Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Malam Yang Manis


__ADS_3

Kolam ikan yang tidak terlalu besar, di teras belakang rumah mami Rossa berisi ikan-ikan kecil yang berwarna warni. Suasana bertambah ramai dengan gemericik air terjun buatan yang ada di kolam ikan tersebut. Ada juga bola-bola lampu, yang membuat suasana di teras belakang lebih mirip dengan taman mini. Terlihat romantis untuk berkencan juga.


Mami Rossa dan Aji masih bercengkrama didekat kolam, duduk di kursi taman yang yang tersedia. Mereka bergantian menabur makanan untuk ikan.


Dari dalam rumah, tampak Gilang dan Cilla yang beriringan menuju ke tempat mereka, Aji dan mami Rossa, duduk.


"Wah... Asyik bener," kata Gilang menegur anak dan juga maminya itu.


"Lah... Yang asyik berdua juga lupa tuh sana kita ya Sayang!" Mami Rossa tidak mau kalah. Dia sengaja menyindir anaknya itu, dengan meminta dukungan pada Aji, cucunya, anaknya Gilang.


Cilla menunduk malu dan berusaha untuk melepaskan tangannya yang masih di pegang oleh Gilang.


Berbeda dengan Cilla, yang ingin melepaskan tangannya, Gilang justru semakin mempererat pegangan tangannya dengan Cilla. "Cocok kan Mi?" tanyanya meminta pendapat pada mami Rossa.


Tentu saja mami Rossa menganguk setuju dengan mengangkat kedua jempolnya pada usaha anaknya itu.


"Aji setuju kan, jika papa dalam waktu dekat ini menikah dengan mama?" tanya Gilang beralih pada Aji.


"Iya. Aji setuju. Tapi mama juga harus setuju," jawab Aji berdiplomasi.


Kini semua mata tertuju pada Cilla, karena dialah yang menjadi kunci utamanya. Tapi Cilla hanya diam dan tetap dalam keadaan menunduk malu.


"Baiklah. Seperti yang sudah direncanakan mami, besok kamu akan menemui psikiater bersama mami. Aji boleh ikut, tapi maaf. Aku tidak bisa ikut menemani. Sudah terlalu lama aku meninggalkan urusan kantor, jadi aku harus masuk lagi mulai besok. Bagaimana Mi?"


Gilang menyerahkan urusan Cilla untuk konsultasi ke psikiater pada maminya. Tentu saja mami Rossa setuju dengan apa yang dikatakan oleh anaknya itu, Gilang. Dengan senang hati, mami Rossa mengiyakan, "Tentu saja Sayang." Mami Rossa menjawab usulan tersebut.


"Mami juga mau membuat janji dengan dokter Hendrawan. Kasihan juga dia. Gagal terus saat ingin menemui kita," kata mami Rossa pada Gilang.

__ADS_1


"Tapi Gilang tidak bisa ikut Mi," kata Gilang dengan ragu.


"Tidak apa-apa. Mami akan membuat janji dengan dokter Hendrawan di kantor pengacara saja. Biar bisa tahu apa maunya dia, dan juga pengacara bisa menasehatinya nanti."


Gilang menganguk setuju dengan pendapat maminya. Dia merasa jika dibiarkan terlalu lama, semua ini tidak akan pernah selesai dan mengantung terus.


"Pokoknya yang baik saja menurut Mami. Aku ikut saja," kata Gilang pasrah dengan keputusan yang mami Rossa buat kedepannya.


"Mami tidak akan membiarkan kedua anak nakal itu bebas dari jeratan hukum. Biar mereka juga belajar, dari kesalahan yang sudah mereka lakukan. Mami hanya tidak mau, dokter Hendrawan jadi repot terus, kecewa dan juga malu. Usahanya untuk bertemu dengan kita gagal terus. Padahal, dia ingin bertemu dengan kita saja, pastinya sudah mengesampingkan rasa malu dan kecewanya."


Gilang menganguk mengerti dengan penjelasan maminya. Dia merasa jika semua yang dikatakan oleh maminya itu benar adanya.


"Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anak-anaknya. Meskipun sebesar apapun kesalahan mereka, orang tua pasti akan berusaha untuk melindungi mereka. Padahal sebenarnya sadar juga jika itu tidak baik. Tapi begitulah kasih sayang orang tua. Selalu ingin yang terbaik untuk anak-anaknya, meskipun harus mengorbankan apapun itu. Termasuk harga diri dan rasa malu."


Mami Rossa menjelaskan apa yang dirasakan oleh kebanyakan orang tua, terhadap anak-anaknya. Mungkin itu juga yang dia lakukan sekarang ini. Dia tetap mendukung Gilang yang berusaha mendapatkan Cilla dan Aji, untuk menebus kesalahan yang dilakukan dimasa lalu juga. Meskipun sebenarnya mami Rossa memang benar-benar sayang, pada Cilla dan juga Aji.


"Ya sudah. Malam semakin larut. Mami mau tidur dulu. Kalian masih mau disini?" tanya mami Rossa pada ketiga orang yang ada di dekatnya saat ini.


"Ya sudah. Mami duluan kalau begitu. Selamat malam Aji, Cilla," pamit mami Rossa pada Cilla dan Aji


"Jangan terlalu malam. Mereka juga butuh istirahat, apalagi kamu besok mulai masuk kantor juga." Mami Rossa mengingatkan pada anaknya, Gilang.


"Iya Mi. Sebentar lagi," jawab Gilang dengan menganguk mengiyakan.


Setelah mami Rossa pergi ke dalam rumah, Gilang mempersilahkan Cilla untuk duduk di kursi yang ada. "Duduklah. Aku mau bicara dengan kalian berdua," kata Gilang pada Cilla dan juga Aji.


"Aji, Sayang. Papa meminta maaf atas semua yang terjadi di waktu yang dulu. Meskipun papa terus meminta maaf, Papa tidak akan pernah bosan, untuk bisa mendapatkan maaf itu."

__ADS_1


Gilang menjeda kata-katanya. Dia menghela nafas sebentar, sebelum melanjutkan lagi apa yang ingin dia sampaikan malam ini, pada Aji dan juga Cilla.


"Aku juga meminta maaf pada Kamu, Cilla. Aku benar-benar sayang sama Kamu. Aku tidak bisa melupakan Kamu sejak malam itu. Meskipun aku tidak bisa mengekspresikan perasaan ini, tapi percayalah, Aku benar-benar tulus."


Gilang berkata dengan nada serius. Tidak seperti biasanya yang dilakukan dengan nada dan juga cara yang terkesan bergurau. Malam ini terlihat berbeda. Dia ingin menunjukkan keseriusannya pada Cilla dan juga Aji.


"Aku akan bersabar, menunggu keputusan darimu, Cilla. AKu berharap, setelah selesai konsultasi dengan psikiater nantinya, Kamu bisa memberikan jawaban yang Aku harapkan."


Gilang bernafas lega setelah selesai berbicara mengenai perasaannya itu. Dia tidak ingin di anggap hanya main-main dan memanfaatkan keberadaan Aji, sebagai anaknya, untuk mendapatkan Cilla.


"Aku tidak akan memaksa lagi. Mulai malam ini, kalian bisa bebas menentukan pilihan dan bagaimana selanjutnya, yang menurut kalian berdua lebih baik. Aku hanya berharap, jika semua itu, nantinya, masih melibatkan Aku seterusnya."


Perkataan Gilang itu membuat Cilla menahan nafas. Dia tidak tahu harus berkata apa untuk memberikan jawaban. Aji juga diam. Dia tidak ingin mempengaruhi apapun keputusan yang akan mamanya buat untuk kedepannya nanti.


"Terima kasih untuk kesempatan dan juga waktu yang diberikan tu... Sayang."


Cilla menutup mulutnya sendiri setelah sadar, akan perkataannya sendiri, yang menyebutkan panggilan 'sayang' untuk Gilang.


Aji menoleh kearah mamanya dengan bingung. Sedangkan Gilang tersenyum senang saat mendengar panggilan 'sayang' dari Cilla. Itu merupakan pertanda yang baik.


Mami Rossa yang sebenarnya masih ada di balik pintu, tersenyum bahagia dan mengucapkan syukur atas apa yang sedang terjadi malam ini.


"Terima kasih Tuhan atas malam yang bahagia ini. Aku berharap, ini adalah awal yang baik untuk kedepannya nanti."


***


Hai semuanya. Maaf ya, outhor lagi sibuk jadi gak bisa nimbrung dan banyak menyapa kalian semua. Semoga tetap semangat dan sehat terus ya 😘😘😍😍

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar ya, kasih giff n vote juga boleh banget 🤗🥰🥰


Terima kasih 🙏😍😘


__ADS_2