
Gilang dan Cilla merasa sedikit bingung saat mami Rossa meminta keduanya untuk sama-sama masuk ke dalam mobilnya, mobil yang akan dikemudikan oleh mami Rossa sendiri.
"Pak. Duluan saja ya pulangnya! Itu barang-barang nanti minta sama bibi biar di bereskan sama dia," mami Rossa memberikan perintah pada supirnya.
"Baik nyonya," jawab sang supir patuh.
Mobil satu sudah bersiap untuk berangkat menuju ke rumah. Tapi mami Rossa meminta Gilang untuk naik ke mobilnya.
"Lho Mi, gak salah lagi ini?" tanya Gilang bingung.
Cilla juga bingung dengan sikap mami Rossa yang berubah sekarang ini. Padahal sebelumnya, mami Rossa meminta Gilang untuk naik mobil bersama dengan supir, kemudian pulang ke rumah, sedangkan mami Rossa akan mengantarnya bersama Aji untuk pulang ke apartemen. Tapi Cilla hanya diam dan tidak berani melakukan protes apapun itu.
Setelah mobil yang satunya benar-benar sudah pergi, mami Rossa segera masuk ke dalam mobil di belakang kemudi. Aji dia dudukan di kursi sebelahnya. "Hai, ayo buruan naik!" ajak mami Rossa pada Gilang dan juga Cilla.
Gilang hampir saja naik lewat pintu samping, sebelah kemudi, tapi ternyata sudah ada Aji yang duduk di kursi itu sambil meringis khas anak-anak.
"Papa duduk di mana?" tanya Gilang bingung.
"Ada banyak kursi kosong di belakang Pa. Duduk saja di sana. Itu mama juga duduk di sana kan?"
Aji menunjuk bangku penumpang dibelakangnya. Ada Cilla yang baru saja masuk dan jadi serba salah saat Aji berkata demikian.
Gilang menggaruk-garuk pelipisnya sendiri. Akhirnya dia paham jika ini sudah direncanakan oleh mereka, Aji dan juga maminya. "Kompak bener sih, cucu sama omanya," kata Gilang didekat telinga Aji, sambil tersenyum miring.
Aji hanya melirik sekilas tanpa membalas perkataan papanya tadi. Sedangkan mami Rossa hanya tersenyum samar agar tidak terlalu terlihat jika semuanya itu memang sudah dia atur.
Akhirnya, Gilang membuka pintu mobil bahkan penumpang di belakang yang sudah ada Cilla didalamnya. "Maaf ya, aku ikut duduk di sini. Di depan penuh!" kata Gilang meminta ijin.
Cilla hanya diam dan menggeser posisi duduknya. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Toh ini juga mobilnya Gilang, pulangnya juga nanti ke apartemen Gilang. 'Harusnya aku yang meminta ijin,' pikir Cilla dalam hati.
"Sudah semuanya? Kita berangkat ya!" kata mami Rossa sambil menoleh ke arah penumpang dibelakangnya.
"Sudah Mi," jawab Gilang pendek.
"Ok. Kita berangkat sekarang."
__ADS_1
Mami Rossa menghidupkan mesin mobilnya dan memutar kemudi untuk keluar dari area parkir rumah sakit menuju ke penthouse milik Gilang.
Di sepanjang perjalanan, Aji diam dan tidak mengoceh seperti biasanya. Cilla pikir Aji mulai mengantuk. "Aji. Kamu ngantuk ya?" tanya Cilla dari kursi belakang.
"Tidak Ma," jawab Aji pendek. Dia memang tidak mengantuk, tapi sedang berpikir bagaimana caranya agar mamanya itu bisa leluasa untuk bicara jika sedang bersama dengan papanya.
Cilla akhirnya kembali diam dan tidak lagi bertanya. Dia juga sungkan karena ada Gilang yang duduk di sampingnya saat ini.
Beberapa menit kemudian, justru Cilla yang mulai mengantuk. Ini Gilang ketahui saat secara tidak sengaja Cilla hampir saja rubuh dipundaknya. Tapi karena Cilla segera sadar, akhirnya Cilla menegakkan kembali tubuhnya seperti tadi.
Gilang menghela nafas panjang dan memejamkan matanya. 'Apa aku saja yang bersandar di bahunya?' pikir Gilang saat menemukan ide. 'Ini kan juga rencana aji dan mami, yang membuat kami ada di dalam satu mobil dan duduk berdampingan juga.'
"Ahhh...."
Akhirnya malah Gilang yang menyandarkan kepalanya ke belakang, pada sandaran kursi penumpang.
Tentu saja Cilla jadi merasa tidak nyaman. Dia yang mengantuk dan ingin bersandar tadi, malah didahului oleh Gilang. Kini dia harus bertahan agar tubuhnya tidak condong ataupun roboh kebelakang.
Tapi keinginan tetaplah keinginan. Mata Cilla yang sudah tidak kuat menahan rasa ngantuk, akhirnya terlelap juga dan tidak sengaja roboh ke belakang. Kepalanya miring menimpa bahu Gilang. Tentu saja Gilang kaget, tapi dia juga merasa senang karena akhirnya bisa juga sedekat itu dengan Cilla. Meskipun Gilang tahu jika Cilla tidak sengaja melakukan semua ini.
"Mama," panggil Aji dari kursi depan.
Aji menoleh cepat, begitu juga dengan mami Rossa. Tapi dengan cepat juga mami Rossa kembali berkonsentrasi dengan setirnya ke arah depan. Dia hanya melirik-lirik lewat spion yang ada di atasnya untuk melihat kebelakang.
"Mama beneran tidur Pa?" tanya Aji ingin tahu.
"Iya. Sedari tadi sebenarnya sudah ngantuk, tapi mama menahannya. Mungkin sekarang sudah tidak tahan lagi dan ambruk ini," jawab Gilang dengan pelan dan tidak berani membuat pergerakan pada tubuhnya agar Cilla tidak terbangun.
"Papa tidak apa-apa dengan posisi seperti itu?" tanya Aji mengingatkan.
Gilang mengelengkan kepalanya melihat ke arah tubuh Cilla yang semakin miring dan menimpa tubuhnya. Dia mencoba menahan kepala Cilla dan meletakkan di bahunya agar terasa nyaman. Itu juga untuk mengamankan posisi perutnya sendiri, agar tidak tertimpa tubuh Cilla jika ada pergerakan yang tidak disengaja. Gilang tentu masih harus berhati-hati dengan jahitan bekas operasi diperutnya.
*****
Di area parkir apartemen.
__ADS_1
Mami Rossa dan Aji sudah turun dan menyeret koper berisi barang-barang milik Aji dan juga Cilla. Mereka naik ke penthouse terlebih dahulu, sebab Cilla masih tertidur dan belum juga bangun.
Tadi, saat mami Rossa turun bersama Aji, sempat menggoda Gilang agar tetap berada di mobil dan menunggu sampai Cilla terbangun sendiri.
"Kamu tunggu saja disini. Biar Cilla bangun sendiri, jangan dibangunkan. Mami sama Aji naik dulu."
Gilang tentu saja melongo mendengar perintah maminya itu. Apa sepanjang hari akan seperti ini? Padahal, bahu Gilang juga sudah terasa kebas karena menahan tubuh Cilla yang tertidur.
Akhirnya Gilang yang sudah ditinggal pergi oleh mami Rossa dan Aji, mencoba untuk ikut memejamkan matanya agar bisa tertidur. Dia juga menikmati aroma parfum dari tubuh Cilla yang begitu dekat dengannya saat ini.
"Bagaimana bisa aku begitu tergoda saat itu, hanya karena parfum yang tidak mahal ini. Atau itu hanya pemikiran yang salah dan aku memang benar-benar tertarik dengannya sedari awal?" gumam Gilang seorang diri.
Tak lama, Gilang ikut tertidur. Mereka berdua tertidur di dalam mobil di area parkir apartemen hingga siang menjelang sore.
"Em... emmm... eh!"
Cilla yang mengeliat beberapa kali, merasa kaget begitu sadar jika masih berada di dalam mobil.
"Tu... Tuan!"
Cilla bertambah kaget karena melihat Gilang yang juga tertidur di sampingnya, bahkan tangannya sedang memegang tangan Cilla juga.
"Eh, ih..."
Cilla berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Gilang. Tapi usahanya ini justru membangunkan Gilang dari tidurnya juga.
"Kamu sudah bangun?" tanya Gilang datar. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali untuk memulihkan kesadarannya sendiri.
Cilla memandang sekeliling, dan tersipu malu saat sadar jika hanya tinggal mereka berdua saja di dalam mobil ini. "Berarti aku tertidur pulas bersama dengan dia di dalam mobil tadi?" kata Cilla di dalam hatinya.
"Aduh!"
Tiba-tiba Gilang mengeluhkan perutnya yang terasa sakit. Tangannya juga memegang perutnya yang bekas jahitan operasi.
"Kenapa, kenapa tuan?" tanya Cilla panik, kemudian memegang perut Gilang yang dikeluhkannya itu.
__ADS_1
"Sakit ini. Tapi dia butuh dielus juga," jawab Gilang datar dan tanpa ekspresi lagi.
Akhirnya, Cilla segara menarik kembali tangannya yang berada di perut Gilang. Dia melengos saat sadar jika sedang dikerjai juga.