Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Bukan Sakit Biasa


__ADS_3

Dokter yang dipanggil oleh tuan besar Sangkoer Singh, sudah datang. Dokter diminta untuk masuk ke dalam kamar Aji, agar segera memeriksa keadaannya. Ini dikarenakan Aji sudah terlihat lemas, dan sedang terbaring di kamar, setelah tadi keluar masuk ke kamar mandi karena muntah yang dia rasakan berkali-kali.


Elisa, menunggui suaminya itu dengan duduk di tepi ranjang. Dia merasa cemas dan juga khawatir dengan keadaan dan kondisi suaminya itu. Dia tidak mau kemana-mana sejak tadi, dan hanya duduk saja sambil memegang tangannya Aji.


"Menantu, dokter sudah datang. Biarkan dia memeriksa keadaan Aji. Kamu yang tenang ya," kata Sangkoer Singh, menenangkan hati menantunya.


Elisa, hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Dia tidak tahu apa yang Aji, hingga mengalami muntah-muntah tanpa sebab. Padahal, dia yang sedang hamil tidak mengalaminya sendiri.


"Ayah juga merasa agak pusing. Biar nanti dokter juga memeriksa keadaan Ayah. Mungkin bisa jadi, ini karena perubahan musim dingin. Aji, belum terbiasa, dan beradaptasi dengan cuaca yang tidak ada di Indonesia," ujar Sangkoer Singh, menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi pada anak angkatnya itu.


"Tapi, dia pernah tinggal di sini beberapa tahun dulunya Yah. Justru Elisa yang tidak pernah ada dalam iklim dingin seperti ini," bantah Elisa, dengan mengerutkan keningnya memikirkan apa yang dikatakan oleh Sangkoer Singh tadi.


"Hahaha... berarti Kamu itu kuat, begitu juga dengan anak yang sedang Kamu kandung. Dia bisa tahan dengan segala cuaca. Semoga saja itu benar. Jadi, dia akan betah juga di India nantinya,"


Tuan besar Sangkoer Singh, justru berharap, jika suatu saat nanti, anak Aji dan Elisa bisa tinggal fi India bersama dengannya. Hal yang tidak pernah dibayangkan oleh Elisa sendiri. Aji juga tidak pernah menyingung soal itu.


Tapi, untuk menghormati dan tidak menyinggung perasaan bahagia yang sedang dirasakan oleh ayah angkat suaminya itu, Elisa hanya bisa diam dan tidak menjawab apa-apa. Dia tidak ingin berdebat dengan tuan besar Sangkoer Singh, soal tempat tinggal anaknya nanti. Itu masih belum terpikirkan oleh keduanya, Aji dan juga Elisa sendiri.


"Semoga saja, ayah Sangkoer Singh tidak bermaksud untuk merebut anakku agar bisa menetap di sini," kata Elisa dalam hati. Dia berharap, tidak akan ada masalah yang terjadi pada anak dan juga keluarganya di waktu yang akan datang.


Dokter sudah selesai memeriksa keadaan Aji. Sekarang dia ganti memeriksa keadaan tuan besar Sangkoer Singh, yang sedang duduk di sofa, di kamar Aji.


"Bagaimana Dok?" tanya tuan besar Sangkoer Singh, saat dokter sudah selesai memeriksa keadaannya. Dia ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada anak angkatnya itu dan juga dirinya sendiri.


"Belum bisa dipastikan Tuan. Ini hanya diagnosa awal Saya saja. Tuan muda mungkin sedikit stress atau panik saat bangun tidur. Sedangkan Tuan besar, perlu test lagi, untuk bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Busa jadi ini gejala vertigo atau yang lainnya. Saya akan menghubungi pihak rumah sakit, agar mengirimkan obat kemari," jawab dokter menjelaskan.


Tuan besar Sangkoer Singh, mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia berharap, ini bukan penyakit serius seperti yang sering terjadi pada rekan-rekan sesama pengusaha yang di kenal.


Dokter berpamitan untuk kembali ke rumah sakit, diantar oleh tuan besar Sangkoer Singh sampai depan rumah.


"Terima kasih Dok. Besok, Saya akan datang ke rumah sakit, untuk pemeriksaan lebih lanjut tentang kondisi yang Saya alami ini," kata tuan besar Sangkoer Singh, saat dokter masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Dokter hanya mengangguk sambil tersenyum. Dia segera kembali ke tempat tugasnya, karena sudah ada banyak pasien yang menunggu dirinya.


*****


Di dalam kamar, Elisa masih duduk di tepi ranjang. Dia memegang tangan suaminya, dan memijit-mijit pelan telapak tangan_nya, menyalurkan hawa tubuhnya sendiri.


"Sa_sayang. Kamu tidak apa-apa?" tanya Elisa, saat Aji membalas genggaman tangannya. Itu artinya, Aji sudah bangun dari tidurnya.


"Hemmm... iya, gak apa-apa. Kamu jangan khawatir ya," jawab Aji, menenangkan pikiran istrinya agar tidak lagi merasa cemas. Tapi, mata Aji masih tertutup, belum terbuka juga seperti layaknya orang yang sudah bangun dari tidurnya.


"Kak. Kakak mau minum?" tanya Elisa menawarkan minuman, agar Aji membuka matanya.


Aji menggeleng perlahan. Dia masih merasa pusing dan juga lemas karena cairan tubuh yang berkurang akibat muntah-muntah terus tadi pagi.


Tok, tok, tok!


Pintu diketuk, dan bibi Lasmi datang dengan membawa bubur untuk Aji. "Tuan muda makan bubur dulu ya, biar tidak lemas dan ada tenaganya. Kasihan Nyonya, nanti kepikiran dan itu akan berpengaruh terhadap anak Anda juga tuan muda," kata bibi Lasmi, membujuk Aji agar mau memakan bubur buatannya.


"Sini Bi, biar Elisa yang menyuapi Kakak," kata Elisa, sambil meminta nampan kecil berisi bubur dan teh manis hangat.


Elisa, membantu Aji untuk bangun, agar bisa makan dengan mudah saat dia menyuapinya nanti.


"Kakak makan dulu ya, ini sudah dibuatkan bubur sama bibi Lasmi," kata Elisa, sambil menyendok bubur untuk disuapkan pada Aji.


Aji, mengangguk pelan. Dia juga membuka matanya lebih lebar, agar bisa melihat wajah Elisa, yang sedang menyuapinya.


"Kamu tidak usah khawatir. Kakak baik-baik saja. Ini cuma pusing biasa, dan muntah tadi hanya karena kakak belum makan saja." Aji, mencoba untuk menenangkan istrinya. Dia, tersenyum meskipun tampak samar.


Elisa mengangguk sambil tersenyum. Dia juga tidak ingin, suaminya merasa khawatir karena memikirkan keadaan dirinya. Apalagi saat ini, dia sedang hamil. Kehamilan yang sudah ditunggu dan diharapkan oleh mereka berdua.


Dia mulai menyuapi Aji. Tapi, Aji juga memintanya untuk ikut makan bubur tersebut. Akhirnya, Elisa juga ikut makan bubur tersebut, bergantian setelah dia menyuapi suaminya, sehingga bubur di dalam mangkuk cepat habis.

__ADS_1


"Kan, jadi cepat selesai," ujar Aji, sambil tersenyum ke arah istrinya.


Elisa mengangguk dan mengambil gelas berisi teh manis hangat untuk Aji. "Ini di minum, biar perutnya kembali hangat dan rasa manisnya bisa menambah tenaga juga," kata Elisa, membantu Aji untuk meminum teh tersebut.


"Nanti Kakak minta obat mujarabnya ya, saat tidak lagi lemas seperti sekarang ini," bisik Aji, saat selesai meminum teh, dan posisi Elisa berada lebih dekat dengan wajahnya.


"Kakak, sakit kok masih mikir gitu sih!" gerutu Elisa, dengan mulut mengerucut seperti biasanya.


"Kan itu obat paling ampuh Sayang. Kamu sudah buktikan berkali-kali. Obat itu juga tidak dijual bebas di luar sana, dan tidak ada pabrik farmasi manapun yang bisa memproduksinya juga," ucap Aji, sambil mencubit hidung Elisa dengan gemas.


"Hemmm... sakit saja masih bisa mikir gitu ya, hehehe..." Elisa, terkekeh melihat ekspresi wajah suaminya sendiri. Dia merasa, jika suaminya itu akan segera sembuh tidak lama lagi. Apalagi, jika dia sudah berpikir seperti tadi, hal yang wajar untuk laki-laki yang normal.


*****


"Bi Lasmi, apa Aji sudah makan buburnya?" tanya tuan besar Sangkoer Singh, saat berada di meja makan. Dia bermaksud untuk makan terlebih dahulu, agar rasa pusing yang dia rasakan segera hilang.


"Tidak tahu Tuan besar. Tapi Nyonya Elisa memintanya, agar dia sendiri yang menyuapi," jawab bibi Lasmi, sambil meletakkan piring berisi bubur yang sama seperti yang tadi dia berikan kepada Aji, di depan tuan besar_nya.


"Semoga saja dia cepat sehat lagi. Aku merasa kasihan jika dia kesakitan seperti tadi. Aku juga tidak tega, melihat wajah istrinya yang sangat khawatir dengan keadaannya."


Tuan besar Sangkoer Singh, sebenarnya ingin anak dan menantunya itu bisa merasakan kebahagiaan dan ketenangan, apalagi saat kondisi Elisa yang sedang hamil muda.


"Apa wanita hamil yang biasanya ingin sesuatu yang aneh-aneh, tidak dialami oleh menantuku itu ya? Aku belum pernah mendengar tentang permintaan Elisa, selama kehamilannya itu diketahui. Apa memang begitu Bi?"


Bibi Lasmi tersenyum, mendengar perkataan dan pertanyaan dari tuannya. Dia yang sudah berumur dan banyak pengalaman dalam hidupnya, tentu lebih banyak tahu tentang bagaimana rasanya hamil dan wanita-wanita hamil pada umumnya.


"Tidak semua wanita hamil mempunyai permintaan yang aneh-aneh Tuan. Mungkin, menantu Tuan, termasuk wanita yang tadi. Tapi, ada juga wanita hamil yang kondisi tubuhnya terlalu lemas dan tidak bisa melakukan aktivitas sehari-hari, bahkan hanya memegang sapu saja, dia sudah merasa capek dan lelah. Wanita hamil seperti ini, hanya bisa berbaring saja di tempat tidur."


Tuan besar Sangkoer Singh, memicingkan matanya heran. Dia baru tahu, jika ada kondisi wanita hamil yang seperti itu.


"Apa itu benar terjadi? Lalu bagaimana keadaan anak yang dikandungnya?" tanya tuan besar Sangkoer Singh ingin tahu.

__ADS_1


"Tergantung pada kondisi kehamilannya Tuan. Ada yang tetap normal, ada juga yang tidak. Tapi semoga saja, nyonya Elisa tetap sehat dan baik-baik saja, baik dirinya sendiri maupun anak yang ada di dalam kandungannya."


Tuan besar Sangkoer Singh, mengangguk paham. Dia juga berharap hal yang sama seperti yang dikatakan oleh bibi Lasmi.


__ADS_2