
Biyan, diam di tempat duduknya sedari tadi. Dia hanya memainkan handphone yang ada di tangannya.
Vero, yang baru saja turun dari anak tangga, memanggil-manggil nama kembarannya itu, "Yan, Biyan." Tapi, sepertinya Biyan tidak mendengar dan masih asyik bermain handphone.
Vero kesal, kemudian mendekat sambil menepuk bahu Biyan, "Woi! di panggil gak denger saja."
"Apa-apaan sih! bikin orang kaget saja tahu," sahut Biyan dengan wajah yang tampak kaget karena tepukan di bahunya.
"Lah, Aku panggil-panggil gak denger sih, salah sendiri," ucap Vero tidak mau kalah.
"Apa?" tanya Biyan, ingin tahu, apa yang diinginkan kembarannya itu, si Vero.
"Lihat kak El gak? hehehe..." tanya Vero sambil meringis seperti menahan geli, karena sudah membuat biyan kaget tapi hanya ingin bertanya tentang keberadaan Elisa, kakak ipar mereka.
"Ada di kamar mungkin, lagi bikin tugas, atau sedang video call sama kak Aji," jawab Biyan, tidak pasti.
"Kok Kamu bisa tahu?" tanya Vero heran.
"Kan tadi dijawab mungkin, itu artinya belum pasti benar Vero. Udah ah, gak asik Kamu!"
Biyan, kesal karena diganggu kesenangannya dengan kehadiran Vero, yang bertanya tidak jelas. Dia akhirnya kembali lagi pada kesibukan yang tadi, bermain handphone.
"Ah, mau nyusul ah..."
"Kemana?" tanya Biyan dengan cepat.
"Ke kamar kak El," jawab Vero enteng.
"Awas, kamera cctv-nya bisa ngadu ke kak Aji, kapok Kamu!" Biyan, menasehati si Vero.
"Lah, kan cuma ngobrol," elak Vero membela diri.
"Kak Aji, tidak suka ya kalau Kamu itu ganggu dan dekat-dekat sama kak El. Sudah, tidak usah bikin masalah deh!"
Biyan, masih berusaha untuk menasehati si Vero. Dia tidak ingin melihat kakaknya Aji marah, karena melihat tingkah Vero yang selalu usil dan mendekati istrinya itu.
"Itu karena kak Aji saja yang pelit. Kak El, tidak masalah tuh," ucap Vero, masih dengan keyakinannya untuk bisa ke kamar Elisa.
"Serah deh. Suka-suka Kamu saja. Tapi ingat, jangan bawa-bawa nama Aku, jika sedang di marahi kakak atau mama. Aku tidak mau tahu apa-apa."
__ADS_1
Akhirnya, Biyan beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju ke anak tangga. Dia ingin kembali ke dalam kamar dan tidak mendengarkan suara Vero, yang terus saja membahas kakaknya Aji dengan kakak iparnya, istri dari Aji, Elisa.
"Heh, jangan bilang-bilang ya!" teriak Vero, karena Biyan berlalu dari hadapannya.
Biyan, tidak menjawab. Dia hanya menaikkan kedua bahunya, sambil menggeleng beberapa kali.
"Ah, dasar pintu kulkas. Datar, dan sudah terasa dingin. Hahaha... cocok tuh untuk Biyan," kata Vero, seorang diri.
"Ada apa Vero?" tanya mama Cilla, yang baru saja datang dari arah belakang. Mungkin dia baru saja selesai memberikan makan, pada ikan-ikan yang ada di kolam belakang rumah.
"Eh Mama. Tidak ada apa-apa kok Ma. Mama dari mana?" jawab Vero cepat, kemudian bertanya untuk mengalihkan perhatian mamanya, supaya tidak lagi bertanya-tanya.
"Dari kolam, dan mangkasin tamanan yang sudah liar itu. Tukang kebun kan minta ijin pulang kampung, ada saudaranya yang punya hajatan jadi dia seminggu lebih di kampung. Kamu sih, tidak mau bantuin Mama."
"Hehehe... maaf Ma. Kan tadi Vero sedang belajar di kamar, mama juga tidak mau manggil sih," jawab Vero beralasan.
"Ada apa kamu bicara sendiri tadi?" tanya mama Cilla, yang ternyata tidak lupa, dengan pertanyaan yang belum di jawab Vero.
"Yang mana Ma?" tanya Vero, yang tidak menjawab pertanyaan dari mamanya, karena pura-pura lupa.
"Hem, ya sudah. Mama mau ke dapur saja," jawab mama Cilla, tanpa mengulang kembali pertanyaan yang diajukan oleh anaknya, si Vero.
"Huh... bisa-bisa di jewer mama kalau tahu, Aku sedang mencari kak El," guman Vero, seorang diri, setelah mamanya pergi ke dapur.
Clek!
Vero masuk ke dalam kamar. Tapi, kamarnya sepi, tidak terlihat Biyan di mana-mana.
"Kemana dia?" tanya Vero heran, karena dia yakin jika tadi Biyan masuk ke dalam kamar.
"Kok tidak ada sih, kayak hantu saja dia itu," gerutu Vero seorang diri.
Lamat-lamat, terdengar suara dari arah balkon. Vero yakin, jika itu Biyan. "Tapi, kenapa itu suara cewek, siapa sih?" tanya Vero penasaran.
Akhirnya, Vero berjalan dengan pelan-pelan menuju ke balkon, agar tidak terdengar langkahnya oleh Biyan.
Dari balik jendela kaca yang bisa tembus ke balkon kamar, Vero melihat kembarannya itu sedang asyik melihat video dan beberapa foto yang ternyata itu adalah...
"Biyan! Aku tidak menyangka jika dia itu..."
__ADS_1
Vero, tidak melanjutkan kalimatnya, yang ditujukan untuk Biyan, meskipun itu dikatakan di dalam hatinya sendiri.
Dia hanya menggeleng cepat, tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang ini. Kembarannya itu, yang terkesan lebih dingin dari pada kulkas dan lebih datar dibanding dengan pintunya juga, ternyata lebih dari dia sendiri dalam mengangumi seseorang. "Apakah dia punya kelainan?" pikir Vero, berpikir jika Biyan mempunyai kelainan yang tidak pernah dipikirkan oleh siapapun.
*****
Di Tangerang, Aji, yang sedang berada di salah satu pabrik yang ada dalam agenda kunjungannya kali ini, merasa tidak tenang, karena salah satu pegawai yang ikut dalam menyambut kedatangannya, berlaku tidak biasa seperti yang lain.
"Pak, bisa bicara sebentar?" tanya Aji, pada salah satu staf pegawai laki-laki, yang bertugas menemaninya sepanjang hari ini.
"Ya Mr Aji, apa ada yang bisa Saya bantu?" tanya orang tersebut.
"Apa selalu seperti ini, penyambutan tamu audit?" tanya Aji, langsung pada intinya.
"Yang seperti apa ya Mr?" jawab orang tadi, yang bertanya juga, karena tidak paham apa maksud dari pertanyaan Aji.
Aji, hanya menunjuk seseorang dengan dagunya. Dia melihat sekilas, bagaimana staf perempuan itu memakai pakaian yang tidak sopan untuk bekerja.
"Maaf Mr. Apa ada salah dengan dia?" tanya staf yang di panggil oleh Aji.
"Aku pikir, di sini mau bekerja, bukan untuk suatu kontes. Atau memang begitu cara berpakaian sehari-hari? Bukankah bekerja itu membutuhkan pakaian yang nyaman dan aman?"
Aji, terus menanyakan kepada staf tadi, dengan aturan pabrik soal pakaian yang seharusnya.
Staf tersebut, hanya menunduk. Dia merasa bersalah karena tidak menegur bawahannya itu.
"Maaf Mr. Ini tidak akan terjadi lagi, di kemudian hari."
"Aku tidak akan melakukan audit hari ini. Besok saja. Aku akan pergi ke tempat lain dulu," kata Aji memutuskan.
Tak lama, staf perempuan tadi, dipanggil atasannya.
"Kenapa Kamu memakai pakaian seksi hari ini?"
"Kenapa Pak? Bukankah setiap ada audit, Saya biasa berpakaian seperti ini. Ini juga demi kelancaran pekerjaan kan?" tanya staf perempuan tadi, membantah.
"Hari ini, audit di tempat kita batal. Besok Mr Aji akan datang lagi. Tapi jika dia tidak jadi datang, Aku tidak tahu, bagaimana nasib pabrik kita kedepannya."
"Kenapa?" tanya staf perempuan penasaran.
__ADS_1
"Dia tidak suka dengan cara berpakaian Kamu itu."
"Memang dia tidak normal? kenapa tidak suka melihat yang seksi?" tanya staf perempuan itu lagi, merasa lebih penasaran dengan Mr Aji.