Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Bingung


__ADS_3

Wajah yang terlihat lelah namun penuh dengan kebahagiaan, terpancar dari wajah dokter Dimas.


Dia dengan tergesa masuk ke dalam rumah, kemudian langsung ke dapur dan menyiapkan soto Betawi yang di minta istrinya, di sebuah mangkuk.


Clek!


Pintu kamar terbuka, dan dokter Dimas masuk ke dalam, bermaksud untuk membangunkan istrinya.


"Sayang. Soto Betawi yang kamu inginkan,, sudah siap. Yuk bangun, kita ke meja makan," kata dokter Dimas, begitu masuk ke dalam kamar, dan mendekat ke tempat tidur.


Ternyata, Jeny kembali tidur. Dia tersenyum, melihat istrinya yang tertidur pulas karena kelamaan menuggu dirinya, yang sedang mencari soto Betawi, sesuai pesanan yang dia inginkan.


"Sayang," panggil dokter Dimas lagi. Sekarang dia juga menepuk-nepuk bahu istrinya itu.


"Hemmm..." Jeny hanya mengeliat sebentar, kemudian kembali tidur dan tidak berusaha untuk membuka matanya.


"Soto Betawi yang Kamu inginkan, sudah Aku dapatkan. Ayo bangun, Kamu tidak mau makan?" tanya dokter Dimas, pada istrinya yang masih malas untuk bangun tidur.


"Ah, sudah dapat ya?" tanya Jeny, begitu matanya terbuka lebar. Wajahnya, terlihat berseri-seri karena merasa senang.


Dokter Dimas, jadi merasa senang karena akhirnya bisa memenuhi keinginan istrinya yang sedang mengidam itu. Dia yakin, jika Jeny, akan makan dengan lahap soto Betawi yang dia inginkan.


"Ayok!" ajak dokter Dimas, pada Jeny, agar bangun dan ikut dengannya ke meja makan.


Jeny, dengan senang hati mengikuti langkah suaminya itu. Dia sudah tidak sabar untuk menikmati soto Betawi yang gurih dengan santan kuning yang menggugah selera. Apalagi saat membayangkan gadingnya yang empuk dan kentang yang lembut, Jeny sudah tidak sabar karena merasa lapar.


"Ini, silahkan duduk dan makanlah."


Dokter Dimas, mendudukkan Jeny pada kursi yang dia tarik, kemudian mengambilkan mangkuk di meja, berisi soto Betawi yang sudah dia siapkan tadi. Dia juga mengambilkan segelas air putih untuk Jeny.

__ADS_1


"Silahkan di makan," kata dokter Dimas, mempersilahkan istrinya itu, untuk menikmati sarapan pagi yang dia inginkan, yaitu soto Betawi.


"Terima kasih suamiku tercinta. Sudah banyak repot ya pagi ini," kata Jeny dengan tersenyum manis, kemudian mengelus perutnya yang sudah sedikit membuncit dan berkata, "Sayang, baby, Kamu jangan bikin dady kamu repot lagi ya. Kasihan tuh, dia jadi capek kan pagi-pagi."


"Hemmm... tidak apa-apa Sayang. Asal jangan keterusan ya! kan repot kalau pas Aku tidak ada di rumah dan sedang tugas di rumah sakit, bagaimana itu jadinya?"


Dokter Dimas, mengeleng mendengar kata-kata istrinya yang siap menyendok soto Betawi_nya.


Jeny, tersenyum melihat wajah dokter Dimas yang terlihat memelas. Dia sebenarnya juga tidak ingin merepotkan suaminya itu, tapi dia sendiri tidak tahu, kenapa tiba-tiba tadi sangat ingin menikmati soto Betawi. Padahal, dia juga tahu jika pagi-pagi seperti ini, sangat susah mendapatkannya. Tapi, dia juga merasa senang, karena pada akhirnya, suaminya itu bisa menuruti keinginan yang kuat, entah ngidam atau karena memang pengen saja tadi.


Akhirnya, Jeny makan dengan lahap. Tapi, itu hanya untuk beberapa sendok saja. Setelahnya, dia meletakkan sendok itu lagi. Dia sudah tidak ingin makan.


Jeny, meraih gelas yang ada di samping mangkuk. Dia minum air di gelas hingga tinggal separuh.


"Om, sudah."


Dokter Dimas melongo. Dia heran, tadi istrinya itu sangat bersemangat untuk makan soto Betawi, tapi saat sudah dapat cuma mencicipi sedikit saja. Bahkan, soto yang ada di dalam mangkuk, masih lebih dari separo yang tadi dia siapkan.


Sekarang, dia jadi ingat pada salah satu perawat, yang tahun kemarin juga sedang mengidam. Perawat itu bercerita jika dia saat ngidam, ingin sekali makan sesuatu yang jarang ada, jadi sulit untuk mendapatkannya. Tapi, begitu sudah mendapatkan dan makan sedikit saja, rasanya sudah kenyang dan tidak ingin makan lagi, karena jika dipaksakan, malah akan muntah dan sakit kepala.


Dokter Dimas, menghela nafas panjang. Dia juga ingat perkataan supir angkot tadi, jika dia harus lebih sabar menghadapi istrinya yang sedang ngidam.


Jeny, tanpa rasa bersalah, bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menuju ke arah kamar.


"Sayang!" panggil dokter Dimas.


Jeny menoleh, "ada apa?" tanya Jeny yang tidak tahu, apa maksud suaminya itu, dengan memangil dirinya sekarang.


"Ini bagaimana?" jawab dokter Dimas, yang bertanya apa yang harus dia lakukan dengan soto Betawi_nya.

__ADS_1


"Makan saja. Aku sudah tidak mau lagi," jawab Jeny enteng.


"Segitu saja tadi makannya?" tanya dokter Dimas tidak percaya.


Jeny hanya mengangguk, kemudian berbalik lagi menuju ke arah kamar.


Sekarang, dokter Dimas menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Dia tidak tahu, apa yang dipikirkan sebagian istri-istri yang sedang mengidam. Kenapa mereka sering membuat repot, tapi dengan entengnya mengatakan 'sudah' di saat apa yang dia inginkan sudah terpenuhi. Meskipun mereka hanya mencicipi sedikit atau bahkan hanya mencium baunya saja sudah puas. Mereka tidak tahu, bagaimana perjuangan suaminya, saat mencari sesuatu yang dia inginkan.


"Aneh-aneh saja orang ngidam. Untung saja, dia tidak minta naik ke Monas pagi buta. Bisa-bisa di semprit polisi. Hehehe..."


Dokter Dimas terkekeh sendiri, membayangkan repotnya menghadapi situasi seorang istri yang sedang mengidam. Ada rasa kesal, bahagia, dan juga was-was, jika tidak bisa memenuhi keinginan tersebut.


"Sungguh berwarna rasanya!"


*****


Aji, sedang sibuk di depan komputer, diruangan kerjanya, yang ada di apartemen.


Tadi, dia sudah mengantarkan Elisa ke kampus, jadi sekarang waktunya dia untuk bekerja.


Beberapa saat setelah dia menghidupkan komputer, ada beberapa email yang masuk, dan salah satunya dari tuan besar Sangkoer Singh, ayah angkatnya yang ada di India.


Email itu berisi tentang tugas kerja yang harus Aji kerjakan. Yaitu, meneruskan pekerjaannya yang dulu, sebagai tim audit di beberapa pabrik garmen di Asia. Kata tuan besar Sangkoer Singh, Mr Vijay Singh, anaknya, tidak mungkin bisa membantunya dalam pekerjaan itu. Sedangkan dua sendiri, sudah repot dengan pekerjaannya di India.


Aji, diminta datang ke India, jika tugas pertamanya sudah dia kerjakan. Aji, juga diminta untuk mengajak Elisa, yang sudah menjadi istrinya itu, agar bisa sekalian berlibur di sana.


Sekarang Aji berpikir, jika waktunya akan jadi lebih sering di luar negeri juga, karena tugasnya ini tidak hanya ada di Indonesia, tapi seluruh Asia tenggara.


"Aku harus bisa mengatur waktu dengan baik. Jika tidak, kuliah dan pekerjaanku di GAS akan terbengkalai juga. Tapi, Elisa bagaimana? masa iya Aku tinggal-tinggal terus, dan jika dia ikut, bagaimana dengan kuliahnya? dia juga sedang sibuk dengan tugas-tugas untuk kelulusannya. Tidak mungkin mengajukan cuti, karena itu akan memperlambat waktu kelulusannya nanti. "Bagaimana sebaiknya ya?" tanya Aji pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Aji, jadi berpikir banyak hal. Tentang pekerjaan, kuliahnya, dan istrinya juga. Dia tidak mau, jika harus mengorbankan waktunya, untuk terus bersama dengan istrinya, yaitu Elisa. Apalagi, Elisa dan dia sedang proses untuk bisa menyusul Jeny dan dokter Dimas, yaitu hamil dalam waktu dekat ini.


__ADS_2