
Keesokan harinya, Aji datang pagi-pagi ke pabrik yang kemarin dia tinggalkan dan tidak jadi melakukan tugasnya.
"Kumpulkan semua berkas yang harus Saya audit di meja. Saya tidak akan berkeliling ke area produksi, jika berkas-berkas itu belum lengkap," kata Aji, memberikan instruksi pada para staf yang bertugas.
Aji, melihat sekilas bagaimana cara berpakaian para staf perempuan. Terutama yang kemarin membuatnya batal melakukan audit.
Staf perempuan itu, ternyata juga sedang melirik kearahnya. Dan Aji, justru melihatnya dengan langsung, serta meneliti dari atas ke bawah, tanpa melirik lagi.
Berbeda dengan staf perempuan itu, dia merasa jika Aji memberikan perhatian kepadanya. Dia jadi salah tingkah dan wajahnya juga bersemu merah.
Dia ikut meletakan dua berkas yang tadi dia pegang, ke atas meja yang ada di depan Aji.
"Mr. Semua berkas sudah terkumpul. Apa ada yang bisa kami bantu?" tanya kepala staf.
"Kalian boleh pergi, dan melakukan pekerjaan masing-masing. Saya akan melakukan tugas ini sendiri. Jika ada yang perlu ditanyakan, nanti akan Saya hubungi lewat telpon."
"Baik Mr," jawab kepala staf, dengan mengangguk patuh.
Sekarang, semua staf kembali ke ruangan masing-masing, dan melakukan pekerjaan mereka sendiri seperti biasanya.
Aji, kembali berkonsentrasi pada berkas-berkas yang ada di depannya. Dia meneliti satu persatu poin yang menjadi permasalahan di pabrik ini.
Seperti yang sudah Aji dengar dari tuan besar Sangkoer Singh, jika ada beberapa laporan yang tidak beres di pabrik ini, tapi tim audit sebelumnya, sering tidak teliti dan belum di ketahui dari mana letak permasalahan yang dialami tim sebelum Aji.
Oleh karena itu, tuan besar Sangkoer Singh, meminta Aji untuk melakukan tugas ini, karena dia percaya dengan kemampuan yang dimiliki oleh Aji, anak angkatnya itu.
"Sepertinya, pemasaran produk di luar yang tidak ada kualitas. Ini berkas yang tadi di bawa oleh staf perempuan tadi. Apa dia yang menangani pengemasan produk? Mungkin saja, produk yang gagal dipaksa untuk bisa ikut terbawa, makanya banyak keluhan dari pihak customer luar negeri, dengan produk yang mereka beli dari merek pabrik ini."
Akhirnya, Aji mengetahui dari mana letak permasalahan yang dihadapi customer luar, yang sering mengeluh tentang perbedaan kualitas dari pabrik lain.
__ADS_1
Aji, tidak melanjutkan pemeriksaan berkas-berkas tersebut. Dia tidak mau membuang waktu, karena satu berkas yang salah, sudah mewakili berkas yang lain.
"Mereka bertanggung jawab atas kesalahan yang mereka lakukan. Ini benar-benar mengecewakan. Mungkin, tim audit yang sebelumnya terkecoh dan tidak bisa berkonsentrasi, karena melihat cara berpakaian para staf perempuan yang ada di sini."
Aji, mulai berpikir untuk merubah aturan dan beberapa hal yang selama ini tidak diperhatikan oleh pemimpin pabrik ini.
Tak lama, Aji menekan tombol telon loby pabrik, meminta pada resepsionis depan untuk menghubungi kepala staf dan orang-orang yang bersangkutan dengan berkas-berkas khusus untuk audit tahun ini.
Beberapa menit kemudian, kepala staf dan yang lain sudah berkumpul kembali di ruangan yang ditempati oleh Aji.
"Bagaimana Mr Aji, apa ada yang bisa kami bantu?" tanya kepala staf.
"Apa tim tahun ini juga sama seperti tim tahun-tahun sebelumnya?" tanya Aji ingin tahu kejelasannya, sebelum memberikan keputusan.
"Ya Mr," jawab kepala staf dengan cepat.
"Bagus. Aku tidak perlu mengaudit lagi kalau begitu," kata Aji dengan tenang.
"Tidak ada yang perlu diaudit. Saya hanya membuang waktu di sini. Mungkin, laporan untuk pabrik ini akan Saya kirim ke pusat hari ini juga. Kalian semua payah!"
Kepala staf, merasa kaget dengan perkataan Aji. Dia tidak menyangka, jika mendapat teguran dari tim audit yang datang seorang diri kali ini, tidak sama seperti tahun-tahun sebelumya.
"Maksudnya Mr?" tanya kepala staf, ingin tahu, apa yang dimaksud oleh Aji dengan penilaiannya itu.
"Berkas ini semua palsu. Tidak sama seperti yang seharusnya. Saya bisa pastikan bahwa, semua produk yang dihasilkan pabrik ini, tidak ada kualitasnya sama sekali. Apa kalian tidak pernah membuka situs penjualan merk yang sama, tapi dari produksi pabrik yang berbeda? harusnya, kalian tahu itu!"
Semua orang menunduk dan terdiam. Tidak ada komentar dari siapapun, termasuk kepala staf pabrik.
"Saya tidak perlu menjelaskan, tentang apa yang sebenarnya terjadi. Kalian semua pasti lebih paham dari pada Saya. Tapi, jujur Saya katakan bahwa, semua ini membuat Saya marah. Hanya karena tidak ingin ditegur dan menurunkan pesanan, kalian merendahkan diri sendiri, terutama untuk para staf perempuan."
__ADS_1
Aji, akhirnya mengatakan bahwa masalah utama yang ada di pabrik ini adalah tentang attitude para karyawan yang bekerja.
"Lebih baik, buatlah serangan untuk semua pegawai, agar tidak ada perbedaan yang mencolok dalam berpakaian."
Kepala staf, hanya bisa mengangguk patuh. Dia sendiri tidak tahu, jika tim audit yang dia remehkan seperti biasanya, bisa melakukan audit tanpa membuang waktu dan langsung menemukan permasalahan yang ada.
"Jika pabrik ini tidak mengubah aturan dan peningkatan kualitas produksi, mungkin tahun depan, pabrik ini akan tutup karena tidak mendapat orderan. Pusat, tidak bisa lagi membantu."
Aji bangkit dari tempat duduknya, kemudian berpamitan pada semua staf yang ada di ruangan tersebut.
"Berpakaian yang sopan, tidak akan menghilangkan kecantikan seorang wanita. Karena tidak semua laki-laki, melihat keseksian dari segi berpakaian yang seronok."
Staf perempuan yang mendapat teguran langsung dari Aji, merasa malu. Dia menunduk dan tidak berani berkata apa-apa. Dia juga merasa bersalah, karena sudah salah, dalam menilai kepribadian Aji kemarin.
*****
Aji, menjalankan mobilnya langsung menuju ke arah Jakarta. Dia sudah tidak sabar, untuk bertemu dengan istrinya, Elisa.
"Tunggu kakak sayang," guman Aji, dengan tersenyum seorang diri.
Sekitar satu setengah jam kemudian, mobil Aji memasuki halaman rumahnya. Dia memarkirkan mobil ke garasi, kemudian masuk ke dalam rumah melalui pintu samping.
Aji, tidak melihat siapa-siapa diruang tengah, maupun dapur. Dia juga tidak melihat para pembantu rumah tangga dimana-mana. Semua ruangan di lantai dasar kosong.
"Pada kemana ya,?" tanya Aji dalam hati.
Lamat-lamat, Aji mendengar suara dari arah lantai atas. Dia pun mulai melanjutkan langkahnya menuju ke anak tangga. Dia ingin melihat dan juga mau tahu, ada apa di atas sana.
"Kamu itu harus berpikir ulang, jika mau melakukan semua itu Biyan. Kamu ini ada kelainan, harus terapi besok. Ini mumpung belum terlanjur. Mama tidak mau, Kamu jadi seperti ini selamanya."
__ADS_1
Aji, mendengar suara mamanya, yang sedang memarahi Biyan. Adiknya yang pendiam itu.
"Biyan kenapa? Tumben mama marah dengannya. Dia kan tidak reseh kayak Vero," tanya Aji dalam hati, Dia merasa penasaran, apa yang menyebabkan mamanya marah seperti itu.