Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Merencanakan Sesuatu


__ADS_3

"Ayo naik kuda!" kata Gilang mengajak Aji untuk bermain kuda-kudaan.


"Papa jadi kudanya?" tanya Aji bingung, karena sekarang ini, Gilang sudah memposisikan dirinya dengan merangkak.


"Iya. Memangnya Aji yang aku jadi kudanya? Terus Papa yang naik gitu, kuat ya?"


Gilang menjawab pertanyaan dari Aji, anaknya itu, dengan mencari tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Aji saat ini.


"Hehehe... Aji tidak kuatlah Pa!"


"Iya. Nanti saja kalau sudah gede dan punya adik, Aji ajak adeknya main kuda-kudaan, tapi Aji yang jadi kudanya. Kan Aji yang sudah gede," kata Gilang memberikan penjelasan pada Aji.


"Adek bayi?" tanya Aji ingin tahu.


"Iya. Tapi kalau adiknya sudah bisa jalan. Lalu batu lahir tidak bisa diajak main. Belum bisa. Ingat ya, adeknya yang sudah bisa jalan!"


Aji mengangguk sebagai tanda mengerti apa yang dijelaskan oleh papanya, Gilang. Dia jadi merasa tidak sabar menunggu waktu itu. Dia ingin merasakan bisa bermain-main dengan adiknya nanti.


"Kapan Aji punya adik bayi?" tanya Aji dengan nada serius.


"Eh, itu coba Aji tanya sama mama ya!"


Gilang meminta Aji untuk bertanya pada Cilla, jika ingin tahu kapan dia akan punya Adek bayi, seperti yang mereka bicarakan saat ini. Strategi Gilang ini, sepertinya akan segera berhasil. Dia meminta anaknya untuk mendapatkan jawaban dari Cilla secara pasti.


"Kenapa harus tanya mama?" Aji bertanya dengan bingung. Dia tidak mengerti, apa yang dikatakan oleh papanya.


"Ya kan yang bisa mengandung Adek bayi itu mama. Papa hanya membantu saja," jawab Gilang dengan tersenyum.


Ah, Gilang sudah terlalu senang, meskipun hanya dengan menjawab pertanyaan dari Aji saja. Dia juga sudah mulai membayangkan, jika hal itu benar-benar terjadi. Gilang, ikut-ikutan tidak sabar seperti halnya Aji, yang mempunyai keinginan yang sama. Mempunyai adek bayi.


"Nanti Aji yang tanya ya Pa. Aji mau Adek yang banyak, biar banyak teman main. Tapi Aji tidak mau yang suka nangis dan ngompol juga," rengek Aji memberiakan syarat.


"Hahaha... itu gampang. Yang penting ada Adek bayinya dulu kan?" tanya Gilang dengan tersenyum miring.


Keduanya, Aji dan Gilang, sama-sama tersenyum senang dan melakukan TOS bersama.

__ADS_1


"Papa mandi dulu ya! Nanti keburu di teriaki oma, atau mama Kamu," kata Gilang, meminta izin pada Aji untuk pergi mandi.


"Aji mau ikut ke kamar Papa. Tapi gendong!"


"Siap Bos kecil!"


"Hehehe..."


Keduanya tertawa-tawa senang dengan apa yang sedang mereka lakukan saat ini.


*****


Saat makan malam, Aji terlihat sangat senang, Dia makan dengan semangat, dan menghabiskan makanannya terlebih dahulu, sebelum yang lain. Padahal, Aji biasanya, makan dengan pelan, dan paling terakhir menyelesaikan makannya.


Cilla dan mami Rossa yang memperhatikan semua itu, hanya bisa saling pandang. Tapi yang lebih mengherankan lagi, Gilang sedari tadi tersenyum-senyum sendiri sambil melirik Aji. Entah apa yang sedang mereka sembunyikan saat ini.


"Uhuk, uhuk!"


Aji batuk-batuk saat meminum air putihnya, seusai makan.


"Pelan-pelan Aji!."


"Jangan buru-buru Sayang."


Cilla, mami Rossa dan juga Gilang, mengingatkan Aji, secara bersamaan. Kini Cilla, menepuk-nepuk pelan pundak anaknya itu.


"Tumben Aji semangat sekali makannya. Tidak seperti biasanya," kata mami Rossa berkomentar. Tak lama, dia juga melanjutkan Pertanyaannya pada anaknya yang terlihat tidak biasa malam ini. "Gilang. Kamu juga kenapa sedari tadi senyum-senyum sendiri?" tanya mami Rossa pada anaknya, Gilang.


"Eh. Mana ada tidak biasa? Makanannya enak, jadi bersemangat makan Mami. Aji saja sudah habis. Iya kan Sayang, masakan mama enak kan?" Gilang meminta dukungan dari anaknya, Aji.


"Memangnya Kamu tahu dari mana, kalau makanan ini Cilla yang masak?" tanya mami Rossa pada Gilang.


Tapi Gilang tidak menjawab pertanyaan dari maminya itu. Dia hanya tersenyum-senyum sendiri ke arah Cilla, yang masih menenangkan Aji.


"Ah, dasar Kamu saja yang banyak alasan," kata mami Rossa mengeleng melihat tingkah anaknya yang sudah dewasa itu.

__ADS_1


*****


Saat bersantai sejenak, usai makan malam, Gilang memberikan usulan untuk acara hari minggu, yang masih tiga hari lagi.


"Mi. Hari minggu besok ada acara tidak?" tanya Gilang pada mami Rossa.


Mami Rossa tidak segera menjawab. Dia terdiam beberapa saat, sambil berpikir, mengingat-ingat kembali, seandainya ada sesuatu yang sudah dia rencanakan sebelumnya.


"Sepertinya tidak ada," jawab mami Rossa setelah sekian detik terdiam.


"Ada apa?" tanya mami Rossa ingin tahu, sebab Gilang tidak melanjutkan lagi kata-katanya.


"Em... Itu Mi. Ada yang ingin Gilang rencanakan."


Gilang berbisik-bisik pelan di telinga maminya. Dia tidak aku, jika rencana yang dia buat bersama dengan anaknya, Aji, terdengar oleh Cilla, karena sekarang ini, Cilla dan Aji masih ada di meja makan. Itu artinya, jarak mereka berdua, tidak terlalu jauh dari tempat duduknya Gilang dengan mami Rossa saat ini.


"Aji yang minta, apa kamu sendiri yang mengusulkannya pada Aji?" tanya mami Rossa ingin tahu.


"Aji Mi tadi yang bilang. Aku cuma meneruskan saja. Siapa tahu hasilnya lebih baik. Kan itu juga yang Mami mau kan?"


"Hehehe... Tentu Sayang. Mami akan dukung, apapun yang kamu lakukan, asalkan itu untuk kebaikan kalian kedepannya nanti."


Gilang memeluk mami Rossa dengan wajah penuh haru. Dia merasa bersyukur, memiliki mami Rossa yang selalu ada dalam keadaan apapun yang terjadi pada dirinya.


"Terima kasih Mi. Gilang sangat bersyukur dan juga senang, dengan semua yang Mami lakukan untuk Gilang selama ini. Ucapan terima kasih saja, sepertinya tidak akan pernah cukup untuk Mami."


Mami Rossa mengelus punggung anaknya itu dengan penuh kasih sayang. Dia juga merasa bersyukur, memiliki anak seperti Gilang yang selalu bisa mengatasi semua permasalahan yang ada, baik masalah pribadi maupun di kantor tanpa mencampur adukkan semaunya sendiri.


"Semoga rencana Kamu dan Aji ini, akan berhasil. Mami rasa kalian harus secepatnya juga menikah. Tidak baik lama-lama menundanya. Apalagi, saat ini sepertinya Cilla sudah mulai bisa bersikap biasa saja jika berhadapan denganmu. Mami pikir itu sudah cukup."


Gilang menganggukkan kepalanya mengerti apa yang dikatakan oleh mami Rossa. Dia tentu setuju dengan mami Rossa.


"Iya Mi. Aku juga tidak ingin, dia beruang pikiran lagi, jika terlalu lama dibiarkan. Siapa tahu, dia juga sebenarnya menunggu saat-saat seperti itu. Aku minta pada Mami, untuk tetap diam dan tidak membocorkan rahasia ini pada Cilla ya Mi!"


"Iya Sayang. Mami akan mendukung rencana kalian ini. Mami jadi tidak sabar menunggu waktu itu terjadi nanti."

__ADS_1


"Hehehe... Mami. Tapi jangan buru-buru juga lah Mi. Masih ada acara sidang juga lusa. Gilang juga harus merubah semua schedule kantor, untuk seminggu kedepannya," kata Gilang memberitahu pada maminya.


__ADS_2