Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Sudah Waktunya


__ADS_3

Siang berganti sore. Tapi Elisa masih saja tidak mau diajak ke rumah sakit. Dia bilang, anaknya itu belum mau lahir dalam waktu dekat ini.


Tentu saja, mama Cilla merasa heran dengan sikap dan pikiran menantunya, yang sedang hamil tua itu. Dia pikir Elisa mengada-ada dan takut berada di ruang persalinan.


Mama Cilla, bertanya kepada Elisa tentang perkiraan lahir anaknya, dan Elisa menjawab jika masih seminggu lagi.


"Masak masih seminggu lagi El, gak kelamaan itu?" tanya mama Cilla heran. Dia tidak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Elisa.


"Periksa ulang El, di USG gitu. Jadi nanti akan ketahuan kapan lahirnya. Sekarang ini, jamannya sudah canggih, apa-apa bisa langsung ketahuan lho."


Mama Cilla menasihati Elisa, supaya mau do USG. Biar ketahuan juga, kapan anaknya itu akan lahir.


Tapi, sepertinya Elisa tetap pada pendiriannya. Dia tidak mau diajak ke rumah sakit, hanya untuk pemeriksaan USG terlebih dahulu untuk mengetahui kapan waktu anaknya itu akan lahir ke dunia ini.


"Kamu kenapa tidak mau periksa? Apa Kamu takut?" tanya mama Cilla. Dia ingin tahu, apa alasan Elisa, sampai- sampai tidak mau mengetahui, semua tentang anaknya lewat kecanggihan teknologi kesehatan yang sudah sangat maju.


Elisa, hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan-pertanyaan dari mama mertuanya itu.


Padahal, sebenarnya Elisa hanya ingin mengetahui, sejauh mana kepekaan dirinya pada anaknya itu. Hal yang tidak biasa, dan akan di nilai aneh untuk sebagian orang.


Tapi Aji sudah tahu, bagaimana pikiran Elisa yang sering dia ungkapkan dulu, sewaktu masih berada di Indonesia. Bahkan, Elisa tidak ingin mengetahui, jenis kelamin bayi mereka nanti. Dan sekarang, semua itu benar-benar dilakukan Elisa.


Aji hanya bisa mengiyakan apa saja yang diinginkan Elisa. Dia tidak ingin membuat tekanan pada Elisa, demi keselamatan dan kesehatan bayi dan juga Elisa sendiri. Yang penting, Aji tetap bisa menjaga dan merawat Elisa sebaik mungkin.


Dai berpikir jika Elisa itu memiliki pemikiran yang unik. Mungkin ini juga kemauan bayinya, karena selama ini, Elisa tidak pernah meminta kepadanya, untuk melakukan hal-hal yang aneh, sebagaimana layaknya seorang wanita yang sedang hamil. Jika Elisa ingin makan sesuatu yang tidak ada di India, misalnya makanan-makanan, itu hanya karena Elisa rindu dengan tanah airnya saja


Begitulah kira-kira pikiran Aji, menilai istrinya, selama kehamilannya yang pertama, apalagi ini jauh sekali dari Indonesia. Dia tidak pernah mempermasalahkan semua keinginan aneh Elisa. Yang penting bagi Aji, Elisa bisa berbahagia. Cuma itu saja.


*****


Malam harinya, Elisa meminta Aji menemaninya untuk bisa tidur, begitu selesai makan malam.


Sepertinya, Elisa sedang tidak punya keinginan untuk berbincang-bincang terlebih dahulu sama ayah Sangkoer Singh, mama Cilla dan juga papa Gilang, seperti biasanya, jika mereka selesai makan malam.


"Maaf Yah, Pa, Ma. Elisa minta Aji menemaninya untuk tidur lenih awal. Mungkin dia mengantuk, karena tadi siang dia tidak sempat tidur juga," kata Aji, berpamitan pada ayah dan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Mama Cilla mengangguk sambil tersenyum, mendengar perkataan Aji. Begitu juga dengan papa Gilang. Mereka berdua, memaklumi kondisi Elisa yang jadi lebih cepat capek dan juga mengantuk.


Tuan besar Sangkoer Singh, juga tidak menahan Aji, supaya tidak pergi buru-buru ke kamar. Dia ingin, anaknya itu, menjaga menantunya, yang membutuhkan waktu dan perhatian lebih.


Begitu sampai di dalam kamar, ternyata Aji tidak mendapati Elisa yang sedang berbaring untuk tidur. Dia justru melihat Elisa yang sedang berkemas-kemas.


Ada satu tas berukuran sedang, yang sudah dia siapkan untuk keperluannya melahirkan. Baju-baju ganti untuk bayi dan juga dirinya sendiri.


"Sayang, ini kan baju-baju bayi yang disiapkan untuk anak kita nanti, kenapa di taruh di tas?" tanya Aji heran. Dia pikir, jika untuk ganti bayi setelah lahir, pihak rumah sakit sudah mempersiapkan segala sesuatunya.


Tapi, Elisa tidak mau. Dia ingin, bayinya akan memakai pakaian yang dia bawa dari rumah. "Ingat ya Kak, harus pakai baju yang dari rumah!" kata Elisa, berpesan pada suaminya itu, dengan menekan kata yang terakhir.


Aji, sedikit merasakan keanehan pada sikap Elisa kali ini. Dia pikir, kelakuan Elisa sekarang ini, sudah dia luar kebiasaannya. Ini sudah tidak wajar.


"Elisa kenapa ya? Kok rada-rada aneh sih hari ini," tanya Aji dalam hati.


Tapi Aji tidak mau mendebat Elisa. Dia hanya mengangguk saja, mengiyakan permintaan Elisa tadi.


"Ah, mungkin dia punya pemikiran yang lain. Aku bisa tahu nanti, apa yang sebenarnya dia rasakan saat ini. Tapi, kenapa soal baju saja dia ributkan? Apa bedanya baju yang disediakan oleh pihak rumah sakit dengan yang ada di dalam tasnya itu? Toh sama saja, karena kemarin ayah Sangkoer Singh, memilihkan baju-baju bayi itu dari pemasok yang biasa di rumah sakit juga. Meskipun yang diberikan pada Elisa berbeda dengan bahan dan harganya, tapi... ah, entahlah."


"Kamu mau di antar ke rumah sakit kapan Sayang?" tanya Aji sambil memegangi perut Elisa. Merasakan sesuatu yang sedang bergerak-gerak di dalam perut istrinya.


"Wah, kok semakin terasa cepat pergerakan bayinya Sayang?" tanya Aji lagi. Padahal pertanyaan yang diajukan tadi, belum di jawab oleh Elisa.


"Dia sudah mau lahir Kak," jawab Elisa enteng.


Tentu saja, jawaban dari Elisa itu membuat Aji kaget. Tadi sore, Elisa bilang masih satu minggu lagi, tapi sekarang ganti bilang kalau anaknya itu akan segera lahir.


"Jangan bercanda dong Sayang," ucap Aji, memastikan jika Elisa hanya sedang bercanda saja.


"Siapa yang bercanda Kak. Kakak tidak lihat, ini kaki Elisa sudah sedikit basah. Ini air ketuban yang merembes."


Aji terkejut melihat ke bawah. Memang benar, kaki Elisa tampak sedikit basah. Akhirnya, Aji segera membopong tubuh istrinya itu, untuk di bawa ke rumah sakit.


"Kakak!" jerit Elisa kaget, karena Aji membopongnya tanpa aba-aba.

__ADS_1


Semua orang yang sedang berada di ruang tengah, berdiri dengan kaget, saat mendengar jeritan Elisa. Tapi, lebih kaget lagi, saat melihat Aji yang berjalan tergesa-gesa, sambil membopong tubuh istrinya itu.


"Ada apa?"


"Apa yang terjadi?"


"Elisa kenapa?"


Tuan besar Sangkoer Singh, mama Cilla dan papa Gilang, bersamaan bertanya kepada Aji, tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Elisa.


"Dia mau melahirkan. Mama tolong bawakan tas yang ada di dalam kamar!"


Aji tidak sempat menjawab satu persatu pertanyaan orang tua dan ayah angkatnya itu. Dia membawa tubuh Elisa masuk ke dalam mobil dan menyetirnya sendiri. Dia juga tidak menunggu yang lainnya, karena berpikir jika mereka bisa menyusulnya ke rumah sakit dengan cepat juga.


*****


Berbagai macam rasa sedang dirasakan oleh Elisa saat ini. Takut, senang, bahagia, tapi juga rasa khawatir.


Mungkin, tidak hanya Elisa saja yang merasakan perasaan itu. Tapi, Aji, mama Cilla dengan papa Gilang, serta tuan besar Sangkoer Singh, juga ikut merasakan hal yang sama seperti yang saat ini dirasakan oleh Elisa.


Deg-degan dan juga rasa was-was, bercampur aduk dengan harapan baru, dengan lahirnya anak Elisa nanti.


Di luar ruangan, tempat Elisa sedang ditangani oleh dokter kandungan, mama Cilla dan papa Gilang tampak tegang. Begitu juga dengan tuan besar Sangkoer Singh. Aji ada di dalam ruangan, menemani istrinya yang sedang berjuang, untuk melahirkan buah hati mereka berdua.


Sepuluh menit kemudian, terdengar suara bayi yang sedang menangis. Semua orang mengira, jika itu adalah anaknya Elisa yang baru saja keluar.


Tapi ternyata itu adalah bayi lainnya. Karena tak lama, seorang suster mendorong seorang wanita dan bayi yang ada di atas brangkar untuk wanita melahirkan.


Mama Cilla, menghela nafas panjang. Begitu juga dengan papa Gilang, yang ikut merasakan ketegangan.


Tuan besar Sangkoer Singh, meminta pada seorang dokter, yang saja datang dan ingin masuk ke dalam ruangan bersalin.


Dia meminta pada dokter tersebut, untuk menangani menantunya, Elisa, dengan segera. Dia juga mengatakan bahwa, harus hati-hati dan teliti. Tidak boleh ada kesalahan yang bisa berakibat fatal.


"Pokoknya kalian yang ada di dalam sana, semua harus fokus dan berhati-hati. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada cucu dan juga menantuku!"

__ADS_1


Dokter tersebut hanya mengangguk patuh, pada perintah dan permintaan tuan besar Sangkoer Singh. Mereka semua, pasti akan bertugas sebaik mungkin untuk keselamatan dan keamanan menantu dan cucu tuan besar_nya, yang memiliki segala kewenangan di rumah sakit ini.


__ADS_2