Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Elisa Serba Salah 3


__ADS_3

Malam semakin larut. Elisa sudah naik ke tempat tidur, untuk bisa mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Acara lamaran Jeny, yang tidak resmi tadi, cukup membuatnya lelah juga, meskipun dia tidak melakukan apa-apa. Tapi bercanda dan tertawa juga membutuhkan energi, dan itu menguras tenaga dan pikirannya yang sedang tidak baik-baik saja.


"Aku akan kembali ke kost besok pagi. Aku juga akan segera mencari pekerjaan secepatnya. Tidak mungkin, aku terus menunggu dan berharap pada bapak di rumah."


Berbagai macam pikiran dan rencana silih berganti, berkecamuk di dalam pikiran Elisa. Meskipun sebenarnya, dia sudah sangat mengantuk, tapi dia tidak bisa segera memejamkan matanya untuk tidur, dan melupakan sedikit masalah yang sedang dia hadapi saat ini.


"Rio juga kemana ya? tumben susah dihubungi," tanya Elisa pada dirinya sendiri.


"Hah! Aku yakin, masalah ini akan membuatku semakin kecil karena tidak bisa berkembang dengan baik. Bagaimana bisa aku memiliki badan yang bagus, kalau banyak masalah seperti sekarang ini!"


Akhirnya, Elisa mencoba untuk terpejam, dengan mengingat, jika dirinya tidak akan pernah bisa tumbuh kembang lagi dengan baik, seperti gadis-gadis yang lainnya.


"Semoga saja ada peri mimpi, yang bisa membawaku ke dunia khayalan yang indah. Tak apalah, meskipun hanya sekedar mimpi, toh dunia ini memang penuh dengan mimpi. Bedanya, ada yang bisa membuatnya menjadi nyata, dan ada yang memang benar-benar cuma mimpi."


Elisa benar-benar memaksakan matanya agar bisa terpejam dengan cepat. Dia tidak mau, jika rencananya besok untuk kembali ke kost mengalami kesulitan, karena dia terlambat untuk bangun pagi.


*****


"Ma. Elisa belum bangun?" tanya Jeny, saat sarapan pagi.


"Ini udah ada tempe kemulan kesukaan Elisa juga, tapi..."


Jeny tidak melanjutkan kata-katanya, saat mama Cilla memotong perkataannya.


"Dia bilang ada perlu, makanya pergi pagi-pagi. Mama pikir, sudah pamit sama Kamu semalam."


"Keperluan, apa? dia tidak pamit pada Jeny."


Mama Cilla, melihat ke arah anaknya itu dengan wajah bertanya-tanya. Dia tadi, waktu Elisa pamit untuk pergi, berpikir jika Elisa sudah pamit pada Jeny, makanya dia tidak mencegahnya. "Mama pikir dia sudah pamit Jen, atau pesan gitu lewat handphone kamu. Udah cek belum?" tanya mama Cilla dengan wajah cemas.


"Jeny belum lihat handphone pagi ini. Coba nanti Jeny cek deh."


Aji, yang ikut mendengarkan perbincangan antara mamanya dan adiknya, hanya bisa diam dan berpikir jika, Elisa, kemungkinan ada masalah lainnya yang tidak bisa dia ceritakan. "Pantes saja, dia minta secepatnya, Aku untuk ngaku, kalau sudah ingat. Ternyata, dia mau pergi secepat ini. Kemana dia?" tanya Aji dalam hati.


"Lho, kok gak sarapan dulu perginya?" tanya papa Gilang, dengan suara heran.

__ADS_1


"Gak sempet katanya Mas," jawab mama Cilla.


"Wah, kita gak bisa ngusilin kak El lagi dong!"


"Itu Kamu, bukan Aku. Atau jangan-jangan, kak El pergi karena sering Kamu usilin?" tanya Biyan, menyahut cepat perkataan kembarannya, Vero.


"Ck. Elisa gak mempan kali dengan usilan receh kalian. Coba nanti Jen tanya deh, kalau ketemu di kampus."


Mama Cilla dan papa Gilang, hanya mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Jeny.


"Atau kakak tahu, ada apa dengan Elisa?" tanya Jeny, sembari menatap ke arah kakaknya, Aji.


"Eh... ehmmm, tidak. Dia tidak mengatakan apa-apa semalam," jawab Aji, sambil mengelengkan kepalanya.


"Ya sudah, lanjutkan sarapannya. Nanti bisa tanya lewat telpon, atau tanya langsung kalau ketemu dia Jen," kata mama Cilla menengahi.


"Ya Ma."


*****


"Rio!" panggil Jeny, begitu melihat keberadaan Rio, yang sedang duduk di bangku panjang taman kampus, menuggu jam kuliahnya.


"Ihsss, liat El gak?" tanya Jeny, sambil duduk di sebelah Rio.


"Gak," jawab Rio cepat, "Bukankah dia ada di rumah Kamu?" sambung Rio sambil melihat ke arah Jeny.


"Semalam masih. Tapi tadi pagi dia pamit pada mama, katanya ada keperluan penting. Bahkan sebelum Aku bangun."


"Hah, pagi-pagi? lah semalam tidak ada ngomong gitu ke Kamu?" tanya Rio kaget.


"Gak. Dia tidak bilang apa-apa. Tapi pas acara lamaran Dokter Dimas, dia tidak ada, malah di kamar. Katanya mau telpon bapaknya di rumah."


"Kamu lamaran sama Dokter Dimas? kok gak undang-undang sih!" Rio, terlihat kaget lagi.


"Cuma biasa saja. Nanti, resminya seminggu lagi, pastinya Aku undang Kamu kok," jawab Jeny dengan tersenyum tipis.

__ADS_1


"Hemmm..."


Rio hanya mengangguk saja, tanpa berkomentar banyak.


"Sebenarnya, Elisa meneleponku beberapa kali semalam. Tapi Aku sedang tidak ada di kost, ada acara. Dan handphone Aku itu ketinggalan, makanya gak tahu dia mau ngomong apa."


"Ada pesan gak?" tanya Jeny, begitu Rio selesai bercerita.


"Gak ada. Justru tengah malam pas Aku pulang, dan Aku telpon balik handphonenya sudah tidak aktif, sampai sekarang ini tadi. Aku udah kirim pesan juga, tapi sepertinya memang handphonenya gak aktif, soalnya belum kebaca nih!" kata Rio, sambil menunjukkan layar handphonenya pada Jeny.


"Ck, itu anak kebiasaan. Kalau ada masalah gak mau cerita-cerita," gerutu Jeny, dengan wajah kesal.


"Yah... Kamu tahu sendiri, Elisa kayak apa kan? dia itu usil dan banyak ketawa bukan berarti tidak ada masalah yang sedang dia hadapi dan rasakan. Itu lah dia."


"Terus sekarang, cari kemana?" tanya Jeny bingung.


"Tunggu saja. Siapa tahu, dia nanti masuk jam kuliah," jawab Rio, dengan tidak yakin juga.


"Sepertinya, beberapa kali jam kuliah dia tidak masuk, meskipun ada di kampus. Kamu gak perhatikan ya?" tanya Jeny, mengingat-ingat kembali beberapa hari kemarin.


"Iya juga ya. Tapi kan kalau ditanya, dia cuma bilang ada bimbingan, makanya gak ikut jam kuliah," jawab Rio, sambil mengerutkan keningnya.


"Tapi kita gak pernah tanya, bimbingan apa, dosen mana?" tanya Jeny mengingatkan.


"Iya juga ya. Ah, kita gak begitu peka dengan dia ya ternyata."


Rio dengan wajah cemas, mencoba untuk menghubungi Elisa lagi. Tapi sepertinya, usahanya itu tidak membuahkan hasil. Elisa tetap tidak bisa dihubungi.


"Oh ya Jen. Si El, pernah bilang, jika dia tidak akan lama di rumah Kamu. Sebab, kakak Kamu, Aji, sudah mengingat Kamu dan kedua adik kembar Kamu tidak lama lagi. Sayangnya, waktu itu Aku gak tanya-tanya dia sih!"


Tiba-tiba, Rio mengingat, jika Elisa pernah mengatakan itu padanya kemarin itu.


"Oh ya? berarti dia tahu, kalau kakakku, sebenarnya sudah ingat. Tapi kenapa baru semalam kak Aji bilang?" Jeny menjadi bingung dengan apa yang sedang terjadi pada Elisa.


"Oh, kakak Kamu sudah ingat lagi ya? syukurlah. Pantas saja, Elisa pergi. Dia pikir sudah tidak di perlukan lagi mungkin!"

__ADS_1


"Eh, gak gitu juga kali. Ah sudahlah. Kita tanya saja sama dia, kalau ketemu nanti."


Rio hanya mengangguk saja, tanpa berkata-kata lagi. Dia jadi berpikir, jika dalam waktu dekat ini, Elisa pasti akan menghilang dan tidak ada kabar.


__ADS_2