
Suasana canggung di dalam mobil membuat mereka saling diam. Sepertinya tidak ada yang ingin memulai pembicaraan terlebih dahulu. Baik Gilang maupun Cilla, mereka berdua ada dalam pikirannya masing-masing.
"Aku kenapa bisa tidur kayak tadi sih?" tanya Cilla dalam hati.
"Kan malu ini jadinya. Mana Aji udah gak ada juga. Kayaknya ini kerjaan mami Rossa deh! Turun duluan pa nunggu dia ya? Kasihan juga kalau aku tinggal dan dia kesakitan nantinya."
Cilla berperang sendiri dengan hati dan pikirannya. Dia melirik ke arah Gilang yang kembali merebahkan kepalanya kesadaran kursi penumpang.
"Dia marah gak ya tadi?" Gilang juga bertanya-tanya dalam hati.
"Ajak turun gak ya? Kok dia kayaknya belum mau turun?" Gilang bertanya lagi didalam hati.
Saat Gilang melirik ke arah Cilla, ternyata Cilla juga sedang meliriknya. Sepersekian detik kemudian, keduanya sama-sama membuang muka untuk memutuskan hubungan mata yang bertabrakan tadi. Kecanggungan kembali terasa tanpa tahu kapan akan berakhir.
Jam di pergelangan tangan Gilang sudah menunjukkan pukul setengah tiga siang. Berarti mereka berdua, berada di dalam mobil sudah lebih dari dua jam lamanya. Sejak tertidur sampai saat ini.
Kini Gilang merasa lapar, dia juga perlu minum obat untuk mengurangi rasa nyerinya yang kembali datang.
Cilla juga merasakan hal yang sama. Lapar dan haus yang dia tahan sedari tadi, sepertinya sudah tidak bisa dia tahan lagi saat ini. Dia merasa tidak nyaman, sehingga melihat-lihat ke sekitarnya dengan sembarang arah.
"Ehem..."
Gilang berdehem untuk menghentikan sikap Cilla yang terlihat aneh saat ini. Tapi Gilang tidak tahu apa yang dirasakan oleh Cilla, padahal sebenarnya mereka merasakan hal yang sama. Yaitu sama-sama lapar dan juga kehausan.
"Cilla. Kita ke atas yuk!"
Akhirnya Gilang mengajak Cilla untuk turun dari mobil dan naik ke penthouse miliknya. Mungkin Aji dan juga mami Rossa sudah beristirahat di atas sana.
"Tuan bisa turun sendiri?" tanya Cilla ragu. Dia merasa khawatir dengan keadaan Gilang yang sebenarnya belum sembuh benar.
"Kalau cuma turun dari mobil dan naik lewat lift kuat. Tapi kalau kamu ajak lomba apa gitu, mungkin aku nyerah sedari awal."
Jawaban yang diberikan Gilang membuat Cilla mengerutkan keningnya bingung. "Ditanya apa kok jawabannya kemana-mana, aneh!" gerutu Cilla pelan sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Kamu tidak mau ajak?" tanya Gilang makin ngelantur.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Gilang yang tidak memerlukan sebuah jawaban, Cilla segera membuka pintu mobil dan turun dengan cepat.
"Eh, bantu!" kata Gilang mengingatkan Cilla.
__ADS_1
"Huh... tadi katanya bisa sendiri!" gerutu Cilla dengan nada kesal.
Tapi Cilla tidak tahu jika Gilang menahan senyumnya saat mendengar perkataan Cilla yang kesal dengan tingkahnya.
Sekarang Cilla sedang membantu Gilang untuk turun dari mobil. Dia memegang tangan Gilang untuk menahan tubuhnya agar bisa seimbang dan tidak jatuh saat keluar dari dalam mobil.
"Hati-hati!" kata Cilla mengingatkan saat Gilang terhuyung dan hampir jatuh.
Tangan Cilla dengan sigap memegang lengan Gilang. Kini dia kembali membantu Gilang untuk berjalan ke arah lift.
Cilla menuntun Gilang dengan cara memegang lengannya, tapi sepertinya Gilang masih tetap tidak bisa berjalan dengan baik. Akhirnya, Gilang meletakkan tangannya melingkar di bahu Cilla melewati lehernya. Dia minta dipapah.
Cilla kaget, tapi dia tidak bisa protes juga melihat Gilang yang meringis sambil memegang perutnya dengan tangan yang satunya.
"Maaf ya. Jadi merepotkan kamu ini," kaya Gilang saat berjalan ke arah lift dengan dipapah Cilla.
"Iy... Iya. Gak apa-apa," jawab Cilla gugup.
Cilla merasa gugup karena posisinya begitu dekat dengan Gilang. Bahkan mereka terlihat seperti sedang berpelukan Jiak di lihat dari kejauhan.
"Mami sedia makanan tidak ya? Aku lapar Cilla. Kamu lapar tidak?" tanya Gilang menoleh ke arah Cilla.
"Masak tidak lapar? Padahal kita tidak makan sedari pagi. Cuma makan roti beberapa potong, yang di bawa mami dari rumah. Itu saja kan tadi, waktu masih di rumah sakit?"
Gilang tidak percaya jika Cilla tidak merasa lapar juga seperti dirinya. Tapi dasar Cilla yang keras kepala. Dia tetap mengeleng dan tidak mau mengakui jika merasa lapar juga.
"Ya sudah kalau tidak lapar. Aku mau pesan makanan dari resto di bawah. Cuma tiga porsi ya, sama Aji dan mami nanti. Awas saja kalau pengen!"
Cilla melotot melihat kearah Gilang yang cuek mengatakan semuanya itu. Gilang dengan tersenyum miring mengeluarkan handphone dari saku celananya tanpa rasa bersalah, dengan satu tangannya yang bebas. Sedangkan tangan yang satunya masih melingkar di bahu Cilla.
Wajah Cilla yang terlihat kesal membuat Gilang ingin tertawa. Tapi Gilang menahannya sebisa mungkin, agar tidak kelepasan, dan semuanya bisa menjadi kacau. Dia tidak mau jika Cilla tahu bahwa, sekarang ini dia hanya sedang berakting.
Sebelum sampai di pintu lift, Gilang berhasil menghubungi pihak resto apartemen dan memesan makanan untuk diantar ke penthouse miliknya.
..."Halo. Ini dengan Gilang Aji Saka. Pesan makanan untuk di antar keatas ya seperti biasanya. Empat porsi ya, jangan lupa!" ...
..."Baik tuan," jawab pihak resto dengan cepat....
Cilla melirik ke arah Gilang yang sedang menutup telponnya. Dia tersenyum mendengar pesanan yang disampaikan oleh Gilang melalui teleponnya tadi.
__ADS_1
"Ternyata dia tidak sejahat perkataannya," batin Cilla dalam hati.
"Kenapa?" tanya Gilang yang memergoki Cilla sedang tersenyum melihat kearahnya.
"Em... Tid... tidak!" jawab Cilla gugup dan kembali melanjutkan langkahnya untuk masuk kedalam lift, dengan masih dalam keadaan memapah tubuh Gilang di sampingnya.
*****
"Mi. Mami... Mami!"
Gilang memanggil-manggil mami Rossa yang tidak terlihat, begitu dia masuk tadi.
"Mungkin tidur di kamar," kata Cilla menebak.
"Mungkin juga," kata Gilang datar.
"Duduk situ saja!"
Gilang meminta Cilla memapahnya ke arah sofa yang ada. Dengan hati-hati, Cilla menurut apa yang diminta oleh Gilang.
"Ah... Capek juga ternyata jalan begini," kata Gilang sambil menghembuskan nafas panjang. Padahal sebenarnya, dia hanya merasa lega karena sudah bisa dekat sekaligus mengerjai Cilla.
Setelah mendudukkan Gilang di sofa, Cilla menuju ke kamar dan mengetuk pintunya.
Tok... tok... tok!
Tidak ada jawaban dari kamar yang biasa dia tempati. Saat Cilla membukanya, kamar itu kosong dan tidak ada Aji ataupun mami Rossa yang tidur di dalam sana.
"Kosong," kata Cilla memberitahu.
"Coba kamarku!" Gilang menunjuk kamarnya yang ada disebelah.
Cilla menurut dan mengetuk pintu kamar Gilang.
Tok... Tok... Tok!
Tidak ada sahutan juga dari dalam. Cilla mulai cemas dan segera membuka pintu kamar tersebut. Tapi ternyata kamar itu juga kosong!
"Aji dan mami Rossa tidak ada juga!"
__ADS_1
Cilla melapor pada Gilang yang duduk di sofa sambil memainkan handphonenya dengan tenang.