
Setelah semua urusan pemeriksaan mata Aji selesai, kini mereka beralih ke ruangan dokter bagian spesialis yang menangani test DNA yang Gilang lakukan beberapa minggu yang lalu.
Mereka semua menunggu di luar ruangan, sebab dokter tersebut sedang melakukan pengecekan ke laboratorium rumah sakit yang ada di gedung sebelah tempat mereka berada.
Aji dan Cilla yang dulu pernah mengalami penculikan di rumah sakit ini, tidak di perbolehkan kemanapun oleh Gilang seorang diri. Dia dan mami Rossa akan tetap menemaninya, meskipun itu ke kamar kecil sekalipun.
"Ma. Aji pengen pipis, tapi takut."
Aji mengatakan keinginannya untuk buang air kecil, tapi merasa takut dengan keajaiban yang pernah dia alami dulu.
"Sama Papa saja yuk!" Gilang menawarkan.
Aji menoleh pada mamanya, kemudian menarik-narik tepian baju Cilla.
"Iya Sayang. Tidak apa-apa sama..."
"Yuk!" Gilang memotong perkataan Cilla yang mengambang.
Mami Rossa mengeleng melihat tingkah anaknya itu. "Tanya dulu Aji nya mau tidak sama kamu. Kan dia belum terbiasa pipis dengan kamu Gilang," protes mami Rossa. Dia tidak ingin Aji terlihat terpaksa hanya karena menemani ke kamar kecil saja.
"Bagaimana Aji?" tanya Gilang menurut perkataan maminya itu.
"Aji mau sama Mama," kata Aji menjawab pertanyaan Gilang.
Cilla tersenyum mendengar perkataan Aji, anaknya, tapi berbeda dengan Gilang. Dia merasa kecewa karena Aji belum bisa menerima dia sebagaimana yang dia inginkan.
"Ya sudah kalau begitu. Tapi aku antar," kata Gilang memutuskan.
Cilla menganguk setuju, begitu juga dengan mami Rossa. " Sekalian saja, aku juga mau ke kamar kecil," Kata mami Rossa membuat alasan.
Akhirnya, mereka berempat menuju ke kamar kecil. Gilang menunggu tak jauh dari pintu kamar mandi itu, sebab tidak mungkin dia ikut masuk, karena kamar kecil itu khusus untuk para wanita.
Setelah menunggu beberapa menit, tampak yang sedang ditunggu keluar dari kamar kecil.
"Sudah?" tanya Gilang.
__ADS_1
"Ya," jawab mami Rossa mewakili Cilla juga.
Mereka kembali ke tempat duduknya yang tadi, menunggu dokter datang.
"Tuan Gilang!"
Seorang suster memanggil nama Gilang untuk masuk ke dalam ruangan. Berarti dokter sudah datang dan ada di dalam, dan sedang menunggunya.
"Siang Dok," sapa Gilang pada seorang dokter yang sedang duduk di kursinya.
"Siang tuan Gilang. Silahkan duduk," jawab dokter tersebut mengangguk dan mempersilahkan Gilang untuk duduk di kursi yang ada didepannya.
Gilang dan Cilla duduk di tempat yang ditunjukkan, sedangkan mami Rossa dan aji duduk di kursi lainnya yang disediakan oleh perawat.
"Sus, bawa hasil test milik tuan Gilang kemari," kata dokter memberikan perintah pada perawat yang membantunya.
Perawat tersebut memberikan amplop coklat besar, berisi tentang laporan dari test DNA milik Gilang dan Aji.
Dokter membukanya, kemudian membaca dengan teliti hasil laporan tersebut. Tapi yang membuat Cilla dan Gilang merasa cemas adalah, raut wajah dokter tersebut.
Gilang yang juga merasa cemas, meraih tangan Cilla, kemudian digenggamnya dengan erat. Gilang berusaha untuk membuat Cilla tenang dan nyaman. "Tenang ya!" Padahal, sebenarnya dia juga sedang merasa tidak tenang.
"Begini tuan Gilang."
Dokter menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya.
Mami Rossa yang ikut mendengar perkataan dokter tersebut, merasakan ketegangan juga. Dia merasa khawatir jika hasil tes DNA itu negatif. Padahal dia sudah mempunyai banyak rencana kedepannya.
"Menurut hasil laporan yang saya baca. Disini tuan Gilang Aji Saka dengan Aji Putra adalah bahwa tiga belas alel loc**i marka STR terduga ayah cocok dengan alel paternal dari anak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa probabilitas terduga ayah sebagai ayah biologis dari anak adalah 99,99%. Oleh karena itu terduga ayah tidak dapat disingkirkan dari kemungkinan sebagai ayah biologis anak."
Keterangan yang disampaikan oleh dokter tersebut membuat Gilang merasa sangat senang dan bahagia. Dia dengan cepat memeluk Cilla dari arah samping, menggambarkan bahwa dia sangat senang dengan hasil tes DNA tersebut.
Cilla tertegun. Dia mematung didalam pelukan Gilang yang sedang berbahagia. Cika juga menitikkan air mata kebahagiaan yang sedang dia rasakan sekarang ini.
Mami Rossa yang ikut mendengarkan pembacaan hasil tes DNA tersebut, segera memeluk Aji yang sedang berada diatas pangkuannya. Dia merasa, kebahagiaan yang dia rasakan akhir-akhir ini semakin sempurna dengan adanya hasil tes DNA yang membawa kabar gembira ini.
__ADS_1
Aji pun ikut tersenyum senang melihat semua orang berbahagia. Cilla yang masih mematung membuat Gilang merasa aneh. Tapi tak lama, dia segera sadar dan melepaskan pelukannya. "Maaf," kata Gilang saat pelukannya sudah terlepas.
Cilla menghapus air mata yang menetes tanpa dia sadari. Air mata bahagia karena semua sudah terbukti kebenarannya.
"Kenapa menangis? Apa pelukanku menyakitimu?" tanya Gilang bingung, sebab dia melihat Cilla yang sedang menghapus air matanya.
Cilla tidak mampu menjawab. Dia hanya mengeleng beberapa kali menatap ke arah dokter yang ada didepannya. " Terima kasih Dok," kata Cilla pada dokter yang sedang tersenyum kepadanya saat ini.
"Sama-sama. Selamat untuk hasil yang baik ini," kata dokter memberikan ucapan selamat dan menjabat tangan Gilang serta Cilla secara bergantian.
Cilla menoleh ke belakang. Dia melihat mami Rossa yang sedang memeluk Aji dengan linangan air mata bahagia. Cilla menjadi ikut terharu dan kembali menitikkan air matanya. Tapi yang sekarang justru lebih deras dari yang tadi.
Gilang mengenggam tangan Cilla, kemudian mengajaknya untuk berdiri dari tempat duduknya. Mereka berdua melangkah kearah mami Rossa dan juga Aji.
Kini mereka semua saling berpelukan penuh keharuan dan kebahagiaan. Sekarang ini, mereka adalah keluarga, dan itu tidak diragukan lagi. Gilang dan mami Rossa berjanji dalam hati untuk menjaga Aji dan juga Cilla dalam keadaan apapun.
"Terima kasih Dokter. Kami pamit pulang," pamit Gilang pada dokter yang menangani test DNA yang dia lakukan.
"Sama-sama tuan Gilang. Sekali lagi selamat ya!" jawab dokter tadi.
Gilang menganguk dan mengajak semuanya untuk keluar dari ruangan dokter. Mereka berjalan bersama-sama menuju ke tempat parkir rumah sakit.
"Kita harus merayakan ini Sayang!" Mami Rossa memberikan usulan.
"Boleh Mi. Mau kemana?" tanya Gilang dengan semangat.
"Kita buat acara syukuran. Atau kita bisa berkunjung ke panti asuhan mana gitu," jawab mami Rossa memberikan gambaran tentang usulannya yang tadi.
"Tapi..."
Cilla tidak melanjutkan kata-katanya, saat Gilang menatapnya dengan kening berkerut.
"Tapi apa?" tanya Gilang pada akhirnya, sebab Cilla tidak melanjutkan kata-katanya lagi.
"Tu... Tuan harus pergi ke rumah sakit lainnya untuk cek perut bekas operasi kemarin," jawab Cilla gugup.
__ADS_1