Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Siapa Dalangnya


__ADS_3

Kecelakaan yang terjadi siang itu, membuat pak supir mengalami luka yang terbilang cukup parah. Kakinya, mengalami patah tulang ringan, dan bahunya juga tergores pecahan kaca jendela mobil.


Cilla dan mami Rossa, hanya lecet-lecet dan tidak ada luka yang perlu di khawatirkan. Sedangkan Aji, hanya bagian keningnya saja, yang harus mendapatkan jahitan karena kulitnya yang terluka akibat pecahan kaca jendela mobil juga.


Pihak kepolisian sedang memeriksa TKP. Dari beberapa kesaksian warga sekitar yang ada ditempat kejadian, semua mengarah pada mobil yang tiba-tiba datang, menyalip dan berbelok ke arah kiri, tanpa ada tanda lampu sen, untuk peringatan pada kendaraan di belakangnya.


Dari pantauan CCTV, yang terdapat di bangunan gedung sebelah kanan jalan, tampak jelas jika mobil tersebut, sepertinya dengan sengaja melakukan semua itu. Kini mobil tersebut, masih dalam penyelidikan dan pencarian, siapa pemiliknya dan apa motif yang melatar belakangi kecelakaan yang terjadi siang itu.


Pak supir masih di rawat secara intensif. Mami Rossa dan Cilla, sudah baik-baik saja, meskipun masih ada kecemasan pada diri mereka berdua.


Tadi saat kecelakaan terjadi, mereka berdua pingsan, karena merasa shock, saat Aji berteriak, kemudian mobil oleng, hingga terjadilah peristiwa kecelakaan itu. Setelah itu, mereka berdua tidak ingat apa-apa lagi.


"Aji. Bagaimana Aji?" tanya mami Rossa, begitu dia sandar dari pingsannya.


Cilla, yang sudah sadar terlebih dahulu, belum bisa menjawab pertanyaan mami Rossa secara pasti. Dia sendiri masih merasa, jika ini hanya mimpi belaka dan bukan kenyataan yang dia alami tadi.


"Belum tahu Mi. Mas Gilang sudah datang belum ya?" tanya Cilla pelan, seakan-akan untuk dirinya sendiri.


Sekarang ini, mereka sudah berada di kamar pasien. Gilang tidak ada diantara mereka, karena dia sedang berada di ruang IGD, menunggu Aji yang belum sadarkan diri.


Bibi dan supir yang ada di rumah, sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, untuk menunggui mami Rossa dan juga Cilla.


Aji masih ada di ruang IGD, karena dia masih memerlukan tindakan lebih lanjut Sedangkan pak supir, langsung di bawa ke ruang operasi untuk pemasangan gips dibagian kakinya yang mengalami patah tulang.


"Tuan muda," sapa bibi pembantu, begitu sampai di depan ruang IGD.


"Eh Bibi. Syukurlah. Mami ada di ruang angrek nomer 2. Tadi Gilang minta yang kamar VIP yang cukup besar untuk dua orang."


"Ya Tuan. Saya langsung ke sana," kata bibi mengerti dengan apa yang dikatakan oleh tuan mudanya, yaitu Gilang.


"Keluarga pasien anak yang baru datang, karena kecelakaan?" tanya seorang suster yang baru saja keluar dari ruangan.


"Iya Sus. Saya Papanya," jawab Gilang panik. Dia cemas, dengan keadaan Aji.


"Persiapkan ruang pasien untuk anak anda," kata suster memberitahu.


"Sudah Sus. Ada di kamar angrek nanti bersama dengan mamanya. Biar Kami bisa menunggu dengan nyaman, dan tidak mondar mandir juga. Tadi sudah konfirmasi dengan pihak administrasi," jawab Gilang, memberikan penjelasan pada suster tersebut.

__ADS_1


"Baiklah. Kami akan mempersiapkan segala sesuatunya terlebih dahulu."


Suster tadi mengangguk mengerti, kemudian kembali ke dalam ruangan IGD untuk mempersiapkan Aji, yang akan dibawa ke kamar pasien.


Gilang menghela nafas panjang beberapa kali, untuk melonggarkan sedikit rasa sesak yang ada di dalam dadanya. Dia tidak tahu harus berkata apa untuk kejadian yang menimpa keluarganya itu.


"Siapa sebenarnya pengemudi mobil itu? Kenapa dia melakukannya dengan sengaja? Motif apa yang melatarbelakangi perbuatannya itu?" tanya Gilang, pada dirinya sendiri, dengan mengelengkan kepalanya berkali-kali.


Gilang belum mengetahui, dan juga belum mendapatkan kabar, terkait kecelakaan yang dialaminya keluarganya tersebut.


"Aku harus meminta tolong, pada Komandan polisi juga ini," kata Gilang, dengan wajah yang terlihat cemas.


"Semoga saja, dengan jalur yang dia miliki, bisa mempercepat koneksi dan menemukan kepastian dari kejadian ini."


Gilang segera menghubungi komandan polisi, untuk meminta bantuan padanya. Dia menceritakan tentang kejadian yang terjadi dalam kecelakaan itu dan meminta komandan polisi untuk segera ikut serta, menyelidikinya.


..."Baiklah Gilang. Nanti Aku usahakan, agar bisa ikut membantu penyelidikan beberapa cctv yang mungkin saja ada terpasang di berbagai ruko dan tempat lain yang tadi mereka lewati."...


..."Aku butuh segera ya! Aku tidak akan merasa tenang, jika dia belum ditemukan. Aku tidak mau ada ancaman dan teror lagi, setelah kejadian ini."...


..."Apa kamu mencurigai seseorang?" ...


Gilang, tidak bisa menduga-duga, apa dan siapa di balik semua yang terjadi pada kecelakaan itu.


..."Mungkin saja, kamu mencurigai seseorang, yang sedang bermasalah dengan Kamu, atau keluarga Kamu akhir-akhir ini."...


..."Entahlah. Aku tidak tahu."...


..."Bukan papanya Candra kan?"...


..."Hah! Maksud Kamu dokter Hendrawan?" ...


..."Siapa tahu. Kan dia tidak bisa membantu anak-anaknya. Jadi dia merasa kesal dan dendam pada keluarga Kamu, terutama pada mami Rossa dan Cilla." ...


..."Kenapa Kamu punya pemikiran seperti itu?"...


..."Pikir coba, Mami Rossa, menolaknya saat meminta agar kasus Candra di cabut."...

__ADS_1


..."Lalu Cilla?"...


..."Kalau Cilla... mungkin dia merasa, jika Cilla sudah merebut dirimu dari anaknya. Bukankah, kepulangan Lily ke Indonesia karena, direncanakannya perjodohan antara Lily dengan dirimu?" ...


..."Kalau ternyata bukan dokter Hendrawan?"...


..."Coba Kamu ingat-ingat lagi."...


..."Maksudnya tentang apa?" ...


..."Ya musuh Kamu. Ada tidak yang akhir-akhir ini Kamu menolak seseorang, misal kerjasama, masalah cinta atau apa gitu."...


..."Entahlah. Aku tidak tahu. Sepertinya, tidak ada juga."...


..."Ya sudah. Aku akan segera menghubungi dirimu, begitu Aku mendapatkan petunjuk."...


..."Terima kasih banyak ya. Kali ini, Aku merepotkan dirimu lagi."...


..."Ok. Santai saja."...


Sambungan telepon terputus. Gilang segera mendekat ke arah Suster yang baru saja ke luar, sambil mendorong brangkar pasien milk Aji.


"Sayang. Kamu baik-baik saja?" tanya Gilang pada Aji yang masih memejamkan matanya.


"Dia masih pingsan. Ini juga pengaruh obat bius, untuk jahitan di keningnya. Nanti sekitar seperempat jam lagi, dia juga akan segera sadar," kata suster, memberikan penjelasan pada Gilang, agar tidak lagi memanggil-manggil nama Aji.


"Tapi dia tidak apa-apa ks Sus?" tanya Gilang cemas.


"Tidak apa-apa. Untung, dia memakai sabuk pengaman. Jadi tidak terlalu terpental jauh."


"Dari mana Suter tahu, jika anak Saya ini memakai sabuk pengaman?" tanya Gilang heran dengan perkataan suster.


"Tadi, warga yang mengantar korban, ada yang berkata demikian."


"Ah... Syukurlah kalau begitu."


Gilang bernapas lega karena sudah mengetahui keadaan Aji sekarang ini. Nanti, jika Aji sudah berada di dalam kamar pasien, bersama dengan mama dan juga omanya, dia akan pergi ke ruang operasi, untuk mengetahui keadaan pak supir, yang sedang menjalani operasi.

__ADS_1


"Semoga, pak supir juga baik-baik saja," kata Gilang, penuh harap.


__ADS_2