
Elisa, sudah selesai berurusan dengan pemilik mini market. Dia berpamitan dengan pemiliknya, dengan alasan mau berkonsentrasi pada kuliahnya saja.
"Ya tidak apa-apa El. Selesaikan kuliahmu dengan baik. Semoga permasalahan yang terjadi segera bisa teratasi dengan baik ya," jawab pemilik mini market pada Elisa.
"Terima kasih ya Bos, atas kebaikannya pada Elisa selama ini."
Pemilik mini market tempat Elisa bekerja, juga memberikan gaji Elisa secara penuh, meskipun dia tidak bekerja selama sebulan full.
"Ini kebanyakan Bos!" kata Elisa kaget, saat melihat isi amplop yang diberikan oleh Bos-nya.
"Tidak apa-apa. Anggap saja rezeki Kamu, untuk semangat Kamu selama ini. Yang rajin ya," jawab Bos mini market.
Elisa, mengangguk dengan cepat Dia merasa beruntung, dipertemukan dengan orang-orang yang baik selama ini. Elisa, bersyukur dengan semua itu.
Rio, yang menunggu Elisa di luar mini market, menerima telpon dari Jeny.
..."Halo Jen. Ada apa?"...
..."Tidak apa-apa. Aku cuma mau tanya."...
..."Oh, tanya apa?"...
..."Sekarang Kamu sedang di mana, apa ada Elisa di sana?"...
..."Iya. Aku sedang mengantar Elisa ke mini market tempat dia bekerja."...
..."Lho, di masih kerja lagi?"...
..."Bukan, mau pamitan kok."...
..."Oh, Aku pikir kerja lagi. Semalam jadi pamit juga di Club malam?"...
..."Iya jadi. Ini juga udah pamit tadi sama yang punya kost. Dia balik lagi ke kost yang dekat kampus. Biar gak kesusahan lagi kayak kemarin itu."...
..."Syukurlah kalau begitu. Oh ya, boleh minta tolong?"...
..."Apa Jen?"...
..."Kalau sudah beres urusannya ke rumah Aku ya!"...
..."Ada apa?"...
..."Mama mau ada perlu sama Elisa. Atau kalau Kamu tidak bisa antar, Kamu kabari saja, saat sudah sampai kost-an, nanti Aku akan jemput dia sendiri."...
..."Yeelah Jen, kayak sama siapa saja. Siap ah, cuma antar Elisa ini."...
..."Ok kalau begitu. Terima kasih banyak ya Rio. Rio baik deh! hihihi..."...
..."Dari dulu Jen. Kenapa Kamu baru sadar Aku baik. Hehehe..."...
__ADS_1
..."Ya-ya. Jangan lama-lama ya Rio!"...
..."Siap. Tergantung dari Elisa sendiri itu ya."...
Sambungan telepon terputus. Rio, melongok ke dalam mini market. Sepertinya, Elisa sudah selesai dengan urusannya bersama dengan pemilik mini market ini.
"Maaf ya Rio, El lama nih tadi."
Elisa langsung meminta maaf, saat keluar dari mini market. Dia mendekat ke tempat Rio duduk dan tersenyum dengan senyuman khasnya, nyengir kuda.
"Iya gak apa-apa. Ini tadi Jeny telpon," jawab Rio sambil menunjukkan handphone miliknya.
"Ada apa?" tanya Elisa cemas.
"Gak ada apa-apa. Kamu di minta ke sana nanti, setelah beres urusannya dengan kost baru. Yuk!" Rio beranjak dari tempat duduknya.
"Jawab dulu," rengek Elisa meminta kepastian pad Rio, tentang telpon Jeny.
"Ck. Mau ngawinin Kamu sama kakaknya Jeny mungkin," jawab Rio asal.
"Ih, mana ada dadakan begitu?" tanya Elisa dengan wajah kesal. Tak lupa, dia juga cemberut dengan memajukan bibirnya.
"Aku gak tahu juga El. Entar juga tahu kan, kalau sampai sana." Rio, dengan sabar menjawab pertanyaan Elisa.
"Hufh... Aku kok jadi deg-degan banget kayak gini. Ada apa ya?" guman Elisa, saat masuk ke dalam mobilnya Rio.
"Udah, gak usah berpikir macam-macam. Tarik nafas dulu gih!" komentar Rio, soal keluhan Elisa barusan.
"Sudah gak deg-degan lagi? Kita berangkat sekarang ya," ajak Rio, kemudian menghidupkan mesin mobilnya dan melaju di jalanan Jakarta yang semakin ramai.
Elisa dan Rio, sudah sampai di kost lama yang ada di dekat kampus.
Elisa, dibantu oleh Rio, segera meletakkan dua tasnya dan merapikan barang-barangnya. Dia juga menyapu dan membersihkan kamar kostnya yang dulu. Ternyata, Elisa masih berjodoh dengan kamar itu, karena selama dua tinggalkan, tidak ada mahasiswa lain yang mengisinya.
"Kayaknya, kamar ini memang menunggu Kamu untuk kembali lagi ya El?" kata Rio melihat ke sekeliling kamar.
"Ya mungkin. Secara, kamar ini khusus untuk mahasiswa miskin kayak Aku. Kamu tahu sendiri, kampus kita, kebanyakan anak-anak orang gedongan Rio," sahut Elisa dengan cepat.
"Ya gak gitu juga ah," sahut Rio membantah.
"Nyatanya?"
"Bersyukur sajalah, Kamu jadi gak repot-repot cari kost baru lagi kan?" tanya Rio dengan melihat ke arah Elisa, yang sedang membersihkan meja belajarnya.
"Ya sih, hehehe..."
Tiba-tiba, handphone milik Rio bergetar. Setelah Rio melihat ke layar, ternyata Jeny lagi yang sedang menghubunginya.
..."Ya Jen."...
__ADS_1
..."Masih di jalan?" ...
..."Ini sedang beres-beres di kamar kost Elisa."...
..."Yang dekat kampus?" ...
..."Iya. Kita baru sampai tadi."...
..."Ya sudah. Nanti langsung ke rumah ya? hari ini kan libur, gak ke kampus." ...
..."Iya Jen. Tenang saja."...
..."Ok. Aku tunggu ya!" ...
*****
Sekitar jam satu siang, Elisa yang di antar oleh Rio, datang ke rumah Jeny. Dia masih berdiam diri di dalam mobil, dan tidak langsung keluar, begitu mobil berhenti di halaman rumah Jeny.
"Ayok turun!" ajak Rio dengan wajah datar.
"Aku... Aku kenapa deg-degan lagi ya Rio?"
"Mana Aku tahu. Memang apa yang Kamu cemaskan?" tanya Rio bingung.
"Entahlah. Aku juga tidak tahu," jawab Elisa, dengan wajah cemas.
Akhirnya, Elisa mencoba untuk menghela nafas panjang lagi. Dia mencoba menetralkan raut wajahnya yang cemas.
"Ini bukan Elisa yang Aku kenal. Yang cuek dan bisa mengatasi segala sesuatunya." Rio, melihat Elisa dengan kepala dimiringkan.
"Hehehe... Ini mungkin karena, Aku masih kecewa saat kak Aji tidak mengenali diriku." Elisa beralasan.
"Supaya tahu, hari ini dia sudah bisa mengenalimu El," kata Rio, memberikan semangat pada Elisa.
"Semoga ya. Ah, Kamu selalu bisa membuatku kembali semangat Rio! Terima banyak ya... muachhh, hihihi..."
Elisa terkikik geli, saat melakukan ciuman jarak jauh untuk Rio. Sedangkan Rio, mendelik tajam melihat kelakuan Elisa yang cepat sekali berubah.
"Awas dilihat kak Aji, kapok!" Rio, berkata sambil tersenyum miring.
"Ups, iya lupa. Ini kan rumahnya. Banyak cctv juga di sini. Ah... kenapa tidak bilang dari awal..." rengek Elisa dengan wajah sedih.
"Huh, dasar Kamu memang benar-benar gak jelas ya!" kata Rio sambil menonyor kening Elisa.
"Ihsss, Rio... kebiasaan deh!"
"Udah yuk keluar!" ajak Rio lagi.
Dari arah balkon kamar, yang ada di lantai dua, Aji melihat semua tingkah Elisa dan Rio. Dia tersenyum tipis, melihat Elisa yang menurutnya memang berbeda dari gadis lainnya.
__ADS_1
"Tapi sepertinya, temannya itu juga menyukai Elisa. Apa dugaanku benar? bagaimana sebenarnya hubungan mereka berdua?"
Aji, terus mengamati Elisa dan Rio dari atas. Bahkan, saat keduanya turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah, dan sudah tidak terlihat lagi olehnya, Aji masih tetap berada di balkon kamarnya. Mencoba untuk mengingat kembali, semua yang pernah dia dengar dari mamanya, ataupun dari adiknya, tentang Elisa yang sekarang ini datang ke rumah.