
Suasana kampus sedikit lebih ramai pagi hari ini, dibanding dengan waktu lain. Mungkin ini juga dikarenakan, adanya berita tentang tamu kampus yang akan datang pagi ini.
Dari beberapa sumber akurat, yang biasa datang dari tim gosip kampus, tamu itu adalah orang India. Dia seorang pemuda yang gagah, dengan wajah yang lebih tampan dibandingkan dengan aktor India Ameer Khan.
Itulah sebabnya, banyak mahasiswi yang penasaran dan ingin membuktikan kebenaran tentang berita tersebut. Termasuk Elisa, temannya Jeny.
"Jen. Kamu gak penasaran?" tanya Elisa, dengan antusias.
"Enggak," jawab Jeny datar.
"Huh. itu muka, bisa gak lebih berwarna?" tanya Elisa, sedikit kesal.
Elisa tentu kesal, jika Jeny sudah bersikap seperti itu. Jeny, tidak akan menggubrisnya, apapun yang dia katakan saat ini.
"Jen. Dia lebih tampan dari pada artis India!" kaya Elisa lagi, berpromosi.
"Kamu menagernya?" tanya Jeny, melenceng dari topik pembicaraan.
"Maksudnya?" tanya Elisa tidak paham.
"Kenapa promosi?" tanya Jeny lagi, masih dengan wajah dan nada bicara yang tetap datar.
"Hadehhh neng... susah ya!" kata Elisa, dengan kesalnya.
Jeny tetap cuek. Dia tampak mengangkat kedua bahunya acuh. Jeny juga tetap melangkah menuju ke gedung perpustakaan kampus.
"El, Elisa!"
Elisa menoleh cepat, ke arah suara yang terdengar memanggil namanya.
"Hai," sapa Elisa saat melihat Rio, teman seangkatan dengannya, namun beda jurusan.
"Kamu mau kemana?" tanya Rio ingin tahu.
"Tuh!"
Elisa menunjuk ke arah Jeny, dengan dagunya. Jeny yang ikut berhenti, hanya diam saja tanpa berkata apa-apa.
"Hai Jen," sapa Rio pada Jeny.
"Ya," jawab Jeny acuh.
"Aku lanjut ya. Kalian silahkan lanjutkan saja ngobrolnya," kata Jeny pamit. Dia kembali melanjutkan langkahnya, tanpa menunggu jawaban dari Elisa, ataupun Rio.
"Dia semakin dingin saja. Kenapa sih dia?" tanya Rio pada Elisa, tentang Jeny.
"Memang dia begitu kan?"
__ADS_1
"Tapi sekarang tampak lebih dingin. Jadi penasaran Aku," kata Rio dengan tersenyum tipis.
"Halah... bilang saja menang Kamu naksir dari dulu!" sergah Elisa cepat.
"Hahaha... kelihatan ya?" tanya Rio, dengan malu.
"Gak sih. Tapi tampak jelas!" jawab Elisa mencibir jawaban dari Rio.
"Eh, eh. Jangan cemburu neng. Aku memang tipenya nyari yang misterius begitu. Macam si Jeny, lebih menantang..." kata Rio menjelaskan.
"Lah... Kamu pikir ini game? Aneh," kata Elisa, dengan cepat.
"Hehehe..." Rio terkekeh mendengar perkataan Elisa.
"Usah ah. Aku cabut dulu. Mau nyusul Jeny," kata Elisa berpamitan.
"Lho, gak ikut di barisan depan nyambut tamu kampus?" tanya Rio dengan suara keras, sebab, Elisa sudah berjalan menuju ke arah gedung kampus, menyusul Jeny.
"Entar saja!"
"Sudah pada di depan lho, yang lainnya. Katanya tidak lama lagi, dia datang. Sekarang sedang dalam perjalanan," kata Rio lagi. Dia membuntuti Elisa dengan langkah cepat.
"Huh... rayu Jeny dulu, biar dia mau ikut. Yuk ikut!" ajak Elisa pada Rio.
Akhirnya, Rio pun mengikuti langkah Elisa ke Gedung perpustakaan kampus.
*****
"Norak deh jadinya," komentar Jeny dengan nada kesal.
"Yah... Jen. Demi Aku deh... ikut ya, please..."
Di dalam ruang perpustakaan, Elisa masih berusaha untuk meluluhkan hati Jeny. Dia meminta agar, Jeny mau ikut bersama dirinya, melihat pesona tamu yang digadang-gadang, sebagai tamu yang tampangnya melebihi aktor terkenal India.
"Serah deh," jawab Jeny datar.
"Rio, bantu napa!" kata Elisa, meminta bantuan pada Rio.
"Aku bisa bantu apa, kalau Jeny nya gak mau?"
Rio justru pasrah saja dan tidak mau membantu Elisa untuk merayu Jeny. Tentu saja, Elisa yang sudah mengerucutkan bibirnya, menjadi semakin cemberut dengan wajah masam.
"Ya deh ikut. Aku tuh gak bisa, jika lihat bibir Kamu yang mirip bebek kalau ngambek! Bikin bete tahu gak!"
Akhirnya, Jeny mengalah dan mengikuti permintaan Elisa.
"Yeah... Jeny imut, terima kasih. Kan Aku bisa mati berdiri dengan penasaran jika sampai tidak ikutan lihat itu tampang tamunya," kata Elisa dengan mata berbinar seketika.
__ADS_1
Sekarang, Elisa tahu, apa yang harus dia lakukan jika ingin meluluhkan hatinya Jeny, yang keras kepala itu.
Rio, yang tidak tahu apa yang sedang terjadi, mengaruk-garuk keningnya bingung. Dia pikir kedua temannya itu aneh. Yang satu urakan dan ramai, sedangkan satunya lagi dingin serta cuek saja tanpa peduli sekitarnya. Tapi, satu yang Rio bisa ambil sebagai kesimpulan tentang Jeny adalah, Jeny tetap manis, dalam keadaan apapun itu.
*****
"Kita sudah sampai Mr," kata asisten Mr Vijay, memberitahu.
Mr Vijay mengalihkan perhatian matanya, dari layar notebook yang ada dipangkuannya. Dia menoleh ke arah samping.
"Ini di kampus?" tanya Mr Vijay dengan memperhatikan sekitarnya.
"Iya Mr. Itu Mr Dekan dan Rektor sudah menyambut kedatangan Mr."
Mr Vijay keluar dari dalam mobil. Dia melangkah mengikuti sekretaris sekaligus asistennya itu. Dialah, yang mengurus semua keperluan Mr Vijay selama di Indonesia.
Di depan, tampak beberapa orang yang sedang berbaris menunggu kedatangannya. Mereka tampak berwibawa, khas para petinggi kampus.
"Selamat pagi Mr Vijay. Selamat datang di kampus Kami," sapa Dekan, menyambut kedatangan tamunya itu.
"Ya pagi," jawab Mr Vijay pendek.
Mereka semua, para petinggi dan dosen kampus yang ikut berdiri menyambut kedatangannya, menyalami dengan sopan, layaknya orang Indonesia yang dikenal dengan keramahannya.
Beberapa mahasiswi, tampak berbisik-bisik melihat kearahnya. Mereka adalah gengs barisan cewek-cewek, yang paling getol menyampaikan informasi dan gosip terbaru di area kampus ini. Termasuk tentang adanya tamu yang datang pagi ini, Mr Vijay.
"Tuh. Ganteng kan?" tanya Elisa pada Jeny.
Sekarang ini, mereka bertiga, dengan Rio, ada di bangku panjang yang tidak jauh dari tempatnya Mr Vijay berdiri, disambut oleh para Dekan dan Rektor.
"Biasa," jawab Jeny acuh, tanpa melihat ke arah Mr Vijay.
"Kamu belum lihat Jen. Mana bisa mengatakan biasa!" protes Elisa kesal.
"Gantengan juga aku ya Jen?" seloroh Rio dengan nyengir kuda.
"Idih..." cibir Elisa dengan cepat.
Elisa begitu antusias, melihat ke arah Mr Vijay. Tapi tidak dengan Jeny. Dia masih saja sibuk dengan buku bacaan yang dia bawa dari perpustakaan tadi.
Pada suatu kesempatan, entah magnet apa dan dari mana, yang membuatnya mengalihkan pandangan dari buku yang dia pegang ke arah Mr Vijay. Jeny menjadi tertegun melihat wajah Mr Vijay.
Begitu juga dengan Mr Vijay, yang secara kebetulan, sedang menoleh dan melihat sekeliling. Pandangannya berhenti, pada sosok gadis yang sedang duduk menegang buku, dan sedang melihatnya juga. Gadis itu bersama dengan kedua temannya. Cewek dan cowok.
"Kakak," panggil Jeny tanpa sadar.
Dia terus menatap ke arah Mr Vijay, yang juga sedang melihat kearahnya sedari tadi.
__ADS_1