Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Menuju Ke Kampung Elisa


__ADS_3

Perjalanan menuju ke rumah Elisa, ternyata membutuhkan waktu yang lama dan tidak hanya cukup lima atau delapan jam saja. Mereka semua, yang ada dalam rombongan satu mobil, harus berhenti beberapa kali untuk beristirahat dan melepaskan lelah. Baik di pom bensin ataupun rumah makan, untuk mengisi perut mereka yang sedang lapar.


Supir yang menyetir, juga kadang harus digantikan oleh Aji, atau papa Gilang sendiri. Ini demi keamanan dan menjaga kondisi supir, agar tidak kelelahan dan mengantuk selama perjalanan yang mereka lakukan.


"Tidak apa-apa Tuan. Tidak perlu mengganti tugas Saya ini."


Pak supir, awalnya menolak saat Aji dan papa Gilang menawari, untuk mengantikan posisinya, tapi atas desakan Aji, dia akhirnya mau juga.


"Bapak mau, kita kecelakaan karena kondisi Bapak yang lelah, atau mengantuk? Kan banyak Pak, kasus kecelakaan yang terjadi akibat kecapekan dan juga mengantuk yang tidak di rasa oleh supir."


Perkataan yang diucapkan oleh Aji, ada benarnya juga. Oleh karena itu, pak supir akhirnya mau juga digantikan oleh Aji dan papa Gilang.


"Terima kasih Tuan," ucap pak supir sambil mengangguk sopan. Dia sangat bersyukur, karena mendapat majikan yang baik dan tidak sombong seperti mereka semua. Itulah sebabnya, dia dan teman-temannya yang berkerja dengan keluarga papa Gilang, betah dan tidak pernah berpikir untuk mencari tempat kerja yang lain lagi.


"Kamu tidur saja El. Kan sudah ada alamatnya, bisa di lacak lewat aplikasi juga. Biar Kamu juga tidak capek." Aji, menyarankan pada Elisa, agar tidur saja dan tidak usah khawatir jika mereka akan tersesat dalam perjalanan kerumahnya di kampung.


"Iya El, tidur saja. Tante juga mau tidur ini, capek juga ya diperjalanan, meskipun kita hanya diam saja dan tidak melakukan apapun." Mama Cilla, ikut membenarkan perkataan Aji pada Elisa.


"Iya Tante. Elisa akan coba untuk bisa tidur," kata Elisa, dengan tersenyum pada mama Cilla.


"Kakak juga, kalau tidak sedang nyetir bisa tidur. Kan Kakak nantinya juga gantiin Om Gilang nyetir," kata Elisa, ganti dengan melihat ke arah Aji.


"Iya, nanti Kakak juga akan tidur sebentar kok," jawab Aji sambil mengangguk.


Akhirnya, papa Gilang yang bertugas menyetir, ditemani Aji. Yang lain, tidur dan mengistirahatkan tubuh mereka.


*****


Mobil, berhenti di depan rumah, dengan bentuk bangunan khas orang Jawa, yang ada di kampung pada umumnya. Namun, dari bentuk bangunan, bisa dikatakan jika ini bukan rumah biasa dan juga berbeda dibandingkan dengan rumah-rumah yang ada disekitarnya.

__ADS_1


Di samping rumah itu, ada bangunan yang tampak berbentuk kotak saja, tapi memanjang dan tidak ada bentuk lainnya lagi, selain hanya persegi panjang. Besarnya bangunan, tidak jauh berbeda dengan rumah utama.


Elisa, turun dari mobil terlebih dahulu. Dia bergegas menuju ke arah rumahnya.


"Pak, Bapak," panggil Elisa, mencari keberadaan bapaknya.


"El. Sudah datang ya," jawab bapaknya Elisa, dari arah kamarnya sendiri.


Elisa, menyalami bapaknya dan memeluknya erat. Dia merasa terharu, tapi juga merasa bersalah karena tidak bisa menemani hari-hari tua bapaknya itu.


"Pak, Bapak sehat?" tanya Elisa, begitu pelukannya terlepas.


"Iya, Bapak sehat Nduk. Kamu bagaimana?" jawab bapaknya Elisa, sekaligus bertanya dengan kabar Elisa sendiri.


"Elisa baik Pak. Maaf ya Pak, El belum bisa membahagiakan Bapak selama ini. Elisa hanya bisa merepotkan saja," kata Elisa, kemudian kembali memeluk bapaknya dengan erat. Dia menangis tersedu, karena merasa bersalah.


"Tidak apa-apa Nduk. Kamu juga ada mimpi dan cita-cita yang ingin Kamu capai," jawab bapaknya, sambil menepuk-nepuk pundak Elisa dengan sayang.


"Oh iya, lupa!" Elisa, menepuk keningnya sendiri karena melupakan keberadaan mereka semua yang ikut datang ke rumahnya ini.


Elisa kembali keluar rumah. Dia menemui mama Cilla dan papa Gilang yang masih berdiri di tempatnya tadi.


"Maaf Om, Tante. Mari masuk," ajak Elisa, setelah mendekat.


"Maaf Tuan, Nyonya. Mari masuk. Maaf ya, keadaan rumah di kampung memang seadanya."


Bapaknya Elisa, mengajak calon besannya untuk masuk ke dalam rumah.


"Ya Pak. Terima kasih. Tidak usah memangil Tuan atau Nyonya. Kita akan jadi keluarga juga nantinya. Panggil biasa saja." Papa Gilang, menolak untuk dipanggil dengan sebutan tuan dan nyonya, untuk mama Cilla.

__ADS_1


"Oh iya, maaf-maaf." Bapaknya Elisa, tersenyum canggung, mendengar penolakan dari calon besannya tersebut. Dia mengangguk sebagai tanda mengerti apa yang dikatakan oleh papa Gilang tadi.


Setelah berbasa-basi sebentar, mereka melanjutkan acara makan malam di rumah Elisa. Bapaknya, juga sudah mempersiapkan segalanya, karena sudah mendapat kabar dari Elisa, tentang kedatangan mereka semua.


Beberapa saat kemudian, saat makan malam sudah selesai, mereka semua duduk di ruang tamu yang tergolong besar dan luas, untuk ukuran rumah di kampung. Elisa, juga bukan dari kalangan keluarga biasa di kampungnya.


"Kedatangan kami ini, bermaksud untuk melamar Elisa sebagai calon istrinya anak kami ini, Aji Putra."


Papa Gilang, akhirnya menyampaikan maksud dari kedatangannya ke rumah Elisa ini. Dia meminta pada bapaknya Elisa, untuk menjadikan Elisa, sebagai istri dari anaknya, Aji.


"Saya, sebagai orang tua, hanya bisa merestui, jika anak-anak sudah memiliki keinginan dan kemauan yang sama. Saya, menyerahkan semua keputusan pada anak Saya Elisa, untuk menentukan masa depan yang akan dia jalani nanti."


Ternyata bapaknya Elisa, tidak memiliki pemikiran yang kolot untuk masa depan anaknya. Dia percaya dengan apa yang diputuskan oleh Elisa, untuk menjadi istrinya Aji nanti.


"Bagaimana El, Kamu mau menerima lamaran mereka untukmu?" tanya bapaknya pada Elisa.


Elisa menunduk malu. Dia hanya diam dan tidak berani menjawab pertanyaan dari bapaknya.


"Kata orang tua-tua dulu, diamnya anak gadis saat dilamar, menandakan persetujuan yang dia katakan tanpa bersuara," kata bapaknya Elisa, menjelaskan tentang diamnya anaknya itu.


Elisa semakin menunduk untuk menyembunyikan senyuman dan rasa malunya. Aji, jadi merasa gemas, melihat tingkah Elisa yang terlihat seperti benar-benar seorang gadis kampung saat ini.


Mama Cilla dan papa Gilang, tersenyum mendengar jawaban dari bapaknya Elisa, jika lamaran mereka diterima dengan baik.


Sekarang, mereka semua berunding untuk menentukan hari baik, untuk meresmikan hubungan antara Elisa dan Aji.


Mereka, sebagai orang tua, tidak mau jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Elisa dan juga Aji. Mereka mau, meresmikan hubungan ini secepatnya saja.


"Baiklah. Kita sudah sepakat dan akan segera merencanakan semua ini, dalam waktu dekat. Bapak bisa menyiapkan syarat-syarat yang harus dilakukan, seperti surat-surat yang dibutuhkan untuk mendaftarkan pernikahan ini pada instansi terkait."

__ADS_1


Papa Gilang, meminta pada bapaknya Elisa, agar menyiapkan segala sesuatunya dengan cepat, karena tidak lama lagi mereka akan membuat acara pernikahan ini.


__ADS_2