
Rencana tetap sebuah rencana. Terlaksana atau tidak, waktu yang memiliki peran untuk membuat keputusan.
Sang waktu sebagai penentu, apa yang akan terjadi pada hari ini dan esok hari.
Sama halnya seperti Aji, menyadari bahwa dia yang sekarang ini banyak sekali kegiatan yang dilakukan, membuatnya sendiri merasa jika, dia tidak memiliki banyak waktu untuk keluarga kecilnya. Dia juga tidak bisa beristirahat dengan cukup baik dan tenang seperti dulu lagi.
Tapi Aji juga sadar, karena kewajibannya sebagai pengganti papa Gilang di tengah keluarga, menuntutnya untuk bisa berperan ganda sebagai seorang ayah bagi adik-adik, dan sebagai seorang suami dan ayah juga untuk keluarga kecilnya.
Aji menyadari betul perubahan kehidupan sehari-hari saat ini. Dan itu tidak mungkin dia abaikan begitu saja.
"Sayang. Nanti Kakak pulangnya agak malam. Ada pertemuan dengan investor asing di daerah Bekasi." Aji berkata, memberitahu istrinya, Elisa, pagi ini.
"Eh, kenapa Kakak tidak bilang dari kemarin-kemarin? Kan ada acara di rumah Jeny, untuk selamatan anaknya Kak," kata Elisa mengingatkan.
"Oh iya, kenapa Aku bisa lupa! Tapi ini tidak mungkin di cancel Sayang. Kakak tidak mungkin memintanya untuk ketemuan besok lagi. Kakak minta maaf ya, tidak bisa ikut datang dan menemani kalian ke rumah Jeny. Titip salam buat Jeny dan dokter Dimas saja ya," ucap Aji, memberitahu bahwa dia tidak mungkin membatalkan pertemuannya kali ini.
Aji jadi merasa bersalah, karena tidak bisa ikut serta dalam acara keluarga adiknya itu.
"Ya sudah, nanti El kasih tahu Jeny. Tapi Kakak juga memberikan kabar padanya sendiri ya, biar dia tidak merasa terabaikan oleh Kakaknya sendiri."
Aji mengangguk mengiyakan perkataan Elisa. Dia merasa jika itu benar adanya. Dia tidak mungkin bisa mengabaikan keluarganya sendiri begitu saja, meskipun Jeny, adiknya itu, sudah memiliki sebuah keluarga sendiri dan tinggal di rumahnya sendiri juga.
Akhirnya, Aji berangkat ke kantor, setelah sarapan dan berpamitan pada Ka Singh dan juga istrinya sendiri.
Mama Cilla dan Vero, sudah ada di rumah Jeny sejak kemarin, jadi mereka tidak ada di rumah.
Setelah Aji berangkat ke kantor, Elisa bersiap-siap untuk berangkat ke rumah Jeny. Dia sudah meminta pada supir untuk mempersiapkan mobil yang akan dibawa.
Dia juga meminta pada baby sitter Ka Singh, untuk menyiapkan keperluan Ka Singh selama ada di rumah Jeny nanti.
Setelah semua selesai, Elisa berangkat ke rumah Jeny, bersama dengan Ka Singh dan baby sitter nya, dengan di antar oleh supir.
"Mama, mama, mama," Ka Singh memanggil-manggil Elisa.
Elisa memperhatikan Ka Singh yang melihat ke arah luar jendela mobil. Ternyata dia begitu bersemangat melihat lalu lalang kendaraan yang melintas dan berlawanan arah dengan mobil mereka ini.
Ka Singh, juga begitu antusias melihat gedung-gedung yang menjulang tinggi di sisi jalan. Dia tertawa-tawa senang melihat semua itu.
"Mbak, tadi bubur untuk Ka Singh sudah di bawa juga kan?" tanya Elisa, saat ingat makanan untuk anaknya itu.
"Sudah Bu. Tapi yang pagi tadi untuk sarapan, dia tidak mau menghabiskannya. Mungkin dia sudah kenyang atau karena dia tahu, akan segera pergi ke rumah saudaranya," jawab baby sitter Ka Singh sambil tersenyum, dan mengelus pipi Ka Singh yang ada di pangkuan mamanya sendiri, yaitu Elisa.
"Oh ya? wah Kamu sudah tidak sabar ya mau lihat adik-adik Kamu dan juga tante Jeny?" tanya Elisa, mengajak anaknya itu berbicara.
__ADS_1
Ka Singh tertawa-tawa senang, seakan-akan mengerti apa yang dikatakan oleh mamanya. Dia juga menarik-narik lengan baju Elisa.
Elisa jadi gemas dengan tingkah anaknya itu. Dia menciumi pipi Ka Singh dengan penuh kasih sayang. Dia juga mengajak anaknya itu berbicara, tentang apa saja yang mereka lihat selama perjalanan ke rumah Jeny.
Setelah hampir empat puluh lima menit perjalanan, mereka sampai juga di rumahnya Jeny.
Rumah Jeny sudah tampak ramai dengan kedatangan beberapa orang dari pihak keluarga dokter Dimas. Ada juga tetangga-tetangga yang ikut datang memenuhi undangan mereka.
Elisa pun segera ikut serta dalam kegiatan kesibukan yang ada di rumah Jeny, bergabung dengan yang lainnya juga. Dia juga menyampaikan 'salam' yang dipesankan Aji, untuk adiknya, Jeny.
"Iya El, tidak apa-apa. Aku malah kadang merasa kasihan dengan semua tangung jawab kakak yang sekarang. Dia jadi tidak banyak waktu untuk kita."
Jeny, memaklumi kondisi kakaknya, Aji, yang sekarang ini lebih sibuk dengan pekerjaannya dari pada dulu, sewaktu papa mereka masih ada.
"El, Kamu tidak usah ikut sibuk, sudah ada yang urus kok," kata mama Cilla mengingatkan Elisa.
"Hehehe... ini gak sibuk kok Ma. Elisa cuma ikut incip-incip makanan saja," jawab elisa dengan nyengir kuda nya.
"Hahaha... kebiasaan Elisa tetap sama ya, gak ada yang berubah," sahut Jeny, yang sedang lewat mau ke arah dapur.
"Eh, ini itu hobi yang menyenangkan tahu!" kata Elisa memberikan alasan dengan pernyataan Jeny.
Dan akhirnya mereka saling sahut-sahutan membicarakan tentang banyak hal, yang dulu menjadi kebiasaan mereka bersama, hingga sebuah nama, yang lama tidak mereka bicarakan ikut terbawa juga, yaitu teman dan juga sahabat mereka berdua, Rio.
"Oh ya? wah, kita menunggu undangan dari dia dong!" sahut Elisa dengan wajah berbinar-binar senang. Dia ingin melihat kebahagiaan yang dirasakan oleh sahabatnya itu.
"Itu kalau dia mau mengudang kita El," kata Jeny tidak terlalu berharap.
"Kenapa?" tanya Elisa dengan cepat. Dia tidak pernah berpikir jika Rio akan berubah pikiran, dengan menganggap mereka sebagai seorang sahabat.
"Ya Aku tidak tahu El. Kita lihat saja nanti."
Jeny tidak menjawab pertanyaan Elisa yang meminta penjelasan. Dia hanya menjawab jika tidak tahu dan meminta Elisa menunggu waktunya saja.
"Aku tidak sabar ingin segera bertemu dengannya," kata Elisa, mengatakan apa yang dia rasakan saat ini.
Mereka, Elisa dan Rio, memang sudah lama tidak bertemu. Sejak Elisa menikah dengan Aji, itulah pertemuan mereka berdua yang terakhir kali, karena setelah itu, mereka tidak pernah lagi berjumpa, baik secara langsung maupun hanya sebatas di dunia 'maya' sebagai bentuk komunikasi yang saat ini sedang menjadi trend bagi semua orang.
Acara di rumah Jeny pun berlangsung hingga sore hari. Waktu Elis pamit untuk pulang, Vero juga ikut pulang ke rumah. Dia beralasan jika besok pagi, harus berangkat ke kampus. Sedangkan di rumah kakaknya ini, rumahnya Jeny, dia tidak membawa buku-buku yang harus dia bawa ke kampus besoknya.
Mama Cilla, masih ada di rumah Jeny. Menemani anaknya dan juga cucu-cucunya, untuk beberapa hari ke depan.
Rumah terlihat sepi, karena memang tidak ada orang lain, hanya para pembantu dan pegawai rumah yang ada.
__ADS_1
Aji juga belum pulang, dan masih beberapa jam lagi dia baru akan sampai di rumah.
Elisa meminta pada baby sitter Ka Singh, untuk membawa Ka Singh yang tertidur, langsung ke kamar. Dia sendiri masuk ke dalam kamarnya.
Vero, sedang menerima telpon dari kembarannya, yang saat ini ada di India.
..."Halo Biyan. Apa kabar Kamu di India?"...
..."Biasa. Tapi ada banyak sekali kegiatan yang harus Aku lakukan sekarang ini."...
..."Pantas saja tidak pernah memberi kabar."...
..."Bukan begitu Ver. Aku di sini bukan siapa-siapa. Aku juga terbatas memiliki waktu untuk memegang handphone. Semua ada jadwalnya, jadi benar-benar disiplin untuk semua yang dilakukan di sini."...
..."Wah, kayak ada di angkatan wajib militer ya?"...
..."Iya. Di sini di didik seperti itu. Kan ini memang pendidikan militer karena pekerjaannya nanti, juga sama, hanya saja ini bukan untuk sebuah negara tapi sebagai pengawal pribadi atau bodyguard orang-orang penting yang menginginkan keselamatan dirinya terjaga dengan baik."...
Biyan menceritakan kepada Vero, tentang banyak hal yang dia pelajari di sana.
Bagaimana dia harus mulai dibiasakan untuk bangun dini hari dan melakukan pemanasan agar tubuhnya bisa bugar sepanjang hari.
Makanan yang teratur, dari mulai porsi, dan juga waktunya. Mereka tidak diberikan kebebasan untuk makan pada waktu yang tidak pada jam nya. Dan itu adalah bentuk kedisplinan dan juga kebiasaan yang harus dia ikuti sekarang ini.
..."Kamu bisa?"...
Vero bertanya kepada Biyan, karena tidak yakin jika kembarannya itu bisa membiasakan diri untuk ikut dalam semua aturan yang ada di pendidikannya itu.
..."Awalnya tidak bisa. Tapi karena setiap ada kesalahan yang Aku lakukan pasti mendapat hukuman dan itu tidak ringan, Aku jadi berusaha untuk bisa mematuhi peraturan juga kan!"...
..."Hahaha... bisa-bisa Kamu bonyok tiap hari, kalau tidak ikut peraturan ya?"...
..."Ya begitulah kira-kira."...
..."Wah-wah, selamat kalau begitu. Kamu pasti bisa menjadi seorang yang sukses dengan pendidikan itu. Siapa tahu, nanti Kamu jadi bodyguard seorang gadis, anaknya presiden atau pejabat negara yang cantik di sana atau negara mana gitu yang menyewa Kamu."...
..."Hahaha... Kamu mau juga?"...
..."Tidak-tidak. Membayangkan saja Aku tidak akan sanggup!"...
Akhirnya mereka berdua saling menceritakan tentang kehidupan sehari-hari mereka berdua saat ini.
Biyan dengan pendidikan semi militer yang ada di India sana, dan Vero dengan segala kegiatannya di kampus dan juga gebetannya yang baru.
__ADS_1
Mereka sama-sama menikmati kegiatannya yang sekarang ini, meskipun berbeda keadaan dan di tempat yang berbeda juga.