
Malam semakin larut. Mereka semua, sudah masuk ke dalam kamar masing-masing. Begitu juga Aji dan Cilla. Mereka berdua sudah bersiap untuk tidur dan berada di tempat tidur.
"Ma. Apa pesta pernikahan Mama dan papa akan besar? Seperti yang ada di televisi-televisi itu, para artis," tanya Aji pada mamanya.
"Entahlah Sayang. Mama juga tidak tahu. Tapi, dari apa yang tadi dibicarakan oleh Oma Kamu, mami Rossa, sepertinya akan besar dan juga ada di gedung, bukan di rumah atau villa seperti kemarin."
Cilla menjawab pertanyaan anaknya, Aji dengan pengetahuan yang dia sendiri belum bisa membayangkannya.
"Memangnya kenapa Sayang?" tanya Cilla pada Aji. Dia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh anaknya itu.
"Tidak ada apa-apa Ma. Aji seneng kalau Mama seneng," jawab Aji sambil tersenyum, kemudian memeluk Cilla, mamanya.
"Ya Sayang. Mama seneng kok. Apalagi kalau Aji juga seneng. Aji seneng gak dengan semua rencana tadi? tentang pesta pernikahan Mama dan juga papa?" tanya Cilla pada Aji, yang sedang memeluknya erat.
"Iya. Aji seneng kok Ma," jawab Aji cepat, dengan masih memeluk mamanya dalam keadaan sama-sama berbaring di tempat tidur.
"Sayangnya Mama..."
Cilla, mengelus rambut kepala Aji, dengan penuh kasih sayang. Dia merasa sangat bahagia, dengan semua yang ada dalam hidupnya selama ini bersama dengan anaknya itu. Anak yang baik dan tidak pernah merepotkan dirinya selama ini. Justru, Aji sering kali membantunya dalam keadaan apapun, termasuk dalam hal finansial, dengan penghasilan dari jualan online miliknya Aji.
"Ya sudah. Sekarang kita tidur yuk! Besok kita akan pergi ke kantor EO, Aji kan juga ikut. Biar sekalian diukur juga, baju-baju yang akan Aji pakai nanti."
"Iya Ma," jawab Aji pendek, kemudian melepas pelukan eratnya pada mamanya, Cilla. Dia segera memejamkan matanya, agar bisa secepatnya tertidur malam ini.
*****
__ADS_1
^^^"Halo Honey! Aku bisa nyusul ke kantor EO siang ya, selepas makan siang. Jadwalnya padat untuk pagi ini."^^^
Begitu pesan yang diterima Cilla, dari Gilang. Cilla ingin segera membalas pesan tersebut, tapi keburu ditanya mami Rossa, "Cilla. Gilang Sudah kasih kabar belum?"
"Ini Mi. Baru saja mas Gilang kirim pesan," jawab Cilla, dengan menunjukan layar handphone miliknya, pada mami Rossa.
Mami Rossa menerima handphone tersebut, kemudian membaca apa yang dikatakan oleh Gilang, lewat pesannya kepada Cilla.
"Baiklah. Mami akan memberikan kabar pada pihak EO, kalau kita datang siang. Biar mereka tidak menunggu, jika ada agenda lainnya, bisa jalan juga mereka."
Mami Rossa mengambil handphone miliknya sendiri, kemudian menelpon pihak EO, untuk memberikan kabar kedatangan mereka nanti siang.
Beberapa menit kemudian, mami Rossa kembali pada Cilla yang sedang duduk di sofa ruang tengah.
"Cilla. Kamu sudah mempunyai gambaran tentang warna pakaian dan aksesoris yang akan mendukung penampilan kamu besok?" tanya mami Rossa pada Cilla.
Keterangan yang dikatakan oleh Cilla, membuat mami Rossa mengangguk setuju. Dia juga sudah tahu itu, karena kemarin sudah ditawari oleh pihak EO, cuma mami Rossa belum memberikan jawaban, dan ingin bertanya dulu dengan Cilla.
"Iya Sayang. Kemarin juga gitu, tapi Mami belum pilih kok. Biar kamu bisa pilih sendiri saja nanti."
"Mami. Cilla jadi malu," kata Cilla dengan wajah bersemu merah.
"Kenapa malu?" tanya mami Rossa bingung dengan perkataan Cilla.
"Harusnya, Cilla kan hanya nurut saja sama dengan keputusan dari Mami. Ini kenapa jadi Cilla yang milih," kata Cilla dengan suara yang terdengar cemas.
__ADS_1
"Hei, apa yang Kamu cemaskan Cilla? Mami tidak pernah menganggap dirimu orang lain. Kamu itu putrinya Mami, jadi akan lebih baik lagi jika pendapat dari Kamu juga ada. Ini kan pernikahan Kamu, tidak usah sungkan. Katakan saja, pernikahan seperti apa yang Kamu inginkan dan impikan. Mami dan Gilang pasti akan senang, jika bisa menurutinya. Biasanya, yang punya impian pernikahan itu cewek, dan cowok hanya mengikuti. Gilang juga pasti setuju Dia akan merasa senang, jika Kamu bisa mendapatkan apa yang Kamu inginkan."
"Terima kasih banyak Mi," kata Cilla, dengan suara bergetar. Dia juga memeluk mami Rossa dengan wajah penuh haru.
"Sama-sama Sayang. Mami juga seneng kok."
Mereka berdua, berpelukan dengan penuh keharuan dan kebahagiaan, yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata.
Cilla, merasa menemukan sosok mamanya pada diri mami Rossa,. Dia juga tidak pernah menyangka, jika jalan hidupnya yang sekarang ini akan dia lalui. Dulu, dia tidak pernah membayangkan, jika akan bertemu lagi dengan laki-laki yang membuatnya menderita. Kehilangan keperawanan, kematian ayahnya, Wildan Bayu, kemudian di usir dari rumahnya, oleh ibu tirinya, Dian Anita, karena ketahuan hamil yang tidak jelas siapa laki-laki yang menghamilinya.
Cilla benar-benar terpuruk pada masa itu. Apalagi setelah kehamilannya terlihat dan segera melahirkan, dia tidak tahu, apakah masih mampu untuk melanjutkan hidupnya atau tidak.
Untungnya, begitu melihat wajah bayinya, Cilla seakan mendapat semangat untuk bisa membesarkan anaknya itu. Apapun yang terjadi. Cilla bertekad untuk membesarkan Aji seorang diri, meskipun banyak sekali orang yang membicarakannya, membencinya, dan menyudutkan dirinya.
Cilla tidak peduli. Dia merasa bahagia, hanya dengan Aji, anaknya itu. Tapi kini, semuanya akan baik-baik saja dengan adanya Gilang, dan juga mami Rossa dalam kehidupan sekarang ini.
Berbeda dengan Cilla, mami Rossa merasa sangat bahagia dengan rencana pernikahan ini. Itu artinya, Gilang akan segera mempunyai keluarga yang dia impikan, dan akan ada suara bayi yang meramaikan rumahnya ini setelah itu. Sama seperti yang mami Rossa impikan juga, setelah sekian lamanya, dia selalu berusaha untuk meminta anaknya, Gilang, agar segera menikah dan berumahtangga. Justru, kini dia mendapatkan apa yang dia inginkan, dan sudah ada cucu juga. Apalagi calon istrinya Gilang adalah, anak dari sahabatnya sendiri, Aryani Sukmajaya. Cilla juga mantan karyawannya, yang terbilang cukup baik dan jujur selama ini.
"Ma. Aji mau susu hangat."
Permintaan Aji, membuyarkan lamunan Cilla dan mami Rossa, yang masih dalam keadaan berpelukan. Mereka berdua segera melepaskan pelukannya dan melihat ke arah Aji.
"Iya Sayang. Ayo, Mama buatkan."
Aji melangkah, mengikuti mamanya ke arah dapur. Dia tadi sedang berada di kolam ikan, yang ada di belakang rumah. Dia sedang bermain-main dengan ikan, dan tidak mau ditunggui mamanya ataupun omanya.
__ADS_1
"Aji tidak mau makan lagi?" tanya mamanya, Cilla, setelah meletakkan gelas susu hangat milik Aji.
"Tidak Ma," Jawab Aji pendek, kemudian segera meminum susu hangat, yang ada didepannya.