Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Sangkoer Singh


__ADS_3

Di rumah sakit, dalam kamar VVIP nomer dua.


"Ayah, Siapa omanya Vijay?" tanya Mr Vijay tiba-tiba pada ayahnya, Tuan besar Sangkoer Singh, yang baru saja datang dari India setengah jam yang lalu.


Tuan besar Sangkoer Singh, langsung terbang ke Indonesia dengan jet pribadinya, begitu mendapat kabar jika, anaknya Vijay Singh sedang sakit.


"Oma? Kamu tidak punya oma Sayang. Ada, tapi Kamu tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk bersamanya. Oma Kamu, sudah meninggal dunia pada saat Kamu masih ada di dalam kandungan."


Penjelasan yang diberikan oleh ayahnya, Sangkoer Singh, membuat Mr Vijay merasa bingung. Dia merasa, ada yang tidak beres dengan ingatannya.


"Tapi Yah, tadi Vijay bermimpi, jika sedang bermain di kolam ikan bersama dengan omanya Vijay. Ada adik perempuan juga yang ikut bermain air. Apa Vijay punya adik perempuan yah, dan bukan anak tunggal seperti yang sekarang ini? Lalu kemana adik perempuan Vijay Yah? Apa dia juga sudah meninggal?" tanya Mr Vijay kepada ayahnya.


Tuan besar Sangkoer Singh, menjadi kaget. Dia terlihat mengerutkan keningnya bingung, mendengar semua ceritanya anaknya itu, tentang keluarga yang tidak dia ketahui sama sekali.


"Ayah, ceritakan tentang mereka Yah. Apa itu benar, lalu dimana mereka sekarang ini berada?" tanya Mr Vijay lagi.


Mr Vijay mendesak ayahnya, Sangkoer Singh, untuk menceritakan tentang mimpinya itu. Selama ini, dia hanya tahu semua hal mengenai dirinya dari cerita ayahnya itu. Dia tidak mengingat apapun tentang masa lalunya.


"Apa yang harus Ayah ceritakan Vijay? Semua sudah Ayah ceritakan dulu. Tentang dirimu yang seorang ilmuwan, dan selalu sibuk di laboratorium pribadi. Tentang kesibukan Ayah dan perusahaan-perusahaan kita. Apalagi?" tanya Sangkoer Singh pada anaknya, Mr Vijay Singh.


"Lalu apa hubungannya dengan mimpi Vijay tadi? Ada Oma, adik perempuan dan kolam ikan. Bukankah, di rumah kita tidak ada kolam ikannya? kolam renang memang ada dan yang ada ikannya itu akuarium raksasa yang ada di ruang tamu. Itupun dengan banyak ikan hias, bukan ikan untuk dikonsumsi untuk keluarga sendiri."

__ADS_1


Perkataan dan pertanyaan anaknya itu, membuat tuan besar Sangkoer Singh merasa khawatir. Dia merasa, jika anaknya itu, sedikit demi sedikit mulai mengingat tentang latar belakang dirinya yang sebenarnya.


"Besok kita kembali ke India. Nanti kita berobat di sana dan Kamu akan menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang sekarang ini mengganggumu. Sekarang tidurlah," kata Sangkoer Singh pada Mr Vijay, anaknya itu.


Tapi tak lama setelah tuan besar Sangkoer Singh meminta anaknya untuk tidur, pintu kamar pasien di ketuk dari luar.


Tok...


Tok...


Tok...


Pintu terbuka, muncul Dokter Dimas dan dua orang yang tidak dikenal Mr Vijay Singh. Tapi tak lama berselang, dia merasa kaget, karena wajah salah satu dari orang itu adalah, wajah gadis yang dia temui di kampus tadi pagi. Wajah yang terasa tidak asing lagi untuknya.


"Malam tuan Sangkoer Singh dan Mr Vijay Singh," sapa Dokter Dimas, begitu sudah sampai di dekat ranjang pasien.


"Malam Dokter," jawab Sangkoer Singh, yang memang tadi, begitu sampai di rumah sakit ini, sudah bertemu dengan Dokter Dimas, meskipun hanya sebentar saja.


Mr Vijay Singh, tidak menjawab sapaan Dokter Dimas. Dia juga tidak melanjutkan kata-katanya yang tadi, saat menunjuk ke arah Jeny. Kini, dia memperhatikan papa Gilang, yang sedang menatap ke arahnya dengan tersenyum.


"Yah. Mereka berdua siapa? Apa mereka kenalan Ayah, rekan bisnis Ayah?" tanya Mr Vijay Singh, kepada ayahnya, tuan besar Sangkoer Singh.

__ADS_1


"Saya, Gilang Aji Saka. Dan ini, anak kedua Saya, Anjani Putri. Dia biasa dipanggil kakaknya, Jeny. Waktu masih kecil, kakaknya Aji, tidak bisa dengan mudah, menyebut nama Anjani, jadi hanya Jen... Jeny. Maka dari itu, Anjani lebih di kenal dengan nama Jeny."


Keterangan yang diberikan oleh papa Gilang, membuat tuan besar Sangkoer Singh, mengerutkan keningnya bingung. Begitu juga dengan Mr Vijay Singh. Dia merasa tidak asing, dengan nama-nama yang disebutkan tamunya itu. Kini, dia memegang kepalanya, yang terasa sangat berat dan pusing.


"Apa maksud dari perkataan Anda tuan? Lihat anak Saya, jadi merasa pusing lagi," kata Sangkoer Singh, yang merasa tidak puas dengan perkataan tamunya, yang tidak dia kenal itu.


"Dokter, lakukan sesuatu untuk mengurangi rasa sakit anak Saya ini! Cepat, atau Saya akan menuntut rumah sakit ini, karena membiarkan pasiennya mendapat tekanan dari pihak luar!" perintah Sangkoer Singh, pada Dokter Dimas.


"Tenang tuan. Ini hanya reaksi yang biasa terjadi, pada seseorang yang tidak mengingat kejadian di masa lalunya. Bukankah ini sering Mr Vijay alami? tidak hanya saat ini saja bukan?" perkataan yang diucapkan oleh Dokter Dimas, membuat Sangkoer Singh merasa terkejut. Dia tidak menyangka, jika dokter yang belum lama menangani anaknya itu, tahu lebih banyak tentang latar belakang rasa sakit kepala yang dialami oleh Mr Vijay selama ini.


"Kenapa tuan Sangkoer Singh? Apa perkataan Saya ini salah?" tanya Dokter Dimas menantang.


"Kak. Ini Jeny Kak. Kakak ingat tidak? kita sering bermain-main di kolam renang dan juga memberikan makan pada ikan di kolam belakang rumah. Kita juga sering ikut memancing ikan, untuk lauk makan malam bersama di rumah. Kakak ingat tidak? Kakak juga yang sering mengajari Jeny mengoperasikan laptop untuk mengakses internet dunia. Apa kakak ingat? Negara Jerman, adalah negara impian kakak sejak masih kecil. Dan apa Kakak juga ingat, Burger adalah makanan dari luar, yang paling kakak sukai, dibandingkan dengan makanan yang lain."


Jeny, mengatakan semua, yang bisa membuat kakaknya itu, Aji, mengingat beberapa kebiasaan dan juga kegiatan mereka berdua sehari-hari. Jeny, mengatakan semua itu, dengan suara yang bergetar, menahan diri dan juga air matanya, agar tidak menetes keluar.


Semua orang yang mendengarnya, hanya diam dan tidak menyelanya. Begitu juga dengan tuan besar Sangkoer Singh. Dia tidak menyahut, membantah, dan menentang semua cerita dan perkataan dari Jeny.


Dia merasa jika, mungkin memang sekarang sudah waktunya jika anaknya itu, Mr Vijay Singh, mengetahui kebenaran yang sesungguhnya terjadi. Meskipun sebenarnya, dia belum bisa menerima, jika harus berpisah dengan orang yang sudah bersamanya untuk beberapa tahun terakhir ini.


"Bagaimana tuan Sangkoer Singh? Apa kita perlu test DNA, untuk memastikan bahwa apa yang tadi dikatakan oleh anak Saya, Jeny, itu salah? Jika iya, mari kita buktikan, mau test DNA di mana? Saya siap!"

__ADS_1


Tuan besar Sangkoer Singh, tidak langsung menjawab semua pertanyaan dan perkataan dari papa Gilang. Dia justru melihat ke arah anaknya sendiri, Mr Vijay Singh, yang sedang memegang kepalanya itu. Sangkoer Singh, merasa khawatir, sebab, dia melihat anaknya itu, terlihat sangat kesakitan. Mungkin karena, ingatannya dipaksakan untuk membuka semua memory tentang masa lalunya, yang sudah lama tidak dia ingat.


__ADS_2