
Gilang yang sedang menerima tamu dari pihak intelijen dan dinas terkait, tentu merasa bingung, sebab dia merasa belum pernah menjalin hubungan kerjasama dengan pihak perusahaan PT Sekar Jagad.
Dia tidak biasa menerima pengajuan kerjasama suatu perusahaan, tanpa mempelajari keseluruhan dan detail poin-poin penting dari perusahaan tersebut. Jadi, dia sebagai penanggung jawab penuh perusahaan GAS, tidak asal menerima mitra yang belum jelas. Apalagi PT Sekar Jagad belum resmi dan belum mendapatkan ijin berdiri serta beroperasi.
Tapi saat ada tamu tanpa undangan, dan itu terkait dengan kasus PT Sekar Jagad yang belum resmi dan memang belum menjadi rekan bisnisnya, Gilang masih bisa tenang dan lancar menjawab semua pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh pihak penyidik.
"Saya minta maaf jika jawaban yang Saya berikan ada yang kurang tepat. Ini bukan Saya sengaja membuat rumit dan tidak mau bekerjasama dengan pihak penyelidik. Ini murni ketidaktahuan Saya pribadi, dan Perusahaan GAS yang Saya pimpin. Selain itu, Kami dari GAS memang belum melakukan apapun, terkait permintaan kerjasama yang diajukan oleh PT Sekar Jagad. Itu disebabkan karena, PT tersebut belum resmi dan mendapatkan ijin. Jadi kami memang belum menanggapi dengan baik permintaan mereka. Kalau dimintai keterangan tentang keterlibatan GAS dengan PT Sekar Jagad, kami dengan tegas mengatakan, tidak!"
Gilang memberikan penjelasan dan mengatakan bahwa, GAS tidak ada hubungannya dengan PT Sekar Jagad, yang ikut tersandung kasus, karena pemiliknya yang ada di Amerika Serikat sana menjadi tawanan FBI.
"Tapi menurut penelitian yang dilakukan oleh FBI dan informasi yang dikumpulkan, pemilik PT Sekar Jagad dulunya memiliki hubungan khusus dengan Bapak Gilang?" tanya penyidik yang memberikan beberapa pertanyaan pada Gilang.
"Hubungan khusus, siapa?"
Gilang ganti bertanya kepada penyidik. Dia merasa tidak pernah memiliki hubungan khusus dengan wanita manapun, apalagi yang berkewarganegaraan Amerika Serikat.
"Sekar Mayangsari," jawab penyidik menyebutkan satu nama.
Gilang kaget dengan nama yang disebutkan oleh penyidik. Dia tentu merasa sangat kaget, saat mendengar nama tersebut. Sudah terlalu lama dia tidak mendengar seseorang menyebutkan nama itu. Dia juga tidak pernah menyebut nama itu lagi sepanjang hidupnya, setelah kejadian bertahun-tahun yang lalu.
"Apa Bapak mengenal dia, Sekar Mayangsari?" tanya penyidik lagi, begitu melihat ekspresi wajah kaget Gilang.
"Ya. Saya kenal dengan Sekar Mayangsari, bertahun-tahun yang lalu. Tapi kami tidak pernah lagi bertemu dan berhubungan. Sudah hampir sepuluh tahun lamanya kalau dihitung sejak kejadian itu. Jadi Saya tidak mengetahui sepak terjang dia di dunia bisnis gelap ini. Saya pribadi tidak pernah mau ikut campur dalam urusan dia lagi, apapun itu."
Jawaban tegas dari Gilang membuat para tamunya itu saling pandang satu sama lainnya. Mereka semua tidak menemukan jawaban yang diinginkan dan juga tidak menemukan bukti apapun untuk kasus PT Sekar Jagad.
"Kalau boleh tahu, apa bisnis gelap yang dilakukan oleh Sekar, selain perhiasan emas yang dia lakukan?" Gilang ingin tahu juga, apa yang sebenarnya terjadi pada mantan kekasihnya itu.
"Bisnis penyeludupan heroin."
Jawaban yang diberikan oleh penyidik membuat Gilang kaget bukan main. Dia tidak menyangka jika Sekar bisa senekad itu. Gilang mengelengkan kepalanya berkali-kali, dan memejamkan matanya mengingat semua kejadian yang dulu. Jika dia bisa setega itu, bisa jadi dia juga bisa senekat sekarang ini.
"Bapak Gilang. Kami rasa ini cukup. Jika ada perkembangan untuk kasus ini, kami akan meminta keterangan dari Bapak lagi. Semoga Bapak memang benar-benar tidak terlibat, karena kasus ini akan menjadi kasus internasional dengan pengembangan ke beberapa negara yang sering Sekar kunjungi."
Para penyidik akhirnya pamit pulang dan mengingatkan Gilang, untuk bisa bekerjasama, dengan pihak penyidik, jika menemukan beberapa informasi, yang bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam pengembangan kasus ini.
__ADS_1
"Baik Pak. Saya pasti kooperatif dalam hal ini. Saya juga tidak ingin melihat generasi muda yang diracuni dengan produk-produk gelap tersebut. Saya akan memberikan informasi dan penjelasan apapun jika mengetahui sesuatu tentang kasus ini."
Gilang mengatakan pada penyidik, jika dia pasti akan memberikan informasi yang penyidik inginkan jika dia mengetahui apapun itu tentang Sekar Mayangsari ataupun PT Sekar Jagad.
"Terima kasih Pak Gilang. Kami minta maaf karena tidak ada pemberitahuan terlebih dahulu untuk membuat janji temu. Kami juga berterima kasih atas kerjasama dan semua jawaban yang sudah diberikan pada kami."
"Sama-sama Pak. Saya merasa senang bisa ikut membantu pekerjaan Bapak. Semoga kasus ini tidak menyebar ke bagian lain dan tidak ada di Indonesia juga," kata Gilang mengakhiri pertemuannya, dengan tamu orang-orang penyidik, dari intelejen pemerintah.
Setelah tamunya pergi, Gilang menghela nafas panjang dan membuangnya kasar. "Hah! Tidak Aku sangka, segitu parahnya kehidupan dia setelah itu."
Tak lama, Gilang keluar dari ruangan untuk menerima para tamu tadi, di ruangan metting, dan kembali ke ruangannya sendiri.
Gilang mengecek handphonenya, yang ada di atas meja kerjanya. Ternyata ada beberapa panggilan dan pesan dari Cilla.
"Tumben dia telpon, ada apa ya?" Gilang merasa senang tapi juga aneh saat melihat no panggilan yang ada adalah nomor milik Cilla.
Setelah membuka pesan WhatsApp yang ada, baru dia tahu, jika itu adalah maminya, hanya saja memakai nomor milik Cilla.
"Aku terlalu berharap dan senang. Aku pikir memang dia, ternyata mami. Tapi tak apa, itu artinya dia juga merasa khawatir dan mengajukan mami untuk mencari tahu."
"Aduh! Kenapa Aku bisa lupa," kata Gilang dengan menepuk keningnya sendiri.
"Tapi mami bilang, dia akan menemani Cilla. Sudah berangkat belum ya?"
Gilang akhirnya mencoba untuk menelpon mami Rossa. Tapi dia urungkan, kemudian menelepon ke nomor milik Cilla.
..."Halo Honey!" sapa Gilang begitu panggilannya terhubung....
..."Ini Mami Gilang," kata mami Rossa mengingatkan Gilang....
..."Eh, Mami. Kok handphone Cilla di pegang sama Mami, Cilla mana?"...
..."Mami menunggu balasan dari kamu. Cilla sedang berganti pakaian di kamarnya, makanya handphonenya Mami pegang. Takutnya kamu telpon mengabari kita."...
..."Iya Mi. Ini tamunya baru saja balik. Maaf, Gilang tidak pegang handphone tadi."...
__ADS_1
..."Iya tidak apa-apa. Terus bagaimana dengan kasus itu?"...
..."Tidak ada hubungannya dengan GAS Mi. Tenang saja!"...
..."Ya sudah. Ini Mami mau berangkat. Kamu bisa nyusul gak ke rumah sakit?"...
..."Iya Mi. Aku langsung ke rumah sakit saja. Kita ketemu di sana, setelah ketemu, Mami bisa langsung berangkat arisan."...
..."Baiklah. Tapi Aji tidak mau ikut."...
..."Kenapa?"...
..."Dia mau di rumah saja katanya."...
..."Oh, tidak apa-apa Mi, Aji sendiri di rumah?"...
..."Iya gak apa-apa. Nanti biar mami minta bibi buat jaga Aji."...
..."Baiklah Mi. Gilang berangkat sekarang ya!"...
Sambungan telepon terputus. Tak lama Cilla keluar dari kamar dan langsung menemui mami Rossa.
"Cilla sudah siap Mi," kata Cilla mengangguk.
"Ayok! Oh ya, Aji beneran tidak mau ikut?" tanya mami Rossa pada cucunya, Aji.
"Aji di rumah Oma," jawab Aji tetap pada keputusannya.
"Ok. Oma sama mama berangkat. Hati-hati, kalau butuh sesuatu minta tolong pada bibi ya?" omanya memberi pesan.
"Siap Oma!"
"Mama berangkat ya Sayang. Nanti telpon atau kirim pesan jika butuh apa-apa yang mau di bawakan," kata Cilla pada Aji.
"Ok Mama!"
__ADS_1