Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Elisa Serba Salah 1


__ADS_3

"Bukan begitu Jen. Ah, gimana caranya Aku menjelaskan?"


Elisa, merasa bingung sendiri, dengan posisinya dan situasi yang terjadi saat ini. Dia tidak mungkin mengatakan kepada Jeny, jika kakaknya itu, sudah tahu kebenarannya. Aji, sudah tahu, kalau dia hanya teman adiknya, Jeny, dan bukan adiknya yang asli.


"Kamu, kalau merasa tidak nyaman, bilang saja sedari awal. Tidak usah membuat alasan yang tidak jelas," kata Jeny, dengan nada kesal.


"Bukan Jen," elak Elisa, membela diri.


Tapi sepertinya, Jeny tidak mau mendengar alasan dari Elisa. Dia beranjak dari tempat duduknya dengan cepat, dan segera keluar dari kamar Elisa.


"Kenapa jadi begini sih," keluh Elisa dalam hati.


"Rio. Aku butuh pendapatnya saat ini."


Elisa, mencari-cari keberadaan handphone miliknya. Dia ingin menelpon sahabatnya Rio, untuk bisa berbagi cerita dan meminta bantuan, agar Rio bisa memberikan solusinya.


Tut...


Tut...


Tut...


"Angkat Rio. Angkat!" guman Elisa, dengan perasaan cemas.


Tapi, sepertinya Rio tidak menanggapi panggilan telepon darinya. Mungkin, Rio sedang mengisi data baterai handphonenya dan dia sendiri sedang sibuk dengan kegiatannya yang lain.


Elisa mencobanya sekali lagi, tapi sepertinya, Rio memang sedang tidak bisa dihubungi.


"Ck. Saat dibutuhkan malah tidak ada," gerutu Elisa dengan kesal.


Tok... tok... tok!


pintu kamar di ketuk dari luar. Elisa, beranjak dari tempat duduknya, kemudian melangkah untuk membukakan pintu kamarnya.


"El, ayok keluar. Bantu Tante siapin makan malam ya, sama Jeny juga. Nanti ada Dokter Dimas mau datang juga malam ini," kata mama Cilla, meminta pada Elisa agar bisa membantunya untuk menyiapkan makanan untuk acara makan malam mereka nanti.


"Iya Tan."


Akhirnya, Elisa keluar juga dari kamarnya. Dia celingak-celinguk mencari keberadaan Aji. Dia masih belum siap untuk bertemu dengan kakaknya Jeny itu. Dia merasa malu.


"Kok Aku bisa merasa malu sih sama kak Aji. Kan Aku biasanya juga masa bodoh dengan penilaian orang? Hem... El, Kamu bukan Elisa ya?" tanya Elisa, pada dirinya sendiri dengan bingungnya.

__ADS_1


"El. El!"


"Eh, iya Tan?"


"Ada apa?" tanya mama Cilla dengan menyelidik.


"Ti... tidak apa-apa Tan," jawab Elisa dengan gugup. Dia ketahuan sedang melamun, dan tidak memperhatikan panggilan mama Cilla.


"Tidak apa-apa bagaimana? Tante panggil Kamu beberapa kali lho tadi," kata mama Cilla memberitahu.


"Masa sih Tan? Hehehe... El lagi gak konsen mungkin."


Mama Cilla, mengelengkan kepalanya berkali-kali, melihat tingkah dari teman anaknya itu.


*****


Jam tujuh malam, Dokter Dimas datang bersama dengan abangnya, Tuan Adi.


"Selamat malam Tante," sapa tuan Adi, pada Oma Rossa.


"Am Di," jawab Oma Rossa, dengan tersenyum dan mengangguk sambil melambaikan tangan, meminta agar tuan Adi mendekat.


Dari arah belakang, Dokter Dimas ganti menyapa Oma Rossa. Dia mengucapkan sapaan untuk Oma Rossa, tapi membuat semua yang ada di sana mengerutkan keningnya bingung, dengan perkataan yang diucapkan untuk melengkapi sapaannya itu.


"Hehehe... Dimas baru datang ya, jadi please, jangan di usir dulu," sambung Dokter Dimas dengan tersenyum canggung dan memperlihatkan kedua jari tangan dengan membentuk huruf V.


"Gak usah bertingkah Dim," kata tuan Adi, mengingatkan pada adiknya.


"Iya Abang, tapi kan..."


Dokter Dimas, tidak jadi melanjutkan kata-katanya, sebab melihat ke arah Jeny yang sedang mengeleng melihat ke arahnya.


"Hemmm..."


Pada akhirnya, Dokter Dimas pun diam. Dia ingin bertanya pada Jeny, kenapa diminta untuk diam. Padahal, dia sudah bilang sebelumnya, bahwa dia akan datang melamar pada saat mengunjungi Aji, setelah berada di rumah.


"Ah, kita makan dulu yuk! Sudah siap semuanya ini, dari pada keburu dingin," ajak mama Cilla, mengalihkan perhatian semuanya.


"Yuk. Kita makan saja dulu Dim, Di!" ajak papa Gilang, pada kedua tamunya itu.


Akhirnya, mereka semua menuju ke arah meja makan, dimana Elisa juga ada di sana, dan sedang membantu bibi menyiapkan makanan untuk makan malam mereka semua.

__ADS_1


Tuan Adi, berinisiatif untuk mengambil tambahan kursi untuk tempatnya duduk, sebab kursi makan tidak akan cukup untuk semua, dengan kedatangannya bersama dengan adiknya, Dokter Dimas.


"El, mau ke mana?" tanya Jeny, saat melihat Elisa yang berjalan dengan diam, untuk pergi dari tempat makan.


"Mau ke kamar dulu, Aku lupa, tadi di minta untuk menelpon bapak di rumah," kata Elisa beralasan. Padahal sebenarnya, dia merasa tidak nyaman, berada di tengah-tengah keluarga Jeny, apalagi ingatan Aji, sudah berangsur-angsur pulih kembali. Elisa juga merasa malu dengan kejadian tadi sore saat dia baru keluar dan kepergok Aji, dengan tingkahnya yang tidak jelas itu.


"Nanti saja sih nelponnya, makan dulu saja," kata Jeny, mencegah kepergian Elisa.


"Tapi Jen..."


" Ayo duduk! memangnya Kamu mau kemana?"


Tiba-tiba, Aji mendekat dan bertanya, sambil memegang tangan Elisa. Dia juga meminta Elisa untuk duduk di kursi, yang ada di sebelahnya.


Elisa tidak bisa menolaknya. Dia dengan patuh, ikut apa yang dikatakan oleh Aji, meskipun dengan perasaan yang tidak menentu.


"Karena waktunya sudah malam, kita semua makan malam saja terlebih dahulu, setelah itu, baru mengurus kepentingan yang lain. Ayo, dinikmati makanan yang sudah tersedia. Maaf ya Adi, Dimas. Kita hanya bisa menyediakan makanan biasa dan tidak ada yang istimewa, untuk menyambut kalian berdua."


"Wih... ini sudah lebih dari cukup Lang," sahut tuan Adi.


" Aku sih apa saja terasa istimewa, jika ada Jeny di dekatku," kata Dokter Dimas, menimpali perkataan abangnya.


Jeny, tersenyum malu dan wajahnya juga tampak memerah, mendengar perkataan Dokter Dimas yang merayunya, didepan semua orang.


Papa Gilang, mengeleng mendengar kata-kata Dokter Dimas, sedangkan mama Cilla, tersenyum canggung, karena belum sepenuhnya menerima hubungan antara putrinya itu, dengan Dokter Dimas.


Aji, pura-pura tidak mendengar perkataan Dokter Dimas. Dia sibuk memilih makanan untuk Elisa dan dirinya sendiri.


Oma Rossa, melihat dengan bingung, sedangkan Vero dan Biyan, tersenyum secara sembunyi-sembunyi agar tidak di pelototi kakaknya, Jeny.


"Cukup kak," kaya Elisa, mencegah Aji, yang terus saja mengisi piring makannya, dengan berbagai jenis makanan yang tersedia.


"Biar cepat besar Kamu," kata Aji, tanpa melihat ke arah Elisa yang cemberut, karena merasa di ledek kakaknya Jeny.


Tidak menunggu lama, semuanya mulai menikmati makanan yang sudah tersedia.


Aji memperhatikan Elisa, yang ada di sebelahnya. Dia melihat, jika Elisa makan dengan lamban, seakan-akan sedang melamun. Itu terbukti dari sendok yang dia putar-putar untuk mengambil makanan, tapi tidak segera dia makan.


"Jangan melamun kalau sedang makan. Nanti tahu-tahu, itu makanan sudah habis, dan Kamu belum merasa kenyang, karena tidak sadar jika makanan itu sudah masuk ke dalam perut. Atau, makanan masih banyak, tapi Kamu sudah merasa kenyang, karena berpikir jika sudah terlalu banyak yang Kamu makan. Padahal, sebenarnya hanya lamunan saja yang masuk ke pikiran dan juga hati Kamu."


Aji, menasihati Elisa dengan suara pelan, agar Elisa tidak merasa canggung pada yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2