Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Panti Asuhan


__ADS_3

Tiba di rumah panti asuhan, waktu sudah menjelang sore. Para penghuni rumah panti yang tidak diberitahu sebelumnya, karena ini bukan kunjungan rutin, masih dalam keadaan sibuk sendiri-sendiri. Pemegang tangung jawab panti justru sedang menyapu halaman bersama dengan anak-anak asuhnya.


Saat dia mobil berhenti, dan turunlah mami Rossa bersama dengan yang lainnya, Ibu-ibu yang sedang menyapu dan memberikan pengarahan pada anak-anak segera menyapa dengan wajah berbinar.


"Ya Allah... Mami Rossa!"


Teriak ibu panti kaget dengan kedatangan mami Rossa dan rombongannya. Sapu yang sedang dia pegang, segera dia berikan pada anak yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.


"Assalamualaikum..."


Mami Rossa mengucapkan salam pada ibu panti dan anak-anak yang lain.


"Waallaikumsalam..." jawab mereka semua dengan serempak.


"Kok tidak memberikan kabar?" tanya ibu panti asuhan dengan wajah gugup. Dia merasa tidak layak menyambut mami Rossa dengan keadaan seperti sekarang ini.


"Dadakan juga ini Bu," jawab mami Rossa berbasa-basi.


"Ayo diturunkan Pak!"


Mami Rossa meminta pada kedua supirnya untuk menurunkan barang-barang yang ada di dalam mobil satunya lagi.


Kedua supir tersebut menganguk patuh. Begitu juga dengan bibi pembantu. Dia membantu pak supir untuk merapikan barang-barang yang diturunkan.


"Ayok semuanya, bisa bantu ya!" Ibu panti memberikan instruksi pada anak-anak asuhnya.


Dengan senang hati, mereka semua membantu untuk membawa barang-barang bawaan yang di bawakan untuk mereka-mereka juga nantinya.


Ada yang membawanya ke dalam, ada yang merapikan dan menatanya agar tidak tumpang tindih dengan yang lainnya. Mereka semua melakukan dengan penuh semangat dan hati yang riang.


Aji melihat tingkah anak-anak yang begitu banyak dengan mata memincing. Dia asyik memperhatikan semuanya. Ada yang seumuran dengannya, ada yang lebih besar tapi ada juga yang masih kecil dari Aji sendiri. Tapi mereka seakan-akan bisa menikmati perannya tanpa banyak mengeluh.


Aji menikmati pemandangan yang tidak biasa dia lihat ini dengan intens. Dia seperti mendapatkan sebuah pelajaran baru dari apa yang dia lihat sekarang ini.


"Aji. Aji Sayang..." Cilla memanggil nama anaknya itu dengan pelan saat melihat Aji yang masih intens memperhatikan anak-anak panti.


"Iya Ma," jawab Aji pendek.


"Sedang lihat apa," tanya Cilla ingin tahu.

__ADS_1


"Itu!" Aji menjawab pertanyaan mamanya, dengan menunjuk kepada anak-anak yang sedang sibuk membantu pak supir dsn juga bibi pembantu rumah tangga mami Rossa.


"Aji mau ikut bantu?" tanya mamanya, Cilla.


"Boleh?" tanya Aji antusias. Dia ingin tahu bagaimana rasanya ikut bergabung dengan mereka.


"Tapi..."


Aji tidak melanjutkan kata-katanya dan mengeleng dengan cepat saat melihat ada anak yang jatuh dengan barang bawaannya.


"Eh, hati-hati!"


"Awas, hati-hati."


"Hati-hati dong!"


"Hahaha..."


"Syukurin. Tidak hati-hati sih!"


"Rasain deh!"


"Hehehe... Gak apa-apa kok," katanya dengan wajah ceria.


Aji mengerutkan keningnya. Dia merasa heran dan juga bingung dengan tingkah mereka semua. Dia terus memperhatikan semua yang terjadi selanjutnya.


Acara basa-basi mami Rossa dan pemilik panti asuhan masih berlangsung. Mami Rossa juga mengatakan jika semua ini adalah ungkapan rasa syukur atas kesehatan anak dan cucunya serta keselamatan mereka semuanya.


"Semoga apa yang kami bawa bermanfaat untuk anak-anak dan juga keperluan panti."


"Kami semuanya juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada Mami Rossa dan keluarga. Semoga tetap diberikan kesehatan, keselamatan dan rejeki yang berlimpah juga. Pokoknya semuanya berkah!"


"Aamiin..."


"Aamiin."


"Aamiin ya Allah."


Semuanya orang mengaminkan doa dan harapan yang diucapkan oleh ibu panti asuhan. Termasuk Aji dan juga Cilla.

__ADS_1


Setelah beberapa saat kemudian, mami Rossa berpamitan dan bersalaman dengan ibu panti beserta anak-anak panti juga. Gilang, Aji dan juga Cilla melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh mami Rossa. Mereka semua berpamitan dan kembali ke dalam mobil untuk segera pulang.


*****


Diperjalanan pulang dari rumah panti asuhan.


"Aji lihat anak yang jatuh tadi tidak menangis. Padahal, teman-temannya ada yang mentertawakan dan juga meledeknya. Apa itu tidak sakit ya Ma?"


Pertanyaan dari Aji ditanggapi oleh Cilla dengan wajah penuh kasih sayang. Dia baru mau menjawab tapi Aji kembali bertanya lagi. "Apa tidak sakit hati anak yang diledek itu? Kenapa temannya malah meledeknya dan tidak menolongnya?"


Cilla mengelus rambut Aji beberapa kali sebelum menjawabnya.


"Anak itu tidak merasa sakit saat jatuh, atau sakit hati saat diledek teman-temannya, karena dia berpikir jika itu semua tidak seperti yang Aji lihat. Itu bentuk perhatian dari temannya tapi dengan cara yang lain. Dari kejadian jatuh, kita bisa belajar jika tidak semua jalan yang kita lalui itu lurus dan mulus. Terus ledekan itu adalah ujian kita agar lebih sabar dalam menghadapi situasi yang terjadi. Jangan terlalu perduli dengan segala sesuatu yang tidak berguna dan menghambat apa yang sedang kita kerjakan."


Gilang dan mami Rossa terkagum-kagum mendengar semua jawaban yang diberikan oleh Cilla atas pertanyaan dari anaknya, Aji.


"Begitu ya Ma?" tanya Aji ingin tahu.


"Ya seperti itulah yang ada diluar kita. Banyak sekali hal yang terjadi ada disekitar kita Aji." Cilla kembali mejelaskan pada anaknya.


Gilang menganguk mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Cilla untuk Aji. Begitu juga dengan mami Rossa yang semakin kagum dengan anak almarhum sahabatnya itu.


"Aji juga harus begitu ya! Selalu semangat dan penuh keyakinan saat ada impian dan keinginan yang ingin di capai," kata Cilla mengingatkan anaknya itu.


"Iya Ma," jawab Aji pendek.


Kini dia tersenyum karena mendapatkan pelajaran dari anak-anak panti yang baru saja dia temui tadi.


"Oh ya Cilla. Besok kita mulai melakukan pendaftaran ke psikiater. Nanti Mami carikan rekomendasi psikolog yang bagus."


Mami Rossa memberitahu rencana pada Cilla. Gilang yang mendengar dari kursi depan, melirik ke belakang dengan melihat ke arah spion yang ada diatasnya.


"Buat apa Mi ke psikiater?" tanya Gilang ingin tahu. Dia memang tidak tahu jika mami Rossa melakukan semua rencana ini untuk Cilla. Padahal sebenarnya nantinya juga untuk dia, Gilang, juga.


"Buat penyembuhan trauma Cilla. Apa kamu tidak ingin Cilla menerima lamaran kamu itu?"


Gilang menoleh ke belakang dengan wajah penuh tanda tanya. Dia semakin bingung dengan jawaban maminya itu.


"Sudah-sudah. Gak perlu bingung gitu. Pokoknya, kamu tunggu saja waktunya yang pas nanti."

__ADS_1


Mami Rossa menjawab semua pertanyaan Gilang, meskipun sebenarnya Gilang tidak bertanya sama sekali kepadanya.


__ADS_2