Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Menemukan Foto


__ADS_3

Aji yang sedang bermain-main dengan handphone menemukan sesuatu yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Ada foto papanya bersama dengan seorang wanita yang tidak Aji kenal. "Siapa ya?" tanya Aji dalam hati.


Dia melirik ke arah omanya, mami Rossa, tapi omanya itu masih asyik bercengkrama dengan mamanya, Cilla, dan juga mbak Diyah. Aji tidak ingin merusak kegiatan mereka bertiga dengan pertanyaan yang diajukan olehnya nanti.


Akhirnya Aji mencoba menelusuri jejak foto tersebut. Foto itu di unggah seseorang dengan akun sosial 'siemoy' dan sepertinya akun itu juga tidak berasal dari Indonesia. Menurut beberapa komentar yang di baca Aji, sepertinya akun ini berasal dari Amerika. Mungkin orang yang mempunyai akun tersebut berdomisili di sana. "Bukankah Candra juga dari Amerika, apakah ini ada hubungannya?" tanya Aji dalam hati.


Akhirnya Aji terus menelusuri jejak akun tersebut. Ada beberapa foto papanya yang masih tampak muda. "Mungkinkah dia orang terdekat papa, atau saudara papa? Tapi kenapa memakai kata-kata yang tidak biasa, untuk foto tersebut?"


Aji terus bertanya-tanya dalam hati. Dia juga mencoba menelusuri beberapa akun yang tampaknya dekat dengan akun tersebut, karena seringnya berkomentar.


Ternyata tidak hanya ada satu dua foto. Tapi ada banyak. Bahkan, ada beberapa foto yang baru saja di unggah beberapa menit yang lalu. Meskipun foto itu tampak bukan dari foto-foto baru, tapi pengunggahnya baru saja mempublikasikan.


Saat ini, Aji mengunakan akun hancker-nya, jadi aman jika dia berusaha untuk masuk ke akun tersebut, siemoy. Dia mencoba beberapa cara untuk bisa masuk ke akun tersebut, tapi ternyata gagal. Aji coba lagi, gagal juga. Akhirnya Aji hanya diam dan menunggu jika ada yang berkomentar, sekalian berpikir.


Aji tidak mencoba untuk memfollow akun tersebut. Dia tidak mau ketahuan jika sedang mencari tahu siapa dia. Tapi Aji akan terus mengamati akun tersebut dengan cara seperti sekarang ini saja.


"Aji. Ayo Sayang, kita pulang!"


Ternyata obrolan tiga wanita di dekatnya sudah selesai. Mbak Diyah pamit kembali ke toko, "Aku balik ke toko lagi ya. Selamat ya Cilla. Akhirnya kamu menemukan papanya Aji."


Mereka berdua berpelukan dengan penuh rasa haru. "Terima kasih banyak ya Mbak," jawab Cilla dengan tersenyum manis dan mata yang berkaca-kaca.


"Aji. Tante balik kerja ya!"


Mbak Diyah berpamitan pada Aji, memeluknya dan mencium kedua pipi Aji. "Baik-baik ya Sayang!"


"Ya Tante," jawab Aji pendek, saat mbak Diyah melepas pelukannya.


"Mami. Saya kembali dulu," pamit mbak Diyah pada mami Rossa.


Mami Rossa mengangguk dan berpesan pada mbak Diyah, "Iya. Titip toko ya Diyah!"


"Ya Mi," jawab mbak Diyah, kemudian melangkah keluar resto untuk kembali lagi bekerja.


Aji segera menutup akunnya dan menonaktifkan handphone yang dia pegang. Dia tidak mau apa yang tadi dia lihat diketahui oleh mamanya atau omanya itu. Dia menyerahkan handphone miliknya kepada mamanya, "Ma. Ini!" kata Aji memberikan handphone tersebut pada Cilla.

__ADS_1


"Kita pulang ya! Sudah sore juga ternyata," ajak mami Rossa setelah melihat jam di pergelangan tangannya.


"Iya Mi," jawab Cilla mengangguk.


Aji hanya menurut saja. Dia beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti langkah kedua orang wanita yang dia sayangi itu. Mamanya dan juga omanya.


Saat perjalanan pulang, mami Rossa bertanya pada Cilla, "Jadwal kunjungan ke psikiater kapan lagi?"


"Empat hari lagi Mi," jawab Cilla.


"Nanti biar Gilang yang menemani ya! Biar dia tahu, apa yang sebaiknya dia lakukan untuk ikut berpartisipasi dalam masa penyembuhan dan pemulihan kamu juga."


Cilla diam dan tidak segera jawab. Dia merasa tidak enak, jika menganggu waktu Gilang yang sibuk di kantor.


"Aji di rumah saja ya Ma?" tanya Aji meminta ijin.


"Kenapa?" tanya Cilla bingung dengan sikap anaknya itu.


"Aji malas bay rumah sakit. Lagipula, anak-anak lebih baik di rumah daripada ikut ke rumah sakit."


Mami Rossa membenarkan perkataan Aji. Kini Cilla tidak bisa membantah lagi. Meskipun dia tidak merasa enak, tapi dia harus bisa mengendalikan dirinya sendiri.


"Atau kamu mau diantar supir?" tanya mami Rossa memberikan usulan.


"Tidak usah Mi. Kita pikirkan nanti saja. Masih lama juga kok," kata Cilla mengelak dari pembicaraan tentang kunjungannya ke psikiater empat hati mendatang.


*****


Hari sudah sore dan hampir gelap, saat mobil memasuki halaman rumah. Ternyata perjalanan pulang dari Mall ke rumah memerlukan waktu lebih panjang karena waktunya berbarengan dengan bubaran kantor, jadi jalanan padat merayap.


"Sepertinya Gilang sudah pulang," kata mami Rossa saat melihat mobil yang biasa mengantar Gilang sudah dad di rumah.


Cilla melihat ke arah pandang mami Rossa. Tapi dia hanya diam dan tidak berkata apa-apa. Aji turun dan segera masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.


"Aji. Sayangnya Papa!"

__ADS_1


Dari arah ruang tengah, Gilang memangil Aji begitu anaknya itu terlihat olehnya.


"Dari mana saja, kok baru pulang jam segini?" tanya Gilang saat Aji sudah mendekat dan duduk dipangkuannya.


"Tadi Aji dari Mall, beli Burger. Yang dulu Papa beli bareng Aji pertama kali," jawab Aji memberitahu.


"Oh ya? Kok gak ngajak Papa sih!"


"Kapan Pa kita pergi bareng-bareng sama Mama juga? Kayak tadi Aji lihat ada anak yang sedang makan bersama mama dan papanya juga."


Gilang tertegun sejenak mendengar perkataan anaknya itu. Dia tidak tahu jika Aji juga punya keinginan seperti anak-anak lainnya. Mempunyai keluarga yang utuh dan harmonis.


"Boleh. Kapan Aji mau?" tanya Giang bersemangat.


"Kata Mama nanti kalau Papa tidak sibuk," jawab Aji menirukan jawaban dari mamanya, Cilla.


"Bagaimana kalau nanti malam?" tanya Gilang tidak sabar.


"Apa yang nanti malam?'?" tanya mami Rossa yang ternyata sudah ada di antara mereka.


"Ini lho Mi. Aji pengen jalan, makan bareng-bareng sama papa dan mamanya gitu. Tadi katanya dia lihat di resto Burger."


"Benarkah? Tapi ini baru pulang Sayang, pasti capek kan?" tanya mami Rossa ragu.


"Aku sih tergantung Cilla dan juga Aji."


Gilang menyerahkan keputusan pada keduanya, Aji dan juga Cilla.


"Aji sih mau, tapi capek. Aji juga belum mandi," jawab Aji sambil melihat ke arah mamanya.


"Besok saja kalau hari libur. Papanya Aji juga capek. Jadi ini pertama masuk kantor lho."


Cilla memberikan alasan untuk anaknya agar tidak memaksakan diri. Untungnya Aji mengerti dan dia juga merasa tidak sanggup jika harus pergi lagi. Ada sesuatu yang harus dia kerjakan juga malam ini.


"Iya deh, besok-besok saja ya Pa?" Aji akhirnya ikut apa yang dikatakan oleh mamanya.

__ADS_1


"Ayuk! Sebaiknya Aji mandi dulu ya!" ajak Cilla pada anaknya itu, agar segera masuk ke dalam kamar, dan pergi mandi.


__ADS_2