Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Ternyata Benar


__ADS_3

Elisa, berjalan dengan cepat, sebab langit semakin terlihat gelap. Dia tidak ingin kehujanan, yang mungkin akan segera turun.


"Musim hujan sudah datang. Tapi kenapa rasanya berbeda saat Aku masih kecil dulu ya?" guman Elisa, sambil terus melangkah.


Tiba di mini market tempatnya bekerja, dia masih harus menunggu beberapa menit, karena mbak kasir, yang membawa kunci pintunya, belum terlihat datang.


"Wah, masih terlalu pagi ternyata!"


Elisa melirik jam tangannya, ternyata dia memang kepagian, masih sekitar sepuluh menit lagi, waktu biasanya mbak kasir datang, dan sepuluh menit untuk bersih-bersih dan berberes, sebelum mini market di buka.


"Hufh, Aku hanya menghindari hujan yang bisa saja turun lebih cepat. Kan lebih baik sudah berada di tempat kerja, dari pada kehujanan di jalan."


Elisa, kemudian duduk di kursi panjang, yang ada di teras mini market. Dia duduk sambil melihat-lihat orang dan kendaraan yang berlalu lalang, menjalankan aktivitas dan kesibukan mereka masing-masing.


"Kenapa musim hujan sekarang berbeda kesannya, tidak sama seperti waktu Aku kecil dulu. Ughhhh, jadi kangen rumah dan waktu Aku masih kecil dulu. Main hujan-hujanan sama teman-teman, dan tidak takut dengan flu atau demam akibat air hujan. Sekarang, kena gerimis saja sudah khawatir kalau kena flu, atau demam. Apa ada beda air hujan di kampung dan kota?"


Elisa terus melamun, memikirkan air hujan dan keadaan yang berbeda antara dulu, sewaktu dia masih kecil dengan sekarang ini, sudah dewasa.


Tanpa Elisa sadari, dari jarak lebih dari tujuh meter, tampak mobil yang sedari tadi parkir di depan ruko, di seberang mini market tempat Elisa berkerja, sedang mengamati semua gerak-gerik yang dia lakukan sedari tadi.


"Ternyata kamu di sini gadis kecil."


*****


Jeny, mencari keberadaan Rio, yang tidak terlihat sedari pagi. Handphone Rio juga tidak aktif. "Kemana dia? masak ikut menghilang kayak Elisa juga sih!" gerutu Jeny, sebab tidak menemukan Rio sedari tadi.


"Eh... eh, lihat Rio gak?" tanya Jeny, pada satu orang yang sedang lewat.


"Gak. Biasanya kan sama Kamu Jen?" jawab orang tersebut, malah balik bertanya.


"Huh, kalau sama Aku, ngapain tanya juga sama Kamu!" jawab Jeny, dengan wajah kesal.


"Lah Jen, kan Aku bilangnya biasanya," elak orang tadi.


"Sudah-sudah. Sono deh pergi!" usir Jeny dengan wajah cemberut.


"Lagi sensi ihsss, dapat ya?" orang yang tadi justru mengatai Jeny, dengan wajah mengejek.


"Huh!" dengus Jeny kesal.


"CK. Kemana dia?" tanya Jeny lagi, pada dirinya sendiri.


Saat dalam keadaan kesal, karena tidak menemukan keberadaan Rio, Elisa dikagetkan dengan bunyi nada handphone miliknya, yang menandakan jika ada telpon masuk.


"Hah, kenapa Aku benar-benar merasa kesal hari ini," gerutu Jeny, dengan mengambil handphone miliknya, yang berada di dalam tas. Setelah Jeny lihat, ternyata yang menelponnya kali ini adalah dokter Dimas, calon suaminya sendiri.


..."Halo Om Dimas!"...

__ADS_1


..."Halo Jeny Sayang. Ihsss, kok masih manggil Om sih? Ada apa, kayaknya bete gitu suaranya?"...


..."Ya nih. Bete banget hari ini."...


..."Gak usah bete. Kita jadi pergi fitting baju kan sore ini? nanti aku jemput ya!"...


..."Iya deh."...


..."Jangan kesel-kesel. Nanti cantiknya tambah, dan Aku tidak bisa lagi lama-lama men_sah_kan hubungan kita ini. Hehehe..."...


..."Ihsss, bisa saja!"...


..."Hahaha.. ayo senyum. Aku bisa lihat lho!"...


..."Heeee!"...


..."Apa itu nyengirnya kok kayak gitu?"...


..."Halah...!"...


..."Awas ya Jen. Aku akan mengganti tanggal pernikahan kita jadi semingu lagi lho!"...


..."Hah!"...


..."Bagaimana, ok kan?"...


..."Ihsss, si Om..."...


Jeny tersenyum sendiri, mendengar candaan dokter Dimas, yang membuat dirinya kesal tapi juga merasa senang.


..."Nah gitu dong, kan cantiknya bisa Aku lihat dari sini."...


Jeny tersenyum malu, dengan wajah memerah, meskipun tidak terlihat oleh dokter Dimas secara langsung. Dia jadi lupa, jika tadi hatinya sedang merasa kesal.


..."Ya sudah. Sampai ketemu nanti sore Sayang! Awas ya, jangan kesel-kesel lagi."...


Panggilan telpon ditutup. Jeny, tersenyum sendiri, mengingat bahwa manjur juga mengobrol dengan dokter Dimas, meskipun hanya lewat telpon. Bisa mengobati rasa hatinya yang sedang kesal tadi.


*****


Sekitar jam lima sore, Elisa berganti pakaian dari seragam kerjanya, dengan pakaian biasa.


"Lisa. Gimana kerja di Club, enak?" tanya salah satu teman kerja Elisa, yang tahu kalau Elisa juga kerja di Club malam harinya.


"Yah... enak gak enaklah," jawab Elisa dengan meringis.


"Banyak cowok kerennya pasti ya Lis?" tanya temannya lagi.

__ADS_1


"Gak merhatiin Mbak. Aku kan tugasnya bawa minuman dan yang lainnya, sesuai yang mereka pesan. Gak ada tuh tugas untuk merhatiin wajah-wajah para pelanggan," jawab Elisa ngawur.


"Hahaha... bener juga ya!"


"Hehehe..."


Elisa dan temannya tadi, tertawa bersama-sama. Mentertawakan jawaban Elisa, yang memang benar adanya.


"Ada yang suka usil gak Lis?" tanya temannya, setelah tawa mereka berdua mereda.


"Usil apa nih?" tanya Elisa menyelidik.


"Yah, cowok-cowok yang datang ke Club atau om-om genit gitu," jelas temannya Elisa, memperjelas maksud dari pertanyaannya tadi.


"Oh, sejuah ini sih gak ada. Mungkin gak selera juga sama Lisa Mbak."


"Kenapa gak selera?" tanya mbaknya tadi dengan bingung.


"Lisa kan bukan makanan! wkwkwk..."


Elisa kembali tertawa lepas, karena berhasil membuat temannya itu seperti kebingungan dengan jawaban yang dia berikan.


"Hah, dasar kamu Lis. Aku pikir apaan!"


"Hehehe.. maaf Mbak," kata Elisa, dengan nyengir kudanya.


"Maaf ya Mbak. Lisa mau balik dulu, istirahat sebentar sebelum perang lagi?" pamit Elisa, setelah beberapa menit kemudian.


"Hati-hati Lis, kalau ada target yang bagus dan Kamu tidak doyan, boleh kasi tau Mbak!"


"Rebesss Mbak!" sahut Elisa dengan nada bercanda.


Elisa berjalan kaki keluar dari mini market. Sesekali, Elisa melompat-lompat, untuk mengindari genangan air hujan yang tadi turun.


Dari kejauhan, sebuah mobil yang sedari pagi terparkir di halaman ruko seberang mini market, berjalan dengan perlahan-lahan, mengikuti langkah Elisa yang menuju ke kostnya.


"Kemana dia? kalau misalnya pulang jalan kaki, berarti tempat tinggalnya tidak jauh dari tempat kerjanya tadi."


Tin, tin!


Tin, tin!


Mobil dari arah belakang, membunyikan klakson dengan tidak sabar. Aji, yang sedang membuntuti Elisa dengan mobilnya, menepikan mobilnya terlebih dahulu, agar mobil yang ada di belakangnya, bisa berjalan melewatinya.


Tapi, karena kejadian yang hanya beberapa menit itu, membuatnya kehilangan jajak Elisa. Aji, sudah tidak bisa melihat keberadaan Elisa yang tadi masih berjalan dengan melompat-lompat kecil dan tidak beraturan.


"Kemana dia tadi? Kalau berbelok, belok ke gang yang mana?" tanya Aji kebingungan, karena kehilangan jejak Elisa, yang dia pantau sedari pagi tadi.

__ADS_1


"Ah... Aku tidak tahu kemana dia. Jadi apa Aku harus menunggunya lagi besok, atau menunggunya di tempat ini saja? siapa tahu, dia akan keluar lagi nanti."


Aji, masih belum bisa membuat keputusan yang tepat untuk saat ini. Tak lama, Aji berusaha untuk memutar arah mobilnya, kembali ke tempat yang tadi. Ke mini market, tempat Elisa bekerja.


__ADS_2