Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Permintaan Maaf


__ADS_3

Dokter Hendrawan yang sedang menangani pasien, tidak tahu jika ada mami Rossa datang mencarinya. Apalagi mami Rossa juga tidak membuat janji terlebih dahulu dengannya.


Beberapa menit berlalu, dokter Hendrawan baru saja keluar dari ruang penanganan pasien. Dia masuk ke dalam ruangannya sendiri dan kaget saat melihat keberadaan mami Rossa di sana. Duduk di sofa tamu yang ada di dalam ruangan miliknya. Bersama dengan wanita muda dan seorang anak kecil, yang sedang tertidur dipangkuannya.


"Mami Rossa," sapa dokter Hendrawan kaget dan tidak menyangka kalau mami Rossa akan datang ke kliniknya.


"Ya Dok," jawab mami Rossa menganguk.


Di sampingnya mami Rossa, ada Cilla yang menganguk sopan sebagai sapaan. Cilla memamgku Aji yang masih dalam keadaan tertidur pulas.


"Kenapa tidak memberitahu Mi? Dari kemarin-kemarin Saya ingin bertemu, tapi sepertinya waktunya yang tidak tepat."


Dokter Hendrawan mengatakan kekecewaan hatinya yang kemarin-kemarin karena gagal menemui mami Rossa.


"Tadi suster di depan hampir memberitahu Dokter, tapi Saya yang mencegahnya. Pasien dokter lebih membutuhkan, jadi saya menunggu tidak apa-apa."


"Maaf ya Mi," kata dokter Hendrawan meminta maaf karena tidak tahu jika mami Rossa akan datang menemuinya hari ini.


"Apakah dia yang bernama Cilla Andini dan anaknya, Aji Putra?" tanya dokter Hendrawan ingin tahu mengenai orang yang ada di samping mami Rossa saat ini.


"Iya, dia Cilla dan juga anaknya, Aji, cucuku."


Cilla mengangguk dan juga tersenyum ke arah dokter Hendrawan, saat mami Rossa memperkenalkan dirinya dan juga Aji. Dia merasa terharu, saat mami Rossa mengatakan dan mengakui jika Aji adalah cucunya, anaknya Gilang Aji Saka.


"Oh ya, Dok. Sebenarnya tadi Saya mau ajak ketemu di kantor pengacara, tapi Saya pikir lagi tidak perlu seformal itu. Jadi ya seperti ini, mampir secara mendadak."


Mami Rossa memberitahu pada dokter Hendrawan dengan rencananya yang tidak jadi dia jalankan.


Dokter Hendrawan menghela nafas panjang sebelum memulai pembicaraan lagi. Dia sebenarnya merasa tidak enak hati dan juga malu melakukan semua ini, tapi demi kedua anaknya yang berada di dalam penjara dan dalam proses hukum untuk kasus penculikan kemarin, dia harus bisa menahan diri dan membuang egonya.

__ADS_1


"Sebelumnya, Saya pribadi meminta maaf kepada mami Rossa dan juga Cilla berserta Aji. Sebenarnya Saya malu untuk meminta bantuan, tapi apalah daya Saya, sebagai orang tua yang tetap sayang dan ingin melindungi anak-anaknya, Saya ingin agar Mami Rossa membantu saya dengan keringanan tuntutan hukum untuk Candra dan juga Lily. Maaf Mami Rossa. Bukannya Saya tidak tahu diri, sungguh. Semua ini karena Saya sebagai orang tua yang tidak tega melihat penderitaan anak-anak."


Dokter Hendrawan berhenti sejenak. Dia menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya lagi.


"Saya tahu, tidak layak melakukan semua ini. Tapi hanya itu yang bisa Saya lakukan untuk mereka. Kemarin, mereka juga berjanji untuk tidak melakukan semua itu lagi, dan akan pergi dari Indonesia. Mereka akan hidup di luar, seperti yang selama ini mereka jalani. Mereka khilaf melakukan semua itu kemarin."


Mami Rossa masih diam saja. Begitu juga dengan Cilla. Aji, mengeliat dan membuka matanya perlahan. Memperhatikan keadaan yang ada, karena dia baru saja bangun dari tidurnya.


"Apakah itu sudah dipikirkan oleh Dokter dengan baik. Secara panjang dan memperhatikan semua hal tidak hanya untuk kebaikan anak-anak Dokter saja?" tanya mami Rossa memancing dari isi hati dokter Hendrawan.


"Iya Mi. Saya tahu ini egois. Tapi apakah mereka tidak ada kesempatan untuk mendapatkan maaf sama sekali?" tanya dokter Hendrawan ganti bertanya pada mami Rossa.


Mami Rossa mengangguk mendengar pertanyaan dari dokter Hendrawan. Ini diartikan sebagai jawaban atas pertanyaan dokter Hendrawan, dan mami Rossa menyetujui permintaan maafnya.


"Jadi mami Rossa memaafkan Candra dan juga Lily?" tanya dokter Hendrawan dengan cepat.


"Ah... terima kasih Mi. Saya tahu, Mami Rossa adalah orang yang baik dan tidak tegaan. Apalagi Mami Rossa juga sayang dengan mereka berdua. Terima kasih banyak untuk maaf yang Mami Rossa berikan."


"Dokter. Saya memang sayang sekali dengan anak-anak Dokter, Candra dan juga Lily. Saya juga memaklumi tindakan dan usaha Dokter untuk semua ini demi mereka. Tapi maaf saja tidak cukup untuk membuat mereka jera. Ini sudah tindakan kriminal, bukan lagi kenakalan anak-anak ataupun remaja biasa. Dokter tahu kan, bagaimana kronologinya? pistol itu ada ditangan Candra. Jika bukan Gilang yang kena, mungkin Cilla atau Aji yang kena. Sama saja adanya korban, dan semua itu berencana. Mereka berdua sudah memikirkan semua itu, bukan hanya spontanitas. Lalu dimana kekhilafan yang Dokter sebutkan tadi?"


Dokter Hendrawan diam saja mendengar semua perkataan mami Rossa. Dia sadar jika semua yang dilakukan oleh anak-anaknya itu salah dan tidak layak mendapatkan maaf.


"Jika Saya memaafkan mereka, kemudian tidak ada tindakan hukum sama sekali, tidak ada efek jera untuk mereka berdua. Bisa jadi suatu hari nanti, akan terulang lagi pada orang lain. Apakah itu yang Dokter inginkan?"


Dokter Hendrawan mengangguk mengerti. Dia memejamkan matanya sambil menunggu mami Rossa melanjutkan kata-katanya lagi. Sepertinya dia sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh mami Rossa yang bijaksana, lembut tapi tegas, karena dokter Hendrawan paham dengan watak mami Rossa selama ini.


"Sebuah kata maaf itu mudah. Tapi apakah begitu mudah juga melupakan semua yang terjadi dan akibatnya? Bisa jadi, itu akan membekas dalam ingatan dan menjadi trauma tersendiri untuk korban."


Mami Rossa melanjutkan kata-katanya lagi agar dokter Hendrawan sadar jika apa yang dia lakukan itu tidak semuanya benar. Membela anak-anak boleh, tapi dilihat juga bagaimana harus memahami dan mengerti dari sudut pandang yang berbeda-beda agar tidak salah langkah lagi.

__ADS_1


"Sepertinya hanya itu saja Dokter. Intinya Saya dan keluarga memaafkan. Tapi proses hukum tetap berlanjut. Jika Dokter tidak menerima kenyataan ini, silahkan melakukan apapun untuk membela tersangka,. Pikirkan jika korban dan tersangka ditukar posisi, mungkin Dokter bisa memahami apa yang Saya katakan ini."


Mami Rossa menghela nafas panjang setelah berkata panjang lebar, menasehati dokter Hendrawan. Kini dia berpamitan untuk pulang.


"Saya pamit pulang Dokter. Semoga semuanya baik-baik saja."


"Ya Mi. Terima kasih sudah mau mengunjungi Saya. Dan minta maaf untuk semua ini."


Mami Rossa bangkit dari tempat duduknya, begitu juga dengan Cilla dan Aji yang masih ada di dalam gendongan Cilla.


Dokter Hendrawan mengangguk saat Cilla juga berpamitan. Dia merasa tidak puas dengan apa yang dikatakan oleh mami Rossa. Tapi dia juga tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk membela anak-anaknya. Mungkin dengan menyewa pengacara saja itu tidaklah cukup, tapi setidaknya dia akan berusaha agar hukuman Candra dan juga Lily tidak terlalu berat.


*****


Saat berjalan kearah parkir klinik, dimana supir menuggu, Cilla mendapatkan telpon dari Gilang.


..."Halo Yuan," sapa Cilla begitu sambungan telepon terhubung....


..."Dimana?" tanya Gilang ingin tahu....


..."Baru keluar dari klinik dokter Hendrawan."...


..."Kenapa tidak memberi pesan atau meneleponku?" tanya Gilang lagi....


..."Maksudnya?" tanya Cilla bingung....


..."Bilang kangen, atau rindu gitu!" kata Gilang memberi contoh....


"Aduh!" kata Cilla tidak sadar saat masuk ke dalam mobil dan kepalanya terbentur pingiran pintu mobil

__ADS_1


..."Kenapa, ada apa Sayang?" tanya Gilang khawatir....


..."Emm... Bukan. Bukan apa-apa," jawab Cilla gugup....


__ADS_2