Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Titik Temu


__ADS_3

Malam sudah hampir berakhir dan berganti pagi, karena jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.


Club tempat Elisa kerja, sudah tutup setengah jam yang lalu. Di Club itu, memang tidak buka sampai pagi, seperti Club malam lainnya.


"Mis Lisa!" panggil Mr Toni, manager Club, dari dalam mobil.


Elisa, memang biasa di panggil Lisa, jika di mini market maupun Club ini. Elisa menoleh, kemudian mendekat ke arah jendela mobil, yang tampak kepala Mr Toni.


"Sedang nunggu taksi?" tanya Mr Toni, menyangka jika Elisa sedang menunggu taksi yang lewat.


"Ojek langganan. Biasanya, sudah datang sepuluh menit sebelum Club tutup. Gak tahu nih, kok tumben sekali terlambat," jawab Elisa menjelaskan.


"Oh. Saya antar, kalau tidak keberatan," kata Mr Toni, menawarkan bantuan untuk mengantar Elisa pulang.


"Tidak usah Mr. Terima kasih."


"Tidak apa-apa. Dari pada Kamu nunggu lama, belum tentu tukang ojeknya datang juga. Sudah terlalu malam juga ini, mungkin dia ada keperluan jadi gak bisa jemput."


Elisa berpikir sejenak. Sepertinya, apa yang dikatakan oleh Mr Toni, ada benarnya juga. Tapi, Elisa juga merasa kasihan, jika tiba-tiba tukang ojeknya datang dan dia sudah tidak ada di tempat.


"Maaf Mr. Saya nunggu saja," jawab Elisa, setelah memikirkan bagaimana baiknya.


Tapi, Mr Toni justru turun dari mobil dan mendekati Elisa.


"Ya sudah. Saya temani menunggu saja kalau begitu."


"Eh, tidak perlu Mr. Nanti, Mr bisa terlambat pulang." Elisa menolak tawaran Mr Toni, lagi.


"Kenapa? Kamu takut dekat-dekat dengan Saya?" tanya Mr Toni, ingin tahu.


"Bu... bukan begitu. Saya... eh, itu ojeknya datang! Maaf ya Mr, Saya balik dulu!" pamit Elisa dengan cepat dan berjalan setengah berlari menuju ke tukang ojek langganannya.


"Maaf Mbak, tadi bannya bocor. Jadi nambal dulu."


"Oh, pantes!"


Elisa menganguk dan segera naik ke atas boncengan motor tukang ojeknya.

__ADS_1


"Mari Mr. Saya balik dulu, terima kasih sudah di temani," pamit Elisa pada Mr Toni, yang masih berdiri di tempatnya tadi.


Di tempatnya berdiri, Mr Toni hanya mengangguk melihat kepergian Elisa, dengan wajah penuh tanda tanya. Dia pikir, Elisa sama seperti cewek yang lainnya. Lebih suka di perhatikan, dan memilih untuk naik mobil dari pada naik ojek.


"Aku jadi lebih penasaran, dia terlalu unik untuk ukuran cewek jaman sekarang. Apalagi saat di tanya nomer handphone, masa iya dia bilang tidak punya. Pasti dia berbohong."


Di perjalanan menuju kost. Tukang ojek bertanya pada Elisa, " Mbak, tadi siapa? cakep gitu, mobilnya juga bagus. Mau nganter mbak pulang ya, kok gak mau?"


"Oh, itu tadi Mr Toni. Manager Club Bang. Gak lah, kalau misal nih, Lisa mau di antar dia, Abang kasihan dong. Gak dapat ojekan?"


"Hehehe... iya juga Mbak. Maaf ya, tadi benaran bannya bocor kok," kata tukang ojek, meyakinkan Elisa.


"Iya-iya Bang. Makasih, masih tetap datang jemput Lisa."


Tukang ojek, yang menjadi langganan Elisa ini, adalah tukang ojek yang ada di dekat kost, tempat Elisa sekarang tinggal. Dia mencari tempat tinggal, yang tidak terlalu jauh dari mini market tempat dia bekerja pada pagi hari, agar tidak menambah ongkos untuk transportasi seperti saat kerja di Club, seperti sekarang ini.


*****


Pagi-pagi, Aji menerima laporan dari orang suruhannya, melalui telepon. Ada beberapa titik CCTV jalan, yang menampakkan wajah mirip foto yang dikirim Aji, waktu itu, yaitu wajah miliknya Elisa.


..."Halo, Aji."...


..."Tenang, ini ada beberapa tangkapan cctv yang bisa kamu cek. Om akan kirim segera. Jika Kamu bisa pastikan, bahwa itu memang wajah orang yang sedang Kamu cari, Om tinggal telusuri cctv yang lainnya, sekitar tempat itu. Nanti, akan ketahuan dari mana dan kemana kira-kira dia dan juga aktifitas yang dia lakukan."...


..."Ok Om. Terima kasih."...


Telpon terputus, dan tak lama kemudian, kiriman video, yang menunjukkan layar tangkapan cctv, di terima Aji.


Tapi, belum sempat Aji melihatnya dengan teliti, pintu kamarnya di ketuk dari luar, oleh seseorang.


Tok, tok, tok!


"Kak. Kakak, ini Jeny!"


Ternyata, yang mengetuk pintu kamarnya adalah adiknya, Jeny.


"Masuk Jen!" jawab Aji, kemudian pura-pura memutar video dari apk lain.

__ADS_1


"Ternyata Elisa tidak ada di rumahnya, maksud Jeny, tidak ada di kampung."


Aji hanya diam, dan pura-pura tidak begitu tertarik dengan apa yang dikatakan oleh adiknya itu.


"Kira-kira, mau cari di mana lagi ya Kak?" tanya Jeny, meminta pendapat kakaknya.


"Ehmmm, memang sudah tanya sama orang rumah? maksud kakak pihak keluarga Elisa. Kalau tidak tanya, dari mana bisa tahu, kalau Elisa tidak ada di rumah?" Aji, memberikan penjelasan pada adiknya. Jeny.


"Justru itu Kak. Semalam, teman Rio datang langsung ke rumah Elisa, dan bilang kalau dia mencari Elisa. Dia mengaku sebagai temannya Elisa sewaktu sekolah dulu. Tapi kata bapaknya, Elisa tidak ada di rumah. Dia sedang kuliah di Jakarta. Begitu katanya," jelas Jeny, seperti yang di ceritakan oleh Rio, baru saja tadi, melalui telepon.


"Gak minta nomer handphonenya?" tanya Aji lagi.


"Sudah. Tapi nomer yang diberikan, ternyata nomer Elisa yang biasanya, yang suahytidak aktif. Gak ada nomer baru lagi."


Aji tidak menanggapi cerita adiknya lagi. Dia berharap, dengan diamnya, Jeny akan segera keluar dari kamarnya, agar dia bisa segera memeriksa video yang tadi dikirim orang suruhannya.


Tapi ternyata, Jeny malah bertanya lagi, "kira-kira, Jeny harus cari Elisa ke mana kak, apa perlu lapor polisi?"


"Dengan alasan apa?" tanya Aji, ingin tahu apa yang sedang dipikirkan adiknya itu.


"Kan dia menghilang Kak. Tidak bisa di hubungi, di tempat tinggalnya juga tidak ada. Apa lagi?"


"Kalau di periksa polisi, dan ternyata pemilik kost mengatakan jika Elisa sudah pamit, untuk tidak lagi tinggal di tempat kostnya, itu tidak bisa jadi bahan penyidikan Jen. Dan nanti, polisi malah mengira, jika Kamu membuat laporan yang mengada-ada, karena Elisa pergi dari kost dalam keadaan sadar."


"Duh, kan jadi tambah pusing Jeny Kak!"


"Sudah. Kamu konsen saja dengan acara Kamu yang tinggal dua hari lagi. Jaga kesehatan dan jangan banyak pikiran."


"Tapi, Elisa Kak?"


"Dia sudah dewasa Jen, dan bukan lagi anak di bawah umur. Dia bisa berpikir, dia juga bisa melakukan banyak hal. Mungkin saja saat ini, dia sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun."


"Kak..."


Jeny, merajuk seperti biasanya. Dia ingin Aji membantunya untuk berpikir dan menemukan jalan keluar untuk bisa menemukan Elisa.


"Kakak minta nomer handphone punya Rio."

__ADS_1


Tiba-tiba, Aji meminta nomer handphone Rio, temannya Jeny dan Elisa.


__ADS_2