
Seminggu kemudian, Aji dan tuan besar Sangkoer Singh pergi ke arsitek kenalannya, untuk memesan desain rumah yang akan dibangun di Indonesia. Untuk urusan lokasinya, papa Gilang, akan membantu mencarikan beberapa alternatif yang mungkin cocok untuk ayah angkat anaknya itu, dengan tempat yang sudah di minta tuan besar Sangkoer Singh juga.
Tuan besar Sangkoer Singh, minta di daerah Tangerang saja. Selain lebih dekat dengan Jakarta, banyak mitra usaha yang ada di daerah sana. Jadi, sewaktu-waktu bisa melihat dan datang ke perusahaan tersebut.
Untuk daerah Bali, dia bisa memilihnya sendiri, jika sudah berada di Indonesia nanti. Karena itu akan mempermudah dirinya, untuk bisa memilih sesuai dengan keinginan hatinya sendiri.
Aji, hanya mengangguk dan mengikuti keinginan ayah angkatnya itu. Dia tidak banyak memberikan saran dan masukan, karena ini memang tujuan Aji, agar ayahnya itu bisa memiliki kesibukan dan sedikit melupakan kesedihannya selama ini.
Elisa, sendiri tidak mempermasalahkan jika dia harus melahirkan di India. Baginya, melahirkan di India ataupun Indonesia, asal ada suaminya itu, Aji, dia akan tetap merasa senang dan bersemangat. Bahkan, pernah suatu ketika, Elisa bertanya ke pada Aji, "kenapa ayah Sangkoer Singh tidak menikah lagi saja ya Kak? biasanya, orang-orang kaya seperti dia, bisa dengan mudah mendapatkan istri yang seperti apa pun, karena tidak mungkin ada wanita tang menolak juga kan?"
Tapi Aji hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan dari istrinya itu. Yang dia tahu, ayahnya itu, sudah bertekad untuk tidak lagi memiliki istri, untuk mengantikan mendiang istrinya, ibu dari anaknya, Vijay Singh. Dia akan merasa sangat bersalah, jika itu terjadi. Sebab, semua kesuksesan yang diraih oleh Sangkoer Singh selama ini, berkat usaha dan perjuangan bersama istrinya itu. Semua doa-doa istrinya pada sang dewa-dewa yang mereka sembah, hanya untuk kesuksesan Sangkoer Singh. Dia tidak mau, mengkhianati usaha yang dilakukan bersama dengan istrinya itu. Dia sudah membuat yayasan pendidikan dan juga anak-anak yatim dengan nama istrinya. Dia berharap, istrinya akan bahagia di akhirat sana.
Elisa mengangguk paham dengan penjelasan yang diberikan oleh suaminya. Dia juga pernah diajak aji, ke panti jompo, milik ayahnya, Sangkoer Singh. Itulah sebabnya, ayah Sangkoer Singh sangat dihormati di India ini. Meskipun dia bukan seorang politikus dan ada di deretan pemimpi pemerintahan, tapi dirinya, selalu diperhitungkan oleh para petinggi negara India, sebagai orang yang berpengaruh melebihi para politikus itu sendiri.
Suatu pencapaian yang luar biasa. Sayangnya, tuan besar Sangkoer Singh tidak merasakan kebahagiaan yang dirasakan orang lain, yaitu memiliki keluarganya sendiri.
Mungkin karena juga, dia lebih banyak menghabiskan waktu dan uangnya, untuk urusan sosial, tapi anehnya, itu tidak mengurangi jumlah hartanya, bahkan membuat usaha-usaha yang dia lakukan terus berkembang dan maju dengan pesat.
"Kita tidak akan kekurangan, meskipun kita mengeluarkan banyak uang untuk kepentingan sosial, karena dari situ, rejeki kita justru semakin terbuka Sayang. Mungkin itu juga, dalam ajaran agama kita disarankan untuk beramal atau memberikan sebagian rejeki pada yang berhak dan membutuhkan."
__ADS_1
Elisa kembali mengangguk, mendengar perkataan suaminya lagi. Dia mulai mengerti, apa yang dianut oleh ajaran ayah angkat suaminya itu, juga ada hal yang sana seperti agama yang dia yakin. Tentang kebaikan, sepertinya, semua agama pasti mengajarkannya. Karena sebenarnya, agama itu sendiri adalah sebuah kebaikan.
Kini, Aji kembali mencari-cari lokasi yang dikirim papa Gilang. Dia mensurvei-nya lewat internet, dimana letak tanah tersebut berada, dan bagaimana kondisi tanah yang akan dibangun rumah untuk ayahnya, Sangkoer Singh. Dia juga melihat dari berbagai sudut daerah sekitar, karena Tangerang rawan dengan daerah banjir juga, sama seperti Jakarta.
Dia harus bisa teliti, agar rumah ayahnya nanti, tidak berada di daerah yang sering kena dampak banjir jika musim hujan.
*****
Beberapa bulan kemudian, perut Elisa yang semakin membesar membuat Aji gemas. Apalagi, saat ada pergerakan dari dalam perut, dan tidak sengaja dia ikut merasakan gerakan anaknya itu. Aji merasa bahagia, seakan-akan anaknya itu sudah ada di hadapannya. Dia sering mengajak bicara anak yang masih berada di dalam kandungan istrinya, Elisa.
Aji, juga sering melihat Elisa meringis, saat anak yang berada di dalam perutnya itu bergerak, kata Elisa, " jangan nendang-nendang dong Sayang. Mama jadi sakit nih."
"Aktif banget dia Kak, sejak sebulan ini," kata Elisa, sambil nyengir, tapi kemudian berubah meringis lagi.
"Sayang-sayang. Jangan kuat-kuat nendangnya, kasihan mama tuh... Kalau sudah lahir nanti mau jadi pemain bola ya? hahaha..." Aji, justru mengajak anaknya itu bercanda, agar Elisa juga bisa tersenyum dan melupakan rasa sakitnya, akibat tendangan bayi yang dia kandung.
"Kata dokter, lahirnya masih satu setengah bulan lagi. Jadi, El akan terus ditendang kayak gini ya Kak? duh, awas saja nanti kalau lahir masih suka nendang-nendang," ucap Elis sambil memasang wajah merenggut. Dia merasa kesal, karena Aji justru tertawa terbahak-bahak, saat mendengar perkataannya tadi.
"Hahaha... masak sudah lahir masih nendang-nendang? itu sih papanya yang nendang..." Aji, mengedipkan matanya, untuk menggoda Elisa. Hal yang paling dia sukai jika sedang berada di dalam kamar dan berdua saja dengan istrinya itu.
__ADS_1
"Ihsss... Kakak. Sama saja kayak anaknya, suka bikin kesel. Tapi El suka sih, hihihi..." Elisa ikut terkikik, mendengar perkataannya sendiri.
Akhirnya, Aji bergeser agar lebih dekat lagi dengan Elisa, yang sedang berbaring miring. Dua sudah tidak nyaman, saat tidur dengan posisi normal. Dia juga harus lebih sering berganti posisi, untuk kenyamanan perutnya sendiri.
"Sini, Kakak yang usap-usap perutnya," ucap Aji, mengulurkan tangannya, untuk mengusap-usap perut Elisa, agar anaknya ikut tenang dan tidur, sehingga Elisa juga bisa beristirahat.
"Kakak boleh minta sesuatu?" tanya Aji sambil masih terus mengusap perut Elisa.
"Apa?" tanya Elisa, dengan tangannya yang ikut bergerak di atas telapak tangan Aji, yang berada di atas perutnya.
"Berjanjilah untuk tetap tersenyum pada Kakak, meskipun dalam keadaan yang sedang tidak baik-baik saja. Sebab, dari senyuman Kamu itu, Kakak bisa terus berusaha agar bisa mengatasi semua permasalahan yang sedang Kakak hadapi."
Elisa, menatap wajah suaminya itu dengan tatapan menyelidik. Dia bertanya-tanya, apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh suaminya itu.
"Maksud Kakak apa bicara seperti itu?" tanya Elisa ingin tahu.
"Tidak apa-apa. Kuta tidak tahu El, apa yang akan terjadi ke depan. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa untuk yang terbaik bagi semuanya. Tapi, semua yang menjadi ketetapan Tuhan, kita tidak pernah tahu. Jika Kita kembali ke Indonesia, kita juga tidak tahu, apa yang akan kita hadapi nanti."
Perkataan Aji ini, membuat Elisa kembali berpikir, tentang kepergian mereka berdua ke India. Mungkin ini ada kaitannya dengan, apa yang dikatakan suaminya itu sekarang.
__ADS_1
Meski Elisa tidak tahu, apa masalah yang disimpan oleh Aji seorang diri, dia tetap yakin, jika suaminya itu, sudah memikirkan banyak hal, yang terbaik untuk keluarganya, terutama untuk dirinya dan anaknya nanti.