
Candra tersenyum miring mendengar perkataan Gilang. Dia tahu ini hanya akal-akalannya Gilang untuk melindungi Aji dan juga Cilla. "Dia pikir aku anak kecil yang bisa dibodohi begitu saja!" Candra berkata dalam hatinya sendiri mengejek kelakuan Gilang yang sedang melakukan acting.
"Tidak-tidak. Aku masih ingin mereka menjadi tawanan. Aku tidak percaya begitu saja dengan kamu Gilang. Apalagi kemarin itu kamu marah besar saat tahu jika Akulah yang menculik mereka!" Candra mengeleng mendengar permintaan Gilang.
"Aku ingin urusan kita selesai terlebih dahulu," lanjut Candra memberitahu.
"Tapi..."
"Tidak ada tapi!" kata Candra memotong perkataan Gilang yang belum selesai.
Gilang hanya bisa menghela nafas panjang dan mencoba untuk menahan diri agar tidak tersulut emosi. Dia tidak ingin membuat Candra marah dan berdampak pada Aji serta Cilla yang kini sudah ada di tangan anak buahnya.
"Ayo kita kembali ke rumah yang tadi. Berkas-berkas perusahaan sudah aku siapkan. Kamu tinggal tanda tangan saja. Setelah itu kita akan segera ke Amerika dan menikah disana!"
Perkataan Candra yang terdengar lebih kepada sebuah perintah hanya bisa dituruti oleh Gilang. Tapi ini hanya untuk membuatnya lengah dan tidak menyakiti Aji dan Cilla. Dia harus bisa membuat Candra percaya kepadanya.
"Baik," jawab Gilang pendek, kemudian mengikuti langkah Candra menuju ke rumah yang tadi. Tempat Aji dan Cilla di tahan dan sempat kabur tadi. Tapi kini mereka justru kembali lagi dengan begitu mudahnya.
Aji memegang tangan mamanya. Dia tidak mau kembali ke rumah itu. Dia takut jika tidak bisa kabur untuk menyelamatkan diri lagi. "Ma. Kita kabur saja yuk!" Ajak aji pada mamanya, Cilla.
"Bagaimana caranya Sayang? Kita tidak bisa kabur begitu saja sekarang ini," jawab Cilla berbisik kepada Aji.
"Kan tadi papa bilang akan ada bantuan datang. Tapi kok papa nyerah gini?" kata Aji tidak mengerti dengan kode yang diberikan oleh papanya tadi.
"Entahlah. Mama tidak tahu apa yang dikatakan olehnya. Kita harus bisa menyelamatkan diri kita sendiri sekarang juga," kata Cilla memberikan semangat pada Aji, anaknya itu.
"Kita harus bisa melawan kedua orang yang sedang mengiring kita ini. Kalau bosnya biar saja di urus Papamu. Itu juga kalau dia memang benar-benar mau menyelamatkan kita," kata Cilla lagi memberikan penjelasan pada Aji.
"Ok Ma. Aji akan melakukan sesuatu. Tapi Mama ikut ya biar kompak!" Aji memberiakan kode pada mamanya.
__ADS_1
Cilla mengedipkan sebelah matanya untuk mengiyakan ajakan anaknya itu. Dia tahu harus berbuat apa setelah ini.
Disaat mereka semua sudah berada di depan rumah yang tadi, Candra masuk terlebih dahulu disusul oleh Gilang. Aji dan Cilla yang ada di belakangnya belum sempat masuk, disusul kedua bodyguard yang menemukan mereka berdua. Aji segera berbalik arah dan berlari keluar, begitu juga dengan Cilla. Dia mengikuti apa yang dilakukan oleh anaknya.
Dua bodyguard tadi segera mengejar keduanya. "Bos. Mereka kabur!" Lapor salah satu dari mereka dengan berteriak agar Candra mendengarnya. Mereka berdua segera mengejar Aji dan Cilla tanpa menunggu jawaban dari Candra. Kejar-kejaran terjadi di gang keluar menuju jalan raya. Kali ini Aji dan Cilla tidak lagi salah jalan. Tapi kekuatan mereka memang tidak sebanding dengan kedua penjahat itu. Tak lama keduanya bisa ditangkap lagi. Tapi Aji menyerang salah satu dari bodyguard tersebut dan mengigit tangannya. Sedangkan Cilla menendang satunya lagi tepat di bagian sensitif.
"Aduh!" teriak satu dari mereka yang digigit oleh Aji.
"Ah, cewek sial!" Maki satunya lagi dengan wajah meringis kesakitan. Dia memegang alat vitalnya yang terasa sangat sakit sambil terbungkuk-bungkuk.
Aji kembali berlari, disusul oleh Cilla. "Ayo Ma, cepat!" teriak Aji mengajak mamanya agar lebih cepat berlari.
"Kaki Mama sakit Sayang," jawab Cilla meringis menahan sakit.
"Kalian berhenti atau aku tembak dari disini!" Candra ternyata sudah berada di belakang mereka dengan jarak kurang dari lima meter.
Cilla melotot kaget dan mengehentikan langkahnya. Begitu juga dengan Aji. Mereka berdua tidak mau mati sia-sia di tangan penjahat seperti Candra. Mereka berdua menoleh untuk melihat kebenaran yang dikatakan oleh Candra tentang ancaman tembaknya.
Dari arah belakang, menyusul kedua anak buahnya yang tersenyum miring melihat Aji dan Cilla diam ditempatnya.
"Jangan Candra!" Gilang berkata melarangnya. Dia masih berlari di belakang kedua anak buah Candra dan terus berlari hingga ada di depan Candra, mencegahnya berbuat nekad. Menjadi tameng untuk Aji dan juga Cilla.
"Kamu menyingkirlah!" Perintah Candra dengan suara keras. Sepertinya dia sudah sangat marah.
"Aku tidak mau kamu jadi seorang pembunuh. Apalagi itu anak-anak dan juga wanita. Tidak ada yang bisa dibanggakan karena tanpa dibunuh, mereka itu sudah lemah," kata Gilang mencoba membuat Candra sadar dan mengurungkan niatnya.
"Tapi mereka adalah penghalang terbesarku!" Candra membantah perkataan Gilang.
"Biarkan mereka pergi," kata Gilang meminta.
__ADS_1
"Tidak! Mereka harus dilenyapkan!" Candra kekeh dalam keputusannya.
"Ini Indonesia bukan Amerika!" Gilang sudah mulai tidak sabar.
"Kenapa kalau Indonesia? Aku juga warga Indonesia," jawab Candra tidak paham.
"Pokoknya jangan menembak!" Gilang mengelengkan kepalanya agar Candra mengerti.
"Ingat papamu, ingat juga dengan mamamu," kata Gilang menyadarkan Candra.
"Ah, persetan dengan mereka berdua. Aku begini juga karena mereka tidak peduli padaku sedari kecil. Mereka egois dan tidak mengerti apa yang aku inginkan."
Candra mulai gelap mata. Dia berkata dengan suara yang bergetar karena marah, mengingat semua kejadian dimasa kecilnya dulu.
Perceraian kedua orang tuanya, dan perpisahan dengan perpindahannya ke Amerika membuat jarak yang besar diantara mereka semua.
"Aku tidak suka! Aku tidak mau ada wanita egois itu. Dia juga akan merebutmu dariku!" Candra berkata dengan menunjuk kearah Cilla dengan pistolnya. Detik berikutnya, Candra menarik pelatuk pistol ditangannya. Dia sudah tidak bisa berpikir lagi, kemudian...
Dor!
Dor!
Terdengar dua kali suara tembakan, tapi dari tempat yang berbeda. Dua orang tumbang bersimbah darah. Gilang terkena tembakan Candra yang mengarah pada Cilla, sedangkan satunya lagi ternyata Candra. Dia terkena tembakan polisi yang baru saja datang.
Dua anak buah Candra sudah dilumpuhkan dengan mudah oleh tim polisi. Sedangkan Candra mengerang kesakitan karena kakinya ditembak oleh komandan polisi.
"Papa!" teriak Aji, kemudian berlari kearah Gilang, begitu sadar jika papanya jatuh terkena tembakan. Cilla juga ikut berlari kearah yang sama dengan Aji.
"Papa... Papa...." Aji menangis melihat papanya tergeletak dengan darah yang terus mengalir di bagian perutnya.
__ADS_1
..."Ambulans, segera ke perumahan Delima di daerah XXX!" Komandan polisi segera memangil ambulans untuk para korban....
"Ma... papa Ma..." Aji terus menangis di sebelah papanya. Cilla memeluk anaknya dengan beruarai air mata juga. Dia tidak menyangka jika Gilang senekad itu, menjadikan dirinya sendiri sebagai tameng untuk tembakan Candra yang diarahkan ke arah dirinya.