Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Cemburu


__ADS_3

Semua orang menunggu jawaban dari Cilla, atas pertanyaan Aji, anaknya itu. Apalagi Gilang, dia merasa sangat khawatir jika ternyata Cilla menolak dan tidak memaafkan dirinya. Dia belum siap untuk kehilangan mereka berdua untuk kedua kalinya.


Mami Rossa diam saja dan tidak mau mempengaruhi keputusan yang akan diambil oleh Cilla. Dia tidak ingin memaksanya. Semua ini tergantung pada hati Cilla sendiri, meskipun mami Rossa sangat berharap jika Cilla mau menerima anaknya, dan menjadi menantunya juga nanti.


Tuan Adi yang bukan siapa-siapa diantara mereka, hanya bisa menahan diri agar tidak ikut campur urusan pribadi masing-masing. Dia tidak mau dianggap sebagai salah satu orang yang akan disalahkan, jika terjadi sesuatu dikemudian hari nanti. Tapi dia juga berharap, agar Cilla bisa menerima Gilang, dan tidak lagi menjadi target orang-orang seperti dirinya, yang tentu saja sangat normal jika melihat barang bagus.


"Ak... Aku... Aku..."


Cilla tergagap dan tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


"Ma. Jangan terpengaruh oleh Aji. Anggap Aji seperti kemarin yang tidak pernah mengenal papa," kata Aji memberi kesempatan pada mamanya untuk mengatasi keraguannya.


Cilla memejamkan matanya untuk kembali berpikir. Banyak sekali yang harus dia pertimbangan dalam membuat keputusan yang tepat, untuk kehidupan dia dan anaknya kedepannya nanti.


Kadang Cilla merasa sangat nyaman saat berada di antara Gilang dengan Aji, anaknya. Dia merasabikut bahagia saat melihat binar kebahagiaan di mata anaknya, Aji. Tapi kadang kala Cilla juga merasa khawatir dan juga takut, saat berada di dekat Gilang seorang diri tanpa Aji. Lalu kehidupan seperti apa yang akan dia jalani kedepan jika dia masih tidak bisa memutuskan perasaannya sendiri.


"Bagaimana kalau kita tidak meminta Cilla untuk memutuskan perasaannya sekarang ini? Biar dia memahami dengan perlahan-lahan, seiring waktu dan pengobatan yang akan Mami buat untuknya nanti."


Akhirnya mami Rossa mengatakan pendapatnya, mengenai perasaan Cilla yang sepertinya dia pahami dengan benar.


Cilla menghela lega karena mendengar perkataan mami Rossa. Dia merasa tertolong lagi untuk tidak mengambil keputusan dengan cepat, sebab dia sendiri belum merasa yakin dengan apa yang dia rasakan saat ini.


"Baiklah. Aku tidak akan memaksa lagi."


Akhirnya Gilang menyerah dan pasrah, untuk tidak memaksa Cilla menerimanya sekarang juga. Dia merasa tidak baik untuk sebuah keputusan, seandainya Cilla masih ragu dan akan berakibat kehilangan mereka lagi nantinya.


"Baiklah. Lebih baik sekarang kita pulang dan beristirahat!"


Mami Rossa mengajak semuanya untuk pulang dan beristirahat agar tidak terlalu memikirkan hal ini lagi. Mungkin mami Rossa berpikir, jika dipaksakan, hasilnya adalah tidak baik untuk semuanya.

__ADS_1


"Aku bagaimana Tan?" tanya tuan Adi sok bingung.


"Kamu mau pulang apa ikut kami?" tanya mami Rossa bingung dengan pertanyaan tuan Adi.


"Hehehe..."


Tuan Adi justru terkekeh mendengar jawaban dari mami Rossa.


"Yang pasti, Cilla dan Aji sudah pamit ya tidak lagi mengontrak rumah milikmu. Meskipun tidak jadi ke rumah kamu, tapi kan sudah ketemu di sini juga, besok-besok juga kalau jadi menikah dengan Gilang, pasti kamu juga diundang kok!"


"Aamiin.....!!!"


"Aamiin..."


Tuan Adi dan juga Gilang mengamini perkataan mami Rossa. Tapi yang paling keras dan panjang mengamini adalah tuna Adi.


Cilla dan Aji hanya bisa mengaminkan dalam hati. Mereka berdua saling pandang dan sama-sama terdiam tanpa berkomentar apa-apa. Aji tidak mau membuat mamanya semakin pusing dan tidak bisa mengambil keputusan dengan baik untuk masa depan mereka semua.


Tuan Adi terkekeh saat berpamitan pada mami Rossa. Dia juga mengatakan pada temannya, Gilang, untuk bersabar dalam keadaan seperti sekarang ini, dengan berbisik-bisik di dekat telinganya Gilang. "Kamu yang sabar ya! Soalnya, kamu di sini yang banyak salah, dan kamu harus bisa menahan diri untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi seperti dulu."


Gilang hanya mengangguk samar menanggapi nasehat teman cacingnya itu.


"Dan untuk Cilla, Aji. Maafkan Paman ya! Paman tidak akan mengulangi lagi perbuatan yang kemarin-kemarin. Tapi jika GAS melakukan kesalahan suatu hari nanti, kalian boleh mencariku dan meminta bantuan. Aku akan senang hati membantu kalian berdua."


Cilla dan Aji hanya mengangguk mengiyakan, sedangkan Gilang melotot galak ke arah temannya itu. "Kamu mau apa?" tanya Gilang menantang.


"Yah... Secara, kamu tahu sendiri kan, bagaimana Cilla itu, Aji juga bukan anak kecil sembarangan. Aku sudah pernah buktikan sendiri kok!"


Jawaban dari tuan Adi justru membuat Gilang menjadi cemburu serta marah. "Apa maksud kamu berkata seperti itu?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa," jawab tuan Adi enteng.


"Katakan dengan jelas!" Gertak Gilang dengan cepat.


"Tanya saja pada mereka," jawab tuan Adi dengan menunjuk ke arah Cilla dan Aji.


Tapi yang ditunjuk justru diam dan tidak ada yang mengeluarkan suaranya untuk menjawab pertanyaan Gilang. Ini membuat mami Rossa sedikit bingung dengan perkataan tuan Adi dan diamnya Aji serta Cilla.


"Maksud perkataan kamu yang tadi apa Adi? Membuktikan apa?" tanya mami Rossa ikut penasaran.


"Aji itu bukan anak kecil biasa. Kecerdasan yang dia miliki di atas rata-rata. Cilla juga bukan gadis murahan yang mudah tergoda rayuan. Jadi jika Gilang menyia-nyiakan kesempatan dan membuat mereka berdua sengsara lagi,Aku siap untuk melakukan semua hal demi mereka Tante. Dan aku tidak akan melepaskan kesempatan itu."


Mami Rossa akhirnya mengerti apa yang dikatakan oleh tuan Adi. Berbeda dengan Gilang, rasa cemburunya ini membuat dia masih mengeraskan wajahnya tanda dia sedang marah. Giginya dia rapatkan dan terdengar gemelutuk karena emosi yang kuat.


"Sabar Gilang. Kamu harus bisa mencerna kata-kata dari Adi. Itu bukan seperti yang kamu pikirkan!"


Mami Rossa memperingatkan anaknya itu untuk tidak terbawa emosi dan juga cemburu buta.


Cilla memeluk Aji yang terlihat takut, saat melihat wajah Gilang yang sedang marah. Dia belum pernah melihat Gilang dalam keadaan seperti sekarang ini.


"Ya sudah. Aku pamit Tante, Aji, Cilla. Ingat pesanku tadi ya!"


Akhirnya tuan Adi berpamitan lagi pada mami Rossa, Aji dan Cilla. Tapi dia mengacuhkan Gilang dan tidak menyapanya lagi.


Mami Rossa hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Sedangkan Aji dan Cilla hanya diam tanpa merespon apa yang dipesankan oleh tuan Adi pada mereka berdua.


Gilang menghela nafas panjang beberapa kali untuk meredakan emosi dan rasa cemburunya. Dia merasa tidak nyaman saat Aji tidak lagi mau memandanginya. Dia takut Aji dan Cilla akan menjauh darinya lagi.


"Maaf. Maafkan aku Aku tidak bisa mengontrol emosi dan perasaanku ini."

__ADS_1


Gilang pun meminta maaf pada keduanya, Aji dan juga Cilla, sambil berusaha menormalkan aura wajahnya.


Mami Rossa mengeleng melihat tingkah anaknya yang tidak seperti biasanya itu. Tapi mami Rossa tersenyum bahagia dengan kejadian ini, sebab dia akhirnya benar-benar tahu, bagaimana perasaan anaknya yang selama ini terkesan dingin.


__ADS_2