
Masih dalam keadaan tidak sadar, Aji ingat bagaimana dia berusaha untuk bisa kabur dan lari dari gerombolan para mafia itu.
Aji di sekap di sebuah ruangan bawah tanah, gelap dan bau-bau aneh tercium sangat menyengat. Dia tidak tahu, bau apa sebenarnya, sebab matanya tidak bisa melihat ruangan yang gelap, dengan sempurna. Tapi, dari tebakan yang bisa Aji pikirkan, itu seperti bau darah dan mayat yang masih beberapa hari.
"Apa ini tempat penyiksaan mereka?" pikir Aji dalam hati.
Tiba-tiba, pintu terbuka dan ada dua orang yang masuk. Dengan suara yang terdengar lantang, salah satu dari mereka berkata, "ikut kami dan patuhlah, jika ingin selamat!"
Satu dari mereka, membuka ikatan tangan Aji, kemudian berbisik, "Jangan membantah ataupun berusaha untuk kabur. Jika memang kamu orang yang cerdas, suatu hari Kamu pasti bisa lepas dari sini, tapi tidak sekarang."
Aji hanya diam dan mencerna apa maksud dari perkataan orang yang berbisik di dekatnya ini. Jadi sekarang ini, dia harus pura-pura patuh dan ikut apa kata mereka. Aji berpikir, jika dalam kawanan kelompok mafia ini, masih ada yang 'sadar' dan baik. Mungkin mereka hanya belum mendapatkan kesempatan untuk kabur.
Akhirnya, Aji menuruti apa keinginan dan kemauan mereka semua. Aji patuh, seakan-akan benar-benar mau ikut bergabung dengan mereka. Dia mengamati segala sesuatu yang ada, begitu juga dengan daerah tempatnya berada sekarang.
Aji tidak pernah tahu, bagaimana kabar dan nasib para penumpang, pesawat terbang yang telah meledak setelah dia tinggalkan hari itu.
Seminggu kemudian, Aji dijadikan target untuk pembajakan kapal laut. Dia sudah dipasangi rakitan bom berkekuatan besar, yang mampu menghancurkan satu kapal besar.
Tentu saja, Aji tidak mau mati sia-sia, hanya untuk kepuasan yang tidak pernah dia ketahui untuk apa. Dia berusaha untuk bisa kabur, dan melepaskan pakaian bom ini. Meskipun, disini bukan wilayah negara Indonesia, tapi dia bisa menghubungi pihak keluarganya nanti, jika bisa melepaskan diri dari mereka.
Untungnya, bom yang ada di tubuhnya, belum aktif. Mereka baru mengaktifkan nanti setelah masuk ke dalam kapal. Itulah sebabnya, Aji ingin bisa keluar dari dalam mobil yang membawanya. Dia membuka semua kunci pengait bom yang ada tubuhnya, dengan sangat hati-hati, dan berusaha agar tidak menimbulkan suara.
Saat mobil melaju normal, karena berada di area jalan yang padat, Aji yang duduk di bangku belakang, sudah bisa melepaskan rakitan bom tersebut dan meletakkannya di bawah kursi. Dan saat ada kemacetan di lampu merah, Aji segera keluar melalui pintu belakang tanpa menimbulkan suara.
Tapi ternyata, anggota lainnya ada yang melihat. " Heh, dia kabur!" Mereka segera ikut keluar dan berlari mengejar Aji.
Saat Aji berlari, dia menabrak apa saja yang ada di depannya, karena dia berlari sambil melihat ke arah belakang.
Aji akhirnya tertangkap. Dia melawan, dan akhirnya terjadi perkelahian yang tidak seimbang. Di limbung dan jatuh, tapi dia berhasil naik ke mobil bak terbuka yang sedang lewat, tanpa bisa di kejar lagi oleh para anggota mafia tadi.
Di tengah jalan, saat hari mulai gelap, Aji turun melompat dari atas bak. Di terus berlari, dan tidak mempedulikan keadaan tubuhnya yang banyak luka. Dia hanya ingin menjauh agar tidak ditemukan orang-orang yang mengejarnya.
Lelah, lapar dan rasa sakit yang di alami Aji, membuatnya berhenti. Dia bersandar di tiang listrik, untuk mengistirahatkan tubuhnya sebentar. Tapi tak berapa lama, ada sorot lampu mobil yang menyilaukan mata, dan akhirnya menabrak tiang listrik tempatnya bersandar. Aji ikut tertabrak dan jatuh tak sadarkan diri.
__ADS_1
*****
"Tidak!"
Aji terbangun dengan nafas ngos-ngosan, mirip dengan orang yang kelelahan karena habis berlari jauh, atau habis mengerjakan sesuatu yang berat. Dia mengedarkan pandangannya, melihat ke sekeliling. Ada wajah-wajah yang sangat dia kenal. Mama Cilla, papa Gilang, adiknya Anjani, dokter Dimas, dan dua orang yang belum dia ketahui siapa mereka. Tapi dia sepertinya tidak begitu asing, dan pernah melihatnya, entah dimana.
"Sayang. Kamu tidak apa-apa?" tanya mama Cilla, dengan wajah khawatir. Dia mendekat ke tempat tidur Aji, dan memegang tangan anaknya itu.
"Aji tidak apa-apa Ma. Aji dimana?" tanya Aji bingung.
"Kamu di rumah sakit Sayang. Kamu pingsan tadi, saat di kampusnya Jeny."
"Kampusnya Jeny? Dia sudah kuliah?" tanya Aji bingung.
Mama Cilla mengangguk dan tersenyum. Tapi dia merasa khawatir, jika amnesia Aji jadi bertambah untuk waktu yang kemarin itu.
"Dok," panggil mama Cilla pada dokter Dimas.
Mama Cilla mundur agar dokter Dimas bisa memeriksa kondisi Aji. Sepertinya Aji sudah bisa mengingat semua kejadian yang terjadi saat dulu. Dia hanya tidak ingat kejadian yang ada, setelah dia mengalami hal buruk.
Papa Gilang, hanya mengangguk. Begitu juga dengan Jeny.
"Rio. Sepertinya, kak Aji benar-benar tidak mengingat diriku," bisik Elisa pada Rio.
"Aduh, kasihan bener Kamu El." Rio justru meledek Elisa.
"Ihsss, gak peka!" sahut Elisa kesal, sambil mencubit lengan Rio.
"Aduh! sakit El," kata Rio dengan suara pelan, sambil menahan rasa gemasnya pada Elisa.
Elisa tidak lagi menyahut. Dia hanya mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
Mama Cilla, papa Gilang dan Jeny, sedang sibuk mengurus Aji dan tidak memperhatikan Rio dengan Elisa. Jadi, Elisa mengajak Rio untuk keluar saja dari kamar pasien Aji.
__ADS_1
"Keluar yuk! Aku lapar," ajak Elisa pada Rio, meskipun itu hanya alasannya saja.
"Kamu lapar apa buang nyesek dengan makanan, karena tidak di ingat kakaknya Jeny?" tanya Rio, dengan tepat.
"Keduanya. Kamu kan tahu, Aku gak bisa mikir kalau lapar," jawab Elisa dengan nyengir kuda.
"Dasar Kamu El!"
*****
Waktu sudah malam. Jeny baru ingat keberadaan Elisa dan Rio yang sudah tidak ada di tempatnya yang tadi. "Kemana mereka?" tanya Jeny bingung.
"Siapa Jen?" tanya mama Cilla.
"Elisa dan Rio Ma," jawab Jeny, kemudian bertanya kepada papanya, "Papa lihat mereka tidak?"
"Tidak," jawab papa Gilang pendek, dengan menggelengkan kepala.
"Siapa yang Jeny cari Ma?" tanya Aji pada mamanya.
"Elisa dan temannya, Rio."
"Elisa, Rio?" Aji mengulang dua nama, yang sepertinya tidak asing lagi baginya.
"Ya. Kamu dan Elisa sudah..."
"Ma..."
Mama Cilla, tidak melanjutkan kata-katanya saat di potong oleh suaminya, papa Gilang.
Papa Gilang, tidak ingin menambah pikiran Aji saat ini. Dia tidak mau, Aji kembali kepikiran di saat dirinya baru saja sadar. Nanti, akan ada saatnya untuk bercerita, tentang Elisa dan hal lainnya yang Aji alami dan dia lupakan, tanpa dia sendiri sadari.
Mama Cilla, akhirnya menurut apa yang diinginkan suaminya. Dia juga tidak mau, menambah pikiran Aji.
__ADS_1
"Coba Kamu telpon saja Jen, tanya dimana mereka sekarang?" kata mama Cilla pada Jeny.
"Baik Ma," jawab Jeny dengan mengangguk.