Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Kasus Selesai


__ADS_3

Saat berada di kantor polisi, Biyan, ditemani oleh papa Gilang, melakukan penyidikan dan test urine ulang. Ini karena saat di tahan beberapa waktu yang lalu, Biyan tidak terbukti mengunakan obat-obatan terlarang. Dan kali ini, karena dia dilaporkan dengan tuduhan berbagai pengedar, dia juga harus melakukan test urine lagi, untuk memastikan jika dia memang benar-benar tidak menggunakan barang tersebut.


Biyan juga diwajibkan menjawab beberapa pertanyaan dari penyidik saat berlangsungnya proses penyidikan. Sedangkan Aji, meminta pada bagian petugas penerimaan laporan untuk menyelidiki, siapa yang sudah membuat laporan untuk Biyan. Dia juga meminta pada posisi tersebut, untuk mengatakan bagaimana caranya orang itu memberitahukan bahwa Biyan adalah seorang pengedar obat-obatan terlarang.


Dari keterangan yang polisi berikan pada Aji, dia akan melakukan tuntunan pada pelapor, dengan tuntutan pencemaran nama baik. Ini karena orang tersebut hanya mengunakan dugaannya yang tanpa ada bukti dan langsung melapor begitu saja.


"Apa setiap laporan yang masuk terkait obat-obatan terlarang langsung diproses, tanpa melihat beberapa bukti yang cukup?" tanya Aji memastikan rencananya itu tidak ada salahnya.


"Bukan begitu Mas. Ini karena belum lama, adik Anda sudah pernah ditahan dengan kasus penganiyaan, apalagi yang dianiaya itu berkewarganegaraan asing. Bisa jadi, itu bukan seperti yang dilaporkan, tapi ada kaitannya dengan kasus yang terjadi sekarang ini," jawab polisi tersebut, dengan memberikan sebuah penjelasan dan alasannya juga.


Aji mengangguk paham dengan perkataan petugas kepolisian yang ada di depannya saat ini.


Sambil menunggu kedatangan pengacara keluarga yang masih dalam perjalanan, Aji mencoba menghubungi teman-temannya yang bisa dimintai tolong untuk menyelidiki dimana biasanya Biyan nongkrong. Mungkin saja, ada salah satu dari mereka, temannya Biyan, yang dengan sengaja melakukan semua ini, untuk menjatuhkan mana baik Biyan dan juga keluarganya.


Beberapa jam kemudian, Biyan sudah diperbolehkan pulang oleh pihak kepolisian, karena hasil test urine nya dinyatakan negatif. Dia juga menjawab semua pertanyaan dari pihak penyidik dengan lancar dan tidak berbelit-belit, sehingga waktu penyidikan berjalan dengan cepat.


Pengacara keluarga melakukan tugasnya, dengan melapor balik pelapor dengan tuntutan pencemaran nama baik. Nama pelapor sudah diketahui, dan dia adalah salah satu kekasih miss Yeti, yang merupakan mantan kekasihnya Biyan. Sekarang, miss Yeti sudah tidak lagi ada di Indonesia. Dia pergi ke luar negeri, dan bekerja di sana. Inilah yang membuat orang tersebut, melakukan tindakan seperti itu. Dia berpikir jika, kepergiannya miss Yeti, karena putus dari Biyan dan tidak ada persetujuan dari pihak keluarga Biyan sendiri, dengan hubungan khusus antara mereka berdua.


Aji, selain meminta pada pengacaranya untuk melakukan tindakan laporan tersebut, juga meminta kepada temannya yang lain untuk menyelidiki siapa sebenarnya orang tersebut, termasuk pekerjaan ataupun bisnis yang dia geluti saat ini.


Aji ingin memberinya sedikit 'pelajaran' agar tidak gegabah dalam bertindak dan juga membuat laporan palsu.


Sekarang, Biyan sudah ada di rumah. Dia di minta Aji untuk duduk terlebih dahulu di ruang tengah. Ada mama Cilla dan papa Gilang juga. Di sudut sofa lainnya, ada Elisa yang sedang memangku Ka Singh. Sedangkan Vero, ada di kamarnya sendiri.


Bibi, menyuguhkan air minum untuk mereka semua. Setelah Biyan selesai minum, dia ditanya Aji, tentang keputusannya untuk ikut ke India bersama dengan tuan besar Sangkoer Singh.

__ADS_1


"Pa, Ma. Biyan pernah mengatakan bahwa, dia ingin hidup sendiri tanpa bayang-bayang nama besar keluarga. Dia ingin belajar dan bekerja di India. Aji sudah meminta ijin pada ayah Singh, untuk menerima Biyan di pusat pelatihan di India sana. Ayah Singh sudah setuju, jadi Aji minta maaf karena tidak membicarakan tentang ini pada Papa dan Mama terlebih dahulu. Ini Aji lakukan karena berpikir jika Biyan akan berubah pikiran suatu waktu. Apa Kamu masih dengan keinginanmu yang itu Biyan?"


Biyan mengangguk cepat, saat mendengar pertanyaan dari kakaknya. Dia mengatakan jika sudah bertekad untuk pergi dari Indonesia, dan menemukan jati dirinya sendiri di negara orang. Dia tidak mau dihalangi lagi untuk niatnya yang satu ini.


Papa Gilang dan mama Cilla saling pandang. Mereka berdua sebenarnya merasa kaget dan juga keberatan dengan keputusan yang diambil oleh anaknya, Biyan. Apalagi Vero juga memutuskan untuk kuliah di Jepang, jadi otomatis rumah besar mereka ini akan semakin sepi.


Tapi, mengingat keadaan Biyan yang tidak biasa, akhirnya mereka berdua menyetujui keinginan anaknya itu. Mereka berpesan agar Biyan bisa menjadi seorang pribadi yang lebih baik suatu hari nanti. Apalagi, yang dia ikuti adalah seorang yang sangat berpengalaman dan berpengaruh di sana, yaitu tuan besar Sangkoer Singh. Papa Gilang jadi sedikit lebih lega, begitu juga dengan mama Cilla.


Elisa yang ikut mendengarkan perbincangan mereka di ruang tengah, hanya diam saja dan tidak ikut campur dalam memberikan usulan apapun. Dia hanya mendukung, semua hal yang dilakukan dan diputuskan oleh suaminya, Aji.


Elisa tentu berpikir jika, suaminya itu sudah memikirkan banyak hal dari berbagai sudut pandang. Apalagi ini juga ada kaitannya dengan adiknya sendiri. Pasti Aji sudah berpikir lebih jauh ke depan.


*****


Beberapa hari kemudian, orang yang membuat laporan palsu untuk Biyan di tahan sebagai tersangka dalam kasus pengedar obat-obatan terlarang. Ternyata, dari beberapa keterangan yang diberikan orang-orang terdekat, dia sendirilah yang menjadi seorang pengedar, dan bukan Biyan, seperti yang dia laporkan.


"Kak, acara untuk Ka Singh di India juga akan dilakukan pada saat kita mengantar Biyan sekalian ya?" tanya Elisa, saat Aji baru saja keluar dari kamar mandi. Dia baru saja datang dan langsung pergi mandi sebelum mencium istri dan anaknya tadi. Dia beralasan jika baru saja pulang dari proyek pembangunan Mension milik ayah angkatnya, Sangkoer Singh, yang ada di Tangerang, jadi dalam keadaan kotor karena berdebu.


"Sepertinya iya. Kita bisa menghubungi ayah dulu, sebelum kita berangkat. Ayah juga tidak akan membiarkan kita berangkat dengan pesawat biasa, jadi pasti akan di jemput kapten sendiri, seperti biasanya," jawab Aji, sambil mencium kening istrinya dan meminta Ka Singh untuk dia gendong.


"Anak Ayah mau ke India lagi, mau jadi orang India apa Indonesia nih?" tanya Aji, pada Ka Singh, yang belum bisa bicara. Dia mengajak anaknya itu berbincang-bincang, seakan-akan Ka Singh juga bisa bicara, sama seperti dirinya.


"Sayang. Kita sudah bisa buat adik buat Ka Singh kan?" tanya Aji, sambil mengedipkan sebelah matanya pad Elisa yang melotot.


"Idihhh, gak sabaran."

__ADS_1


"Hahaha... sudah tidak ada cuti kan?" tanya Aji memastikan. Ini dia katakan karena sudah melihat istrinya itu, melakukan kewajiban ibadah seperti biasanya. Berarti dia juga sudah bisa beraktivitas 'malam' lagi.


"Kok tahu sih Kak?" tanya Elisa penasaran dengan ajakan suaminya itu.


"Tahu dong," jawab Aji dengan cepat.


"Ka Singh saja masih bayi Kak. Capek tahu, ngurusin dia juga, masak diminta adik lagi. ASI_nya juga masih eklusif kan?"


Elisa justru membuat alasan yang tidak masuk akal untuk Aji. Dia tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh istrinya itu.


"Kami masih bisa memberikan asi eksklusif pada Ka Singh. Kita hanya 'bermain-main' toh tidak mungkin langsung jadi juga kan?" tanya Aji sambil tersenyum.


"Eh gitu ya, tapi kalau langsung jadi bagaimana?" tanya Elisa memastikan.


"Ya bersyukur lah Sayang..."


"Hahaha..."


Mereka berdua tertawa-tawa, menyadari ketidak jelasan yang sedang mereka bicarakan.


"Nanti Kakak ambilkan baby sitter yang banyak, biar Kamu tidak capek dan bisa main terus tanpa banyak alasan."


Elisa menggeleng beberapa kali. Dia memang menolak saat Aji mengatakan akan memberikan baby sitter untuk Ka Singh. Dia ingin mengurus Ka Singh sendiri, dengan tangannya sendiri.


Tapi entah untuk kedepannya, jika apa yang dikatakan suaminya itu jadi kenyataan. Dia tidak mungkin sanggup, jika harus mengurus beberapa anaknya, dan juga suaminya itu seorang diri.

__ADS_1


Aji juga sama. Dia tidak mungkin membiarkan istrinya, capek sendiri, dengan mengurusnya anak-anak mereka dan dirinya juga. Dia pastikan, Elisa tidak akan mengalami hal itu.


"Besok baby sitter akan datang. Tidak boleh ada penolakan. Dan Kamu, harus siap setiap malam," kata Aji kemudian mencium pipi Elisa, dengan tenang namun tidak mungkin untuk bisa dibantah lagi oleh istrinya itu.


__ADS_2