
Aji sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia menuggu Elisa, yang masih berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Tapi ternyata mata Aji, sudah benar-benar tidak bisa bertahan. Aji, langsung tertidur pulas tanpa menunggu Elisa lagi, meskipun tadi niatnya mau menikmati malam pertama mereka sebagai sepasang suami istri.
"Kak, bisa minta tolong?" tanya Elisa, yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Karena tidak ada jawaban, Elisa yang sedang mengeringkan rambut dengan sebuah handuk kecil, akhirnya mendongak melihat sekeliling.
"Ah, sudah tidur dia?" tanya Elisa tidak percaya, jika Aji sudah benar-benar tertidur pulas dan tidak menunggu dirinya.
"Hufhhh... meskipun ini tidak bisa dibilang honeymoon, setidaknya tunggu kek sampai Aku selesai mandi. Ini malah udah tidur duluan. Aku kan tidak paham dengan villa ini juga."
Elisa, mengerutu sendiri, karena merasa tidak tahu, apa yang bisa dia lakukan saat ini, dalam keadaan sendirian dan sudah malam juga.
Rasa capek yang dirasakan oleh Elisa,. justru tidak bisa membuatnya cepat tertidur. Dia merasa gelisah sendiri, saat berbaring di tempat tidur yang sama dengan Aji, suaminya itu.
"Aku seperti mimpi. Bisa menjadi istrinya kak Aji sekarang ini." Elisa, memandang wajah suaminya, yang masih dalam keadaan tertidur. Dia tidak berani membangunkan Aji, karena tahu, jika Aji sangat lelah seharian tadi, bahkan tidak hanya hari ini, tapi juga dari kemarin-kemarin, Aji pasti sudah merasa capek, mempersiapkannya segala hal dan masih harus kuliah dan juga kerja di kantor GAS milik papa Gilang.
Elisa, menyentuk wajah Aji dengan hati-hati. Dia ingin tahu, apa Aji akan terbangun dari tidurnya, saat mendapatkan sentuhan di wajahnya.
Ternyata, perbuatan Elisa itu tidak membuahkan hasil. Aji, tetap tertidur, bahkan kini berganti posisi dengan miring menghadap dirinya.
Elisa menarik tangannya dari wajah Aji. Dia tidak ingin mengusik ketenangan Aji yang sedang tertidur pulas.
Dengan perlahan-lahan, Elisa turun dari tempat tidur. Dia berjalan menuju ke sofa yang ada di kamar itu, kemudian duduk dengan posisi menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Dia mulai menghidupkan televisi dan menonton acara yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
"Acara apa sih ini?" tanya Elisa dengan mengganti-ganti semua cancel. Dia mencari acara yang bisa dia nikmati, meskipun tidak begitu paham dengan acara yang ditampilkan.
Akhirnya, Elisa membiarkan televisi menyala seadanya. Dia memposisikan dirinya sendiri dengan cara merubah duduknya menjadi berbaring di atas sofa. Niat Elisa untuk menonton acara televisi, justru berganti dengan televisi yang menonton dirinya, yang tertidur pulas di atas sofa.
Malam pertama mereka berdua, berlalu begitu saja tanpa ada adegan romantis, seperti yang biasa terjadi di dunia perfilman dan sinetron televisi pada umumnya. Tidak ada juga drama-drama yang terjadi, seperti yang di cerita novel-novel hist, yang laku dipasaran saat ini.
Saat pagi menjelang, Aji mengeliat beberapa kali. Dia melihat sekeliling, karena merasa tidak terbiasa dengan suasana kamar yang berbeda seperti biasanya.
__ADS_1
"Ah, Elisa!"
Aji mencari keberadaan Elisa, saat sadar jika dia sudah mempunyai istri, yaitu Elisa.
"Di mana dia?" tanya Aji pada dirinya sendiri, dengan melihat ke segala arah.
"Lho..."
Aji melongo, melihat Elisa yang ternyata tidur di sofa.
"Kenapa dia tidur di sofa?" tanya Aji bingung.
Akhirnya, Aji turun dari tempat tidur dan mendekat ke tempat tidurnya Elisa.
"El, Sayang." Aji menepuk-nepuk pipi Elisa, agar bangun, tapi ternyata Elisa hanya mengeliat saja.
"Eghhh ... ngantuk. Nanti saja," kata Elisa dengan masih dalam keadaan tidur. Dia berkata tanpa sadar, jika suaminya yang sedang memintanya untuk bangun.
"Sudah pagi ini El. Kamu kenapa tidur di sofa? apa Aku mengusirmu semalam?" tanya Aji, dengan mengelus rambut Elisa.
"Dia pasti capek, apalagi tidur di sofa seperti ini. Badannya tidak bisa lurus dengan sempurna, dan itu akan membuatnya terasa sakit jika nanti terbangun."
Akhirnya, Aji memindahkan Elisa dengan cara menggendongnya untuk bisa pindah dari sofa ke tempat tidur.
Elisa tidak bergerak sama sekali. Dia hanya pasrah dalam keadaan tertidur dalam gendongan Aji.
Aji, berhasil memindahkan tubuh Elisa dari sofa ke tempat tidur. Dia membaringkan tubuh istrinya itu dengan hati-hati, agar tidak membuatnya terbangun.
"Segitu capeknya dia, sampai-sampai tidak merasa jika tubuhnya sudah berpindah tempat," kata Aji dalam hati.
Setelah puas menikmati pemandangan yang ada didepannya, dengan memandang wajah Elisa yang sedang tertidur, Aji turun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi. Dia ingin mandi, agar tubuhnya terasa lebih segar dan bisa 'menjahili' Elisa seharian nanti.
__ADS_1
Setelah selesai mandi, Aji pergi ke dapur. Dia ingin membuat sarapan pagi untuk Elisa dan dirinya sendiri juga. Ternyata di lemari es dan penyimpanan makanan, penuh dengan bahan-bahan untuk bisa di masak.
Kemarin, sebelum datang ke villa ini, Aji memang sudah mempersiapkan segalanya. Dia minta pada penjaga villa, untuk mengisi semua ini untuk semingu kedepannya. Penjaga villa, juga dia minta untuk pulang saja agar tidak menggangu aktivitasnya bersama dengan Elisa, istrinya yang sekarang masih tertidur di kamar.
Dengan bersemangat, Aji menyibukkan dirinya sendiri untuk membuat sarapan dan menyiapkan semuanya di atas meja.
Sekarang, semua sudah beres. Dia ingin membangunkan Elisa lagi.
"Aku ingin membuatnya merasa senang karena bisa menikmati hari-hari ini dengan penuh cinta." Aji berkata kepada dirinya sendiri.
Dengan lebar, Aji menuju ke kamar dengan tersenyum-senyum sendiri. Dia membayangkan bahwa Elisa akan menjerit keras dan memeluknya erat, karena merasa bahagia dan berterima kasih untuk semua yang sudah dia lakukan pagi ini.
"Aku ingin melihat reaksinya yang heboh, seperti biasanya."
Setelah sampai di depan pintu kamar, dia membukanya secara perlahan-lahan. Dia tidak ingin membuat Elisa terbangun dan kaget, karena belum terbiasa dengan dirinya sebagai suami dan bukan orang lain lagi.
"Sayang, bangun yuk!" panggil Aji, dengan lembut di telinga Elisa.
"Hemmm...antuk." Elisa hanya menyahut dengan tidak jelas.
Akhirnya, Aji gemas sendiri dan mencium bibir Elisa dengan cepat.
Cup, cup, cup!
Elisa yang kaget, segera membuka matanya dan terbelakang kaget. Apalagi, dia melihat keberadaan Aji, yang ada dikamar yang sama dengannya juga. Dia sudah berpikir macam-macam, karena belum sepenuhnya sadar, jika mereka berdua, telah resmi menjadi suami istri kemarin.
"Kakak, apa-apaan ini?" tanya Elisa marah.
"Apa?" tanya Aji datar. Dia tahu, jika Elisa belum menyadari posisinya, sama seperti yang tadi terjadi padanya juga.
"Kenapa Kakak ada di kamarku, dan apa yang sudah Kakak lakukan tadi?" tanya Elisa, masih dalam keadaan marah.
__ADS_1
"Apa? Aku mencium bibir istriku. Apa itu salah?" tanya Aji dengan tersenyum miring melihat ke arah Elisa yang sedang melotot, mendengar jawaban darinya.
"Apa, istri?"