Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Memulai Hari


__ADS_3

Pagi ini, Jakarta dihiasi hujan yang tidak mau juga berhenti, meskipun tidak terlalu deras, tapi cukup membuat orang jadi malas untuk keluar rumah.


Padahal, hujan ini kelanjutan hujan yang dari semalam, sehingga mengakibatkan beberapa ruas jalan dipenuhi air. Ada juga daerah yang rendah dan langganan bencana air itu, di kabarkan telah banjir dari semalam juga.


Elisa, yang masih berbaring di tempat tidur, tidak juga mempunyai keinginan untuk bangun dan memulai aktivitasnya. Sedangkan suaminya, Aji, sudah selesai mandi dan menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.


Menu yang disajikan Aji pagi ini tidak terlalu rumit, karena sebenarnya mereka sedang malas untuk makan. Elisa tidak menjawab saat ditanya, "mau makan apa?" dan akhirnya hanya menjawab, "terserah Kakak. Aku sedang malas untuk makan."


Aji merasa, jika dia juga sebenarnya sedang tidak nafsu makan juga. Tapi, demi kesehatan dan tenaga yang sudah mereka habiskan semalam, tidak baik jika harus menuruti rasa malas yang datang.


Akhirnya, Aji hanya menyiapkan satu omlet sayur wortel dan kentang. Ini sudah cukup untuk sekedar mengganjal perut yang sedang lapar, untuk mereka berdua. Dia juga tidak perlu khawatir dengan gizi yang terkandung di dalamnya, karena sudah ada protein dan karbohidrat serta vitamin yang terkandung di dalam adonan omlet sayur tersebut.


Selesai menyiapkan sarapan, Aji membawanya ke kamar dengan nampan kecil, lengkap dengan segelas susu hangat. Dia ingin membangunkan Elisa, dengan sarapan pagi yang dia bawa ke kamar.


"Sayang," panggil Aji, begitu masuk ke dalam kamar.


Tidak ada sahutan dari Elisa yang masih memejamkan mata.


"Hai, bangun Sayang. Kamu tidak ingin makan bersama dengan Kakak? ini Kakak sudah bawakan ke sini." Aji, berusaha untuk membangunkan istrinya itu, dengan iming-iming sarapan yang ada di tangannya.


Aji, meletakkan nampan yang dia pegang ke atas meja dekat dengan tempat tidur. Dia mendekati Elisa, dan duduk di tepi ranjang.


Cup!


Aji mengecup bibir Elisa, sekali, agar Elisa cepat membuka matanya.


"Eghhh..."


Elisa, tampak mengeliat meskipun matanya masih tertutup dan tidak ada keinginan untuk membukanya.


Akhirnya, Aji naik ke atas tempat tidur dan menggelitik Elisa agar cepat terbangun.


"Ayo bangun, ayo bangun. Hahaha..."

__ADS_1


Dengan tertawa-tawa senang, Aji mengelitik Elisa yang sekarang sudah membuka matanya, sampai-sampai mengelinjang kegelian.


"Kakak, sudah-sudah. Geli ihsss!" gerutu Elisa sambil menahan tangan Aji, agar tidak lagi mengelitik dirinya.


"Makanya buruan bangun. Kamu, meskipun tidak ada kelas hari ini, masak iya mau tidur terus. Apa sengaja mancing Kakak biar gak jadi kerja ini?" tanya Aji, yang memang ada proyek yang akan dia kerjakan, meskipun tidak harus ke kantor. Dia akan mengerjakan proyek itu di apartemen, di ruangan yang sudah dia sulap menjadi sebuah kantor mini.


"Ah... itu hanya pikiran Kakak saja yang selalu mesum? hahaha..."


Elisa, ikut tertawa melihat Aji yang sekarang melotot karena mendengar jawaban darinya.


"Oh, Kakak mesum dan Kamu yang terus memancing. Apa itu namanya?" tanya Aji menantang.


"Partner yang saling membantu!" jawab Elisa asal.


"Nah kan? Itu artinya, otak Kakak ini akibat merespon pancingan Kamu yang selalu berhasil."


Elisa tersenyum dengan nyengir kuda. Dia mengeleng mendengar kata-kata suaminya itu, yang berarti bahwa, dialah yang sebenarnya berotak mesum.


"Kan itu juga keinginan Kakak. Kita harus lembur agar bisa menyusul Jeny kan?" Elisa, mengelak dari tuduhan Aji, dengan mengingatkan perkataan Aji padanya, saat kemarin berada di rumah papa Gilang.


Elisa cemberut karena merasa disindir suaminya sendiri. Dia segera bangun, untuk menghindari kata-kata Aji, yang bisa-bisa membuat dirinya tidak lagi bisa membantah.


"Eitsss... mau kemana?" tanya Aji, dengan menangkap tangan Elisa, yang mau turun dari tempat tidur.


"Bangun. Tadi katanya suruh bangun?"


"Sarapan dulu," kata Aji, dengan mengedip-ngedipkan matanya.


"Apaan, entar sajalah. El, mau gosok gigi dulu saja kalau begitu." Elisa masih berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman tangan Aji.


"Tidak usah, kita itu jadi bumbu yang legit," sahut Aji cepat, kemudian menarik tangan Elisa, sehingga terjatuh dan terbaring lagi ke tempat tidur.


Mereka berdua, akhirnya sarapan pagi. Sedangkan omlet yang disediakan, sudah hampir dingin, karena terlalu lama tidak juga di santap mereka berdua.

__ADS_1


*****


Di tempat lain, di belahan dunia dimana Rio sekarang berada.


Kesibukan dan kehebohan yang terjadi di asrama mahasiswa, tidak mempengaruhi seseorang yang sedang bersiap untuk pergi ke kampus.


Dengan tas yang dia sampirkan di pundak dan sepatu boot hitam sebatas mata kaki, dia tampak percaya diri, untuk beraktivitas di tempat yang baru, yang sama sekali belum pernah dia ketahui keadaannya sebelum ini.


"Ternyata, lari dari kenyataan, yang sedang Aku jalani sekarang ini, tidak sebaik yang Aku bayangkan. Nyatanya, senyuman Elisa, masih ada di setiap sudut tempat yang aku lalui. Semoga, kamu berbagai dengan kak Aji sekarang. Maaf, aku tidak bisa memberitahu, dimana sekarang ini berada. Biarkanlah, waktu yang akan mempertemukan kita dengan jalan takdir, jika masih ada kesempatan untuk kita bertemu lagi. Aku ingin fokus belajar, dan bisa sukses seperti yang sering kita bicarakan dulu. Aku pasti bisa El."


Rio, berkata dalam hati. Memberikan semangat untuk dirinya sendiri dan juga perasaan yang tidak ingin dia buang begitu saja. Dia hanya ingin, perasaan yang dia miliki untuk Elisa, bisa mengerti jika sekarang ini, sudah tidak mungkin mempunyai kesempatan untuk bisa mendapatkan pujaan hati.


"Aku tidak ingin merusak kebahagiaan, yang ingin Kamu rasakan. Aku cukup tahu, jika Kamu sudah bahagia."


"Aduh!"


Karena berjalan sambil melamun, akhirnya Rio menabrak seseorang yang sedang berjalan, berlawanan dengannya.


"Sorry," kata Rio meminta maaf.


"No problem," jawab orang tersebut dengan tersenyum.


"Kamu, kamu mahasiswa Indonesia ya?" tanya orang yang tadi ditabrak Rio.


Rio hanya mengangguk saja. Dia tidak tahu, bagaimana bisa, orang yang baru pertama kali bertemu ini, bisa tahu jika dia adalah mahasiswa Indonesia. Padahal, tidak ada atribut yang menandakan jika dia adalah mahasiswa Indonesia yang akan belajar di kampus ini.


"Kemarin, profil Kamu tersebar di beberapa mahasiswi yang penasaran, ingin tahu, karena ada berita yang beredar jika akan ada mahasiswa pindahan dari Indonesia. Dan katanya lagi, mahasiswa itu bukan hanya pinter, tapi juga cakep."


Rio, mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan orang yang ada di depannya saat ini.


"Tidak percaya?" tanya orang itu lagi dengan menunjukan layar handphone miliknya.


Rio melihat, foto dirinya ada di layar handphone orang tersebut. Di sana, di tulis jika ada mahasiswa Indonesia yang akan datang, dan seperti biasanya, akan jadi rebutan antar mahasiswi, yang biasanya tertarik dengan mahasiswa-mahasiswa yang berasal dari Asia, terutama Indonesia.

__ADS_1


Rio, tidak habis pikir jika akan ada berita tentang dirinya, sebelum dia datang ke kampusnya yang baru dan ada di luar negeri juga.


__ADS_2