
Rumah Besar bam istana milik tuan besar Sangkoer Singh, masih tampak ramai. Mungkin karena ada beberapa orang yang masih belum tidur, meskipun hari sudah menjelang pagi. Mereka, masih belum tidur karena ingin menyambut kedatangan Aji dan Elisa.
Elisa, berdecak kagum saat melihat keindahan rumah yang ada di depan matanya. Dia bukan melihat sebuah rumah, tapi duplikat dari istana yang sering dia lihat di cerita-cerita putri dan raja.
Bangunan yang artistik dan khas India, sangat kental. Ornamen ukiran khas Taj Mahal disalin ke istana tuan besar Sangkoer Singh. Benar-benar bak di dunia mimpi, Elisa bisa berada di depan rumah ayah angkat dari suaminya, Aji.
"Kak, ini beneran rumah?" tanya Elisa, yang masih berdecak kagum dengan keindahan rumah tersebut.
"Iya ini rumah. Kalau orang-orang sekarang, lebih mengenal mansion. Cuma, mansion lebih identik dengan bangunan modern. Kamu tahu, beberapa rumah di Jakarta milik politisi dan pengusaha, juga banyak yang seperti ini. Papa Gilang, belum bisa dibandingkan dengan mereka-mereka Kalau harga rumahnya saja bisa seharga ratusan milyar."
Elisa tercengang, saat mendengar perkataan suaminya. Dia yang masih berpikir polos tentang kekayaan, tidak pernah membayangkan, jika orang-orang kaya akan berlomba-lomba, untuk membangun sebuah rumah dengan harga yang segitu mahalnya. Dia juga tidak bisa membayangkan dan menghitung, berapa banyaknya uang itu jika ada di depan matanya sekarang.
Klik!
Pintu mobil terbuka secara otomatis. Ada pelayan yang menyambutnya, begitu pintu mobil itu terbuka. Bahkan mereka membawa kalung dari karangan bunga. Elisa, jadi merasa seperti tamu-tamu kehormatan, atau utusan negara.
"Ayok turun," ajak Aji, dengan mengulurkan tangannya untuk mengandeng tangan Elisa.
Elisa menurut. Dia turun bersama dengan Aji. Meskipun tubuhnya terasa lelah dan sedikit mengantuk, tapi rasanya sudah hilang begitu tiba di depan rumah ini.
"Selamat datang anakku Aji, dan menantuku Elisa!"
Dari dalam rumah, keluar tuan besar Sangkoer Singh, yang menyambut kedatangan mereka berdua. Kalung bunga sudah berada di leher Aji dan Elisa. Sekarang, tuan besar Sangkoer Singh memeluk Aji, anak angkatnya itu.
"Sepertinya, ayah lama sekali tidak melihatmu, dan Kamu tampak lebih tampan serta sedikit berisi. Apa pernikahanmu ini membuatmu bahagia, sehingga Kamu terus menunda-nunda untuk datang ke rumah Ayah? Kamu takut Ayah akan memberikan banyak pekerjaan sehingga Kamu tidak bisa bermain-main dengan istrimu? Hahaha... maafkanlah ayahmu ini. Maafkan dengan pembicaraan yang tidak jelas ini!"
Aji hanya tersenyum saja, menanggapi perkataan ayah angkatnya itu. Dia pun memeluk ayahnya itu dengan erat dan melepaskan rindu yang ada di dada. Sedangkan Elisa, hanya tersenyum kikuk, karena namanya disebut-sebut secara tidak langsung.
__ADS_1
"Apa kabar Yah?" tanya Aji, begitu pelukan mereka berdua terlepas. Dia memang tidak suka berbasa-basi, meskipun hanya sekedar gurauan saja.
"Kabar ayah seperti yang Kamu lihat. Sehat dan bisa menyambut kedatangan dirimu bersama dengan istri, menantu ayah. Oh ya, mana dia?" tuan besar Sangkoer Singh, baru teringat dengan keberadaan Elisa. Dia yang fokus pada Aji, melupakan istri dari anak angkatnya itu.
"Ini Elisa ayah," kata Aji, mengandeng tangan Elisa, yang berada di belakangnya.
"Wah-wah. Cantik sekali, pantas saja Kamu tidak bisa jauh-jauh dari dia. Hahaha... Maaf menantu, ayah memang seperti ini, jika ada di rumah. Ayo masuk-masuk!"
Mereka berdua di ajak masuk ke dalam rumah oleh tuan besar Sangkoer Singh. Tapi, begitu mereka berada di depan pintu, penyambutan tamu bak film-film India ada juga di rumah ini.
Seorang wanita, membawa baki berisi bunga-bunga yang ada api di tengahnya, dari sebuah benang khusus untuk ibadah mereka. Ada juga semacam tinta merah di antara bunga-bunga yang ada di baki tersebut. Elisa benar-benar merasa sedang berada di sebuah adegan film India, karena sekarang ini, dia mengalami penyambutan tamu yang datang dari jauh atau tamu khusus bagi mereka.
Aji, tersenyum dan mengangguk memandang ke arah istrinya, saat Elisa melihat kearahnya, karena Elisa menggenggam tangannya dengan erat. Mungkin, Elisa ingin memastikan jika dia bukan sedang berada di dunia mimpi.
"Kak, ini..."
"Ayok, masuk-masuk. Kalian pasti capek dan lapar kan? Ada makanan yang pasti lama tidak Kamu makan Aji. Ini Ayah sudah minta pada orang-orang dalam ( pembantu ) untuk memasak makanan kesukaan Kamu dulu." Ayah angkatnya itu, sangat bersemangat dalam menyambut kedatangan Aji dan Elisa. Dia langsung membawanya ke ruang makan yang lebih pantas di sebut sebuah aula pertemuan.
Elisa, kembali tercengang melihat keadaan ruang makan di rumah ini. Semua yang tampak di depan matanya sekarang bukan ruang makan pada umumnya. Mungkin, jika Elisa tidak malu, dia akan berteriak-teriak, dan berlari untuk meraba ukiran-ukiran unik yang ada didinding dan tiang-tiang penyangga rumah yang ada di ruangan tersebut. Warna yang dominan ada adalah emas, menggambarkan keadaan pemiliknya yang sangat istimewa.
"Ayo, duduklah. Sini-sini!" kata tuan besar Sangkoer Singh, sambil menarik sebuah kursi untuk Aji dan juga Elisa.
"Terima kasih Yah," kata Aji, kemudian duduk di kursi yang ditujukan untuknya.
Elisa juga mengatakan hal yang sama, saat dia diberikan sebuah kursi yang ada di samping suaminya. "Terima kasih Tuan," ucap Elisa, sambil mengangguk.
"Hei, apa yang Kamu katakan menantu? Tuan? Aku ini ayahnya Aji, bukan tuannya. Panggil saja Aku sama seperti Aji memanggilku, Ayah. Bisa kan?" ayah Sangkoer Singh, tidak mau di panggil Elisa, dengan sebutan 'tuan' karena dia menganggap Aji sebagai anaknya sendiri, jadi Elisa, istrinya Aji, adalah menantunya juga.
__ADS_1
Elisa, meringis saat di protes karena salah panggilan. Dia jadi menoleh ke arah suaminya, yang duduk di sebelahnya.
Aji mengangguk, menanggapi tanpa bersuara. Dia merasa, jika budaya India memang seperti itu. Mereka juga akan menganggap keluarga seandainya ada tali hubungan, meskipun tidak ada darah yang sama.
"Ayo-ayo di makan. Ini sudah disediakan. Mungkin untuk jika dikatakan makan pagi ini tidak layak karena terlalu pagi, tapi jika dikatakan makan malam juga sudah terlewat jauh sekali. Jadi makan saja, tidak usah berpikir jika ini sedang acara makan apa? hahaha... aku terlalu senang, sehingga banyak bicara. Maafkan Aku menantu. Kamu tidak usah sungkan, anggap saja rumah sendiri. Rumah ini juga milik suamimu, Aji. Dia punya hak yang sama di sini."
Akhirnya, mereka menikmati makanan yang sudah disediakan. Elisa, yang tidak biasa makan nasi, merasa bersyukur karena memang tidak ada menu nasi di meja makan ini. Dia mencoba untuk mencicipi paratta yang terkenal sebagai makanan khas India.
Aji juga sama. Dia yang sebelumnya sudah pernah tinggal dan terbiasa dengan makanan dengan menu seperti ini, jadi tidak kikuk untuk menyantapnya.
Keduanya, makan dengan ditemani oleh tuan besar Sangkoer Singh, yang juga ikut menikmati makanan itu.
"Yah, Vijay Singh bagaimana kabarnya?" tanya Aji, di sela-sela makannya. Dia sedari tadi tidak melihat keberadaan Vijay Singh, yang memang belum pernah dia lihat secara langsung selama ini. Dia hanya tahu, dari foto dan video call yang mereka lakukan selama beberapa kali.
Tuan besar Sangkoer Singh, menunduk. Dia juga tidak melanjutkan suapannya. Dia menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan dari Aji, anak angkatnya itu.
"Vijay... Vijay kembali koma. Itulah sebabnya, Ayah memintamu segera ke sini."
Jawaban yang diberikan oleh ayah angkatnya itu, membuat Aji berpikir, jika wajah ceria ayahnya tadi, hanya untuk menutupi kesedihan yang dia rasakan saat ini. Aji, tidak lagi bertanya. Dia juga menyudahi acara makan_nya. Elisa, juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Aji. Dia mencuci tangannya dengan air yang ada di ujung meja, dan menyodorkan juga pada Aji. Setelah itu, di mengambil tissue untuk dirinya sendiri dan juga suaminya, Aji.
Mereka berdua, ikut merasakan kesedihan yang dialami tuan besar Sangkoer Singh, untuk anaknya, Vijay Singh, yang sedang koma, pasca operasi ginjal_nya, yang rusak akibat obat-obatan yang diberikan paman Ranveer.
"Maaf Yah. Aku tidak tahu, jika keadaan Vijay jadi seperti sekarang ini."
"Ini bukan kesalahanmu Aji. Mungkin sudah jadi nasibnya Ayah, yang tidak beruntung dalam keluarga. Meskipun Ayah di bilang sukses sebagai seorang pengusaha, tapi menurut Ayah sendiri, itu tidak ada gunanya sama sekali."
Elisa menjadi sadar, jika apa yang dilihat oleh seseorang bukan berarti yang sebenarnya untuk orang itu sendiri.
__ADS_1