Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Diantara Para Mafia


__ADS_3

"Kita pulang sekarang," ajak Aji, begitu Elisa dan Rio sudah kembali.


Jeny dan Elisa, hanya bisa saling pandang tanpa mampu untuk membantah perkataan Aji, karena nada yang keluar dari suara Aji, seperti sebuah perintah bukan hanya sekedar ajakan saja. Apalagi, Aji langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke arah tempat parkir.


"Rio ikut saja yuk!" ajak Jeny pada Rio. Dia tidak enak hati, karena merasa tidak nyaman saat Rio belum puas berbincang dengan Elisa, justru kakaknya mengajak mereka untuk pulang saat ini juga.


"Maaf Jen, tidak usah. Sepertinya Kakak Kamu tidak suka kalau Aku dekat-dekat dengan Elisa. Dia cemburu tuh," jawab Rio, dengan menunjuk ke arah perginya Aji mengunakan dagunya.


"Hehehe... maaf ya Rio. Kakak masih dalam masa pemulihan. Oh ya, sampai lupa juga. Nanti ada dokter Dimas datang untuk memeriksa Kakak. Pantes dia ngajak pulang. Ya sudah, Aku pulang dulu ya. Yuk El!"


Rio hanya mengangguk sebagai jawabannya, sedangkan Elisa, sedari tadi hanya diam dan mencoba untuk mencerna semua perkataan Rio dan Jeny. Tapi ternyata, Rio ikut berjalan ke arah parkir. Dia juga mau pergi, karena ada urusan di armada bus ayahnya yang baru.


Di tempat parkir, Aji yang sedang berjalan, tiba-tiba tersandung batu yang tidak dia lihat. Karena tidak siap, tubuhnya limbung dan jatuh. Kepalanya, terbentur bemper mobi. "Aduh!" teriak Aji, kemudian tidak sadarkan diri.


"Kakak!" Jeny berteriak.


"Kak Aji," Elisa berlari mendekat.


Rio yang berjalan dibelakang mereka, hush ikut berlari, melihat apa yang sedang terjadi.


"Rio, tolong bawa Kakak ke rumah sakit. Aku akan menghubungi dokter Dimas!" terima Jeny pada Rio.


"El, buka pintunya!" Rio, meminta pada Elisa untuk membantunya membuka pintu mobil.


Rio berusaha mengangkat tubuh Aji. Dia mendudukkan Aji di bangku penumpang belakang. Jeny, segera masuk dan memegangi kakaknya. Elisa, masuk ke bangku depan, di samping Rio yang baru saja masuk ke kursi kemudi.


"Hati-hati ya Rio," kata Elisa dengan wajah cemas.


..."Om Dimas. Kakak jatuh dan tidak sadarkan diri. Ini ada di parkiran kampus. Kami segera berangkat ke rumah sakit."...


..."Oh, baiklah. Aku baru saja mau datang ke rumah nanti. Ya sudah, Aku tunggu. Aku akan menghubungi mama dan papa Kamu. Kamu yang tenang ya!"...

__ADS_1


Jeny, menutup sambungan teleponnya. Dengan wajah Cemas, Jeny meminta pada Rio untuk menuju ke rumah sakit, tempat dokter Dimas bertugas.


*****


Dalam keadaan tidak sadarkan diri, Aji seperti berada di dalam pesawat. Dia sedang dalam perjalanan ke Jerman, untuk memenuhi panggilan bea siswa berprestasi dan pertukaran pelajar, antara negara Indonesia dan Jerman.


Saat pesawat berada di lautan India, pesawat yang dia tumpangi, dibajak kelompok mafia untuk diledakkan.


"Kalian semua tidak akan ada yang selamat!" kata salah satu anggota pembajak tersebut.


Semua penumpang, sudah merasa ketakutan, termasuk juga dengan Aji. Dia tidak pernah menyangka, jika niatnya untuk mengejar mimpi dan cita-cita, akan berakhir seperti sekarang ini.


"Dalam waktu lima menit, bom ini akan aktif dan tidak akan ada yang tersisa dari kita semua." kata orang tadi, sambil membuka bajunya, menunjukkan rakitan bom yang sudah terpasang dan timer_ nya juga berjalan.


Aji melihat ke arah badan orang tersebut. Memang benar, bom itu saat ini benar-benar aktif dengan waktu yang tinggal empat menit kurang sepuluh detik.


Dengan berpikir keras, Aji ingin menyelamatkan para penumpang. Dia ingin bernegosiasi dengan para pembajak pesawat. Tapi dia juga berpikir, apakah waktunya masih ada atau tidak.


"Siapa Kamu? berani-beraninya meminta untuk bernegosiasi!" bentak orang tersebut.


"Namaku Aji. Aku mahasiswa Indonesia yang akan dikirim ke Jerman dalam rangka pertukaran pelajar."


"Hah. Ternyata dia anak yang genius. Tidak mungkin, Jerman mau menerima pelajar bodoh untuk belajar di negaranya. Hahaha...!"


"Ambil dia buat sandra. Dia bisa kita manfaatkan untuk kegiatan kelompok kita kedepannya!" perintah yang lainnya.


Sekarang, Aji diseret-seret ke depan, diberikan pada ketua mereka, yang berada di ruangan pilot.


"Ketua. Dia salah satu penumpang yang ternyata adalah anak genius. Dia akan pergi ke Jerman untuk pertukaran pelajar. Jadi pastinya dia itu hebat. Kita bisa manfaatkan dia untuk operasi selanjutnya."


Orang yang dipanggil dengan sebutan ketua meneliti penampilan Aji. Dia tersenyum miring, setelah beberapa saat kemudian.

__ADS_1


"Bagus. Beri dia parasut dan bawa ke kabin pesawat. Yang lain juga, kecuali target!"


Begitulah, ternyata kawanan mafia yang membajak pesawat terbang itu ada tujuh orang, dengan satu orang target yang telah dipasangi rakitan bom berkekuatan besar, yang mampu menghancurkan seluruh pesawat.


Tak butuh waktu lama, parasut untuk Aji sudah terpasang dengan baik di badannya. Aji, masih berusaha untuk mengehentikan kehancuran pesawat dengan berbicara pada orang yang dipanggil dengan sebutan ketua.


"Aku mau membantu kegiatan kalian, tapi hentikan bom itu. Kasihan mereka, dan juga teman kalian yang membawa bom itu," kata Aji, berusaha untuk menjelaskan pada mereka.


"Kamu pikir kami rugi? tidak! Kamu juga akan mengalami hal yang sama. Jika Kamu berusaha untuk selamat, ikut kami. Sudah tidak ada waktu lagi!"


Setelah selesai berkata demikian, ketua mendorong tubuh Aji, sehingga keluar dari pesawat, disusul enam anggota mafia lainnya.


Lima detik kemudian, pesawat meledak dan hancur tak tersisa. Ternyata ketua tadi, sudah sangat memperhitungkan segala sesuatu yang akan terjadi, begitu juga dengan waktu bom yang siap meledak.


Di atas, Aji mengambang bebas dengan wajah cemas. Dia berpikir, jika dia juga akan mati meskipun tidak di dalam pesawat terbang tersebut.


Seakan sadar saat dia melihat ke arah yang lain. Para anggota mafia tadi, sudah melepaskan parasutnya dan memberikan isyarat padanya, untuk membuka kunci pembuka. Aji paham dan mencari-cari tempat yang di tunjukkan. Tak lama, parasutnya juga lepas dan dia bisa sedikit bernafas lega.


Saat melayang-layang di udara bebas dan tidak tahu arah, Aji kepung juga oleh anggota mafia tadi. Mungkin ini adalah cara mereka agar Aji tidak kabur dan menghilang.


Tak lama, mereka semua turun di sebuah perbukitan yang sepi. Dari pengamatan aji, tempat ini sepertinya sudah dipersiapkan untuk pendaratan dan memang diatur sedemikian rupa oleh komplotan mereka.


Ada dua buah mobil terparkir dan juga orang-orang yang ada dibawah, memberikan instruksi agar pendaratan sukses.


Aji juga ikut turun di antara mereka. Salah satu dari orang yang ada di sana bertanya, "katanya cuma enam, kenapa jadi tujuh?"


"Ada satu anggota baru. Kita mendapat ikan besar, karena dia bukan orang sembarangan. Dia anak yang genius. Bisa kita manfaatkan untuk kegiatan kita selanjutnya," jawab ketua.


Ternyata, yang Aji tahu, sebagai ketua dari kelompok mereka, bukan ketua yang sebenarnya.


"Bodoh! bagaimana kalau dia tahu dan malah menghancurkan kita!" kata orang yang tadi bertanya.

__ADS_1


"Maaf Bos. Tapi dia sudah bilang kalau mau membantu kita nanti," kata ketua tadi. Ternyata, anggota mereka, selain ketua, ada bos yang berada di atas ketua.


__ADS_2