
"Malam ini juga Pa?" tanya Jeny, tidak percaya dengan permintaan papanya, Gilang.
"Iya malam ini. Besok kan Papa kerja, terus takutnya, Mr Vijay Singh akan segera kembali dan tidak di rumah sakit itu lagi."
Jawaban dari papa Gilang, memang ada benarnya. Kini Jeny juga berpikir jika hal itu bisa saja terjadi.
"Kita telpon Dokter Dimas dulu Pa. Takutnya, sampai di sana, Mr Vijay memang benar-benar sudah tidak di sana lagi," kata Jeny, memberikan usulan pada papanya, Gilang.
"Ya sudah, Kamu telpon Dokter Dimas. Papa akan meminta supir menyiapkan mobil untuk kita keluar malam ini."
Akhirnya, papa Gilang, berbagi tugas dengan anaknya itu. Dia segera menelpon supir sedangkan Jeny, menelpon Dokter Dimas.
..."Halo Jen, tumben sekali telpon Om malam-malam. Kangen ya? hehehe..." sapa Dokter Dimas, begitu sambungan telepon terhubung....
..."Malam Om. Pedenya... Jeny mau tanya saja, bagaimana rencana Kita tadi siang Om?"...
..."Oh... Om pikir Kamu kangen. Hemmm... tenang. Om sudah dapat semua."...
..."Jeny sudah bicara dengan papa juga, tapi justru papa ingin bertemu Mr Vijay Singh, sekarang. Malam ini juga."...
..."Lho, kenapa?"...
..."Untuk menyakinkan hatinya papa sendiri."...
..."Ya sudah, datang saja. Kebetulan Om belum pulang. Om akan tunggu kalian." ...
..."Baik Om, terima kasih. Kami akan bersiap-siap."...
Sambungan telpon terputus. Jeny melihat ke arah papanya, yang juga baru selesai menghubungi supir.
"Kita berangkat sekarang?" tanya papa Gilang.
__ADS_1
"Iya Pa. Kebetulan, Dokter Dimas juga masih ada i rumah sakit. Dia akan menemani Kita nanti," jawab Jeny dengan tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu. Yuk!" ajak papa Gilang dengan tidak sabar.
Mereka berdua, segera keluar dari ruangan itu dan berjalan dengan cepat.
"Mau kemana?" tanya mama Cilla, dengan wajah yang terlihat seperti menyelidik.
"Ada perlu keluar sebentar," jawab papa Gilang.
"Keluar?" tanya mama Cilla dengan bingung.
"Iya Honey. Kami mau keluar sebentar. Doakan semuanya ada hasil yang baik. Kalau berhasil semuanya pasti akan baik untuk kita semua."
Mama Cilla mengerutkan keningnya bingung, tapi segera diatasi oleh papa Gilang, dengan mengecup keningnya cepat. "Sudah, tidak usah bingung. Kami pergi dulu," pamit papa Gilang dengan tersenyum.
"Ma. Jeny juga pamit ya," kata Jeny, sambil mencium pipi mamanya sekilas.
*****
"Pa. Jeny... Jeny ad, ada kesepakatan bersama dengan Om Dimas," kata Jeny saat perjalanan menuju ke arah rumah sakit.
"Kesepakatan apa?" tanya papa Gilang tanpa menoleh ke arah anaknya, Jeny.
"Jika semua ini berhasil, dan itu benar kakak Aji, Jeny akan menerima om Dokter Dimas, sebagai kekasih. Kalau perlu langsung menikah, dan Papa sendiri tahu kan, kalau mama tidak pernah suka jika om Dokter dekat dengan Jeny. Begitu juga dengan Oma. Bagaimana dengan papa?" tanya Jeny dengan rasa takut-takut.
"Hemmm... pinter juga Dimas mencari keuntungan dengan kondisi seperti ini. Tapi, sejujurnya, Papa tidak masalah. Itu tergantung kepada Kamu sendiri Jen. Papa akan merasa bahagia jika Kamu juga bahagia. Maslah mama dan oma, itu akan papa atasi. Apalagi jika ternyata, Mr Vijay itu benar-benar kakak Kamu, Aji. Pasti mereka berdua akan senang dan berterima kasih pada Dokter Dimas dan juga merestui hubunganmu dengannya."
Anjani, mengangguk mengerti dengan penjelasan yang diberikan oleh papanya, Gilang. Dia juga berpikir begitu, sama seperti yang dikatakan oleh papanya saat ini.
"Lalu, bagaimana hati Kamu sendiri?" tanya papa Gilang, dengan menatap ke arah anak gadisnya itu secara intens.
__ADS_1
"Jeny, Jeny gak tahu Pa. Tapi Jeny merasa nyaman saat berada di dekat om Dokter. Jeny, seperti mendapatkan pengganti kakak yang tidak ada di samping Jeny selama ini. Apa Jeny salah mengartikan kenyamanan itu?" tanya Jeny, pada papanya, tentang perasaannya sendiri.
"Jadi, Kamu menganggap bahwa, Dokter Dimas itu seperti kakak Kamu?" tanya papa Gilang dengan wajah cemas.
"Apa Kamu menyukai kakak Kamu, Aji?" tanya papa Gilang lagi, saat melihat anggukan kepala dari Jeny.
Jeny tidak langsung menjawab. Dia sendiri tidak tahu apa arti perasaannya sendiri. Yang dia tahu bahwa, dia merasa nyaman saat berada di dekat kakaknya, Aji, dan sekarang ini, dia juga merasakan hal yang sama dengan Dokter Dimas.
"Papa setuju, jika Kamu bersama dengan Dimas. Meskipun dia berumur tidak jauh berbeda dengan Papa. Tapi akan lebih salah lagi, jika Papa menentang hubungan kalian berdua, dan membiarkan Kamu memupuk rasa dengan kakak Kamu sendiri. Dan Kamu tahu, itu semua salah Jen."
Jeny mengangguk mengerti. Dia sadar, jika apa yang dia rasakan terhadap kakaknya, Aji, itu salah. Dia melakukan semua ini hanya untuk kesembuhan Oma Rossa, dan merubah sikap mama Cilla, yang juga ikutan berubah, sejak kakaknya Aji, dinyatakan hilang dan meninggal.
"Iya Pa. Jeny sadar dan tahu, jika itu perasaan ini salah. itulah sebabnya, Jeny tidak menolak kehadiran om Dokter, meskipun kadang dia bersikap menyebalkan seperti pemuda lainnya," jawab Jeny, yang membuat papa Gilang tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha... Dimas memang begitu. Dia suka bercanda, meskipun seorang dokter yang seharusnya serius. Itulah sebabnya, dia tetap terlihat muda, di usia yang sudah tidak lagi muda. Tapi, itu keuntungan buatmu. Karena, dia akan tetap serasi, jika berdampingan denganmu nanti."
"Terima kasih ya Pa. Jeny pikir, Papa akan merah saat Jeny menceritakan semua ini," kata Jeny dengan memeluk tubuh Papanya dari arah samping.
Pak supir yang ada di depan, terlihat tersenyum melihat kedua majikannya itu, terlihat akrab dan bahagia, sesuatu yang sudah jarang dia lihat sekarang ini.
"Papa yakin, itu semua hanya akal-akalannya Dokter Dimas. Meskipun, Papa atau yang lain tidak setuju dengan kesepakatan bersama kalian berdua, dia akan tetap membantu. Dia hanya ingin Kamu tidak lagi lari darinya. Percaya dengan Papa."
Jeny, mengangguk sambil tersenyum lebar. Dia juga tahu, jika Dokter Dimas, tidak serius dengan apa yang dia katakan kemarin, saat memberikan syarat untuknya. Tapi Jeny tetap setuju dan merasa senang, karena dia merasa diperjuangkan oleh Dokter Dimas.
Tak lama, mobil memasuki halaman parkir rumah sakit yang sudah terlihat sepi. Mungkin karena jam besuk sudah hampir selesai, jadi banyak pengunjung yang sudah meninggalkan tempat.
"Ayuk!" ajak papa Gilang, dengan mengandeng tangan Jeny.
"Bapak tunggu saja. Tinggal ngopi Atua kemana juga tidak apa-apa. Nanti kalau sudah mau pulang, akan Saya hubungi," kata papa Gilang, pada pak supir.
"Baik Tuan," jawab pak supir, dengan menganggukkan kepalanya sopan.
__ADS_1
Papa Gilang dan Jeny, masuk kedalam rumah sakit, dengan membawa banyaknya harapan. Mereka berdua berharap, jika apa yang akan mereka lihat nanti, memang benar-benar Aji. Anak dan kakak dari keluarga Gilang yang sudah lama tidak diketahui keberadaannya.