Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Surat Pengantar Pengeledahan


__ADS_3

Matahari sudah semakin tinggi. Elisa juga sudah berada di dalam rumah, setelah berjemur sebentar pagi tadi bersama dengan Ka Singh, anaknya.


"Lho Ver, kok belum berangkat sekolah? Kakak pikir sudah dari pagi bareng Biyan juga," tanya Elisa, saat melihat adiknya, Vero, yang baru saja turun dari anak tangga, karena kamarnya yang ada di lantai atas.


"Gak Kak. Kan ujian sudah selesai. Vero tidak ada tugas juga yang harus dikumpulkan. Mungkin Biyan masih ada tugas kali, makanya tetap berangkat pagi-pagi." Vero menjawab pertanyaan dari Elisa, sekaligus menjelaskannya.


"Wah, ujian sudah selesai ya? Terus Kamu jadi gak daftar ke universitas yang ada di Jepang?" tanya Elisa memastikan.


"Sudah Kak, dari kemarin-kemarin, sebelum ujian juga. Kan ada beberapa test yang harus Vero ikuti juga."


"Wah, semangat ya. Bisa lihat sakura di negara asalnya nanti," kata Elisa dengan wajah berseri-seri. Dia membayangkan bisa pergi ke Jepang juga, tapi tidak untuk urusan kuliah ataupun belajar, cuma ingin jalan-jalan.


Vero, yang tahu jika kakak iparnya itu sedang membayangkan bagaimana keadaan Jepang, jadi ingin usil. Tapi, saat melihat keponakannya, Ka Singh, dia tidak jadi melakukannya.


Dia takut jika keusilannya itu akan membuat Elisa kaget, sehingga Ka Singh ikut kaget dan akhirnya terbangun dan malah menangis nanti.


Setelah keduanya terdiam, Vero memberanikan diri untuk bicara terlebih dahulu. "Kak El, boleh Vero ngomong sesuatu?" tanya Vero, yang meminta ijin untuk berbicara pada Elisa.


Akhirnya, dia pun ikut duduk di sebelah Elisa, terpisah dengan meja kecil yang ada di sudut sofa.


"Mau ngomong apa? Bukannya dari tadi sudah ngomong ya, hehehe..." Elisa terkekeh geli, mendengar perkataan Vero yang dia rasa sedang bercanda.


"Emhhh, ini... ini beda Kak El. Ini... ini ad_da hubungannya dengan... dengan hati."


Vero berhenti bicara. Dia tidak lagi melanjutkan kata-katanya. Dan ini membuat Elisa jadi penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh adik iparnya itu.


"Eh, kok malah diam sih Ver. Memangnya apa? coba bilang. Kalau Kakak bisa bantu, pasti dibantuin kok. Apa Kamu kekurangan uang saku? emhhh maksud Kakak, jika Kamu ada acara dan uangnya kurang gitu deh," tanya Elisa, mencoba mencari tahu apa yang ingin disampaikan oleh Vero.


"Bukan Kak," jawab Vero cepat.


"Atau Kamu mau nembak cewek ya. Wah, sudah telat dong! kan sebentar lagi kalian lulus sekolah," kata Elisa, sesuai dengan apa yang dia pikirkan.


"Bukan," sahut Vero lagi, sambil menggeleng beberapa kali.


"Lalu?" tanya Elisa, dengan memiringkan kepalanya, melihat ke arah Vero yang sekarang jadi menunduk.


"Mungkin ini lucu dan Kakak tidak akan percaya dengan apa yang Aku katakan. Tapi... ini, ahhh! Susah mau ngomongin!"


Vero berkata dengan kesal. Entah apa yang ingin dia sampaikan, sehingga sulit untuk diucapkan.

__ADS_1


Elisa tidak lagi memaksa. Dia pikir, jika nanti Vero bisa mengatakannya, dia juga akan bicara sendiri. Dia merasa kangen dengan tingkah Vero yang terkesan usil tapi apa adanya, sehingga Elisa sering terhibur dengan tingkahnya yang gak jelas.


"Vero, Kamu belum berangkat juga?" tanya mama Cilla, yang tiba-tiba datang dari arah belakang.


"Be... belum Ma. Masih pagi ini. Kan Vero juga sudah tidak ada kegiatan di sekolah. Palingan cuma ngumpul-ngumpul di kantin sama teman-teman saja." Vero menjawab pertanyaan mamanya, yang datang tiba-tiba, sehingga membuatnya sedikit panik.


"Ka Singh tidur El?" tanya mama Cilla, mengalihkan perhatiannya pada Ka Singh. Cucunya yang sedang tertidur.


"Iya Ma. Tidur terus dia. Kalau malam saja, suka bangun dan tidak mau tidur-tidur lagi." Elisa mengadu pada mama Cilla, tentang kebiasaan anaknya, Ka Singh, yang masih berumur hitungan bulan.


"Hehehe, namanya juga bayi. Biasa itu El, anaknya Jeny juga begitu dulu," ucap mama Cilla, mengatakan jika kebiasaan Ka Singh itu wajar-wajar saja.


"Oh ya El. Jeny gak kesini?" tanya mama Cilla, yang tidak melihat kedatangan anak perempuannya, Jeny, yang biasanya datang pagi-pagi, karena sekalian jalan di saat suaminya berangkat ke rumah sakit.


"Kemarin dia bilang ada kelas senam hamil Ma. Mungkin hari ini dia tidak datang, langsung ke sanggar," jawab Elisa, sambil mengingat perkataan Jeny kemarin, sesaat sebelum pulang, karena sudah di jemput oleh suaminya, dokter Dimas.


"Oh begitu ya." Mama Cilla mengangguk paham.


"Ver, buruan berangkat. Mau naik motor apa di antar supir? Atau mau sekalian bareng Mama?" tanya mama Cilla pada anaknya, Vero. Dia memberikan beberapa pilihan, untuk anaknya itu berangkat ke sekolah.


"Bentar lagi Ma. Vero mau naik motor saja. Nanti mau ada acara sama teman-teman, terus Vero mau mampir ke tempat bimbel juga," jawab Vero, menjelaskan kegiatannya untuk hari ini.


"Huh, mama kok gak pergi sih!" gerutu Vero dalam hati. Dia ingin melanjutkan perbincangannya dengan Elisa, yang tadi terpotong dengan kehadiran mamanya.


Vero jadi serba salah dan terlihat tidak tenang. Ini diperhatikan oleh mama Cilla dari sudut matanya.


"Vero kenapa tidak pergi juga? Kalau begini, Aku tidak bisa pergi ke kamar dan bersiap-siap," kata mama Cilla dalam hati.


"Ma. Elisa ke kamar dulu. Mau nidurin Ka Singh," kata Elisa berpamitan. "Yuk Ver, Kakak ke kamar dulu ya. Hati-hati kalau berangkat ke sekolah," kata Elisa lagi , berpamitan pada Vero juga.


"Ya Kak," jawab Vero cepat.


Mama Cilla hanya mengangguk saja, kemudian melihat ke arah anaknya, Vero.


"Tadi mau bicara apa Kamu dengan Elisa? awas ya, jangan keterlaluan dan bikin masalah. Dia itu kakak ipar Kamu, istrinya kakak Kamu sendiri, Aji."


Mama Cilla, mengingatkan kembali pada Vero, agar bisa mengendalikan diri dan perasannya.


"Gak ada Ma. Vero cuma mau bilang jika Vero ada di Jepang nanti, jangan rindu. Gitu saja kok, hehehe...". Vero justru memberi jawaban yang tidak sesuai. Dia malah bercanda dengan mamanya.

__ADS_1


Tentu saja mama Cilla tidak percaya begitu saja dengan jawaban dari Vero. Dia merasa ada sesuatu yang tadi ingin disampaikan oleh Vero pada Elisa. Dia hanya berjaga-jaga, supaya anaknya itu tidak membuat masalah lagi. Apalagi sekarang ini, Vero sudah tidak lagi melakukan konsultasi pada spikiater.


"Tenang Ma. Vero tidak senekad Biyan kok. Vero masih bisa berpikir, meskipun kadang-kadang ilang juga nih otak, hahaha..."


Mama Cilla hanya bisa menggeleng, mendengar perkataan anaknya itu. Dia tidak tahu, apa yang bisa dia lakukan, agar anaknya itu bisa mengalihkan dan mengendalikan perasannya pada Elisa.


"Masalah hati memang sulit di pahami, diterka dan dikalkulasi. Bahkan, Aku juga pernah mengalami hal tersebut. Semoga saja, Biyan dan Vero bisa menemukan tambatan hati agar bisa melepaskan perasaannya pada Elisa." Mama Cilla berdoa dalam hati, untuk perubahan sikap kedua anak kembarnya, Biyan dan Vero.


"Nyah, Nyah. Di depan ada polisi yang mencari tuan besar?"


Bibi pembantu baru, yang belum lama bekerja di rumah ini, datang tergopoh-gopoh memberitahu mama Cilla, jika ada polis yang datang dan menunggu di depan gerbang. Security sedang berbincang dengan polisi tersebut.


"Polisi?" tanya mama Cilla kaget. Begitu juga dengan Vero.


"Kenapa ada polisi datang ke rumah kita Ma?" tanya Vero bingung.


"Tidak tahu. Mama mau keluar dulu, mau bertanya, ada keperluan apa polisi itu datang ke rumah," jawab mama Cilla, seraya berdiri dari tempat duduknya dan melangkah keluar rumah, menuju ke tempat polisi yang sedang berbicara dengan security di pos penjagaan.


Vero mengikuti langkah mama Cilla. Dia juga ingin tahu, ada apa polisi datang ke rumahnya. Ini hal yang tidak pernah terjadi, jadi dia merasa penasaran.


"Eh itu Nyonya," kata security memberitahu, begitu dia melihat kedatangan mama Cilla.


"Selamat pagi Ibu Cilla. Kami dari pihak kepolisian ingin mengeledah rumah Ibu. Ini surat pengantarnya."


Salah satu polisi yang datang, menunjukkan sebuah surat pengantar dari pihak yang berwajib, untuk mengeledah rumah papa Gilang Aji Saka.


Mama Cilla menerima surat tersebut, kemudian membacanya.


Vero juga sama. Dia ikut membaca surat tersebut daei arah samping mama Cilla. Dia ingin tahu, kenapa rumahnya ini, mau digeledah pihak yang berwajib.


Dari keterangan yang tertulis di surat pengantar tersebut, disebutkan bahwa, ada kecurigaan terhadap salah satu penghuni rumah, yang menjadi pengedar obat-obatan terlarang.


Mama Cilla jadi berpikir, jika ini ada kaitannya dengan kasus Biyan yang dulu. Waktu dia ditahan, karena sudah menganiaya salah satu pengunjung club malam.


"Apa ini benar?" tanya mama Cilla pada dirinya sendiri. Dia tidak bisa menemukan jawabannya, karena dia sendiri tidak tahu, apakah benar atau tidak, kecurigaan polisi terhadap Biyan.


Begitu juga dengan Vero. Dia tidak menyangka, jika kembarannya, Biyan, bisa sejuah itu dalam pergaulannya. "Apa yang kurang dari pemberian papa? tidak mungkin Biyan melakukan semua ini hanya karena uang. Lalu kenapa dia nekad melakukan semua ini?"


Berbagai macam pertanyaan ada di dalam benaknya Vero. Dia juga tidak mungkin ikut campur dalam urusan kepolisian, jika menyangkut hal yang satu ini. Hal yang selalu diwanti-wanti oleh mama dan papanya, supaya menjauhi segala macam jenis obat-obatan terlarang.

__ADS_1


__ADS_2