Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Suasana Hati Yang Berbeda


__ADS_3

"Istri ya," kata Elisa dengan nyengir kuda. Dia menepuk keningnya sendiri, saat menyadari bahwa dirinya sekarang ini telah menjadi istrinya Aji Putra.


"Iya istriku, cintaku, Elisaku!" kata Aji dengan tegas. "Apa Kamu tidak percaya?" tanya Aji, melanjutkan kata-katanya yang tadi.


"Eh, Aku... Aku," Elisa tidak bisa meneruskan kata-katanya sendiri saat melihat tatapan Aji yang terlihat berbeda.


"Kak... Kakak mau apa?" tanya Elisa gugup, saat Aji mendekatkan wajahnya.


"Mau makan. Semalam Kakak belum makan," jawab Aji, dengan suara parau.


"Ma... makan? semalam Kakak sudah makan nasi goreng, Elisa sendiri yang menyuapi kan?" tanya Elisa, mengingatkan Aji, jika semalam dia sudah menyuapinya makan malam, dengan nasi goreng.


"Bukan itu, tapi... ini, ini, dan..."


Elisa melotot kaget, karena jari tangan Aji yang menunjuk ke arah bagian tubuhnya yang...


"Ah, Kakak mesum!" teriak Elisa sambil bangkit dari tempat tidur. Dia tertawa lepas karena melihat Aji yang kaget, mendengar teriakannya tadi. "Hahaha... awas, El mau mandi dulu," kata Elisa, meminta pada Aji agar menyingkir dari tempat tidur.


"Ihssss... makan dulu, baru mandi. Atau mau makan sambil mandi?" tanya Aji, yang berhasil menangkap tangan Elisa agar kembali pada posisi semula, yaitu berbaring di tempat tidur.


Elisa mengeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum-senyum. Dia malu mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya sendiri.


"Ayo jawab..." desak Aji dengan tatapan menuntut.


"Apa masih perlu jawaban, jika sedang kalah seperti ini?" tanya Elisa dengan nyengir kuda, karena posisinya yang persis tawanan saat berkelahi.


"Oh, mau berkelahi ya? Ok ayok?" kata Aji dengan tersenyum miring, menerima tantangan dari Elisa.


"Eh, eh. Kok berkelahi sih Kak?" tanya Elisa panik. Dia tidak paham dengan perkataan Aji dengan berkelahi.


"Ih... banyak omong!" kata Aji dengan gemas, dan langsung mencium bibir Elisa, tanpa memberikan kesempatan lagi pada istrinya itu untuk protes.


Elisa kaget, namun akhirnya mengikuti apa yang dilakukan Aji, karena Aji melakukannya dengan lembut, namun menuntut. Berkelahi sekaligus sarapan pagi, mereka lakukan hingga menjelang siang.


"Kak lapar," kata Elisa, saat perutnya menuntut untuk di isi.


"Kakak sudah masak tadi. Kamu mandi gih, Kakak mau hangatkan lagi makanannya."


"Memang Kakak bisa masak?" tanya Elisa, yang tidak percaya jika Aji yang memasak pagi ini.


"Memangnya Kamu, cuma bisa 'berkelahi' saja," jawab Aji, dengan menunjuk ke bibir Elisa.

__ADS_1


"Ihsss..."


Elisa mengigit jari suaminya yang terarah ke mulut. Tentu saja, perbuatan Elisa itu membuat Aji kaget dan reflek menarik lagi tangannya.


"Sayang! Masih kurang acara gigitnya?" tanya Aji protes.


"Salah sendiri!" Elisa cemberut, dengan wajah manyun.


"Eh, nantangin?"


Aji maju, mendekat ke arah Elisa dan melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan tadi. Mereka mengulangi agedan 'berkelahi' lagi dan lagi, sampai lupa dengan rasa lapar yang sudah mereka rasakan sedari tadi.


****


Sudah tiga hari ini, Rio tidak melihat Elisa di kampus. Terakhir kalinya, dia melihat Elisa saat berada di pesta pernikahan Elisa sendiri, dengan kakaknya Jeny, yaitu Aji.


"Rio!"


Rio menoleh kearah suara yang memanggil namanya, dan itu ternyata Jeny, yang terlihat melangkah menuju ke tempatnya berdiri sekarang ini.


"Hai Jen," sapa Rio, begitu Jeny sudah sampai didekatnya.


"Oh..." sahut Rio pendek. Dia juga tidak tahu, mau berkata apa untuk penjelasan yang dikatakan oleh Jeny barusan.


"Oh iya, katanya Kamu sudah selesai mengerjakan tugas akhir, boleh lihat? Aku mau periksa buat bahan perbandingan yang akan aku buat juga. Aku harus kerja keras ini, soalnya waktunya sudah sangat mepet." Jeny, meminta kepada Rio, untuk memperlihatkan hasil tugas yang sudah dia buat.


"Wah, Kamu telat Jen. Baru saja Aku kumpulkan ini tadi. Kamu gak telpon sih..." jawab Rio dengan wajah menyesal.


"Yah... telat deh," keluh Jeny dengan wajah kecewa.


"Tapi gak apa-apa deh. Nanti Aku bisa minta bantuan sama dokter Dimas saja." Jeny, akhirnya menemukan cara yang lebih cepat untuk tugasnya kali ini.


"Nah itu, Kamu bisa manfaatkan suami Kamu, hahaha..." Rio terbahak-bahak, mendengar perkataannya sendiri dan juga Jeny yang masuk akal.


"Hehehe... dari pada Aku capek-capek cari di perpus dan tidak ada teman. Gak bisa nemu-nemu juga, malah bete sendiri nantinya," kata Jeny beralasan.


"Banyak kok mahasiswa lain yang sibuk di perpus Jen. Mereka juga pada nyari bahan gitu deh," kata Rio, memberitahu Jeny, bagaimana ramenya perpustakaan kampus akhir-akhir ini.


"Ih, bukan begitu maksudku. Kamu sudah kelar, Elisa... tidak ada. Males ah," kata Jeny dengan cemberut.


"Oh," sahut Rio pendek. Dia tidak mengatakan banyak hal tentang Elisa. Dia tidak ingin membahas tentang Elisa lagi untuk saat ini.

__ADS_1


"Oh ya Jen. Aku pergi dulu ya? Ada yang mau Aku kerjakan di luar," kata Rio, pamit pada Jeny.


"Oh ya, gak apa-apa Rio. Maaf ya, sudah membuatmu malah ngobrol ini," jawab Jeny, dengan tersenyum canggung. Dia merasa tidak enak hati karena sikap Rio yang terasa berbeda dari biasanya.


"Apa ini karena Aku sudah menikah ya, jadi dia tidak enak juga lama-lama ngobrol denganku?" tanya Jeny dalam hati, saat Rio sudah pergi dari hadapannya. Dia melihat kepergian Rio yang tidak lagi sama seperti dulu.


"Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja," kata Jeny, menepis pemikirannya sendiri tentang Rio.


Di dalam hatinya Rio, dia merasa sepi. Kini, sahabat-sahabatnya, satu persatu telah menikah dan memiliki kehidupan masing-masing.


Jeny dengan dokter Dimas, dan Elisa dengan Aji. Bahkan sekarang ini, Elisa dengan suaminya itu, sedang berbulan madu di villa mereka yang ada di daerah Sentul.


"Maaf Jen, El. Aku tidak ingin kepergianku nanti, membuat kalian merasa sepi juga. Jadi, Aku akan memulainya sekarang, dengan cara menjauh dan tidak berlama-lama jika sedang bersama dengan kalian. Aku tidak mau, jika niatku untuk pergi ke luar negeri terhalang oleh kalian yang merengek minta untuk Aku tetap tinggal di sini. Aku harus bisa menata kehidupanku yang baru. Cinta? Aku tidak tahu."


Rio, mencoba untuk menetapkan hatinya sendiri dengan semua rencana yang sudah dia bicarakan dengan ayahnya kemarin. Sekarang, tinggi menunggu waktunya untuk berangkat.


*****


"Kakak. Kak!"


Elisa berteriak dari dalam kamar mandi. Dia kesulitan membuka resleting gaunnya yang ada di bagian belakang.


"Ada apa?" tanya Aji dengan cemas, karena mendengar teriakan Elisa.


Aji, mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi, meminta Elisa untuk segera membukanya. Dia takut, terjadi sesuatu pad istrinya itu.


"Apa, ada apa?" yang Aji panik, setelah pintu terbuka.


Elisa tidak menjawab pertanyaan dari Aji. Dia justru meringis sambil tersenyum canggung.


"Ini..." Elisa berbalik dan menunjukkan tempat resleting yang ingin dia buka.


"Kenapa? Kamu mau minta lagi?" tanya Aji salah paham.


"Kakak..." Elisa merajuk dengan manja.


"Apa?" tanya Aji bingung, karena melihat Elisa yang mengeleng dengan cepat.


"Ini, bukain!" kata Elisa dengan cepat dan suara yang terdengar kesal.


"Oh, Kakak pikir mau lagi. Hemmm..."

__ADS_1


__ADS_2