Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Makan Siang Yang Tertunda


__ADS_3

Cilla sudah selesai menyiapkan makanan yang tadi diantar oleh pihak resto ke apartemen mereka. Semuanya sudah dia tata berjejer di meja makan.


"Mi. Sudah siap semuanya," kata Cilla melaporkan hasil kerjaannya.


"Ya sudah sana, makan bareng Gilang."


Mami Rossa meminta Cilla untuk makan bersama dengan Gilang yang masih duduk di sofa, dekat dengan mami Rossa.


"Mami tidak ikut makan?" tanya Cilla bingung.


"Lho, Mami kan sudah makan tadi bareng Aji. Iya kan Sayang?" Mami Rossa menjawab pertanyaan Cilla dan memperkuatnya dengan pertanyaan kepada Aji, anaknya Cilla.


"Iya," jawab Aji pendek.


"Terus ini kenapa ada empat porsi?" tanya Cilla bingung dengan pesanan yang datang.


"Iya kan tadi Gilang pesan empat porsi, sedangkan mami dan Aji sudah makan. Masak iya yang dus dibatalkan, sudah terlanjur di buatkan sama chefnya juga. Kan gak mungkin di cancel juga?"


Cilla akhirnya paham dan menganguk mengerti. Mami Rossa melanjutkan kata-katanya, "Ya sudah. Yang dua buat Aji atau siapa nanti malam yang kebangun lapar. Gilang juga biasa minta makan kalau kebangunan kan kemarin-kemarin sewaktu di rumah sakit. Efek samping obatnya itu."


"Ya biarin saja," kata Gilang, pada Cilla.


Gilang berdiri dengan dibantu mami Rossa dari tempat duduknya, kemudian dipapah melangkah ke arah dapur untuk makan siang yang tertunda, gara-gara tertidur pulas di mobil bersama dengan Cilla siang tadi.


"Duduk," kata mami Rossa meminta Gilang untuk duduk di kursi makan.


"Cilla. Tolong bantu Gilang ya, jika dia butuh sesuatu. Kalian makan saja berdua. Mami mau beresin barang-barang Aji yang masih ada di dalam koper."


Mami Rossa kembali melangkah ke ruang tengah, dimana Aji berada. Dia mengajak Aji untuk membereskan barang-barang miliknya, termasuk mainan dan kelereng merah miliknya.


"Aji mau yang mana untuk dibuat main? Biar tidak usah dimasukkan ke dalam lemari," tanya mami Rossa sambil membuka koper milik Aji.


"Aji mau kelerengnya saja Oma," jawab Aji, kemudian mendekat ke arah mami Rossa untuk mengambil toples kelereng merahnya.


"Kenapa tidak mobil-mobilan atau robot saja?" tanya mami Rossa pada cucunya itu.


"Kelereng itu bisa membuat Aji semangat Oma. Aji bisa tenang juga kalau melihat dan menghitungnya terus."


"Oh, begitu ya..." Mami Rossa menganguk mengerti apa yang dikatakan oleh Aji, cucunya itu.

__ADS_1


*****


Di dapur.


Gilang yang sudah duduk bersiap untuk makan, melihat ke arah Cilla yang masih berdiri dan tidak tahu harus berbuat apa. Cilla tampak bingung dan serba salah.


"Duduklah," kata Gilang pada Cilla.


"Eh. Emh... ya," jawab Cilla gugup.


"Makan. Nanti kamu sakit. Tadi kan sudah kelaparan juga. Apa harus aku suapin juga?" tanya Gilang memicingkan matanya melihat ke arah Cilla yang tampak gugup dan wajahnya juga memerah karena malu.


"Iy... iya.. iya." Cilla berkata dengan terbata-bata.


"Iya apa?" tanya Gilang bingung dengan jawaban yang diberikan oleh Cilla.


"Iya aku suapi?" tanya Gilang lagi, karena Cilla diam dan tidak menjawab pertanyaan yang diajukan olehnya tadi.


"Bu... bukan. Iya makan," kata Cilla sambil menggigit bibir bawahnya menahan rasa gugupnya.


Gilang menghela nafas panjang, melihat tingkah Cilla yang membuatnya menjadi semakin gemas dan ingin menggodanya lebih dari yang tadi.


"Jangan membuatku berbuat lebih saat kondisiku seperti sekarang ini," kata Gilang mengingatkan.


"Itu!" kata Gilang sambil menunjuk ke bibir Cilla.


"Apa?" tanya Cilla masih belum mengerti juga.


"Jangan gigit bibir kamu. Bisa berdarah. Biar aku saja yang gigit besok-besok," kata Gilang sambil melihat ke arah Cilla dengan intens.


Cilla melotot kaget mendengar perkataan Gilang, kemudian segera menunduk dan tidak lagi menggigit bibir bawahnya. Dia merasa sangat malu mendengar perkataan yang diucapkan oleh Gilang saat ini.


"Sudah buruan makan!" kata Gilang, kemudian menyuap makanan ke dalam mulutnya sendiri.


"Kalau tidak enak bilang, biar aku ganti pesan yang lain," kata Gilang lagi, sebab dia melihat Cilla yang belum juga menyuap makanan untuk dirinya sendiri.


Cilla yang tadinya diam, segera menyendok makanan yang ada didepannya itu. Dia segera memakannya tanpa melihat ke arah Gilang yang ada di depannya.


"Uhuk... uhuk!"

__ADS_1


Cilla tersedak dan batuk-batuk akibat makan dengan tergesa-gesa.


"Eh, pelan-pelan!"


Gilang dengan cepat berdiri dan tidak menghiraukan perutnya yang bisa saja terasa sakit lagi akibat pergerakan yang cepat dan tidak terarah. Dia segera mengambil gelas berisi air putih, kemudian memberikannya kepada Cilla. "Minum dulu!" kata Gilang memberikan gelas itu di depan bibir Cilla sedangkan tangannya masih memegang gelasnya tanpa memberi kesempatan pada Cilla untuk memegangi gelasnya.


Cilla pun menurut. Dia meminum air putih tersebut dengan pelan agar tidak Kemabli tersedak. Setelah selesai, dengan wajah memerah, dia mengucapkan terima kasih pada Gilang. "Terima kasih. Maaf!"


"Maaf, buat apa?" tanya Gilang bingung dengan permintaan maaf Cilla.


"Emh... Tuan jadi repot karena Saya yang tersedak," jawab Cilla menerangkan.


"Oh. Tidak apa-apa," jawab Gilang tersenyum.l. Tapi, tiba-tiba perutnya sendiri terasa sakit. "Aduh!" keluh Gilang sambil memegang perutnya dengan tangan satunya yang bebas.


Kini tangannya yang masih memegang gelas di ambil alih oleh Cilla. Gelas tersebut diletakkan pada meja dan tangannya dipegang Cilla untuk dituntun agar Gilang kembali duduk. Tapi karena tempat duduknya yang tadi harus memutari meja makan, akhirnya Cilla mendudukkan Gilang pada kursi yang tadi dia tempati.


"Tuan hati-hati. Perutnya masih sakit DNA tadi juga belum sempat minum obat!" Cilla mengingatkan Gilang.


"Iya. Aku lupa segalanya jika berada di dekatmu," kata Gilang tidak habis akal untuk menggoda Cilla.


"Ihs... Tuan ini!"


Cilla mencibir perkataan Gilang yang menurutnya tidak pada waktunya. Padahal dia sangat khawatir dengan keadaan perut Gilang saat ini, tapi yang dikhawatirkan malah semakin menjadi dan tidak kehabisan akal untuk tetap menggodanya.


"Hehehe..."


Gilang terkekeh senang karena bisa ngobrol dengan santainya bersama Cilla. Dia berharap, dengan seiring waktu yang berjalan akan membuat Cilla terbiasa dengannya.


"Aji pinter juga buat rencana ini bersama mami," kata Gilang dalam hati.


Cilla menatap aneh pada Gilang yang tersenyum-senyum sendiri dan tidak melanjutkan acara makannya.


"Makan lagi Tuan!"


Cilla menyodorkan piring milik Gilang yang tadi. Kini dia sudah duduk di kursi tempat Gilang duduk untuk pertama kalinya sebelum dirinya tersedak.


"Suapin..." kata Gilang dengan nada manja.


Cilla mendelik galak mendengar permintaan Gilang yang terdengar seperti Aji, anaknya.

__ADS_1


"Hehehe..."


Gilang malah terkekeh geli melihat wajah Cilla yang terlihat semakin mengemaskan saat mendelik seperti sekarang. Dia mengeleng sambil memegangi perutnya yang masih terasa nyeri. Tapi, Gilang juga merasa senang dengan kedekatannya dengan Cilla saat ini. Dia berharap agar Cilla segera bisa memaafkan dirinya yang dulu, dan bisa menerima dirinya juga untuk kedepannya.


__ADS_2