
"Maksud Kakak?" tanya Elisa dengan wajah bingung, karena perkataan dari Aji, yang tidak dia mengerti.
"Sini!" panggil Aji, meminta Elisa agar mendekat ke arahnya.
"Apa Kak?" tanya Elisa, dengan wajah penuh tanda tanya.
"Karena Kamu ternyata bukan Jeny, kita bisa terbiasa dan bisalah Kamu jadi pacarku nanti," kata Aji, memberitahu Elisa.
"Hah!"
Elisa kaget, dengan jawaban yang diberikan oleh Aji. Dia melongo mendengar jawaban dari Aji, yang tidak pernah dia sangka-sangka sebelumnya.
"Hahaha... tidak usah kaget. Aku hanya bercanda," kata Aji lagi.
Ini tentunya yang lebih mengejutkan bagi Elisa, meskipun akhirnya, dia menghembuskan nafas lega, tapi ada sebagian hatinya yang terasa kosong, saat mendengar kalimat Aji yang terakhir kalinya. Apa ini?
"Jadi, Kamu mau kan tetap pura-pura jadi Jeny, jika sedang bersamaku, dan ada di antara mereka semua? ya... Kamu bisa jadi diri Kamu sendiri, jika hanya ada kita berdua, atau saat bersama mereka tapi tidak ada Aku," kata Aji, melanjutkan penjelasannya, tentang semua yang akan dia rencanakan.
Elisa, menahan nafasnya untuk beberapa saat. Dia tidak tahu lagi, harus bagaimana setelah ini. Tapi pada akhirnya, dia menghembuskan nafas panjang dan memejamkan mata, sambil berusaha untuk menyakinkan hatinya sendiri, jika dia pasti bisa. Meskipun dia tidak tahu, sampai kapan ini akan berlangsung.
"Hufh..."
"Bagaimana?" tanya Aji, meminta kepastian pada Elisa, saat mendengar hembusan nafas Elisa.
"Tapi, Elisa tidak janji bisa selamanya Kak. Elisa tidak yakin, mampu untuk terus ikut bersandiwara kalau ternyata Elisa lupa. Elisa kan tidak tahu, kalau ternyata keceplosan dan akhirnya membuka semuanya," jawab Elisa ragu.
"Tak apa. Jika itu sampai terjadi, berarti memang sudah waktunya untuk terbuka."
"Baiklah. Tapi mau jadi siapapun, Elisa tetap saja Elisa ya. Gak mau pura-pura punya karakter kayak Jeny, itu susah, dan El gak bisa... ya Kak, ya, ya..." rengek Elisa, dengan wajah cemberut.
"Iya... iya," jawab Aji, dengan mencubit ujung hidung Elisa gemas. Aji, bisa juga gemas, dengan melihat tingkah Elisa yang lucu.
"Hehehe..."
Elisa tersenyum dengan nyengir kuda. Dia merasa bebas saat ini, karena tidak harus berpura-pura menjadi Jeny, yang pintar dan agak datar itu.
*****
"El mau berangkat kuliah. Kakak tidak apa kan, Aku tinggal sendiri?" tanya Elisa, saat berpamitan pada Aji, menjelang siang hari.
__ADS_1
"Iya. Tidak apa-apa. Kamu naik apa?" tanya Aji, menjawab pertanyaan dari Elisa juga.
"Ojek mungkin," jawab Elisa asal.
"Gak naik mobil?" tanya Aji,dengan mengerutkan keningnya, berpikir.
"Gak lah. El gak punya. Biasanya kalau di kost, jalan kaki, kan deket, meskipun kadang di jemput Jeny, atau Rio," jawab Elisa dengan wajah biasa saja.
Tapi, Aji berpikir yang lainnya. Dia yang baru mendengar nama Rio di sebut Elisa, menjadi curiga dan segera bertanya, "Rio, siapa?"
"Temen kuliah El, sama temen Jeny juga ding. Terus kita dari satu daerah gitu, cuma dia anak orang kaya, jadi dia ada mobil juga," jawab Elisa, menjelaskan tentang siapa Rio pada Aji.
"Bukan... maksudku, dia bukan pacar Kamu?" tanya Aji lagi, dengan menyelidik.
"Hahaha... gak lah. Mana mau dia dengan El, gak level untuk keluarga kaya dia Kak. El cukup tahu diri kok!" jawab Elisa, dengan senyumannya yang biasa, nyengir kuda.
"Kamu suka dia?" tanya Aji, tetap ingin tahu bagaimana sebenarnya perasaan Elisa.
"Tidak Kak. Aku nyaman saja berteman dengan dia. Reseh sih dia, tapi asyik saja, soalnya El juga gitu, hehehe..."
"Beneran, Kamu gak ada rasa sama dia?" tanya Aji, mirip sedang mengintrogasi tersangka.
"Eh, gak jelas!" gerutu Aji, dengan kesalnya.
"Hihihi... lagian Kakak aneh, kayak interogasi saja. El, sudah ada target. Tapi gak tahu dia kayak gimana," kata Elisa, sambil menunduk malu.
"Hemmm... siapa?" tanya Aji, penasaran dengan jawaban Elisa.
"Adalah pokoknya," jawab Elisa dengan cepat dan menutup mukanya sendiri, sebab dia merasa sangat yakin, jika saat ini, wajahnya pasti memerah.
"Siapa?" tanya Aji lagi, dengan penasaran yang tinggi.
"Harus ya El jawab?" tanya Elisa memandang ke wajah Aji, meskipun hanya sekilas.
Aji, tampak mengangguk pasti.
"Kakak!"
Elisa menyebut Aji, tanpa nama, dengan setengah berteriak, kemudian segera berlari keluar dari kamar Aji, dengan mengeleng-gelengkan kepalanya membuang rasa malunya. Dia tidak mungkin mengahadapi Aji, setelah pengakuannya yang jujur kali ini.
__ADS_1
Aji, merasa tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Elisa. Dia merasa jika gadis kecil itu, teman adiknya Jeny, hanya bercanda dan tidak serius mengatakan yang sebenarnya. Dia seakan-akan sedang dipermainkan oleh Elisa, dengan jawaban yang ngawur itu.
"Awas saja kamu El, gadis kecil yang aneh!" ancam Aji, dalam hati.
*****
"Kenapa lari-lari El?" tanya mama Cilla, yang melihat Elisa berlari dari atas tangga.
"Apa terjadi sesuatu pada Aji?" tanya mama Cilla lagi, dengan wajah cemas karena merasa khawatir dengan keadaan Aji.
"Tidak ada apa-apa Tante. El, hanya agak terlambat untuk kuliah!" jawab Elisa, dengan mengatur nafasnya yang memburu.
"Oh... diantar supir ya?" tawar mama Cilla.
"Wah, takut macet Tan. Kalau mobil kan gak bisa jalan-jalan kecil atau melipir ke pinggir-pinggir, nyalip mobil juga. El naik ojek sajalah," jawab Elisa dengan cepat. Dia harus bisa menyakinkan mama Cilla, agar tidak curiga dengan apa yang terjadi di atas tadi, di kamarnya Aji.
"Oh, di antar supir pake motor saja. Ada kok!" kata mama Cilla, mengingat jika di rumah ini juga ada beberapa motor.
Elisa, tidak bisa membantah lagi. Dia hanya mengangguk, dan setuju dengan usulan mama Cilla.
"Tunggu sebentar ya!"
Elisa, menoleh ke arah atas tangga beberapa kali. Dia merasa khawatir jika Aji, membuntutinya, dan memperhatikan semua yang dia lakukan. Tapi, ternyata kekhawatiran Elisa tidak terjadi, dan itu membuat Elisa bernafas lega, "Huhfff..."
Di kamar atas, kamarnya Aji, setelah Elisa berlari keluar dari kamar, Aji berjalan dengan tertatih-tatih dengan bantuan tongkat. Dia berjalan menuju ke balkon kamar, yang bisa melihat ke arah luar, yaitu halaman rumahnya.
Aji ingin tahu, apakah benar, jika Elisa pergi ke kampus untuk kuliah, atau alasannya tadi hanya untuk menghindari dirinya dan juga pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan.
"Apa Aku terlalu mencampuri urusan pribadinya, sehingga dia jadi tidak nyaman?" pikir Aji, bertanya pada dirinya sendiri.
Sekarang, Aji bisa melihat dengan jelas, jika Elisa benar-benar pergi, dengan di bonceng supir, bukan mengunakan mobil.
"Dia... ah! Dia itu benar-benar tidak seperti gadis kebanyakan. Biasanya, gadis-gadis sekarang lebih suka naik mobil, kenapa dia milih sepeda motor?" tanya Aji heran.
"Hemmm..."
"Awas saja kalau Aku sudah sembuh. Aku pastikan, dia tidak akan bisa pergi kemana-mana tanpa diriku!" kata Aji, mengancam Elisa, dalam hatinya sendiri.
"Awas ya kamu, Elisa!"
__ADS_1