Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Pembalut Wanita 1


__ADS_3

Selama dua hari Gilang berada di apartemen bersama dengan Aji, Cilla dan juga ditemani mami Rossa. Mereka semua bisa membiasakan diri dan menambah rasa akrab seperti layaknya sebuah keluarga yang sesungguhnya.


Untuk urusan yang lain, seperti bersih-bersih dan memasak, ada bibi yang datang setiap harinya, untuk membantu mereka.


Sebenarnya, Cilla sudah meminta pada mami Rossa agar dia saja yang mengerjakan semuanya, tapi mami Rossa melarangnya.


"Kamu juga harus beristirahat. Kejadian kemarin itu, bukan hanya luka di kaki kamu. Tapi pastinya meninggalkan trauma yang butuh ketenangan dan istirahat yang cukup. Aji juga masih butuh perawatan untuk matanya."


Akhirnya Cilla tidak lagi membantah keputusan yang diambil oleh mami Rossa. Dia tidak mau berdebat dengan mantan bosnya itu, apalagi sebentar lagi akan menjadi mami mertuanya. Eh, benar gak tuh?


"Ma. Jadwal pemeriksaan ulang mata Aji besok kan ya?" tanya Aji saat semuanya sedang menonton televisi.


"Oh iya Sayang. Mama hampir saja lupa!" Cilla memegang tangan Aji.


"Sekalian saja besok bareng-bareng. Kan pengambilan hasil tes DNA juga besok," kata Gilang mengusulkan.


"Benarkah?" tanya mami Rossa tak percaya.


"Iya Mi," jawab Gilang pendek.


Cilla menatap dengan pandangan bingung dan gugup pada Gilang. Mungkin dia merasa tidak enak hati dan takut jika hasil tes DNA mereka berdua, Gilang dengan Aji, tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan.


"Jangan khawatir Cilla. Karena sebenarnya, tanpa test DNA itupun, Aku percaya jika Aji adalah anakku. Jika sampai ada kekeliruan dalam hasil nanti, Aku anggap itu adalah kesalahan teknis laboratorium rumah sakit."


Penjelasan yang diberikan Gilang membuat Cilla merasa bertambah bingung. Jika sampai hasil tes DNA mereka salah, lalu Aji anak siapa? Dia juga tidak pernah melakukan hubungan intim dengan siapapun selama ini. Jadi Cilla berusaha untuk tenang dan meyakinkan dirinya jika semuanya akan baik-baik saja.


Aji mulai mengantuk di pangkuan mamanya, Cilla. Tapi Cilla masih membiarkan Aji berada di pangkuannya, dan belum membawanya ke kamar. Dia tidak mau jika Aji akan terganggu dan tidak jadi tertidur nantinya.


"Mami mau ke mini market di bawah sebentar ya!" pamit mami Rossa.


"Kamu mau nitip apa Cilla?" tanya mami Rossa pada Cilla yang sedang mengelus-elus kepalanya Aji.


"Eh, tidak ada Mi," jawab Cilla.


"Kamu Gilang?" tanya mami Rossa pada anaknya yang duduk sambil melihat-lihat laptopnya untuk memeriksa laporan kantor lewat email.


"Terserah Mami," jawab Gilang tidak memberikan jawaban yang pasti.

__ADS_1


"Apa itu, kok terserah?" tanya Mami Rossa bingung.


"Ya apa saja boleh Mi. Makanan ringan, atau minuman apa gitu, kan ada banyak pilihannya," jawab Gilang menjelaskan.


"Oh..."


"Emh... Ci... Cilla boleh ikut Mi? Tapi nunggu Aji tertidur pulas dulu, buat Cilla pindahkan ke kamar dulu," tanya Cilla dengan wajah cemas.


"Oh, boleh. Ya sudah, Mami tunggu saja dulu," kata mami Rossa menganguk mengiyakan.


Akhirnya Cilla mengangkat Aji untuk dibawa ke dalam kamar. Membaringkan Aji, agar bisa tidur dengan nyenyak dan nyaman


"Sudah Mi," kata Cilla memberitahu.


"Ya sudah ayo, Mami ambil tas dulu ya!" ajak mami Rossa sambil berdiri dari tempat duduknya di sofa.


"Tuan maaf. Titip Aji ya, dia sedang tidur," kata Cilla pada Gilang yang masih sibuk dengan laptopnya setelah mami Rossa masuk ke dalam kamar.


Gilang tidak menyahut permintaan Cilla, entah dia pura-pura tidak mendengar atau memang kesibukan menyita seluruh perhatiannya.


"Tu... tuan," panggil Cilla lagi.


Cilla menjadi gugup dan takut jika itu menganggu kesibukan Gilang. Dia akhirnya diam dan tidak berani bicara lagi, tapi mami Rossa sudah berjalan ke arah kamar untuk mengambil tasnya.


"Ayo Cilla!" ajak mami Rossa tidak tahu apa yang sedang terjadi.


Cilla tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Dia bingung mau menjelaskan, apa dia jadi ikut mami Rossa ke mini market atau menjaga Aji yang sedang tidur di kamar.


"Cilla!" panggil mami Rossa karena melihat Cilla yang hanya diam saja.


Akhirnya mami Rossa mendekat ke arah Cilla. Dia tidak tahu apa yang tadi terjadi. "Kenapa?" tanya mami Rossa ingin tahu.


"Aji, Aji Mi."


Cilla bingung menjelaskan pada mami Rossa jika menitipkan Aji yang sedang tidur pada Gilang, yang juga sedang sibuk dengan pekerjaannya.


"Oh..."

__ADS_1


Akhirnya mami Rossa paham apa yang Cilla rasakan sekarang ini. Dia melangkah mendekati tempat duduk Gilang dan menepuk pundak anaknya itu, " Gilang. Kami mau pergi. Aji tidur di kamar. Jaga dia ya? Jika terbangun kamu jangan lupa!"


"Iya Mi," jawab Gilang dengan mendongak menatap wajah mami Rossa.


"Tadi, Cilla memintamu. Tapi kamu cuekin!"


"Hah, kapan?" tanya Gilang bingung.


"Ah, sudah. Kamu itu kalau sudah sibuk susah diajak bicara," protes mami Rossa pada anaknya itu.


"Yuk Cilla. Jangan khawatir, ada papanya yang jaga. Lagi pula Aji juga baru saja tidurnya," ajak mami Rossa pada Cilla, sambil menggandeng tangan Cilla agar tidak ragu lagi meninggalkan Aji sendiri di kamar.


Setelah mereka berdua sampai di mini market, mami Rossa segera mengambil semua barang-barang yang mereka perlukan nantinya. Dia juga memasukkan beberapa camilan dan minuman yang aman untuk Gilang maupun Aji.


"Cilla. Katanya mau ada yang dibeli, mana?" tanya mami Rossa bingung saat melihat Cilla hanya diam mengikutinya saja.


"Cilla hanya butuh... butuh... pembalut wanita Mi," jawab Cilla gugup.


"Oh, itu. Hehehe... Kamu malu ya ada Gilang tadi?"


Mami Rossa memaklumi kebutuhan Cilla yang pastinya masih normal diusianya yang masih muda itu. Kini mami Rossa mulai menghitung, jika umur Cilla belum genap dua puluh lima tahun. Bukankah Cilla hamil di usianya yang belum genap delapan belas tahun?


Mami Rossa menghela nafas panjang. Dia merasa sangat bersimpati, dan juga ikut merasa bersalah, dengan semua yang terjadi pada Cilla dulu. Dia tidak tahu bagaimana harus berkata lagi untuk meminta maaf, pada anak almarhum sahabat itu.


"Cilla. Jangan sungkan ya dengan Mami. Anggap saja Mami adalah mamamu juga. Meskipun dengan status yang berbeda. Mami tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu dan juga Aji dikemudian hari nanti."


"Iy... Iya Mi. Terima kasih."


Mata Cilla berkaca-kaca mendengar perkataan mami Rossa. Dia terharu dengan sikap dan kasih sayang yang ditunjukkan oleh mami Rossa.


"Sudah-sudah," kata mami Rossa yang kini sedang memeluknya. Memberikan kekuatan pada dirinya yang sebenarnya lemah dan juga cengeng.


Cilla hanya mengangguk dalam pelukan mami Rossa yang hangat seperti mamanya dulu, Aryani Sukmajaya. Cilla tidak mampu berkata apa-apa lagi untuk mengungkapkan perasaannya saat ini.


"Sudah-sudah. Ayuk kita lanjutkan lagi belanjanya. Nanti keburu Aji bangun dan mencari-cari keberadaanmu."


"Iya Mi," jawab Cilla pendek sambil mengusap air matanya yang mengalir satu-satu.

__ADS_1


"Ini pembalutnya?" tanya mami Rossa sambil menunjuk salah satu merk pembalut wanita yang ada di rak depan mereka.


__ADS_2