
Sekarang, tinggal Aji dan Elisa di apartemen. Mama Cilla dan papa Gilang, serta kedua adik kembarnya, sudah kembali ke rumah.
Elisa sedang berbenah, merapikan pakaian dan barang-barang yang tadi mereka bawa dari rumah.
"Sayang, sini!" panggil Aji pada Elisa.
Elisa, yang belum terbiasa dengan panggilan khusus dari Aji, jadi merasa malu dan wajahnya tampak memerah.
"Sini," panggil Aji lagi, dengan menepuk sofa yang ada disampingnya. Meminta Elisa agar duduk di sebelahnya.
"Belum selesai Kak," elak Elisa, memberikan alasan.
"Nanti di lanjut lagi," kata Aji, tidak mau tahu.
Elisa, tidak berani membantah lagi. Dia beranjak dari tempatnya dan melangkah menuju tempat duduknya Aji.
"Apa?" Elisa, bertanya pada Aji, saat sudah ada depannya.
"Duduk sini," jawab Aji, masih dengan menepuk-nepuk sofa sebelah, agar Elisa duduk di samping tempat duduknya juga.
Akhirnya Elisa duduk, menurut saja apa yang diinginkan oleh suaminya itu.
"Aku ingin tidur," kata Aji, dengan merebahkan tubuhnya dan kepalanya ditaruh di pangkuan Elisa.
"Tidur di kamar saja Kak," kata Elisa memberikan saran agar Aji tidur di kamar, biar lebih nyaman.
"Aku ingin bermanja-manja dulu, Kamu tidak boleh protes," kata Aji, tidak mau dibantah.
Elisa diam dan tidak lagi mengeluarkan suara. Tapi, tangannya justru diambil Aji dan diletakan di atas kepalanya.
"Kakak..."
"Elus rambut Kakak, biar cepat tidur."
Elisa, mengerutkan keningnya bingung. Dia berpikir jika kelakuan Aji, Suaminya itu, mirip anak kecil yang sedang manja.
Dengan gerakan ragu, Elisa menyentuh rambut kepala Aji dan mulai mengelus-elus, sesuai dengan kemauan Aji.
"Sayang, Kamu bahagia dengan pernikahan kita ini kan?" tanya Aji tiba-tiba. "Jika suatu saat nanti, Aku melakukan kesalahan, tegur dan jangan hanya diam saja seperti kebiasaan Kamu selama ini ya," kata Aji, melanjutkan kata-katanya yang tadi.
Elisa diam dan tidak menyahuti perkataan suaminya itu. Dia mulai menikmati suasana yang sepi dan hanya ada mereka berdua saja, di apartemen ini.
Tangan Elisa masih mengelus-elus rambut Aji. Dia tidak sadar jika Aji sedang menatap wajahnya dari tempatnya berbaring, dipangkuan Elisa sendiri.
"Kamu mau kan berjanji pada Kakak?" tanya Aji, sambil menyentuh pipi istrinya, Elisa.
"Janji, janji apa?" tanya Elisa bingung.
"Tidak akan meninggalkan Kakak, apapun yang terjadi nanti," punya Aji soda Elisa.
__ADS_1
"Kakak bicara apa sih, gak jelas ah," sahut Elisa dengan wajah merenggut.
"Hemmm..."
Aji tidak melanjutkan kata-katanya. dia hanya menikmati wajah Elisa yang sedang kesal tapi malu juga saat tahu, jika dia perhatikan.
"Sini!"
"Apa?" tanya Elisa bingung dengan permintaan Aji yang tidak jelas sedari tadi.
"Sini," kata Aji lagi, tapi dengan kembali duduk dan menunjuk ke arah pangkuannya. Dia meminta pada Elisa, agar ganti posisi seperti yang tadi dia lakukan.
"Ah, gak usah Kak," ucap Elisa, menolak permintaan dari Aji.
"Sini!"
Aji, memaksa Elisa agar tidur dipangkuannya, sama seperti yang dia lakukan tadi.
Elisa terdiam dan tidak berani bergerak di atas pangkuan Aji. Dia merasa canggung, meskipun Aji adalah suaminya sendiri.
"Pokoknya, Kamu harus nurut apa yang Kakak bilang. Tidak boleh membantah," kata Aji, memperingatkan Elisa.
Elisa, menatap lurus ke wajah Aji, dari atas pangkuan, jadi dia melihat dada, leher dan dagu Aji dengan bebas. Ide jahil muncul di kepala Elisa.
Jari tangan Elisa, jari telunjuk, menyentuh dada Aji, seakan-akan berada di papan tulis. Dia menggerakkan jarinya itu, seperti sedang menulis. Huruf demi huruf dia tulis membentuk sebuah kata.
Dengan menahan nafas dan gejolak yang tiba-tiba ikut datang, Aji mengucapkan kata demi kata yang ditulis oleh Elisa.
Gerakan pertama, Aji mengucapakan kata, "Aku." Selanjutnya, dia mengeja kata kedua menjadi, "tidak." Dan yang ketiga Aji melotot ke arah Elisa yang menahan senyum, "Mau," akta Aji pada kaya terakhir.
"Apa maksudnya?" tanya Aji dengan menuntut, agar Elisa menjawab pertanyaannya.
"Tidak apa-apa," jawab Elisa mengeleng.
Sayangnya, gerakan kepala Elisa membuat Aji menjadi tidak bisa lagi menahan diri.
"Awas ya..."
Aji, membopong tubuh Elisa dengan cepat, sehingga Elisa terperanjat kaget. Dia hampir berteriak, namun bibir Aji segera menutup mulutnya. Tentu saja, Elisa tidak bisa berteriak lagi, apalagi, tubuhnya ada di dalam dekapan Aji, yang sedang menggendongnya.
Akhirnya, mereka berdua saling berciuman dengan penuh semangat dan cinta.
*****
"Sore Sayang," sapa Aji, saat Elisa terbangun dari tidurnya.
"Sore... ini sudah sore Kak?" tanya Elisa bingung Di dalam apartemen ini, dia tidak bisa membedakan pergantian waktu, jika trail dengan melihat jarak jam.
"Kenapa? maunya langsung malam ya?" tanya Aji dengan tersenyum jahil.
__ADS_1
"Ihsss, Kakak apa sih," jawab Elisa malu karena di goda oleh suaminya itu.
"Ayuk bangun, kita makan. Sedari siang kita belum makan sama sekali," ajak Aji, dengan menghampiri tempat tidur, dimana Elisa masih berbaring dengan malas.
"Capek banget ini Kak," akta Elisa sambil mengeliat.
"Hah! Kakak..." Elisa terperanjat ketika sadar, jika dia masih dalam keadaan yang tidak biasa, ada di bawahselimut.
"Apa?" tanya Aji pura-pura tidak tahu.
"Ih, Kakak curang!" teriak Elisa dengan mengeleng.
"Curang apa?" tanya Aji, mengangkat kedua alisnya.
"Kakak sudah mandi dan rapi. Aku..."
"Jangan memancing Sayang." Aji memperingatkan Elisa.
"Mancing apa? itu Kakak saja yang emang doyan," jawab Elisa cepat, yang merasa tidak terima dengan tuduhan Aji.
"Hahaha... memangnya Kamu tidak ya?" tanya Aji, dengan mengedip-ngedipkan matanya genit.
"Ihhh... "
Elisa merenggut manja. Dia merasa jika Aji, sekarang ini, suka sekali menggodanya dengan wajah yang... arghhh!
"Mau mandi sekarang, atau mau..."
"Kakak pergi dulu," jawab Elisa dengan menaikkan selimutnya sampai batas leher.
"Kenapa? Aku sudah melihat semuanya, kenapa sekarang harus pergi, jika Kamu cuma mau mandi?"
"Ck, Kakak. Pergi dulu sana," usir Elisa dengan mengeleng. Dia tidak mau pergi mandi, jika Aji masih ada di dalam kamar.
"Ah, pasti sedang mikirin cara biar Kakak tidak jadi pergi dari kamar kan..."
Perkataan Aji, justru berbeda dengan apa yang di maksud Elisa. Ini disengaja Aji, karena dia suka sekali melihat wajah Elisa yang bersemu merah karena merasa malu.
"Hahaha... iya-iya Kakak keluar. Ini karena Kakak benar-benar merasa lapar, dan tidak ingin Kamu juga kelaparan. Jika tidak, Kakak pasti...
"Kakak!" teriak Elisa, memotong perkataan Aji yang tetap saja tidak mau pergi dari tempat duduknya sekarang ini, ada di tepi tempat tidur.
Aji menutup telinga, saat teriak Elisa terdengar melengking dan membuat telinganya berdengung.
"Hemmm..." Aji, akhirnya beranjak dari tempat duduknya dan melangkah keluar dari kamar.
"Awas saja itu mulutnya, bisa-bisanya teriak kencang begitu. Jika tidak ingat waktu dan rasa lapar ini, Aku tutup lagi mulut itu dengan mulutku juga, buat diam dan tidak lagi berteriak. Hehehe..."
Aji, berkata kepada dirinya sendiri sambil terkekeh geli, membayangkan apa yang dia lakukan pada Elisa tadi, sebelum tertidur.
__ADS_1