Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Gaduh Di Rumah Sakit


__ADS_3

Perjalanan yang di tempuh Elisa dengan Rio, untuk pergi ke rumah sakit, lumayan memerlukan waktu yang cukup lama. Apalagi, saat waktu jam makan siang seperti ini, banyak yang keluar dari kantor untuk sekedar mencari makan yang enak atau ada janji temu dengan teman dan pacar untuk makan siang bersama.


"Mereka kenapa tidak makan siang di tempat yang lebih dekat dengan kerjaan sih, kenapa mesti bermacet-macet ria ya?" tanya Rio, dengan keluh kesahnya, sambil mengetuk-ngetuk kemudi mobil.


"Suka-suka mereka-lah, kenapa Kamu yang repot?" jawab Elisa dengan sebuah pertanyaan juga.


"Eh, El. Bukan begitu juga. Kalau mereka tidak keluar-keluar, jalanan tidak akan penuh dan macet. Kan hemat bahan bakar juga," jawab Rio menjelaskan keluhannya yang tadi.


"Mungkin ada perlu. Sama juga kayak kita gini nih. Bisa jadi, mereka juga mengeluh kayak Kamu. Tuh mobil mau kemana sih, repot amat keluar siang-siang?" kata Elisa dengan memberikan contohnya juga.


"Hem... bener juga ya."


"Ya, iyalah. Semua ada keperluan dan kepentingan masing-masing. Kita tidak harus mengeluhkan semua hal. Kan kita tidak tahu, apa kepentingan dan kebutuhan mereka juga," kata Elisa, menjelaskan lagi kepada Rio.


"Tumben pinter tuh otak. Abis di isi bensin dua porsi ya? hehehe..." ledek Rio, menyingung tentang makan Elisa yang banyak tadi.


"Itu karena Aku kelaparan. Biasanya, sarapan dulu bareng Jeny sebelum jam kuliah. Lah tadi kan langsung masuk, gak ada Jeny," jelas Elisa membuat alasan.


"Halah... bilang saja, cacing di perut Kamu itu memang rakus!" ledek Rio lagi, tanpa menoleh. Dia masih saja fokus ke depan, karena mobil berjalan denganmerangkak lagi


"Biarin. Toh cacing Aku, gak minta jatah ke Kamu, weeee..."


Rio, hanya menggeleng, mendengar jawaban dari temannya yang tidak ada malunya itu.


"Aku kok deg-degan banget ya Rio."


Tiba-tiba, Elisa berkata tentang perasaannya saat ini. Rio menoleh sekilas, lalu kembali menatap ke arah depan.


"Rio!" panggil Elisa, dengan kesalnya.


"Apa?" tanya Rio pendek.


"Aku deg-degan," kata Elisa lagi.


"Kenapa?" tanya Rio dengan menoleh ke arah Elisa, karena mobil kembali berhenti, dikarenakan macet pada lampu merah.


"Gak tahu juga ini Pokoknya deg-degan saja," jawab Elisa tidak jelas, dengan apa yang sedang dia rasakan saat ini.


"Kalau ngomong itu yang jelas, ada apa, alasannya karena apa. Ini ngomong gak tahu arah tujuannya. Dicuekin, marah. Ditanggepin gak jelas gitu. Dasar aneh!" gerutu Rio lagi.


"Eh, Kamu sehat kan?" tanya Rio, dengan menyentuh dahi Elisa, untuk memeriksa kondisi suhu tubuhnya.


"Ihsss, apaan sih... sehat seratus persen!" teriak Elisa dengan nada kesal, sambil menepis tangan Rio.


"Habisnya, ngomong gak jelas dari tadi."

__ADS_1


"Emang salah ya? Kan suka-suka Aku juga," sahut Elisa dengan cepat.


"Susah emang, ngomong sama cewek jadi-jadian," guman Rio, dengan mengeleng.


"Enak aja cewek gak jelas. Cewek tulen, len!" sahut Elisa lagi, dengan menekan kalimatnya yang terakhir.


"Gak. Aku gak yakin," kaya Rio mencibir.


"Kami tuh, cowok gak jelas!" balas Elisa sambil menjulurkan lidahnya.


"Hehehe... impas," kata Rio terkekeh geli, melihat tingkah laku temannya itu.


"Dasar Rio... bukan ORI!" ledek Elisa lagi, tanpa mau berhenti.


"Udah. Mau ikut turun, atau masih pengen di dalam mobil?" tanya Rio, dengan mata yang memandang ke luar. Ternyata, mereka sudah sampai, dan berada di area tempat parkir rumah sakit.


"Lho, sudah sampai ya?" tanya Elisa tidak sadar, jika ternyata sekarang dia sudah berada di rumah sakit, tempat kakaknya Jeny dirawat.


"Ngomong mulu sih!" ledek Rio memulai.


"Udah gak mempan," kata Elisa, dengan berjalan ke arah pintu masuk rumah sakit.


"Heh, tunggu kerdil!" teriak Rio, mengatai Elisa.


"Iyalah, kan Aku kakinya panjang," jawab Rio, bangga dengan postur tubuhnya sendiri


"Jerapah no panjang!" ledek Elisa, tidak mau kalah.


"Leher kali dia yang panjang," kata Rio, mengoreksi jawaban Elisa.


"Ukur sana! Sama panjangnya kali..." sanggah Elisa tetap tidak mau mengalah.


"Mbak, Mas. Maaf, kalau mau jalan atau berdebat mari, silahkan ke tempat lainnya. Ini rumah sakit," tegur salah satu Security, yang sedang berjalan di lorong rumah sakit, dan secara kebetulan memergoki mereka berdua, yang sedang berdebat dan tidak ada yang mau mengalah. Begitu juga dengan cara jalan mereka berdua yang tidak beraturan, sehingga menganggu pejalan lainnya.


"Kamu sih!" kata Elisa kesal, karena merasa malu sudah ditegur oleh Security.


"Kok Aku sih? Kamulah tadi yang mulai!" banyak Rio dengan cepat.


Security yang menegur mereka berdua, mengeleng-gelengkan kepalanya, melihat tingkah laku mereka berdua yang tidak bisa di nasehati.


Akhirnya, Security tadi, menahan mereka berdua, ke pos keamanan dan meminta pihak keluarga untuk segera menangani mereka berdua.


*****


"Kalian berdua apa-apaan sih, bikin malu saja! Terus ngapain, kok pake bilang jika Aku adalah keluarga kalian?" tanya Jeny, pada Rio dan Elisa, yang baru saja dia jemput, dari pos keamanan rumah sakit.

__ADS_1


Elisa dan Rio, hanya cengar-cengir mendengar Omelan Jeny.


"Sudah Jen. Mereka berdua, mungkin khilaf," kata Dokter Dimas, yang tadi datang bersama dengan Jeny, memberikan jaminan keamanan dan ketertiban, pada Elisa dan Rio di rumah sakit ini.


"Khilaf kok tiap hari," kata Jeny datar, dengan wajah yang sinis.


"Kalian ngapain datang ke sini, berduaan lagi?" tanya Jeny pada teman kuliahnya itu, dengan menatap curiga.


"Aku..."


Elisa tidak jadi meneruskan kata-katanya, saat melihat Rio yang mengatupkan kedua bibirnya erat. Seperti dengan dikunci.


"Dokter, terima kasih ya."


Elisa, akhirnya mengalihkan perhatiannya pada Dokter Dimas. Dia tidak lupa mengucapkan terima kasih, karena telah dibantu saat di pos keamanan tadi.


"Oh ya Dok. Terima kasih juga ya!" kata Rio, tidak mau ketinggalan.


"Maaf Jen," kata Elisa dengan cengar-cengir.


"Ihsss... gak gitu caranya," kata Rio memperingatkan, dengan cara berisik.


"Gimana?" yang Elisa bingung, dengan berbisik juga.


"Tadi, kita ke sini mau apa?" tanya Rio mengingatkan. Masih dengan suara yang pelan.


"Jenguk kakaknya Jeny, Kak Aji," jawab Elisa dengan mata memicing.


"Nah! Jeny tidak meminta Kamu datang kan?" tanya Rio lagi.


"Gak. Tapi Aku dah bilang, kalau mau datang. Sekalian bawa catatan sastra yang tadi, sebagai alasannya," jawab Elisa pasti.


Mereka berdua, Rio dan Elisa, masih saja berbisik-bisik pelan, agar Jeny tidak ikut mendengarkan obrolan mereka.


"Terus, kenapa Kamu gak bilang tadi? Sewaktu Jeny tanya, ngapain kita ke sini?"


Sekarang, Elisa tidak mengerti, apa yang dimaksudkan oleh Rio.


"Lah, Aku mau jawab, Kamu suruh diem kan tadi?" tanya Elisa, mengingatkan Rio, saat dia mengatupkan kedua bibirnya, seperti meminta Elisa agar diam saja.


"Aku? Kapan lagi?" tanya Rio bingung. Kali ini, suaranya lepas dan tidak dengan cara berbisik, bahkan terdengar setengah berteriak.


"Rio....!"


Elisa dan Jeny, berbarengan meneriakkan nama Rio, dan tentu saja, itu membuat Rio langsung menutup kedua telinganya.

__ADS_1


__ADS_2