama dan papa kamu biar secepatnya menentukan langkah. Memutuskan untuk segera menikah dan memberi Aji adik. Aji ingin punya adik gak?" Mami Rossa beralih pada Aji. Dia meminta pendapat cucunya itu agar bisa memberikan alasan dan jalan pada kedua orang yang ada di atas ranjang pasien masing-masing, Cilla dan juga Gilang.
"Mami! Jangan pengaruhi anakku ya!" Gilang mengancam maminya.
"Siapa yang mempengaruhi? Orang Mami bertanya pada cucu Mami kok!" Mami Rossa tidak terpengaruh oleh kata-kata Gilang.
"Ya sudah yuk Sayang, kita keluar beli buah dan juga susu!" Mami Rossa mengendong Aji keluar dari dalam kamar pasien.
Setelah mami Rossa keluar bersama Aji, tinggallah keduanya, Cilla dengan Gilang, yang saling diam tanpa ada yang memulai pembicaraan.
Gilang melirik kearah Cilla yang masih menunduk dalam posisi duduk di tepi ranjang. Dia menghela nafas panjang dan membuangnya kasar. "Maaf jika mami terkesan memaksamu. Tapi Aku memang berencana untuk segera menikahi mu, begitu test DNA kemarin keluar. Itu bukan syarat utama yang menjadi alasannya. Aku hanya ingin membawa bukti jika semuanya itu benar. Aku ingin kamu diterima oleh keluarga besarku juga." Gilang menjelaskan pada Cilla, supaya Cilla tidak salah paham lagi.
"Tapi... Malam itu, tuan bilang pada Candra jika...?" Cilla bertanya tentang perkataan Gilang pada Candra malam sebelum penembakan terjadi. Tapi dia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Jika aku tidak dalam keadaan seperti sekarang ini, aku bisa melakukan apa saja padamu, sesuai yang Aku mau, tanpa kamu bisa melawan Cilla." Gilang melihat kearah Cilla dengan tersenyum miring, tapi segera berganti dengan meringis menahan sakit diperutnya akibat jahitan operasi kemarin.
"Aduh!" keluh Gilang meringis sambil memejamkan matanya menahan sakit.
Cilla segera menoleh karena kaget. Dia segera turun dari ranjang dan mendekat kearah tempat tidur Gilang yang memang ada di sebelahnya.
"Kenapa? Mana yang sakit Tuan?" tanya Cilla cepat tanpa sadar.
"Saya panggil dokter ya!" kata Cilla lagi. Dia tidak menghiraukan telapak kaki kanannya yang masih dalam keadaan diperban, karena luka terkena pecahan kaca, saat berusaha kabur dari kejaran anak buah Candra kemarin malam.
__ADS_1
Gilang tersenyum senang sambil menahan sakit, melihat Cilla yang merasa khawatir dengan keadaan dirinya. Dia melihat rasa simpati di mata Cilla yang sedang ada didekatnya sekarang ini.
"Terima kasih ya. Selama ini kamu merawat Aji, anakku, dengan baik. Meskipun Aku tidak tahu seberapa besar pengorbanan dan penderitaan yang Kamu alami. Tapi, percayalah. Untuk kedepannya Aku tidak akan membiarkan kalian dalam keadaan yang sama, seperti kemarin-kemarin. Aku minta maaf untuk semuanya!"
Cilla menunduk mendengar perkataan Gilang yang terdengar sungguh-sungguh ditelinganya. Dia tidak tahu harus berkata apa, untuk menangapi semua yang dikatakan oleh Gilang saat ini.
"Maaf untuk semua yang telah terjadi karena Aku." Gilang melanjutkan kata-katanya dengan suara yang bergetar. Dia mengatakan semuanya, karena melihat keraguan di mata Cilla. Apalagi Cilla juga hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa.
"Apakah Aku bisa mendapatkan maaf itu?" tanya Gilang mendesak. Tapi Cilla tetap diam.
"Cilla..." Gilang memanggil nama Cilla dengan wajah cemas. Dia merasa takut jika Cilla tidak akan bisa memaafkan dirinya.
"Terima kasih un... untuk ke... kemarin malam. Jika bukan karena Tuan, entah ba... bagaimana keadaan Saya saat ini."
Cilla tiba-tiba mengucapkan terima kasih dengan terbata-bata pada Gilang. Dia merasa berhutang nyawa saat peluru yang seharusnya mengenai dirinya, dihalangi oleh tubuh Gilang.
Setelah mengatakan rasa terima kasihnya, Cilla kembali ke tempat tidurnya. Dia segera berbaring dengan posisi miring, membelakangi Gilang, dan pura-pura menguap. Memberikan tanda jika dia mengantuk dan tidak mau diganggu, sebab ingin tidur terlebih dahulu.
Gilang menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Cilla yang terasa aneh dimatanya. Dia berpikir jika Cilla menjadi salah tingkah, karena semua yang dia katakan tadi.
"Jangan pura-pura mengantuk jika matamu tidak bisa terpejam. Itu sungguh tidak nyaman." Gilang berkata agak keras, agar Cilla mendengarnya.
Sepertinya Cilla memang mendengar, tapi dia tidak mau berpaling dari posisinya, yaitu membelakangi Gilang.
__ADS_1