
"Aghhh..." teriak paman Ranveer tertahan.
Bugh...!
Bugh...!
Bugh...!
"Sabar Tuan, sabar!" teriak papa Gilang, menahan tubuh tuan besar Sangkoer Singh, agar tidak lagi mengamuk dan mengajar adik iparnya, paman Ranveer, dengan cara mencekal kedua tangannya ke arah belakang.
"Dia tidak bisa di maafkan. Di bukan manusia!" teriak tuan besar Sangkoer Singh, dengan wajah merah, karena marah.
"Bukan begitu caranya Tuan. Dia memang tidak punya perasaan, tapi jika tuan melakukan hal yang sama, apa bedanya Anda dengan dia?" tanya papa Gilang, masih mencoba menenangkan amarah tuan besar Sangkoer Singh.
"Hah... hah... hah..."
Tuan besar Sangkoer Singh, membuang nafasnya dengan kasar, beberapa kali. Dia mencoba mengatur emosinya agar tidak lagi meledak.
"Sabar ya Tuan. Semua ada caranya," kata papa Gilang, lagi, masih dengan memegang kedua tangan tuan besar Sangkoer Singh, yang dia tarik ke belakang.
"Lepaskan!" perintah tuan besar Sangkoer Singh.
"Asal Tuan tidak membuat keributan lagi. Ini rumah sakit," kata papa Gilang mengingatkan.
"Ya," jawab tuan besar Sangkoer Singh, pendek.
Akhirnya, papa Gilang, melepas cekalan tangannya pada tuan besar Sangkoer Singh. Tapi, dia masih tetap waspada, seandainya pertengkaran kembali terjadi.
Ternyata, tuan besar Sangkoer Singh, benar-benar tidak lagi melampiaskan amarahnya. Dia mengambil handphone miliknya yang berada di dalam saku celananya, kemudian melangkah keluar. Dia menelpon seseorang, yang ada di India sana.
*****
"Ma," panggil Jeny, begitu masuk ke dalam kamar pasien Aji.
"Sayang... Mami," panggil mama Cilla, begitu melihat ketiga anaknya, sedang mendorong kursi roda milik Oma Rossa.
"Oma maksa ingin ke sini. Dia mau lihat kakak," kata Jeny, menjelaskan apa yang diinginkan omanya.
"Dia masih diperiksa Dokter Dimas Mi," jawab mama Cilla, memberitahu mami mertuanya itu.
__ADS_1
"It... tu, Ji. Nar, tu Aj... i?" tanya Oma Rossa terbata.
"Iya Mi. Dia Aji. Tapi ingatannya, belum semuanya pulih. Dia masih belum bisa mengenali semua orang, bahkan Jeny, dia tidak mengenalnya," jawab mama Cilla, dengan dengan wajah sedih.
"Je... Jen. Ma... Ji," pinta Oma Rossa, pada Jeny, agar membawanya mendekat untuk melihat cucunya itu, Aji.
"Iya Oma," jawab Jeny, kemudian mendorongnya untuk lebih dekat lagi ke tempat tidur pasien Aji.
"Om. Oma ingin melihat kakak. Apa kakak masih bisa mengenali Oma atau tidak?" tanya Jeny, pada Dokter Dimas.
"Sebentar ya Jen," jawab Dokter Dimas, tanpa menoleh ke arah belakangnya, dimana Jeny sudah datang bersama dengan omanya, mami Rossa.
"Ma...Dim... Ji," kata Oma Rossa, pada Dokter Dimas.
"Lho, Tante. Sudah di sini, Aku pikir masih ada di kamar sebelah," jawab Dokter Dimas, dengan membalikkan badannya, untuk melihat Oma Rossa.
"Makanya, perhatikan juga orangnya. Jangan hanya suaranya saja," kata Jeny, dengan wajah cemberut.
"Hahaha... tentu tidak Sayangnya Om," jawab Dokter Dimas, dengan mengusap-usap kepala Jeny.
"Ihsss..." gerutu Jeny, karena ulah Dokter Dimas. Dia merasa malu, diperlakukan seperti itu, oleh om dokternya, Dokter Dimas.
"Oh iya Tante, maaf. Kalau sudah sama cucu Tante ini, Dimas bisa lupa diri. Hehehe..." Dokter Dimas, terkekeh-kekeh geli, melihat Oma Rossa, yang melotot dengan cara yang lucu.
Papa Gilang dan yang lainnya, melihat tingkah laku Dokter Dimas dan Jeny, dengan mengeleng-gelengkan kepalanya tanpa berkomentar apa-apa.
*****
"Ji. Aj... i," sapa Oma Rossa pada cucunya, Aji, yang sedang terbaring dan memejamkan matanya.
Beberapa detik kemudian, Aji membuka matanya. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, kemudian menoleh ke sumber suara, yang tadi memanggil namanya.
Di kursi roda, Oma Rossa, tampak tersenyum dengan menahan tangisannya. Dia merasa terharu, karena cucunya itu, bisa mendengar panggilannya yang tidak jelas.
Di belakang Oma Rossa, ada Jeny, si kembar Biyan dan Vero, bersama dengan dokter Dimas. Di sebelah kanan agak ke belakang, ada mama Cilla dan papa Gilang, yang saling memeluk dari arah samping.
"Oma," panggil Aji, setelah beberapa menit, memperhatikan keadaan sekitarnya.
"Huk... huk... huk..."
__ADS_1
Oma Rossa, terguguk karena menangis dengan tersedu. Dia merasa sangat bahagia dengan semuanya. Aji masih mengingatnya. Dia tidak lagi kehilangan cucunya itu.
Jeny, mengelus-elus pundak Oma Rossa. Dia ikut menangis dalam diamnya. Begitu juga semua yang ada di kamar itu. Semua ikut merasa terharu.
Tuan besar Sangkoer Singh, dan paman Ranveer, juga ikut menyaksikan sendiri bagaimana keluarga itu kita ni telah kembali utuh. Mereka berdua, duduk di sofa tunggu yang ada di ruangan tersebut.
"Lihat Ranveer! Untungnya, anak muda bernama Aji itu, adalah pemuda yang kuat, dan tidak begitu mempan dengan obat-obatan, yang kamu berikan," kata tuan besar Sangkoer Singh, pada adiknya, paman Ranveer.
"Kamu harus bertanggung jawab untuk semua perbuatanmu ini, Dan Aku pastikan, Kamu tidak akan bisa mendapatkan ampunan!" ancam tuan besar Sangkoer Singh, masih dengan wajah marahnya.
"Maaf. Maaf atas segala kesalahan yang Aku lakukan Tuan. Tuan boleh menghukum diriku, tapi jangan keluargaku," kata paman Ranveer memohon.
"Jika Kamu saja, sayang dan cinta dengan keluargamu, kenapa Kamu tidak berpikir, jika keluarga yang lain juga begitu? Dan apakah Vijay, anakku itu bukan keluargamu?!" bentak tuan besar Sangkoer Singh, dengan kesal dan amarahnya yang tertahan.
"Jika ini tidak di Indonesia, dan ada di India. aku pastikan, Kamu akan hancur di tanganku tadi," kata tuan besar Sangkoer Singh lagi.
"Aku benar-benar tidak menyangka Ranveer!"
*****
"Oma. Dia asisten Oma ya?" tanya Aji, pada omanya. Mami Rossa, dengan melihat ke arah Jeny.
Semua orang yang mendengarnya, tentu merasa kaget, sebab, Aji mengira jika Jeny, adiknya itu, adalah asisten Oma Rossa, yang membantunya untuk kegiatan sehari-hari.
"Aku Jeny Kak. J-E-N-Y, Anjani. Bukankah, Kakak yang dulu tidak bisa menyebutkan kata Anjani dengan cara yang baik, sehingga menjadi Jeny?" kata Jeny dengan kesal, karena merasa dilupakan oleh Kakaknya itu.
"Oma. Kenapa dia marah-marah. Bukankah Aji benar?" tanya Aji lagi, pada omanya. Tanpa mau mendengarkan penjelasan dari Jeny.
"Huh. Om Dimas..." Jeny, merajuk pada Dokter Dimas.
"Ma. Pa. Kenapa Kakak tidak mengenaliku?" tanya Jeny, beralih pada mama dan papanya. Dia kesal, karena Dokter Dimas, hanya tersenyum saja mendengar perkataan yang sedang merajuk.
"Ya, masih ada waktu Jen. Tidak semua penyakit, langsung sembuh, begitu diobati. Semua butuh proses," jawab papa Gilang, menenangkan anak gadisnya itu.
Oma Rossa, masih mengelus-elus tangan Aji, yang terdapat selang infus. Dia tidak banyak berbicara. Tapi dia tahu, jika cucunya itu, mengerti apa yang dia rasakan saat ini.
"Om. Siapa anak kecil yang berwajah sama itu?" tanya Aji tiba-tiba, saat atensinya beralih pada Vero dan Biyan. Adik kembarnya itu.
Semua orang, ikut melihat ke arah Vero dan Biyan yang saling pandang, dengan wajah yang terlihat seperti tidak mengerti. Apa dan kenapa, mereka berdua, juga tidak dikenali oleh kakak mereka, Aji.
__ADS_1