Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Tidak Disangka


__ADS_3

Mobil memasuki area parkir Mall. Menempati posisi parkir khusus yang tersedia untuk salah satu pemilik gedung Mall tersebut.


"Silahkan Nyonya."


Supir membuka pintu mobil bagian depan, dimana mami Rossa duduk. Setelah itu, supir berganti membuka pintu mobil bagian belakang.


"Silahkan Non, Den Aji."


"Terima kasih Pak," kata Cilla dengan tersenyum ramah.


Aji bergegas keluar dari dalam mobil, begitu pintu dibuka oleh pak supir.


Mereka semua berjalan menuju ke lift, untuk bisa naik ke lantai atas, dimana toko mami Rossa berada.


"Oma. Oma disana!"


Aji berteriak dengan menunjuk ke tempat Burger, saat keluar dari dalam lift. Tempat dimana dulu untuk pertama kalinya, dia makan bersama dengan papanya, Gilang, dan belum tahu jika Gilang adalah papanya sendiri, bahkan Aji memanggilnya dengan sebutan Om.


"Iya Sayang," kata mami Rossa mengangguk.


"Hati-hati," kata Cilla mengingatkan anaknya, Aji, agar tidak berlari-larian di tempat yang ramai dan padat pengunjung.


Kamu langsung ke sana saja Cilla. Sepertinya, Aji benar-benar sudah lapar dan tidak sabar lagi. Nanti Mami nyusul kalau urusan di toko sudah selesai."


"Tapi Mi, Mbak Diyah?" tanya Cilla dengan keinginannya untuk bertemu dengan temannya itu.


"Nanti saja kalau Aji sudah kenyang. Bisa rewel dan ngambek nanti kalau tidak segera di turuti," kata mami Rossa mengingatkan.


"Ini yang Cilla takutkan Mi. Aji nanti bisa-bisa jadi kebiasaan manja. Apalagi jika mami dan papanya Aji menuruti semua keinginannya."


"Tidak akan. Percayalah Cilla. Anak seperti Aji itu wajar masih manja. Nyatanya, dia tidak minta aneh-aneh selama ini. Dia itu, dengan umur yang masih segitu kecil, terlalu mandiri menurut mami. Tidak usah terlalu khawatir ya!"


Akhirnya Cilla tidak lagi berdebat dengan mami Rossa, tentang bagaimana dan juga apa yang baik dan tidak baik untuk Aji, anaknya sendiri.


Mami Rossa berbelok ke arah toko miliknya, sedangkan Cilla mengikuti langkah Aji yang terus berjalan ke arah resto yang salah satu menu andalannya adalah Burger.


Aji dengan wajah berseri menuju ke kasir. Dia memesan burger untuk empat orang berserta minumannya. "Mbak Burger empat, minumnya jus jeruk dan alpukat ya!" kata Aji memesan dengan yakin.


"Sayang. Banyak sekali, habis?" tanya Cilla bingung dengan pesanan Aji yang terlalu banyak.


"Kata Oma, nanti mau menyusul dengan Tante Diyah. Jadi Aji pesankan sekalian."


"Oh, begitu ya. Mama pikir Aji pesan untuk Aji sendiri."


Cilla akhirnya mengerti apa maksud pesanan Aji yang begitu banyak. Cilla tersenyum mendengar jawaban anaknya. Aji memang mempunyai rasa peduli juga, terhadap orang-orang yang dia sayangi.

__ADS_1


"Ya sudah. Aji cari tempat duduk ya, biar Mama yang menunggu pesanan sekalian bayar. ok!"


"Iya Ma," jawab Aji pendek, kemudian dia segera pergi dari tempatnya di depan kasir, kemudian mencari tempat duduk yang dia inginkan.


Beberapa saat kemudian, Cilla yang sudah selesai dengan pesanannya, menuju ke tempat duduknya Aji, dengan membawa nampan berisi burger, sedangkan nampan yang berisi minuman, di bantu oleh pelayan resto untuk membawakannya.


"Terima kasih Mbak," kata Cilla pada pelayanan resto, begitu dia sudah meletakkan nampan yang dia bantu bawa tadi.


"Sama-sama," jawab pelayanan resto dengan tersenyum.


"Ini Sayang. Kamu mau jus yang mana?" tanya Cilla pada Aji dengan menunjuk pada gelas jus.


"Aji mau yang alpukat saja Ma," jawab Aji dengan pilihannya.


"Ini," kata Cilla dengan menyerahkan satu gelas jus alpukat pada Aji.


Aji makan dengan tenang seperti biasanya. Dia begitu menikmati makanan dan minumannya.


"Coba ada papa ya Ma. Kayak itu!" Aji menunjuk pada salah satu meja pengunjung, yang ada tidak jauh dari tempat mereka berada.


Cilla menoleh, ke tempat dimana duduk satu keluarga kecil, yang sedang menikmati makanan mereka.


"Ada Mama, ada Papa dan Aji," kata Aji membayangkan jika keluarga itu adalah keluarganya.


"Ma. Kapan-kapan ajak papa kayak gitu ya!"


"Eh, emh... Ya-ya. Nanti kalau papa tidak sibuk kita pergi sama-sama ya," kata Cilla menenangkan pikiran anaknya itu.


"Kalau Mama tidak berani, nanti biar Aji yang ajak papa," kata Aji memberikan usulan.


Cilla hanya mengangguk menanggapi perkataan Aji. Dia juga tidak tahu, apakah bisa mengatakan semua itu pada Gilang nantinya. Meskipun Cilla yakin, jika Gilang tidak akan menolak permintaan dan juga ajakannya.


Aji masih makan burgernya saat mami Rossa dan mbak Diyah datang.


"Cilla..."


"Aji..."


Mbak Diyah yang tidak diberitahu terlebih dahulu oleh mami Rossa jika ada Cilla, berteriak dengan keras karena kaget. Dia merasa surprise, bertemu dengan Cilla lagi di Mall ini bersama dengan Aji, anaknya Cilla yang cerdas itu.


"Mbak..."


Cilla berdiri dan memeluk mbak Diyah dengan erat, menyalurkan rasa rindu pada sahabatnya itu.


"Kamu kenapa tidak mampir ke toko? Ada mami Rossa juga lho. ini!"

__ADS_1


Mbak Diyah menunjuk pada mami Rossa yang Anda di sampingnya. Dia tidak tahu jika mami Rossa memang datang bersama dengan Cilla dan juga Aji.


"Aji. Sini peluk Tante!"


Mbak Diyah berganti atensinya pada Aji, kemudian mereka berdua saling berpelukan. Mbak Diyah memang menyanyangi anaknya Cilla itu, Aji Putra.


Mami Rossa tersenyum misterius pada Cilla. Sekarang Cilla paham kenapa mbak Diyah tidak tahu, jika dia dan mami Rossa datang bersama-sama.


"Kami datang bersama Mbak," kata Cilla memberitahu.


"Datang bersama, maksudnya?" tanya mbak Diyah tidak mengerti.


"Iya. Kami datang barengan gitu," jawab Cilla menjelaskan.


Mbak Diyah masih tidak percaya dan bingung dengan perkataan Cilla. Dia menoleh pada mami Rossa untuk bertanya lebih lanjut.


"Beneran Mi? Terus tadi Aku diajak buat surprise ini?" tanya mbak Diyah pada mami Rossa.


"Iya," jawab mami Rossa tanpa harus menjelaskan lebih detail lagi.


"Ah... Kok bisa begitu?" mbak Diyah masih tidak mempercayai apa yang sedang terjadi saat ini.


"Cilla, ada apa sebenarnya?" tanya mbak Diyah masih penasaran.


"Makan dulu saja yuk! Ini sudah dipesankan Aji lho," kata Cilla menawari.


Akhirnya mereka duduk dan makan bersama, sedangkan Aji sudah selesai dengan makannya. Kini dia sedang bermain-main dengan handphonenya.


*****


Di rumah Gilang.


Kesalahpahaman Gilang yang terjadi siang tadi masih terbawa hingga dia berada di rumah. Saat pulang dari kantor sore hari, dia langsung mencari keberadaan Cilla.


"Bi. Cilla mana?" tanya Gilang heran, karena rumah tampak sepi dan tidak ada orang yang sedang dia cari.


"Mami, Aji, kok tidak ada semua. Apa belum pulang?" tanya Gilang lagi.


"Belum Tuan," jawab bibi mengeleng.


"Kemana lagi mereka? Ini juga sudah sore," guman Gilang bertanya-tanya sendiri.


"Aku coba telpon sajalah."


Akhirnya Gilang berusaha untuk menelpon Cilla atau mami Rossa untuk mengetahui keberadaan mereka bertiga.

__ADS_1


__ADS_2