
Hari masih pagi, subuh baru saja terdengar, saat taksi berhenti tepat di pintu gerbang rumah papa Gilang.
"Terima kasih Pak," ucap Elisa, kemudian membuka pintu dan turun.
"Terima kasih Pak, jika ada kembalian ambil, jika kurang mohon maaf ya Pak," kata Rio, kemudian menyerahkan dua lembar uang kertas merah yang ada di saku celananya.
"Terima kasih Mas. Semoga kasus Mas dan Mbaknya tadi, cepat ada titik terangnya," jawab supir taksi, yang memang mendengar semua percakapan Elisa dan Rio, saat dalam perjalanan ke rumah papa Elang.
"Terima kasih," ucap Rio sekali lagi.
"Rio, buruan. Security sedang tidur. Ayo bangunkan dia!" Elisa, yang menunggu Rio di pos Security, memintanya untuk segera membangunkan Security yang berjaga.
"Ada-ada saja kejahatan sekarang ini," kata supir taksi, setelah Rio selesai menutup pintu dan berjalan menuju ke tempat Elisa menunggunya, di depan pos Security rumah papa Gilang.
Taksi kembali berjalan lagi, meninggalkan tempat untuk mencari penumpang yang lain.
"Pak. Pak!" Rio, mengetuk-ngetuk pintu pos, mencoba untuk membangunkan Security.
"Eh, ehhh... Mas Rio, Mbak Elisa!"
Security terbangun dan kaget saat melihat keberadaan Elisa dan juga Rio di pos. Apalagi, ini masih terlalu pagi untuk bertamu.
"Maaf Pak. Kami menganggu tidur Bapak," kata Elisa dengan wajah cemas.
Security semakin kaget, dengan apa yang dia lihat sekarang ini. Dia melihat penampilan Elisa dan Rio yang tidak rapi dengan perban di pelipis Rio, serta baju kemeja Elisa yang sobek pada bagian lengan kanannya. kening Elisa, juga terlihat membiru.
"Apa yang terjadi Mas, Mbak?" tanya Security dengan cepat.
"Pak. Tolong buka pintu, atau panggilkan Om Gilang atau siapa pun yang sudah bangun, sekarang!" pinta Elisa dengan nyengir kuda, tapi tetap saja tidak menghilangkan kesan cemasnya.
"Masuk saja langsung yuk!"
Security, menekan tombol yang ada di tembok, untuk membuka gerbang rumah secara otomatis.
__ADS_1
Dia keluar untuk menamai Elisa dan Rio masuk ke dalam rumah. "Mari Mbak, Mas. Saya antar ke dalam," kata Security mengajak Elisa dan Rio.
Mereka bertiga, berjalan bersama-sama menuju ke rumah utama.
"Kemarin di tunggu-tunggu lho Mas, Mbak. Tapi kenapa baru sekarang datangnya, dan itu apa yang terjadi?" tanya Security dengan menunjuk pelipisnya sendiri.
"Ceritanya panjang Pak. Kami juga tidak tahu betul, apa yang sebenarnya terjadi pada kami kemarin itu."
Elisa menjawab pertanyaan dari Security rumah papa Gilang. Dia memang tidak tahu, apa yang terjadi pada dirinya dan Rio kemarin. Polisi, masih dalam penyelidikan ke pihak hotel serta mobil Rio yang ada di tempat parkir hotel.
Security, ingin mengajukan pertanyaan lagi, tapi sepertinya dia sadar jika kedua tamu majikannya ini, masih dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
"Masuk Mbak, Mas. Saya cari bibi dulu. Biasanya sudah bangun dia, nanti biar dia yang membangunkan Tuan besar," kata Security, mempersilahkan Elisa dan Rio, untuk duduk di ruang tamu.
Elisa dan Rio, hanya mengangguk mengiyakan saja. Mereka duduk melepas lelah dengan berbagai macam perasaan yang ada di dalam hati mereka masing-masing.
Security, terus berjalan menuju ke arah dapur. Dia mencari keberadaan bibi pembantu rumah. Tapi, sebelum sampai ke dapur, papa Gilang dan mama Cilla, terlihat turun dari arah tangga.
"Ada apa Pak?" tanya papa Gilang, yang merasa heran karena melihat Security depan masuk ke dalam rumah pagi-pagi sekali.
"Ada mbak Elisa dan mas Rio tuan," jawab Security, sambil menunjuk ke ruang tamu.
"Elisa, Rio?"
Mama Cilla, langsung berjalan dengan cepat menuju ke arah ruang tamu. Dia ingin tahu, apa yang sedang terjadi pada mereka berdua, sehingga tidak bisa datang ke acara pernikahan Jeny kemarin.
"Elisa... Rio!" panggil mama Cilla dengan suara pelan, namun terdengar dengan jelas, jika dia merasa sangat terkejut.
Mama Cilla melihat keduanya dengan perasaan cemas. Dia segera memeluk Elisa yang bangkit dari tempat duduknya.
"Tante..." Elisa terisak di dalam pelukan mama Cilla.
Rio juga ikut berdiri dari tempat duduknya. Dia menganggukkan kepalanya sopan kepada papa Gilang, yang datang bersama dengan Security rumah.
__ADS_1
"Maaf Om, menganggu pagi-pagi," kata Rio dengan tersenyum canggung saat papa Gilang menyalami dirinya dan mengerutkan keningnya bingung, saat melihat pelipis Rio yang ada di perban.
"Apa yang terjadi?" tanya papa Gilang dengan menyelidik.
"Kami tidak tahu harus bercerita dari mana terlebih dahulu. Tapi yang pasti, kami meminta maaf karena tidak bisa hadir kemarin, dalam acara pernikahan Jeny. Ini bukan kesengajaan atau keinginan kami. Ini semua karena kami sedang dalam masalah."
Rio, mengucapkan permintaan maafnya kepada papa Gilang. Dia benar-benar merasa tidak enak dipandang dengan tatapan menyelidik, oleh papa Gilang sekarang ini.
"Duduklah," kata papa Gilang, meminta pada Rio untuk duduk dan menceritakan semua yang terjadi pada mereka berdua.
"Maaf Tante hiks... Elisa minta maaf karena tidak datang kemarin, hiks..."
"Iya-iya. Duduklah."
Mama Cilla, membimbing Elisa untuk duduk agar bisa lebih tenang dan tidak lagi menangis.
"Tante buatkan minuman dulu ya, Kamu tidak usah khawatir karena sudah ada di sini."
Mama Cilla, berjalan ke arah dapur untuk membuat minuman terlebih dahulu, agar Elisa dan Rio mendapatkan ketenangan terlebih dahulu sebelum bercerita tentang kejadian yang menimpa mereka kemarin.
"Tumben Ma," sapa Aji, dari arah belakang mama Cilla. Dia baru saja turun dari kamar untuk mengambil air minumnya yang habis.
"Aji, ada Elisa dan Rio di ruang tamu. Papa ad sama mereka. Tapi aneh lho, pelipis Rio dan kening Elisa, tampak terluka. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada mereka kemarin."
"Apa Ma, Elisa dan Rio ada di ruang tamu sekarang?" tanya Aji memperjelas apa yang dia dengar tadi.
"Iya. Ini Mama sedang membuat minuman untuk mereka," jawab mama Cilla dengan menunjuk dua gelas teh hangat yang dia buat.
Aji, ikut berjalan bersama mamanya, menuju ke ruang tamu. Dia berpikir, jika apa yang terkirim dari ponsel Rio tadi malam benar-benar salah, dan ada unsur kesengajaan untuk menjatuhkan nama Elisa atau Rio. Tapi, Aji tidak tahu, apa dan siapa yang merencanakan semua ini.
"Aku harus mencari tahu kebenarannya. Mereka pasti tidak tahu juga tentang foto-foto, yang terkirim kemarin, jika mereka dalam keadaan yang seperti diceritakan oleh mama." Aji berkata pada dirinya sendiri.
Tadi, sebelum turun, Aji sedang melacak keberadaan ponsel Rio. Dia sengaja bangun awal untuk menyelidiki, dan tadi dia turun untuk mengambil air minum terlebih dahulu. Tapi, justru ada Elisa dan Rio datang ke rumahnya. Mungkin, dia bisa mengambil kesimpulan yang bisa dijadikan jalan rencananya, saat mendengar penjelasan dari mereka berdua nanti.
__ADS_1