Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Elisa Dan Rio Menghilang


__ADS_3

"Kamu ingat dengan paman Ranveer?" tanya papa Gilang dengan mengerutkan keningnya, melihat ke arah Aji.


"Iya Pa, Aji ingat."


Aji, menceritakan tentang paman Ranveer, selama dia bersamanya dulu.


"Sebenarnya, dia orang yang baik juga. Cuma, rasa sayangnya pada anak gadisnya itu, yang membuat dirinya tega melakukan hal yang tidak seharusnya juga."


Aji juga bercerita kepada papanya, tentang bagaimana keadaan anak gadisnya paman Ranveer, yang tidak normal untuk ukuran orang lain.


"Bagaimana bisa seperti itu?" tanya papa Gilang merasa heran.


"Tidak tahu juga apa penyebab yang sebenarnya. Tapi, menurut cerita yang pernah Aji dengar dari paman Ranveer, dia jadi seperti itu karena ada tekanan, entah masalah dengan teman atau kekasihnya yang dulu, yang tidak bisa dia ungkapkan pada orang lain. Dia tidak bisa menceritakannya pada orang terdekatnya juga, termasuk paman Ranveer sendiri."


"Aneh begitu ya? Semoga tidak terjadi pada keluarga kita dan keluarga yang lain juga."


Papa Gilang, tidak tahu harus berkomentar apa. Dia hanya berharap, semoga saja, itu tidak terjadi pada anak-anaknya dan juga anak yang lainnya.


"Oh ya, ayok kita keliling-keliling. Papa undang Kamu untuk datang ke kantor ini, supaya besok-besok, waktu Kamu sudah mulai aktif ikut kerja, tidak perlu lagi berkeliling satu persatu ruangan yang ada dan bagian yang terdapat di kantor ini."


Aji, menurut saja ajakan papanya. Dia berjalan sejajar dengan papanya.


"Ini ruang administrasi, bersebelahan dengan HRD. Teknisi ada dia bagian paling belakang dan ada gudang juga."


Papa Gilang, terus berjalan dan menjelaskan sendiri pada Aji. Dia ingin Aji mengenal semua tempat di kantor ini, sebagai rumah ke dua. Karena tempat kerja, ibarat rumah agar bisa betah dan bekerja baik.


"Pa. Besok Aji mau daftar aktif ke kampus lagi. Laporan tentang dayaku yang dulu masih ada, jadi Aji tinggal meneruskan saja. Meskipun akhirnya Aji tidak bisa kembali ke Jerman, setidaknya Aji masih bisa menyelesaikan pendidikan Aji di Indonesia, meskipun terlambat." Aji, mengatakan rencananya untuk bisa kuliah lagi.


"Papa dukung, apa yang Kamu anggap baik. Kamu pasti mampu. Tidak apa-apa, tidak mendapatkan titel dan ijazah dari Jerman, yang penting Kamu selamat dan bisa berkumpul lagi dengan kita semua dalam satu keluarga, Papa sudah sangat bahagia. Papa bangga dengan apa yang sudah Kamu usahakan selama ini. Justru Kami yang tidak bisa membayangkan, seberat apa hari-hari yang Kamu lalui saat berada di antara para mafia itu."


Papa Gilang, menepuk-nepuk bahu Aji dengan rasa bahagia dan bangga yang terpancar dari wajahnya yang sudah mulai menua, meskipun tetap terlihat tampan. Sorot matanya juga memperlihatkan, jika dia merasa terharu dengan apa yang dilakukan Aji selama ini.


"Tetaplah menjadi kebanggaan dan contoh untuk adik-adikmu," kata papa Gilang, lagi dengan menganggukkan kepalanya berkali-kali.


"Ya Pa," jawab Aji pendek, namun dengan niat yang tulus dari hatinya.

__ADS_1


*****


Hari ini, acara pesta untuk Jeny dan dokter Dimas digelar. Semua orang sibuk dengan persiapannya masing-masing.


Meskipun semua ditangani pihak EO, tapi mama Cilla tetap sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk keluarganya sendiri. Gaun dan jas untuk seragam acara pesta Jeny, sudah dia pesan melalui butik yang menjadi langganan keluarga. Mama Cilla juga tidak lupa memesankan untuk Elisa dan Rio.


"Elisa dan Rio kok belum datang?" tanya mama Cilla, dengan wajah cemas. Sedari tadi, dia mondar-mandir dari arah belakang ke depan.


"Ma. Ada apa?" tanya Aji, karena melihat mamanya, yang terlihat seperti orang kebingungan.


"Elisa dan Rio belum datang juga ini," jawab mama Cilla, dengan suara yang terdengar sangat khawatir. "Tidak biasanya mereka telat datang, jika ada acara di rumah ini," sambung mama Cilla lagi.


Aji, tidak mengatakan apa-apa. Dia tidak ingin menambah kekhawatiran mamanya saat ini.


"Coba Aji telpon," kata Aji, mencoba untuk membuat mamanya lebih tenang.


"Tidak bisa Sayang. Mama sudah mencoba menelpon Rio berkali-kali, tapi sepertinya handphone Rio tidak aktif. Sedangkan Elisa, Kamu tahu sendiri, dia masih belum mau memakai handphone sementara ini."


Rasa khawatir yang dirasakan mama Cilla, membuat Aji, ikut-ikutan merasa khawatir juga. Dia tidak bisa menghubungi Rio, sama seperti yang dikatakan mama Cilla tadi.


Aji tampak mengelengkan kepala berkali-kali. Dia mencoba menghilangkan perasaannya sendiri yang tidak baik.


"Ma, sudah siap ini!" teriak Vero yang sudah tampak gagah, memakai jas yang sama seperti yang dipakai Aji dan juga kembarannya, Biyan.


"Bagaimana ini?" tanya mama Cilla bingung, karena Elisa dan Rio, benar-benar tidak bisa dihubungi. Baju dan jas untuk mereka berdua, masih terbungkus rapi di atas meja ruang tengah.


"Bagaimana kalau Aji yang nunggu mereka. Mama berangkat saja dulu. Kasihan Papa dan Jeny yang sudah menunggu di gedung.


Akhirnya, mama Cilla menurut apa yang dikatakan oleh Aji. Tadi, Jeny dan suaminya, beserta Oma Rossa, berangkat terlebih dahulu karena Jeny harus di rias dalam waktu yang lama. Dia tidak mau jika tidak ditemani papanya. Sedangkan Oma Rossa, ingin menyaksikan cucu gadisnya, dirias menjadi pengantin wanita yang sangat cantik.


"Baiklah. Mama berangkat dulu. Jika dalam waktu setengah jam mereka berdua belum juga ada kabar, Kamu pergi tinggalkan saja. Tidak mungkin menuggu kedatangan mereka, dan Kamu tidak bisa menyaksikan acara akad nikah adik Kamu sendiri."


"Iya Ma. Aji usahakan untuk datang dan terlambat."


"Kak, kami duluan ya. Jangan lupa, jitak itu calon kakak ipar Vero yang aneh, hehehe..." kata Vero berpamitan pada kakaknya, Aji.

__ADS_1


"Ver, buru!" teriak Biyan dari luar rumah.


Akhirnya, mereka bertiga, mama Cilla dan kedua anak kembarnya itu, pergi terlebih dahulu ke tempat acaranya Jeny.


Aji, masih termenung sendiri di rumah, memikirkan bagaimana keadaan Elisa dan Rio saat ini.


"Kalian ke mana, ada apa dengan kalian ini?" berbagi macam pertanyaan, hadir di pikiran Aji.


"Kenapa juga nomer handphone Rio tidak bisa dihubungi? Sebenarnya, apa yang sedang terjadi?" tanya Aji lagi, pada dirinya sendiri.


Hampir setengah jam Aji menunggu, tanpa ada kepastian, akan kedatangan orang yang diharapkan. Dia hampir saja keluar dari rumah, saat handphone miliknya bergetar.


Drettt... drettt... drettt...


Aji, segera memeriksa handphone miliknya yang berada di saku celana. Dia pikir, itu adalah Rio. Tapi, ternyata tidak. Panggilan telepon miliknya itu dari mama Cilla.


Dengan berbagai macam perasaan yang tidak menentu, Aji menerima panggilan telepon dari mamanya.


..."Halo Ma." ...


..."Aji, bagaimana? apa mereka sudah datang?" ...


..."Belum Ma."...


..."Aduh... acara sebentar lagi. Kamu tinggal saja mereka. Tidak baik juga Kamu tidak ikut hadir di acara adik Kamu ini."...


..."Iya Ma. Nanti, Aji akan kasih pesan sama Security rumah, agar menyuruh Elisa dan Rio langsung ke gedung, jika mereka datang."...


..."Iya Begitu saja. Kamu hati-hati ya di jalan!" ...


Aji menutup telponnya. Dia keluar rumah dan menuju mobil yang sudah dia siapkan sedari tadi.


"Entah dimana kalian berdua berada. Aku harap, kalian baik-baik saja."


Tak lama, Aji melajukan mobilnya menuju ke tempat adiknya, Jeny, melangsungkan pernikahan dengan dokter Dimas, hari ini.

__ADS_1


__ADS_2