
Dua bulan kemudian, wisuda Elisa sudah dipastikan akan dilaksanakan satu bulan lagi. Dia sudah menghubungi bapaknya di kampung, agar bisa datang ke Jakarta juga, untuk menghadirkan acara wisudanya bulan depan.
Tapi, manusia hanya bisa berencana, sedangkan Tuhan, yang menentukan segala hal yang terjadi dalam hidup ini.
Malam ini, saat Elisa baru saja pulang bersama dengan Aji, dari rumah Jeny, karena menghadiri acara tujuh bulanan, mendapatkan kabar dari kampung, jika bapaknya jatuh dari kamar mandi dan belum sadarkan diri sampai sekarang. Saat ini, bapaknya ada di rumah sakit kotanya.
..."El, bapak Kamu El..."...
..."Bapak? Bapak kenapa Mbah?"...
Elisa, bertanya pada orang yang menjadi satu-satunya pembantu di rumahnya, dan memang sudah menjadi pengasuh sejak bapaknya masih kecil dulu, itulah sebabnya Elisa memanggilnya 'Mbah' karena usianya juga sudah lanjut.
..."Bapak Kamu jatuh di kamar mandi, dan belum sadar Nduk. Sekarang ada di rumah sakit."...
..."Bapak!"...
Elisa, tidak bisa lagi berkata-kata. Dia duduk dengan lemas dan handphonenya juga jatuh begitu saja.
"Sayang, ada apa?" tanya Aji, yang baru saja keluar dari kamar mandi, yang ada di dapur.
"Bapak Kak hiks... Bapak ada di rumah sakit. Hiks.. hiks... belum sadar sampai sekarang," jawab Elisa sambil terbata-bata, karena isakan tangisnya.
"Lho, sakit apa?" tanya Aji bingung.
"Bapak... Bapak jatuh di kamar mandi," jawab Elisa, dengan mengusap air matanya.
"Ya sudah, Kamu siap-siap. Kita ke pulang ke kampung sekarang."
"Kakak tidak capek?" tanya Elisa memastikan.
"Kita bawa satu supir di rumah. Nanti kita minat ijin pada papa ya!" jawab Aji, meyakinkan Elisa, agar tidak merasa khawatir dengan keadaannya.
Elisa mengangguk. Dia segera pergi ke kamar untuk bersiap-siap. Sedangkan Aji, menelpon papa Gilang, meminta ijin untuk membawa satu supir di rumah.
..."Halo Aji, sudah sampai di apartemen?"...
..."Sudah Pa, baru sampai."...
..."Papa malah masih ada di jalan ini."...
..."Oh, Aji cuma mau ijin untuk bawa satu supir Pa."...
..."Tumben bawa supir, mau ke mana?"...
..."Mau pulang kampung Pa."...
..."Lho, kok mendadak. Ada apa?"...
__ADS_1
..."Bapaknya masuk rumah sakit Pa. Jatuh di kamar mandi."...
..."Ya baiklah. Bawa supir yang ada di rumah. Nanti papa suruh dia ke apartemen sekarang ya, sekalian bawa mobilnya. Mobil Kamu terlalu kecil dan tidak nyaman untuk perjalanan jauh."...
..."Ya Pa. Terima kasih."...
..."Semoga bapak di kampung segera kembali sehat ya."...
..."Aamiin. Ya Pa, terima kasih."...
Sambungan telpon putus. Sekarang, Aji menyusul istrinya ke dalam kamar, untuk bersiap-siap pulang ke kampung. Dia tinggal menunggu kedatangan supir, yang akan mengantarnya pulang ke kampung, bersama dengan Elisa.
"Kak, bagaimana. Papa ijinkan?" tanya Elisa, begitu melihat kedatangan Aji.
"Iya, papa masih di jalan, tapi supir di rumah yang di minta datang ke sini, jemput kita."
"Syukurlah. Semoga bapak tidak kenapa-kenapa," doa Elisa penuh harap.
"Ya , semoga begitu. Kamu yang tenang ya," kata Aji, menenangkan pikiran istrinya.
Elisa, menggangguk. Dia berusaha untuk bisa tetap tenang meskipun hatinya gundah dan memikirkan nasib bapaknya yang ada di rumah sakit.
"Bapak, bertahan ya pak. Sehat ya pak," kat Elisa dalam hati, berharap bapaknya akan tetap baik-baik, saja.
*****
"Kak," panggil Elisa dengan pelan.
"Ya, Kamu mengantuk?" tanya Aji menoleh, kemudian mengambil tangan Elisa dalam genggamannya.
"Tidak. El tidak ngantuk," jawab Elisa sambil menggeleng.
"Tidurlah. Jangan terlalu cemas. Tadi Kakak sudah menelepon pihak rumah sakit, agar merawat bapak dengan baik. Dia sudah di tangani tim dokter, dan tadi sudah sadar sebentar."
"Benarkah? Syukurlah. Terima kasih Kak, hiks... hiks, El sangat cemas," sahut Elisa dengan cepat. Dia memeluk lengan suaminya, dan terisak di sana.
"Sudah-sudah. Tidur sini, biar lebih tenang."
Aji, menepuk-nepuk pangkuannya, agar Elisa tidur di sana. Dia memposisikan diri agar nyaman untuk Elisa bisa tidur.
"Tidak. Kakak akan capek nanti," tolak Elisa, kemudian mengatur posisi sandaran kursi dan mengambil bantal yang ada di kursi belakang. Dia membuat kursi menjadi mirip dengan kasur lantai sehingga bisa tidur dengan nyaman.
Aji, menekan tombol yang ada di depannya, sehingga sekat penutup antara kursi depan dan belakang terpisah, dan supir berkonsentrasi pada kemudi. Dia menyusul Elisa, agar bisa tidur meskipun hanya sebentar, agar tubuhnya tidak terlalu capek saat tiba di rumah sakit, tempat bapaknya di rawat.
Tapi, sebelum Aji menutup sekat, dia berpesan pada supir terlebih dahulu, "Pak, kalau mengantuk dan capek, istirahat sebentar. Atau bangunkan Saya nanti."
"Baik tuan muda," jawab supir dengan patuh.
__ADS_1
*****
Mobil masuk ke dalam area parkir rumah sakit, sekitar pukul tujuh pagi. Elisa dan Aji, sudah bangun sedari tadi, sejak memasuki batas kota.
"Kak," panggil Elisa meminta bantuan pada Aji, untuk membuka pintu. Dia sudah tidak sabar untuk segera menemui bapaknya.
"Iya sebentar," jawab Aji, karena dia sedang mengembalikan posisi tempat duduk, agar kembali seperti semula. Tak lama, mereka berdua keluar dari dalam mobil.
"Bapak bisa ke warung untuk makan, atau mandi terlebih dahulu. Kami akan masuk. Jika ada yang kami perlukan, Kami akan menelpon Bapak," kata Aji, pada supirnya, dengan memberikan beberapa lembar uang.
"Baik tuan muda, terima kasih."
Aji, berjalan dengan cepat, menyusul istrinya yang sudah berjalan terlebih dahulu. Dia maklum, karena Elisa, pasti merasa khawatir dengan kondisi bapaknya.
Mereka berdua, langsung menuju ke kamar pasien yang sudah diberitahukannya oleh pengasuh di rumah, lewat pesan tadi.
Kreek!
Pintu terbuka, "Bapak," panggil Elisa, begitu masuk ke dalam kamar pasien bapaknya.
Bapaknya Elisa, menoleh. Dia tersenyum bahagia melihat kedatangan anak tunggalnya, yang sudah menikah dan hidup bahagia bersama dengan suaminya itu.
"El," sahut bapaknya dengan suara yang masih lemah.
Elisa, memeluk tubuh bapaknya yang terbaring di ranjang pasien. Dia menangis dalam pelukan bapaknya.
"Sudah-sudah. Bapak tidak kenapa-kenapa kok El," kata bapaknya, menenangkan Elisa.
"Bapak kenapa bisa sampai jatuh?" tanya Elisa, tidak mempedulikan perkataan bapaknya.
"Tidak tahu Nduk. Wong orang jatuh ya tidak sadar kenapa tadinya. Bapak pikir ya mau ambil wudhu, tapi buang air kecil dulu. Kok tiba-tiba pusing dan tidak tahu setelah itu," jawab bapaknya, memberikan gambaran tentang kejadian semalam, yang membuatnya harus di rawat di rumah sakit ini.
"Kamu tidak apa-apa langsung ke sini?" tanya bapaknya dengan wajah khawatir.
"Maksudnya Pak?" tanya Elisa bingung.
"Kamu jangan suka merepotkan suami dan keluarga Kamu di sana. Kamu harus jaga diri dan perasaan mereka juga. Jangan manja, dan apa-apa minta di layani. Bapak takutnya, Kamu merengek-rengek minta pulang semalam."
Bapaknya Elisa, adalah orang kampung yang sederhana. Tentu dia banyak berpikir sejauh itu, karena menjaga perasaan suami dan keluarga besannya yang orang kota. Dia tidak mau, jika anaknya, Elisa, akan mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari mereka.
"Tidak Pak. Saya sendiri yang mengajaknya ke sini semalam," jawab Aji, dari arah belakang Elisa.
"Oh mantu, terima kasih ya. Kami sudah mau mengantar Elisa ke sini."
"Tidak apa-apa Pak. Bapak juga orang tua bagi Saya. Sudah kewajiban juga semua ini untuk Saya sendiri." Aji, menyalami bapak mertuanya itu. Dia tersenyum untuk menenangkan hati mertuanya juga.
"Semoga kalian tetap langgeng dan bahagia selamanya," ucap bapaknya berdoa, untuk kebahagiaan keluarga anaknya, Elisa dan Aji.
__ADS_1