Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Tiba-tiba Sakit


__ADS_3

Suasana rumah papa Gilang, mendadak sunyi. Berbeda dengan yang baru saja terjadi, saat Aji dengan Elisa yang datang. Keceriaan dan kegembiraan berganti dengan ketegangan, meski tidak ada perdebatan dan pertengkaran yang terjadi diantara mereka semua.


"Kenapa Kamu ingin mengajak Elisa tinggal di India Aji?" tanya mama Cilla menyelidik. Dia ingin tahu alasan yang sebenarnya, meskipun tadi sudah diberitahu oleh Aji, apa yang menjadi alasan utama dirinya dan Elisa pindah ke India. Sepertinya, mama Cilla mencurigai adanya alasan lain yang disembunyikan oleh Aji darinya.


"Ma. Tadi Aji kan sudah bilang. Ya itu saja sih alasannya. Nanti, kalau ayah Sangkoer Singh sudah sehat lagi, dan Vijay Singh juga sudah bisa beraktivitas, Aji dan El akan segera kembali ke Indonesia. Ini bukan pindah warga negara Ma, hanya sementara waktu saja. Tapi, ya itu, waktunya tidak bisa cepat."


Aji, menjelaskan lagi alasan utama dirinya dan Elisa pergi dan tinggal di India. Tapi, sepertinya mama Cilla tidak percaya dengan alasan yang dikemukakan oleh Aji. Dia masih merasa curiga, jika Aji menyembunyikan sesuatu darinya.


"Apa Aji tahu jika..."


Mama Cilla, tidak melanjutkan pemikiran yang ada di dalam hatinya. Dia tidak ingin sampai kecolongan dan bicara soal kedua anaknya kembarnya, Vero dan Biyan yang sedang, yang sedang proses masa penyembuhan. Apalagi, tadi saat Elisa datang bersama dengannya, Aji meminta Elisa agar langsung masuk ke dalam kamar dan beristirahat saja. Elisa, tidak ikut berbincang-bincang dengan mereka semua, seperti biasa. Aji hanya beralasan jika Elisa merasa sedikit pusing dan lelah.


"Elisa pusing dan lelah. Dia hanya perlu istirahat yang cukup sekarang," kata Aji memberikan alasannya tadi.


Vero, yang biasa usil dan gak mau jauh-jauh dari Elisa, hanya diam di tempat duduknya saja tanpa banyak bicara. Biyan juga sama. Dia yang memang pendiam dan terkesan dingin, hanya diam dan mendengarkan pembicaraan antara mama Cilla dan kakaknya, Aji.


"Kalian bagaimana sekolahnya? Sudah mau akhir tahun ini. Ada rencana mau masuk universitas mana?" tanya Aji, mengalihkan perhatian mama Cilla, dengan bertanya pada kedua adik kembarnya itu.


"Vero mau ke Jepang," jawab Vero cepat. Tapi dia tidak mengatakan alasannya, kenapa memilih Jepang.


"Biyan, Kamu kemana?" tanya Aji, beralih pada Biyan yang belum menjawab.


"Di Indonesia saja. Yang dekat dengan rumah. Kasihan mama sendiri di rumah," jawab Biyan pelan. Dia merasa tidak bersemangat untuk mendaftarkan diri ke universitas luar negeri seperti yang dilakukan oleh Vero.


"Mama tidak apa-apa, kalau Kamu ingin kuliah ke luar, sama seperti Vero. Yang penting, itu untuk cita-cita dan bertujuan baik."

__ADS_1


Mama Cilla, memberikan semangat kepada Biyan. Tapi sepertinya, Biyan memang tidak ada niat untuk kuliah ke luar negeri seperti Vero.


"Biarin Ma. Tidak usah dipaksa jika dia tidak ada niat. Aji saja malah gak kesampaian kuliah di luar negeri," kata Aji, meminta mamanya agar tidak memaksa Biyan untuk melanjutkan ke luar negeri seperti kembarannya, Vero.


"Kak. Biyan mau jaga mama saja. Biyan juga tidak pintar-pintar banget. Biar Biyan kuliah di Jakarta saja, bisa pulang dan bertemu dengan mama terus. Kak Jeny, sudah tidak di rumah ini lagi, Kakak juga ke India. Kasihan Mama sendiri kalau Aku dan Vero pergi juga." Biyan, mengatakan niatnya untuk kuliah di Jakarta saja, dan tidak perlu ke luar negeri.


Aji, mengangguk sambil tersenyum tipis, mendengar alasan adiknya itu. Vero, jadi merasa bersalah dan tidak enak hati karena merasa tersindir. Dia jadi menundukkan kepalanya.


"Vero juga baru rencana ini. Kalau gagal juga tidak jadi Kak. Kuliah di Jakarta saja sama kayak Biyan," kata Vero pada akhirnya. Dia tidak ingin, membuat kakaknya, Aji berpikir kalau dia tidak mau ada di rumah seperti Biyan.


"Tidak apa-apa kalau ada niat untuk kuliah ke luar negeri, apalagi Jepang. Tapi, Kamu harus tahu konsekwensinya juga, jauh dari rumah dan semua dikerjakan sendiri. Latihan untuk bisa mandiri. Belajar saja yang rajin. Kakak hanya bisa berdoa dan mendukung saja."


Aji, memberikan beberapa nasehat pada adiknya, Vero, yang ada niatan untuk ke Jepang tahun depan.


"Papa sudah tahu rencana Kamu ini?" tanya Aji lagi, untuk memastikan bahwa papanya, Gilang, tidak ada niat untuk melarang dan menghalangi niat Vero. Dia jadi ingat, bagaimana perasaannya dulu saat papanya mencegah niatnya untuk pergi ke Jerman.


"Kamu ijin sama papa dulu. Semoga papa mendukung rencana Kamu itu." Aji berharap, agar papa Gilang, tidak lagi memperlakukan Vero, sama seperti dirinya dulu.


"Mama sih tidak melarang Vero, yang penting ya tadi, pesan Mama," kata mama Cilla, mengulang lagi perkataannya tadi, agar Vero tetap bersemangat untuk bisa meraih cita-cita yang dia impikan.


"Aji pamit ke kamar. Mau lihat Elisa, siapa tahu dia masih merasa pusing," pamit Aji pada mama Cilla dan kedua adik kembarnya.


Vero dan Biyan hanya mengangguk, sedang mama Cilla, menawarkan diri untuk ikut melihat keadaan menantunya itu. Siapa tahu, ada yang bisa dia bantu.


"Mama mau ikut lihat Elisa. Mungkin ada yang diperlukan, biar Mama bisa bantu," kata mama Cilla, ikut berdiri saat Aji berdiri dan berniat untuk pergi ke kamar, menyusul istrinya.

__ADS_1


"Tidak usah Ma. Elisa sudah biasa akhir-akhir ini seperti itu. Mungkin karena tidak ada kegiatan lagi, jadi malah membuat dia bosen dan pusing sendiri."


Aji, tidak mengijinkan mamanya untuk ikut ke kamar. Dia tidak mau, jika mamanya sampai tahu, tadi hanya alasannya saja, agar Elisa, tidak dekat-dekat lagi dengan kedua adik kembarnya, Vero dan Biyan. Tapi, Aji juga tidak tahu, jika Elisa memang benar-benar merasa sedikit pusing dalam perjalanan tadi.


Mama Cilla akhirnya kembali duduk. Dia tidak tahu, apa yang sedang dipikirkan oleh anaknya, Aji. Karena, sedari dulu, Aji memang susah ditebak kemauannya. Dia hanya berharap, anak dan juga menantunya itu dalam keadaan baik-baik saja.


*****


Di dalam kamar, Elisa sedang tiduran. Dia memang merasa agak pusing, entah kenapa. Padahal, ini tidak biasanya terjadi.


Cklek!


Pintu kamar terbuka. Muncul Aji, yang langsung mendekat ke tempat tidur, memeriksa kening istrinya.


"Kamu panas El. Kamu benar-benar merasa pusing ya tadi?" tanya Aji dengan khawatir.


Dia tadi, hanya meminta Elisa agar langsung ke kamar sebagai alasan saja, meskipun tadi sempat melihat Elisa yang memegang keningnya sendiri.


"Entahlah Kak. El memang merasa pusing sejak turun dari mobil tadi," jawab Elisa meringis.


"Aku panggilkan om Dimas?" tanya Aji, sambil memegang kening Elisa.


"Tidak usah Kak. El tidur saja sebentar," jawab Elisa, sambil meminta pada Aji agar tidur disebelahnya.


Aji, naik ke tempat tidur dan berbaring dengan posisi miring, memeluk istrinya agar bisa cepat tertidur.

__ADS_1


Dengan lembut, Aji mengelus-elus rambut Elisa, persis seperti seorang ayah yang sedang menidurkan anaknya. Tapi, gerakan yang dilakukan oleh Aji, memang manjur dan berhasil membuat Elisa cepat tertidur dengan pulas.


"Kamu kenapa El, kok tiba-tiba sakit begini?" tanya Aji pada dirinya sendiri, merasa khawatir. Tapi, Elisa tidak mungkin bisa menjawab, karena sudah tertidur di dalam pelukannya.


__ADS_2